
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
“Tau gitu, tadi nggak usah putus,” ujar Stevan.
“Sumpah, tadi Bunda pengin ketawa pas lihat wajah Ste yang frustasi setelah putus dengan Dara,” ucap Anita sambil tertawa pelan.
“Bunda!” rengek Stevan dengan wajah cemberutnya.
“Sudah-sudah, lebih baik sekarang kita makan saja, daripada nanti makanannya keburu dingin,” ucap Arya yang diangguki oleh Vano.
Setelah itu, mereka tampak tenang sambil menikmati makanan yang tersaji di depan mereka. Tak butuh waktu lama, mereka telah menghabiskan makanan mereka.
“Oh iya, kapan kita akan melaksanakan pernikahan anak kita?” tanya Anita.
“Bagaimana kalau dua bulan lagi, setelah mereka menyelesaikan skripsi mereka? Kemungkinan skripsi mereka sudah selesai dalam waktu dua bulan, ‘kan?”
“Ide bagus, jadi kita bisa mempersiapkan pernikahan ini secara matang,” ucap Shira menyetujui saran dari suaminya.
“Rencananya mau outdoor apa indoor, Dar?” tanya Anita kepada Dara.
“Dara nurut sama kalian aja,” sahut Dara tersenyum.
“Lho, nggak bisa gitu dong. Yang mau nikah, kan kalian,” ujar Vano tak terima.
“Iya, kita berdua nurut sama yang tua aja. Karena Ste yakin, kalian bakalan pilihin yang terbaik buat kami,” ucap Stevan.
“Bagaimana kalau indoor saja? Soalnya, kalau outdoor, cuacanya nggak menentu. Takutnya nanti pas kita udah pilih latar outdoor, malah hujan, nggak banget, ‘kan?” Dira yang sedari tadi hanya diam kini mulai bersuara memberikan saran.
“Nah, gue setuju sama saran Dira, Ar. Benar apa yang Dira katakan, bagaimana?”
Stevan dan Dara mengangguk secara bersamaan.
__ADS_1
“Kalian nggak mau ngasih saran?” tanya Shira kepada Dara dan Stevan.
Mereka berdua kembali menggeleng secara bersamaan.
“Lah, kenapa? Bukannya kalian senang mau nikah?”
“Yang Ste pikiran bukan resepsinya, yang terpenting ijab kabulnya dan Dara menjadi istri sahnya Ste. Menurut Ste, ada dan tidaknya resepsi pernikahan itu nggak akan jadi masalah,” ucap Stevan menjelaskan.
“Enggak bisa begitu dong. Ini pernikahan anak semata wayangnya Bunda, jadi harus ada resepsinya. Masa anak semata wayang nikah malah nggak ada acara resepsi, apa kata dunia?” sahut Anita tak terima dengan opini yang dikatakan oleh Stevan.
“Iya deh, Ste ngalah. Urusan persiapan dan resepsi pernikahan ini kita serahkan sama kalian yang lebih tahu aja. Oh iya, Ste mau jalan-jalan dulu sama mantan sekaligus calon istri Ste,” ucap Stevan menarik tangan Dara agar mengikuti langkahnya.
...🌾🌾🌾...
Stevan dan Dara sedang berjalan-jalan menyusuri taman kota setelah mendapatkan izin dari kedua orang tua mereka masing-masing. Tangan keduanya saling bertautan seolah takut kehilangan satu sama lain.
“Sayang!” Panggilan dari Stevan membuat Dara mendongakkan kepala, matanya menatap Stevan yang memang lebih tinggi dari dirinya.
“Iya, kenapa?”
“Kamu nangis?” tanya Dara tak percaya.
“Iya, Sayang. Rasanya sakit banget waktu kamu bilang hubungan kita cuma bisa sampai di sini. Apalagi kamu itu cinta pertama aku. Aku baru pertama kali ngerasain yang namanya sakit hati dan kecewa karena putus cinta, tapi sekarang aku tahu, Tuhan menyatukan kita dengan cara yang berbeda,” tutur Stevan tersenyum tulus sambil mengusap kepala Dara lembut.
“Aku juga bersyukur, setidaknya Tuhan tidak memisahkan aku dengan orang yang aku sayang. Aku kira nanti kita bakalan bahagia di jalan yang berbeda. Kamu bahagia sama istri kamu dan aku yang menangisi kebahagianmu, tapi ternyata aku salah. Sekarang yang bisa aku lakukan adalah bersyukur dan terus bersyukur karena Tuhan selalu memberi nikmat tiada tara di dalam hidupku,” sahut Dara tersenyum lalu mendudukkan dirinya di salah satu bangku, diikuti oleh Stevan yang juga mendudukkan dirinya di sampingnya.
Stevan membawa tubuh Dara ke dalam dekapan hangatnya. Dia mengecup puncak kepala Dara berkali-kali. Stevan tersenyum, dia bahagia. Ternyata Tuhan memiliki rencana tersendiri untuk memberikan kejutan indah di dalam hidupnya.
“By the way, kamu malam ini kelihatan lebih cantik berkali-kali lipat,” ucap Stevan sambil menyelipkan anak rambut Dara di telinganya.
“Niatnya tadi malas dandan kayak gini, tapi ya mau gimana lagi, aku nggak mau bikin Papa sama Mama malu. Walaupun tadinya aku terpaksa nerima perjodohan ini,” ucap Dara, “tapi sekarang aku nggak terpaksa lagi, aku malahan senang banget. Bahkan, sekarang mungkin aku udah masuk di dalam kategori tujuh wanita terbahagia di dunia. Dan aku layak dapat award.” Dara tertawa dengan ucapannya sendiri.
Stevan mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah. Stevan membuka beludru itu, mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
__ADS_1
“Nih, aku kasih award-nya,” ucap Stevan menyelipkan sebuah cincin dengan berlian kecil di tengahnya, ke jari manis Dara.
“Wah, bagus banget. Aku senang ngelihatnya, apalagi ini dari kamu.” Dara menatap cincin yang dipasangkan oleh Stevan dengan tatapan berbinar.
“Kalau kata bunda, ini baru DP. Nanti waktu acara akad, aku bakalan memberikan cincin nikah yang akan kita pakai dijari manis kita.”
“Aku sayang kamu, Ste,” ucap Dara menghambur ke dalam pelukan Stevan.
“Aku juga sayang kamu.”
“Eh, ayo kita balik lagi ke restoran. Nggak enak, masa yang mau nikah kita, yang repot orang lain,” ajak Dara yang diangguki oleh Stevan.
...🌾🌾🌾...
“Kalian dari mana?” tanya Anita saat melihat anak dan calon menantunya baru saja mendudukkan diri bersama mereka.
“Jalan-jalan, Tante,” sahut Dara sopan.
“Eits, jangan panggil tante. Mulai sekarang kamu panggil bunda juga seperti Stevan, karena sebentar lagi kamu akan menjadi anak perempuan Bunda.” Dara tersenyum lalu mengangguk mendengar penuturan dari Anita.
“Oke, baiklah karena kalian berdua sudah kembali. Resepsi pernikahan kalian akan digelar dua bulan lagi. Jadi, selama dua bulan itu kalian persiapkan diri kalian,” ucap Arya menjelaskan.
“Kenapa cepat sekali, Pa?” protes Dara.
“Lebih cepat lebih baik, Sayang,” sahut Stevan yang duduk di samping Dara.
“Tapi, kan. Kita lagi sibuk ngurus skripsi, Ste.”
“Kalian tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan segala hal. Karena kami yang tua yang akan menyiapkan semuanya. Nanti, kalian tinggal pilih gaun dan jas yang akan kalian kenakan di hari bahagia kalian. Jadi kalian bisa fokus dalam menghadapi skripsi dan sidang. Ingat, jangan pikirkan tentang persiapan ini, Bunda tidak mau kalian stres karena terlalu banyak yang kalian pikirkan. Kalian tinggal terima beres saja,” jelas Anita.
“Tapi, Bunda. Inikan acara pernikahan Ste dan Dara, masa kita nggak ikut dalam persiapan pernikahan ini. Dara nggak mau bikin orang lain kerepotan, Bunda.”
“Sayang, kali ini aja. Dengarin apa yang kami sarankan. Mama tidak mau kamu banyak pikiran sayang. Lagian kami sama sekali nggak ngerasa direpotin sama sekali. Karena ini pernikahan anak kami, kalian tetap harus fokus dalam menghadapi sidang yang sebentar lagi akan kalian laksanakan,” tutur Shira.
__ADS_1
Dara hanya bisa mengangguk. Lagi pula apa yang dikatakan oleh bunda Stevan dan mamanya adalah benar adanya.
To be continued ....