Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 21


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Langit masih terlihat gelap, sebab jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Dara terbangun dari tidurnya saat telinganya mendengar suara tangisan yang memekakkan telinga. Wanita itu menoleh ke samping, tempat di mana anak kesayangannya berada.


Wajah anak itu terlihat memerah, air mata membasahi pipi gembilnya, jangan lupakan tangisan merdunya yang terus menggema di setiap sudut kamar ini.


Dara mengangkat tubuh Langit ke dalam gendongannya. Ia mengarahkan tangannya, berniat menghapus air mata sang anak. Namun, ia dikejutkan oleh suhu badan bayi itu yang terasa lebih panas daripada biasanya.


“Astagfirullah, kamu demam, Sayang,” ucap Dara.


Wanita itu segera beranjak dari duduknya dengan Langit yang berada di gendongannya. Dara melangkah menuju meja riasnya, lalu mengambil termometer baru dari dalam laci. Ia membenarkan gendongan Langit, lalu menempelkan termometernya di telinga bayi itu.


Dara menunggu selama beberapa detik, lalu kembali mengambil termometer itu. Matanya terbelalak sempurna, saat menatap angka 40°C di layar kecil yang terdapat pada termometer. Pantas saja Langit menangis kencang. Dara bergegas melangkah menuju ranjang, ia menepuk lengan Stevan, bermaksud membangunkan pria itu dari tidur nyamannya.


Mata Stevan mengerjap, ia menatap wajah sang istri yang terlihat khawatir.


“Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan suara seraknya setelah berhasil mengembalikan kesadarannya secara penuh.


“Elang demam, Ste,” ucap Dara panik. Ia terus bergerak ke kanan dan ke kiri, menimang sang bayi agar berhenti menangis.


Seketika Stevan langsung mendudukkan diri.


“Udah kamu cek suhunya berapa?”


Dara mengangguk, ia mengulurkan termometer yang masih digenggamnya kepada Stevan. “Udah, ini 40°C,” ucapnya dengan nada bergetar.


Dara tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya. Bahkan, tetesan air mata mulai lolos, mengalir di pipinya. Meski ini bukan kali pertamanya Langit sakit, tetapi tetap saja Dara khawatir dengan kondisi anak itu. Coba, ibu mana yang tidak khawatir saat melihat anaknya jatuh sakit?


“Kamu tenang dulu, ya. Sekarang kamu duduk dulu,” Stevan berujar sambil memegang kedua bahu Dara, menggiringnya untuk duduk di atas ranjang.


“Gimana aku bisa tenang, Ste? Ini Elang lagi sakit, lho,” bantah Dara. Namun, tak ayal ia menuruti perintah sang suami dan mendudukkan diri.

__ADS_1


Stevan tak menjawab. Ia meraih remote control AC, mengaturnya hingga berada pada suhu 21 derajat celcius.


“Aku mau buatkan susu formula buat Elang,” kata Stevan, “kamu ganti baju Elang pakai yang tipis aja,” lanjutnya. Ia mulai melangkah meninggalkan kamar.


Dara mengangguk. Ia meletakkan tubuh Langit dengan hati-hati di atas ranjang, lalu mengambil pakaian berbahan tipis milik anak itu dari lemari. Ia mulai memakaikan baju itu pada Langit


“Anaknya Mama jangan sakit, Mama nggak tega lihat kamu sakit begini, Sayang. Mama juga ikut sakit, kalau lihat kamu kayak gini,” tutur Dara sambil mengelus pipi gembil Langit, setelah mengangkat kembali bayi itu ke dalam gendongannya.


“Ini, susunya diminumkan dulu. Biar Elang nggak dehidrasi,” ucap Stevan yang baru saja datang dengan membawa botol susu berukuran sedang.


Dara mengangguk, ia meraih botol dari tangan Stevan, lalu mengarahkannya pada mulut mungil Langit.


“Elang tetap nangis, Ste. Ini gimana?” tanya Dara, ia terus menimang tubuh kecil bayi itu.


Stevan berdiri di belakang Dara, ia memegang kedua pundak sang istri, lalu meremasnya pelan, seakan-akan tengah menyalurkan sebuah kekuatan.


“Kamu jangan ikutan panik begini, Sayang,” tuturnya lembut.


“Gimana aku nggak khawatir kalau lihat keadaan Elang begini?” bantah Dara. “Aku ikut sakit kalau lihat anak aku sakit, Ste.”


“Halo, Ma. Assalamualaikum.”


“Wa'alaikumussalam, Stevan. Ada apa, Nak? Apa terjadi sesuatu?” tanya Shira bertubi-tubi.


Stevan mengangguk. “Iya, Ma. Elang tiba-tiba saja demam. Sekarang suhu tubuhnya mencapai 40°C,” jelasnya.


“Oke, Mama akan segera ke sana.”


Panggilan itu terputus. Stevan kembali meletakkan ponselnya, lalu melangkah menghampiri sang istri.


“Sini, biar aku aja yang gendong Elang. Kamu duduk aja, aku tahu kamu pasti udah capek.”


Dara mengangguk. Ya memang benar, tubuhnya sudah terasa letih menggendong Langit, apalagi tubuh anak itu tidak dapat dikatakan kecil. Dara memberikan Langit pada Stevan, lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang.

__ADS_1


Ting tong.


Suara bel rumah yang berbunyi mengalihkan perhatian Dara dan Stevan. Sepasang suami istri tampak saling pandang, seolah-olah tengah berdiskusi lewat tatapan mata.


“Mungkin Mama, soalnya aku tadi kabarin Mama kalau Elang lagi sakit,” jelas Stevan.


Dara mengangguk, wanita itu beranjak dari duduknya, berniat membukakan pintu untuk sang mama tercinta.


“Elang di mana?” tanya Shira, setelah Dara mempersilakan ia untuk masuk ke dalam rumah.


“Di kamar, lagi digendong sama Ste, Ma,” sahut Dara. Ia mengikuti langkah sang mama yang berjalan menuju kamarnya.


Shira berhenti sejenak, ia membalikkan badan, lalu memegang kedua pundak Dara. Shira menatap wajah Dara yang terlihat sembap.


“Anaknya mama jangan sedih. Tenang saja, Elang pasti tidak papa. Mungkin Elang hanya kecapekan, atau mungkin dia sedang dalam masa tumbuhnya gigi,” tutur Shira.


Wanita itu mengusap lembut kepala sang anak yang sangat ia sayangi ini, lalu membawa Dara ke dalam dekapan hangatnya.


“Dara nggak tega lihat Elang sakit, Ma. Rasanya, lebih baik Dara yang ngerasain sakitnya daripada Elang,” lirih Dara.


Shira mengangguk paham. Ia paham bagaimana rasa khawatir seorang ibu ketika melihat anaknya sakit. Ia tahu bagaimana rasa kekhawatiran itu terus menganggu pikiran. Shira mengeratkan pelukannya sambil mengusap punggung Dara lembut.


“Ya sudah, sekarang kita susul suami kamu,” ajak Shira, yang dibalas anggukan oleh Dara.


Sesampainya di kamar, suara tangis Langit langsung menyambut kehadiran mereka. Bayi itu tak lelah menangis sejak tadi. Kedua perempuan itu kembali melangkah mendekat ke arah Stevan. Shira segera mengambil alih Langit dari gendongan Stevan.


“Cup, cup, cup. Cucu Oma yang paling ganteng jangan nangis,” tutur Shira, sambil terus menimang sang cucu dengan lembut.


“Apa kita bawa ke rumah sakit saja, Ma?” tanya Dara. Ia melangkah mendekat ke arah sang mama yang masih sibuk menenangkan Langit.


Shira menoleh, lalu menggeleng. “Untuk sekarang tidak perlu, tapi kalau sampai 24 jam demamnya belum turun juga, kita harus bawa Elang ke rumah sakit.”


Dara hanya mengangguk lesu. Ia mengusap kepala Langit dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


‘Anak Mama jangan sakit. Sakitnya Elang adalah sakitnya Mama juga. Elang cepat sembuh, ya. Biar Mama bisa dengar suara ketawanya Elang, lagi.’


To be continued ....


__ADS_2