Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 19


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


“Udah selesai, Dar?” tanya Stevan.


Pria dengan baju atasan biru polos dipadukan dengan celana santai selutut itu tengah duduk di atas ranjang sembari memangku anak bayi berusia lima bulan yang tengah asik menyedot empeng. Mata Stevan terus mengamati istrinya yang sedang sibuk merapikan rambutnya di depan cermin meja rias.


Dara berbalik, dia melangkah menghampiri Stevan.


“Udah, ayo kita jalan-jalan,” ucapnya sambil mengangguk beberapa kali.


Stevan beranjak dengan Langit di gendongannya. Kakinya mengikuti langkah sang istri keluar kamar.


“Elang taruh sini aja,” titah Dara setelah tiba di ruang tamu. Dia mendorong kereta bayi berwarna cokelat mendekat ke arah Stevan.


Tanpa membantah, Stevan menaruh Langit ke dalam kereta bayi. Dara mendorong kereta dengan tangan Stevan yang setia melingkar di pinggangnya.


...🌾🌾🌾...


“Eh, Nak Dara dan Nak Stevan,” sapa Bu Ajeng—tetangga kompleks perumahan mereka.


Dara tersenyum manis. “Pagi juga, Bu Ajeng. Lagi ngapain nih?”


“Oh ini, habis beli kaus kaki. Biasa, anak saya tiap pagi ngomel, kaus kakinya hilang sebelah mulu. Heran saya,” sahut Bu Ajeng, menggeleng, tak habis pikir.


Dara tertawa, matanya menatap Stevan seolah-olah menyindir. Dia mendekat, membisikkan sesuatu ke arah Stevan.


“Sama, kayak kamu,” ucapnya lirih, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada Bu Ajeng. “Biasalah, Bu. Mereka malas cari, padahal jelas-jelas kaus kaki itu bertumpuk di samping lemari,” lanjutnya, mengabaikan wajah Stevan yang sudah berubah masam.


Oh ayolah, apa serunya menggosipkan hal itu? Stevan bukan malas cari, hanya saja dia punya prinsip. Jika bisa beli, kenapa harus cari?


“Hei, ngelamun aja!” sentak Dara.


Stevan mengerjap, dia menatap sekeliling, ternyata ibu-ibu yang tadinya bergosip ria dengan istrinya itu sudah tidak ada di tempat.


“Apa serunya menggosipkan soal kaus kaki?” tanya Stevan, menatap Dara dengan sebelah alis terangkat.

__ADS_1


Dara menghentikan langkahnya, memiringkan tubuhnya menghadap Stevan.


“Karena kamu laki-laki, kamu nggak tahu betapa serunya membicarakan hal yang kadang dianggap orang tidak berguna,” ucapnya lalu kembali mendorong kereta Langit.


Stevan mengerutkan dahinya bingung. Ternyata teori itu benar, bahwa wanita memang sulit dipahami.


“Ke tempat Mama aja, ya? Aku soalnya kangen sama Mama.”


Stevan mengangguk setuju, dia kembali melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Dara. Mereka kembali melanjutkan langkah menuju rumah orang tua Dara.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mama, Papa. Anakmu yang manis ini datang berkunjung!” Suara merdu khas Dara yang memasuki rumah itu membuat Shira dan Arya yang semula tengah fokus pada televisi menoleh.


Keduanya kompak memandang Dara yang melangkah menghampiri mereka, diikuti oleh Stevan yang mendorong kereta bayi di belakangnya.


“Waalaikumussalam,” sahut Arya. Pria paruh baya itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit di sela wajahnya yang sudah terlihat sedikit keriput sambil merentangkan kedua tangan—bersiap menyambut Dara masuk ke dalam pelukannya.


Berbeda dengan Arya yang welcome, Shira malah menampilkan raut wajah masamnya. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tetapi menahan amarah, seolah-olah granat yang siap meledak.


“Ke mana aja kamu? Kenapa baru berkunjung?”


“Hehe, maaf, Ma. Dara cuma ... ya gitu deh,” jawab Dara ambigu.


Dara hanya bingung harus menjawab apa. Tak mungkin bukan dia menjawab selama ini dirinya sedang sibuk melamun sambil merenungi kesedihannya. Bukan membuat lega, yang ada Dara kembali membuat sang mama dirundung pilu. Oh tidak, sudah cukup, Dara tidak ingin hal itu kembali terjadi.


Menghela napas pelan, Shira menarik Dara ke dalam dekapannya. Dia memeluk erat putri yang hanya tinggal satu-satunya.


“Mama tuh kangen sama kamu, Dara.”


Dara tersenyum, setetes air mata meluncur bebas di pipinya.


“Dara juga kangen sama Mama,” ucapnya, memeluk tak kalah erat tubuh Shira.


“Cucu Opa kelihatan tambah lucu, ya?”


Ucapan Arya itu membuat Shira dan Dara kompak melepas pelukannya. Keduanya memandang ke arah Arya yang tengah mencium gemas pipi Langit sambil tersenyum. Sebuah kehangatan tak biasa menyelinap ke dalam hati mereka.


“Papa sama Mama sehat-sehat aja, ‘kan?” tanya Stevan. Pria itu mendudukkan diri di sofa tunggal tepat di hadapan Arya.

__ADS_1


Arya menghentikan aktivitasnya, menatap Stevan yang tengah menunggu jawaban.


“Alhamdulillah, Papa sama Mama sehat, Ste,” ucapnya, mengangguk lalu kembali mencium wajah bayi yang berada dalam pangkuannya hingga menimbulkan tawa khas bayi milik Langit.


“Sini, Pa. Mama juga mau cium cucu kita,” ucap Shira. Wanita itu mengambil alih Langit dari Arya, menggendongnya lalu menghujani wajah bayi itu dengan ciuman.


Dara kembali tersenyum. Sungguh dia bahagia. Walaupun Langit tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya, setidaknya bayi itu sudah mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari orang-orang di sekitarnya.


“Dar, kayaknya Elang udah ngantuk deh.”


Ucapan Shira itu sontak membuat Dara tersadar dari lamunannya. Dia menatap ke arah Shira, ah tidak, lebih tepatnya ke arah Langit yang berada di pangkuan Shira. Bocah bayi itu sibuk mengucek matanya.


Dara mengulurkan tangannya di depan Langit yang segera disambut baik oleh bocah itu.


“Dara ke kamar dulu, ya.”


Setelah mendapatkan persetujuan, Dara bangkit dari duduknya. Dia memberikan isyarat kepada sang suami jika nantinya suaminya itu ingin menyusulnya.


“Anak Mama yang ganteng udah ngantuk, ya?” tanya Dara. Perempuan itu memegang tangan Langit yang hendak kembali mengucek matanya. “Kita bobok dulu, ya. Nanti main lagi sama Oma.” Dara membuka pintu kamarnya lalu menidurkan Langit di atas ranjang.


Perempuan itu segera mengarahkan dot yang tadi sempat dia ambil dari kereta bayi ke mulut Langit, dengan perlahan mata bayi itu mulai tertutup rapat, bersiap menutup mata.


“Dara sudah terlihat dewasa ya, Pa,” ucap Shira—memandang ke arah pintu kamar Dara yang sudah tertutup rapat.


Arya mengangguk. “Ya iyalah, Ma. Nggak mungkinkan anak kita kecil mulu,” sahutnya sambil terkekeh pelan.


Shira melayangkan tangannya mengepak lengan Arya.


“Bukan itu maksud Mama, Pa. Ih, gimana sih!” Shira segera bangkit dari duduknya—meninggalkan Arya yang memandangnya penuh tanya.


“Papa salah apa, Ste?” tanya Arya, menatap Stevan yang tengah menutup mulut menggunakan tangan guna menahan tawa.


“Ya begitulah wanita, Pa. Sulit dipahami, dijawab salah, nggak dijawab apalagi,” jawab Stevan. Pipi pria itu terlihat semakin mengembung. Oh tidak, dirinya sudah tak dapat lagi menahan tawanya.


“Ah sudahlah, Papa mau nyusul mamamu dulu.” Arya ikut bangkit, meninggalkan Stevan yang sudah tak dapat lagi menahan tawa.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2