Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 47


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Air mata penuh haru mengalir, seiring dengan senyuman yang mengembang di bibir. Mata itu bersinar bahagia, meski terhalang airnya. Wanita itu menatap ke area sekelilingnya, di sekitarnya berkumpul anggota keluarga yang sangat dia sayangi. Ya, meski dalam hatinya ada rasa sedih, sebab seseorang yang sudah lama meninggalkannya tak akan pernah datang.


Dara, wanita yang tengah berbahagia itu tak pernah melunturkan senyumannya. Dia teringat waktu beberapa jam yang lalu.


Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas. matahari hampir saja tiba tepat di atas kepala itu membuat panasnya terasa makin menyengat kulit.


“Mau pulang sekarang?” tanya Stevan, menatap istrinya yang tengah memandang ke arah Langit dan Gervan yang sedang berlarian.


Dara menoleh, dia menatap langit sebentar lalu kembali menatap sang suami. Pandangan wanita itu turun ke arah jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan Stevan, dia mengangguk.


“Iya, lagian sebentar lagi zuhur. Hari juga udah panas, kasihan anak-anak, pasti kecapekan,” ucap Dara. Wanita itu mulai sibuk membereskan barang-barang yang mereka bawa untuk piknik.


Stevan mengangguk. Dia beranjak dari duduknya. Stevan meraih ponselnya yang berada di saku celana, dia berniat memberikan kabar kepada bundanya, bahwa dia sekeluarga akan segera pulang ke rumah. Setelah selesai, pria itu membawa kakinya melangkah menghampiri kedua anaknya.


“Gervan, Langit, pulang yuk. Udah makin siang. Kalian juga harus istirahat,” ucap Stevan. Dia dengan mudah mengangkat tubuh kecil Langit ke dalam gendongannya, lantas menggenggam tangan kanan Gervan.


“Tapi kapan-kapan kita bisa piknik lagi ‘kan, Pa?” tanya Langit, memandang wajah sang papa yang hanya berjarak beberapa senti itu.


Stevan mengangguk. “Iya, in syaa Allah nanti kita piknik lagi.” Stevan menghentikan ucapannya, dia melirik Gervan dan Langit bergantian. “Ke pantai, mau?”


Langit mengangguk antusias.


“Mau-mau. Di pantai asik, nanti Elang mau ajak Adisya. Telus nanti Elang juga mau bikin istana pasil.” Bocah itu bertepuk tangan antusias. Sementara Gervan, dia hanya mengangguk seadanya.


...🌾🌾🌾...


Gervan dan Langit segera turun dari mobil saat kendaraan itu berhenti tepat di depan rumah mereka. Keduanya diam berdiri di samping pintu, menunggu kedua orang tuanya yang tengah menurunkan barang-barang menghampiri mereka.

__ADS_1


Kening Dara mengernyit bingung saat matanya menatap kedua mobil yang terasa tak asing di matanya berada di garasi.


“Itu ... kayak mobilnya Papa,” ucapnya Dara. Dia menoleh ke belakang, memandang Stevan dengan penuh penasaran.


“Kenapa?” tanya Stevan tak mengerti.


“Papa sama mama ada di sini?”


Stevan mengangkat kedua bahunya.


“Enggak tahu, ya udah cepat buka pintunya, biar cepat juga istirahatnya!” perintahnya. Di kedua tangan pria itu menenteng barang.


Dara cemberut sebab pertanyaannya tak mendapat jawaban yang pasti. Namun, tak ayal wanita itu bergerak membuka pintu. Keningnya semakin berkerut dalam saat mendapati pintu rumahnya tak terkunci. Dara ingat betul, sebelum pergi dia sudah mengunci rapat pintu ini.


Wanita itu menggeleng pelan, mungkin saja dia salah tadi. Tak ingin banyak berpikir, dia segera membuka pintu, lalu masuk ke dalam. Dara menunduk, arah pandangnya mengikuti setiap balon—yang seolah-olah ditata beraturan—di atas lantai.


Hingga kemudian matanya membulat saat mendapati wanita yang dia sayang tengah melangkah ke arahnya sambil tersenyum, tak lupa ada sebuah kue ulang tahun di tangannya, juga lilin dengan angkat 28 di atasnya.


“Selamat ulang tahun anak Mama yang paling Mama sayang.” Ya, wanita itu Shira. Dia  tersenyum.


“Terima kasih, Mama. Terima kasih semuanya,” ucap Dara. Air mata wanita itu menetes deras.


Shira menyerongkan tubuhnya, memberikan kode agar Anita mendekat. Setelah wanita itu mendekat, dia memberikan kue di tangannya kepada Anita. Shira segera menarik Dara ke dalam pelukannya.


“Semoga, kebahagiaan akan datang, setelah berbagai ujian yang kau alami,” gumam Shira sambil mencium puncak kepala Dara.


Melihat sang istri dan anaknya berpelukan, Arya segera melangkah mendekat. Seolah tak ingin kalah, pria itu ikut memeluk kedua wanita yang sangat berharga baginya itu.


“Putri kesayangan Papa sudah dewasa, ya,” ucap Arya setelah mereka melepas pelukannya. “Papa berdoa, semoga hidupmu selalu dilimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah dariNya,” lanjutnya lalu mengecup kening sang putri lembut.


“Aamiin, terima kasih, Papa, Mama,” ujar Dara lalu mencium pipi mama dan papanya bergantian.

__ADS_1


“Mama!”


Panggilan dari suara Langit itu mengalihkan perhatian Dara. Wanita itu menatap Gervan dan Langit yang tengah melangkah menghampiri dirinya, sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang di tangan keduanya.


Dara berjongkok, menyamaratakan tingginya dengan Langit dan Gervan saat kedua anak tu telah tiba di hadapannya.


“Hm, kenapa, Sayang?”


“Selamat ulang tahun, Mama tersayang. Elang belhalap, Mama selalu sehat, bial telus bisa bikinin Elang puding,” ucap Langit. Dia menyodorkan kotak dengan bungkus berwarna jingga kepada Dara.


“Aamiin, terima kasih doanya, Sayang.” Dara mengalihkan perhatiannya pada Gervan. “Kalau Gervan?”


“Gervan hanya berharap, semoga Mama selalu bahagia. Gervan nggak mau lihat Mama sedih terus,” sahut Gervan, ikut memberikan kotak di tangannya kepada Dara.


Lagi dan lagi, air mata haru membasahi pipi putih wanita beranak dua itu. Dara segera memeluk Gervan dan Langit bersamaan.


“Terima kasih atas doa-doa kalian, Mama sayang banget sama kalian.”


“Kita juga sayang banget sama Mama,” ungkap Langit dan Gervan bersamaan.


“I love you, Mom.”


“Sudah-sudah, jangan bersedih. Inikan hari bahagianya Dara, seharusnya kita juga ikut bahagia,” ucap Anita. Dia menatap orang-orang di sekitarnya. “Sekarang kita sholat zuhur dulu, setelah itu kita makan. Oma sama Grandma sudah masak banyak sekali,” lanjutnya.


Anita melangkah mendekat ke arah ketiga riang yang masih asik berpelukan. Dia menepuk pelan puncak kepala Dara, lantas menarik lembut tangan Gervan dan Langit.


“Elang sama Gervan mandi dulu, yuk. Kalian kan habis piknik, pasti bau keringat,” kata Anita. “Oma sudah bikin puding cokelat buat Elang, juga kue nastar buat Gervan.” Wanita itu tersenyum tulus. Dia mulai menggiring tangan kedua anak kecil itu menuju kamar.


Dara berharap, dia akan terus bisa melihat wajah bahagia semua keluarganya, dan orang-orang yang dia sayangi.


Terima kasih, Tuhan. Engkau telah menghadirkan orang-orang yang senantiasa tulus menyayangiku, orang-orang yang selalu ada untukku, meski aku dalam keadaan terpuruk sekalipun.

__ADS_1


Teruntuk Kak Dira. Dara berharap, Kakak sudah bahagia di sana. Tenang saja, Dara berjanji akan menjaga dan menyayangi Langit sepenuh hati Dara. Meski Kakak telah pergi, tapi Dara yakin kalau Kakak melihat dan mendoakan Dara dari sana. Aku merindukanmu, Kak.


To be continued ....


__ADS_2