
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Kaki jenjang itu melangkah ke arah sebuah kamar dengan stiker gambar Spiderman di bagian pintu. Dara membuka pintu kamar Langit, lantas memasukinya tanpa menutup pintunya kembali.
Dara terus melangkah menuju jendela. Dia menyibak gorden, membuat cahaya pagi memasuki kamar.
“Elang sayang,” panggil Dara lembut sambil menepuk pelan pipi Langit, ketika sudah mendudukkan diri di sisi ranjang berukuran sedang itu.
Mata Langit perlahan terbuka, memperlihatkan bola mata berwarna cokelat terang yang terlihat indah itu.
“Mama,” ucap Langit, dengan suara seraknya.
“Ayo bangun. Elang harus sekolah,” tutur Dara, menarik pelan tangan anak itu agar duduk.
“Mama jadi, ‘kan ngantal Elang sama Bang Van sekolah?” tanya Langit sambil mengucek pelan matanya.
Dara mengangguk. “Iya dong, kan kemarin udah bilang, katanya. Elang mau dimandiin atau mandi sendiri? ”
“Mandi sendili dong, Ma. Elang, kan sudah besal, halus bisa mandi sendili.”
Dara tertawa pelan, dia mengusap kepala Langit lembut.
“Ya sudah, sana mandi. Mama mau bangunin abang dulu, setelah itu bajuin Langit.”
Langit mengangguk, dia turun dari ranjangnya, kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Dara menatap punggung Langit yang hilang di balik pintu kamar mandi sambil tersenyum. Anak itu sungguh menggemaskan.
‘Kakak, lihatlah anakmu di sini. Dia sudah bisa mandi sendiri. Kakak, apakah kau bahagia bersama Kak Angga di sana? Kak Dira, Dara rindu dengan Kakak. Semoga Kakak bahagia di sana.’
Secepatnya kilat, Dara menghapus air mata yang dengan nakalnya menetes di pipinya. Wanita itu memilih beranjak dari duduknya. Tujuannya saat ini adalah kamar sebelah, tempat anak sulungnya berada.
Tok ... tok ... tok.
“Gervan,” panggil Dara sambil mengetuk pelan pintu kamar Gervan.
Perlahan, pintu itu terbuka, memperlihatkan sesosok makhluk mungil yang terlihat tampan dibalut dengan seragam khas taman kanak-kanak.
“Iya, Ma?”
“Mama kira kamu belum bangun, makanya Mama bangunin. Eh, ternyata anak Mama sudah tampan begini,” ucap Dara sambil menepuk kepala Gervan. “Gervan mau ikut ke kamar Elang, atau nunggu di kamar Gervan aja?” tawar Dara.
“Gervan ikut aja, Ma. Gervan mau ambil tas dulu.” Anak itu berbalik, dia segera mengambil tasnya lalu kembali menghampiri sang mama.
__ADS_1
“Ayo,” ajak Dara sambil menggandeng tangan Gervan menuju kamar Langit.
Sesampainya di kamar, Dara segera menghampiri Langit yang tengah duduk di atas ranjang dengan handuk mandi yang membalut tubuhnya.
Dara meraih botol minyak telon, lantas membalurkannya ke tubuh Langit.
“Ayo pakai seragamnya dulu.”
“Ye, udah besar kok nggak bisa pakai baju sendiri,” ejek Gervan. Anak itu terlihat anteng duduk di atas ranjang.
Langit menoleh. “Biarin, Mama aja nggak malah. Lagian, Elang tuh bisa pakai baju sendili, cuma Elang, kan mau manja-manja sama Mama,” sahutnya, lantas kembali menatap sang mama.
“Sudah-sudah, nggak baik pagi-pagi berantem, nanti rejekinya dipatok ayam,” lerai Dara. Dia menyisir rambut Langit lalu menurunkan bocah itu. “Ya sudah, ayo kita ke meja makan. Papa pasti sudah menunggu kita,” lanjutnya.
Dara menggantung handuk di samping lemari. Wanita itu menggandeng tangan Gervan dan Langit, menggiringnya keluar kamar.
Setibanya di meja makan, sudah ada Stevan yang menunggu mereka.
“Selamat pagi, Papa!” sapa Langit riang sambil mendudukkan diri di kursi.
“Pagi juga, anak-anak papa yang tampan,” balas Stevan. “Hari ini kalian diantar Mama, ya?”
Langit mengangguk. “Iya, dong. Elang udah nggak sabal.” Anak itu bertepuk tangan ria, sebelum meminum susu cokelatnya.
Stevan hanya tertawa sambil menggeleng, melihat keantusiasan anak bungsunya ini.
...🌾🌾🌾...
“Papa, kita turun dulu, ya,” ucap Gervan setelah mobil yang dikendarai oleh Stevan berhenti tepat di depan gerbang sekah mereka.
Stevan menyerongkan tubuhnya, dia mengangguk lalu menepuk kepala Gervan dan Langit bergantian.
“Iya, sayang. Kalian belajar yang rajin.”
Langit dan Gervan mengangguk.
“Assalamualaikum, Papa.” Keduanya mencium punggung tangans ang papa, kemudian turun dari mobil.
Setelah kepergian kedua anaknya, Stevan menghadap Dara. Tangan pria itu terulur mengusap kepala sang istri lembut.
“Nanti kalau sudah pulang kabarin, ya? Aku mau jemput kalian.”
“Iya, sayang. Kamu yang semangat kerjanya,” sahut Dara. Dia tersenyum tipis lalu mencium punggung tangan sang suami, yang dibalas kecupan di keningnya.
“Selamat bekerja,” ucap Dara lagi, dia keluar. Di hadapannya, sudah terdapat Langit dan Gervan yang tengah menunggunya.
__ADS_1
“Mama sama Papa ngapain? Lama banget,” ucap Langit, melipat kedua tangannya di depan dada.
Dara tertawa pelan, dia meraih tangan Gervan dan Langit.
“Sudah, jangan marah-marah. Ayo masuk ke kelas, nanti kalian terlambat lho.”
Mau tak mau, Langit mengangguk, lantas ikut menyamakan langkahnya dengan sang mama.
“Mama nungguin kita sampai pulang atau habis ini pulang?” tanya Gervan. Dia mendongak, menatap Dara yang tentunya lebih tinggi darinya.
Dara menunduk. “Sampai kalian pulang dong.”
“Wah, asik!” seru Langit antusias. “Eh, Mama. Nanti pulang sekolah, boleh nggak kita makan es klim dulu? Soalnya Elang lagi pengin.”
Dara mengangguk. “Boleh, tapi nggak boleh banyak-banyak, nanti sakit.”
Langit mengangguk patuh. “Oke, Mama,” katanya. “Kalau begitu, Elang masuk kelas dulu, ya.”
Dara berjongkok, menyamakan tingginya dengan Langit.
“Belajar yang rajin, anak pintarnya Mama,” ucapnya, dia mengecup kening Langit, lantas mengacak pelan rambut anak itu. Dara juga melakukan hal yang sama pada Gervan
“Assalamualaikum, Mama.” Kedua anak itu melangkah meninggalkan Dara. Keduanya memasuki kelas masing-masing yang memang bersebelahan.
“Eh, Dara.”
Suara seorang wanita itu membuat Dara yang semula menatap Langit, kini mengalihkan pandangannya. Dara berbalik, menatap Eva yang tengah berdiri di hadapannya dengan Adisya yang menggenggam tangan Eva.
“Iya, ini gue,” ucap Dara. Dia menunduk, menatap Adisya yang tengah tersenyum manis ke arahnya. “Hai, anak cantik.”
“Hai juga, Tante Dala,” sahut Adisya. “Tante ke mana aja? Adisya sekalang nggak pelnah lihat Tante antelin Elang sama Bang Gelvan ke sekolah.”
“Ada, kok. Tante, kan di rumah.”
Adisya mengangguk sok paham, dia meraih tangan Eva dan Dara, menciumnya bergantian.
“Adisya masuk dulu. Dadah, Mama, Tante Dala!” Adisya melambaikan tangannya, seiring dengan langkahnya memasuki kelas.
“Anak lo buat gue aja, Va. Lucu soalnya,” celetuk Dara tiba-tiba.
Eva mendelik, dia menepak lengan Dara gemas.
“Enak aja ngomongnya. Asal lo tahu, itu buatnya nggak jadi sehari.”
“Ye, lo kira roti yang jadi sehari?” tanya Dara sinis. “Udahlah, mending kita cari tempat duduk, pegel kaki gue.”
__ADS_1
“Udah tua sih, makanya cepat capek,” cibir Eva yang hanya ditanggapi lirikan sadis dari wanita di sampingnya.
To be continued ....