Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 32


__ADS_3

...Baca dulu, kalau suka baru vote🤗...


...Happy Reading🌾...


Usai kepergian Vano, Langit mengalihkan perhatiannya pada paper bag di atas meja.


“Ini isinya apa, Ma?” tanyanya, sambil meraih paper bag, lalu melongok isinya. “Wah, ada kue cokelat!” seru Langit girang. Tanpa menunggu lagi, bocah kecil itu segera meraih kotak kue cokelat dari paper bag dengan mata berbinar senang.


“Gervan mau, nggak?” tanya Stevan sambil menatap Gervan yang hanya duduk diam di pangkuannya.


Gervan menggeleng. “Gervan nggak suka kue cokelat, Pa.”


“Kenapa, Bang?” tanya Langit, ia mengernyitkan alisnya. “Padahal enak, lho,” lanjutnya, kembali melahap kue cokelat di tangannya.


Dara hanya mampu menggeleng melihat kelakuan anak keduanya itu. Wanita itu meraih tisu di atas meja lalu nengusap noda cokelat di sudut bibir Langit.


“Kamu kebiasaan, kalau makan suka belepotan.”


Langit tertawa, entah apa yang ditertawakan olehnya.


“Kalian udah pada mandi, nih?” tanya Stevan, menatap bergantian Langit dan Gervan.


Gervan mengangguk. “Udah, Pa. Tadi di rumah Oma.”


“Mandi sendiri atau dimandiin?”


“Gervan mandi sendiri, kan udah gede. Kalau Elang dimandiin, gara-gara dia nggak mau berhenti mainan air,” adu Gervan.


“Ih, Abang. Kenapa dikasih tahu?” Langit cemberut, lalu melahap habis sisa kue cokelat di tangannya, membuat pipi bocah itu menggembung lucu.


Dengan susah payah, Langit akhirnya bisa turun dari sofa. Langit, Dara, dan Gervan diam, dengan hati yang terus menebak, apa yang akan dilakukan oleh bocah kecil itu?


Langit mensejajarkan tingginya dengan perut Dara, lalu menyodorkan kue yang baru saja diambilnya ke arah perut wanita itu.


“Adek mau, nggak? Kuenya enak, lho,” tawar Langit, ia mendekatkan kepalanya ke perut sang mama, seolah-olah tengah berkomunikasi dengan si calon adik.


Langit menormalkan posisi tubuhnya, tangan kecilnya menyodorkan kue yang di pegangnya ke mulut sang mama. Dara mengerutkan dahi, tetapi tak urung menerima suapan dari bocah itu.


“Nah, Adek udah ngerasain kuenya, hehe.” Langit tertawa, lalu mengusap perut Dara lembut. Mata bulat anak itu menatap Dara penasaran. “Mama, adeknya kapan kelual? Elang udah nggak sabal mau main sama Adek.”


Stevan terkekeh, lalu menepuk kepala Langit, membuat bocah itu menatapnya.


“Adek keluarnya, nanti. Masih lima bulan lagi.”


“Lima bulan itu berapa hari, Pa?” Gervan yang sejak tadi diam pun angkat suara.

__ADS_1


“Kurang lebih 150 hari.” Jawaban dari Stevan itu membuat Langit yang semula antusias, kini mulai melemas.


“Yah, masih lama dong,” keluh Langit, menduduki sofa di antara kedua orang tuanya dengan lemas.


“Kalau dihitung emang lama, tapi nanti juga nggak terasa,” ucap Gervan, menepuk lengan Langit pelan.


Langit hanya mengangguk, ia tak ada gairah untuk menjawab. Anak itu kecewa, sebab kehadiran adik yang dinantikannya masih lama.


“Elang jangan sedih, dong. Nih makan kue cokelatnya aja, habisin buat Elang.” Dara menyodorkan kotak kue cokelat ke arah Langit. “Mama mau mandi dulu, ya,” lanjut Dara, beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju kamar.


“Mama nggak capek ya, Pa?” Pertanyaan dari Gervan itu membuat Stevan mengernyitkan dahinya.


”Capek kenapa?” tanyanya, tak mengerti.


“Ya capek, soalnya ke mana-mana harus bawa dedek.”


Stevan tersenyum, lalu menarik Langit yang tengah menikmati kue cokelat mendekat ke arahnya, agar dapat mendengar ucapannya.


“Capek sih, iya, tapi seorang ibu akan dengan ikhlas mengorbankan segala apa yang dia punya untuk anaknya. Mengandung selama sembilan bulan, melahirkan, belum lagi harus mengurus anak. Itulah kenapa, kalian harus menghormati seorang wanita, terutama Mama,” tutur Stevan, lalu menjawil hidung Langit dan Gervan bergantian.


Langit dan Gervan mengangguk paham.


“Elang bakalan belusaha buat nggak bikin Mama kecewa, telus belusaha buat bahagiain Mama,” ucap Langit semangat yang langsung diangguki oleh Gervan.


“Ste!”


Suara panggilan dari sang istri itu membuat Stevan yang semula tengah sibuk mengecek laporan email dari asistennya pun menoleh.


“Kenapa, Sayang?” tanya Stevan lalu kembali fokus pada pekerjaannya yang seolah tiada habisnya.


Dara tak menjawab, wanita itu melangkah mendekati suaminya yang tengah berada di atas ranjang, lalu mendudukkan diri di samping Stevan.


“Kenapa?” ulang Stevan, melirik sejenak istrinya.


“Sebentar lagi ... Elang ulang tahun.”


Ucapan lirih itu membuat Stevan benar-benar berhenti fokus pada pekerjaannya. Pria itu menutup laptopnya, lalu meletakkan di atas nakas.


“Sini,” pinta Stevan, melambaikan tangan agar Dara makin mendekat ke arahnya.


Dara mengangguk, beringsut ke arah sang suami, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.


“Alasannya masih sama?” tanya Stevan yang langsung mendapat jawaban berupa anggukan dari Dara.


“Aku takut, Ste. Bayang-bayang wajah Kak Dira terus hadir di hari ulang tahun Elang,” ucap Dara. Tetesan air mata mulai jatuh, mengenai pipinya.

__ADS_1


Stevan menarik sudut bibirnya sedikit, tangannya mengusap lembut bekas air mata Dara.


“Dar, ada kalanya masa lalu kelam itu terus menghantui, membuat kita sulit dan takut untuk melangkah lebih baik ke depan. Ia akan terus menjadi bayang-bayang yang membuat kita hanya akan berada pada titik itu saja; titik terapuh kita. Ia tak akan pergi, sebelum kita bertekad dalam hati, bahwa kita bisa menjadi lebih baik lagi.”


Dara menelinga penuturan Stevan. Otaknya mulai bekerja mencari arti dari setiap kata penuh makna itu. Ya, Dara akui, dirinya adalah seorang wanita pengecut yang terus hidup dalam lingkaran bayang-bayang kelam; bayang-bayang di mana kakak tercintanya pergi setelah melahirkan sang buah hati. Itulah alasan kenapa, setiap hari ulang tabun Langit hanya diadakan secara sederhana—hanya mengundang keluarga besar saja.


Dara masih ingat, satu tahun lalu, saat di mana hari ulang tahun Langit.


Flashback on.


Mata bulat Langit memandang sang mama yang tengah duduk sendirian di meja makan, saat yang lain lebih memilih berkumpul di halaman belakang. Kaki kecil itu dengan perlahan mulai melangkah mendekati sang mama, lalu mendudukkan diri di samping wanita itu.


“Mama,” panggilnya, membuat Dara segera menoleh.


“Kenapa, Sayang?”


“Kenapa ulang tahun Elang nggak dilayakan sepelti teman-teman Elang yang ngundang banyak olang, Ma? Kan, Papa punya uang banyak buat layain ulang tahun Elang.”


Pertanyaan itu membuat Dara terhenyak. Tubuh wanita itu bergeming, bibirnya tak kuasa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan dari anak kecil itu.


“Eh, tapi nggak papa kok, Ma. Elang nggak minta dilayain besal-besalan. Elang cuma pengin, dihali bahagianya Elang, olang-olang yang Elang sayangi telus belada di samping Elang, Elang udah senang banget,” ucap Langit sambil tersenyum lebar.


Baru saja Dara hendak menjawab, kehadiran suaminya itu membuat Dara mengurungkan niatnya.


“Kok malah di sini. Ayo, Elang sama Mama, kita susul mereka di belakang,” ajak Stevan, lalu menggiring anak dan istrinya menuju halaman belakang.


Flashback off.


Air mata Dara kembali menetes, sesak rasanya saat mengingat kejadian itu. Jujur saja, Dara tak tega melihat Langit menjadi korban ketakutannya. Namun, Dara bisa apa, saat bayangan kepergiaan kakaknya lebih mendominasi daripada rasa tak teganya?


“Dara.”


Suara Stevan berhasil menghancurkan imajinasinya. Dengan secepat kilat, Dara menghapus air matanya, lalu mendongak, menatap wajah Stevan yang berada tepat di atasnya.


“Dara, kita memang tidak bisa dengan mudah melupakan masa lalu, tapi kita bisa jadikan masa lalu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.” Stevan kembali berucap, sambil mengusap surai lembut sang istri.


“Menurut kamu ... apa sebaiknya kita rayakan besar-besaran ulang tahun Elang kali ini?” tanya Dara skeptis. Wanita itu mengulum bibirnya, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut sang suami.


Anggukan dari Stevan itu membuat Dara memejamkan kata sejenak, lalu membukanya kembali. Baiklah, mungkin memang ini saatnya untuk dirinya berdamai dengan masa lalu.


“Nggak perlu besar-besaran, cukup undang teman-temannya Elang, dan beberapa orang terdekat saja. Lagian, kamu ingat, ‘kan kata Elang, dia tidak memerlukan ulang tahun yang dirayakan mewah, yang dia inginkan adalah, orang-orang yang dia sayang ada di hari bahagianya.”


Dara mengangguk, lalu tersenyum tipis.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2