
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading🌾
Usai makan malam, semua orang yang berada di rumah ini kembali ke kamar masing-masing. Dara yang berdiri di dekat tangga menoleh, menatap Stevan yang juga tengah berdiri di sampingnya.
“Kamu duluan aja ke kamar, ya, Ste. Aku mau ke kamar Kak Dira dulu,” ucap Dara, memang tadi kakaknya itu sempat berkata ada yang ingin dia bicarakan bersamanya.
Tak mau banyak membantah, Stevan mengangguk lalu mulai kembali melangkah ke kamar yang selama ini Dara gunakan.
Dara masih berdiri di tempatnya, matanya masih menatap punggung Stevan yang hilang di balik pintu kamarnya. Dara membalikkan badan, dia melangkah menuju kamar kakaknya yang berada di lantai dasar.
Tok-tok-tok!
Dara mengetuk pintu kamar Dira setelah berdiri di depan kamar dengan pintu berwarna biru itu. Tak lama kemudian, muncul Dira dari balik kamar. Dia menatap Dara yang masih berdiri di tempat.
“Ayo masuk!”
Dara mengangguk, perempuan itu mengikuti langkah kaki Dira yang memasuki ruangan dalam kamarnya. Keduanya mendudukkan diri di ranjang yang berada di kamar Dira.
“Dar!” panggil Dira.
Dara menoleh, dia menatap kakaknya lama diam. Menunggu wanita itu melanjutkan kalimatnya.
“Kamu mau dengar cerita Kakak, nggak?” tanya Dira yang diangguki oleh Dara
Dira menengadahkan kepala ke atas, dia mulai menerawang jauh dari pandangannya
“Jadi, kemarin Kakak bermimpi. Di mimpi itu, Mas Angga bilang, kalau nggak lama lagi kita bakalan bisa bersama-sama kembali.”
Dara terdiam, otaknya mulai berusaha mencerna setiap bait kalimat yang diucapkan oleh Dira. Kalimat itu ... terdengar simpel, tetapi siapa tahu dibalik kata itu tersimpan makna yang terpendam?
“Jadi?” Dara mulai membuka suaranya setelah berpikir keras. Sesungguhnya, dia sudah tahu jawabannya. Namun, Dara masih takut menyuarakannya. Dia hanya takut, apa yang ada di pikirannya benar-benar terjadi
__ADS_1
Dira mengangguk, seolah paham apa yang dipikirkan Dara.
“Iya, nggak lama lagi Kakak bakalan nyusul Mas Angga ....” Dira menjeda sejenak ucapannya sebelum tangannya membawa tangan Dara, mengarahkannya ke perut besarnya. “... jadi, ketika Kakak sudah pergi, Kakak harap kamu jaga anak kakak ya, Dar. Kakak harap kamu menyayangi anak Kakak seperti kamu menyayangi anak kandung kamu sendiri.”
Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan dari mata kedua wanita itu. Dara yang semula menatap perut kakaknya kini mulai mendongak, dia menatap wajah kakaknya penuh tanya.
“Kakak kenapa ngomong gitu?” tanya Dara sambil terisak.
Dira mengarahkan tangannya, membawa kepala Dara bersandar di bahunya lalu mulai mengelus kepala Dara.
“Dara ... mungkin, ini sudah waktunya Kakak untuk kembali ke pangkuan Sang Pencipta.”
Dara menegakkan tubuhnya, dia menatap kakaknya dengan marah.
“Nggak ada orang yang tahu umurnya, Kak! Umur manusia hanya Tuhan yang menentukan. Kakak nggak harusnya ngomong kayak gitu, Dara marah sama Kakak!”
Tanpa menunggu lagi, Dara langsung menuruni ranjang Dira lalu bergegas keluar dari kamar itu, meninggalkan Dira yang terisak dalam diam.
Tak mau larut bersedih, Dira beranjak dari ranjangnya. Langkah kaki pelannya mulai membawanya menuju meja belajar yang masih terletak apik di sudut ruangan. Tangannya mulai meraih buku yang selama ini menjadi tempat curhatnya lalu mulai menorehkan tinta pena di atas kertas yang masih kosong.
Sementara Dara, dia membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali. Dara membiarkan tubuhnya merosot ke lantai, tangisan yang semula hanya berupa tetesan mata, kini mulai menjadi isak tangis yang memilukan.
Sampai saat ini, dia masih tak mampu mengartikan apa yang baru saja didengarnya. Dara terlalu takut jika apa yang baru disampaikan oleh Dira menjadi kenyataan. Selama ini, Dira adalah wanita yang sangat dia sayangi selain bundanya. Dira adalah sosok kakak yang sangat baik menurutnya. Dan Dara, belum siap jika harus kehilangan wanita itu. Walau Dara tahu, manusia tidak akan lepas dengan yang namanya kematian.
Stevan yang semula sudah mengantuk berat dan berniat untuk memejamkan matanya memilih mengurungkan niatnya saat mendengar suara isak tangis wanita yang sangat dia kenali. Pria itu membalikkan tubuhnya, matanya menangkap sosok Dara yang terduduk di balik pintu.
Stevan menuruni ranjang, dia melangkah menuju Dara yang masih tenggelam dengan kesedihan yang wanita itu rasa sampai tak menyadari kehadirannya. Tiba di depan Dara, pria itu menjongkokkan diri di depan Dara. Tangannya mengelus rambut Dara.
Dara terkesiap, dia menatap Stevan yang berada di depannya. Dengan gerakan cepat, tangannya bergegas menghapus air mata yang masih mengalir dengan deras dari pelupuk matanya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Stevan lembut sambil menuntun Dara menuju ranjang yang berada di kamar.
Dara menggeleng tanda bahwa saat ini dia tak ingin berbagi cerita dengannya. Stevan menghela napas pelan, tangannya mengambil segelas air putih yang berada di atas nakas lalu memberikannya pada Dara.
__ADS_1
“Kalau kamu nggak mau cerita sekarang, ya udah nggak apa-apa. Sekarang kamu tidur aja,” tutur Stevan sambil mengembalikan gelas ke atas nakas.
Dara mengangguk, dia membaringkan dirinya di atas ranjang, diikuti oleh Stevan di sampingnya. Pria itu membawa tubuh Dara, menenggelamkan tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.
...🌾🌾🌾...
Tanpa terasa, satu bulan telah berlalu. Kini tiba saatnya mereka merayakan keberhasilan yang telah mereka perjuangkan selama empat tahun terakhir. Selalu bergelut dengan berbagai tugas-tugas yang semakin bejibun sampai menggunung hingga menghadapi rangkaian sidang yang harus mereka hadapi. Tiada keberhasilan tanpa perjuangan. Apa yang diperjuangkan akan sepadan dengan apa yang didapat.
Saat ini, Dara sudah terlihat sangat cantik dengan balutan baju kebaya yang melekat di tubuhnya, tak lupa wajah yang dipoles sedemikian rupa membuat aura kecantikan Dara semakin terlihat mengguar.
Dan Stevan, kini dia sudah rapi dan terlihat tampan dengan kemeja putih yang di balut dengan jas hitam sebagai atasan, dan celana bahan berwarna berwarna sepadan dengan jasnya sebagai bawahannya. Apabila disandingkan dengan Dara, mereka akan terlihat sangat serasi.
Stevan berdiri dengan gagahnya dengan Dara di sampingnya. Kedua orang tua Stevan sudah duduk rapi di tempat yang disediakan untuk keluarga para mahasiswa yang sebentar lagi akan mendapatkan gelar sarjana. Sementara orang tua Dara, keduanya belum tiba di tempat. Namun, Arya sempat menghubungi Dara bahwa Dara tidak usah khawatir mereka tidak datang.
Tak terasa, menit semakin berlalu. Kini seluruh mahasiswa/i berkumpul di sebuah lapangan luas, bersiap melemparkan toga yang mereka kenakan ke atas udara. Senyum bahagia tercetak jelas di bibir para mahasiswa yang sekarang sudah menyandang gelar sarjana yang selama ini mereka perjuangkan.
“Satu, dua, ti ... ga!” Teriakan menggema itu seolah sebagai aba-aba.
Tiba hitungan ke tiga, seluruh mahasiswa mulai melemparkan toga yang semula mereka kenakan di kepala kini mulai melayang bebas di udara. Perjuangan yang selama ini mereka perjuangkan telah selesai.
Sedang asik-asiknya tertawa bahagia bersama para teman-teman, sebuah deringan ponsel yang berada di sakunya membuat Stevan menghentikan aktivitasnya. Pria itu segera merogoh saku celananya, mengambil ponselnya, menatap nama pemanggil ternyata papanya lalu mengangkatnya.
“Halo, Pa, kenapa?” tanya Stevan sambil melangkah menjauhi keramaian.
“Kakak ipar kamu melahirkan, Ste. Segera ajak Dara ke rumah sakit Bina Sehat!”
Tanpa kembali menjawab, Stevan segera mematikan sambungan telepon lalu kembali melangkah mencari keberadaan istrinya yang bergabung dengan para teman wanita itu. Setelah menemukannya, Stevan segera menarik lengan Dara yang membuat bingung di buatnya.
“Kenapa?” tanya Dara bingung sambil berusaha mengimbangi langkah cepat Stevan.
“Kak Dira melahirkan, Dar!” sahut Stevan, masih menarik lengan Dara agar wanita itu mempercepat langkahnya.
To be continued ....
__ADS_1