Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 40


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Sudah seminggu berlalu, tetapi Gervan tak kunjung membuka mata. Anak itu seolah-olah betah berada di alam mimpinya. Apakah sebahagia itu dia bermimpi, hingga tak memedulikan orang-orang yang bersedih melihatnya terbaring lemah begini.


Tut ... tut!


Alat yang menampilkan garis grafik denyut jantung Gervan itu tak henti menemani heningnya suasana ruangan ini. Di ruangan berbau obat ini, Gervan tak sendiri. Di sofa, terdapat Stevan yang tengah sibuk menatap layar monitor di hadapannya.


Pria itu rela bekerja sambil menjaga sang anak. Sebenarnya bisa saja Dara menjaganya. Namun, sekali lagi, Stevan tak ingin istrinya itu terlalu lelah, hingga berdampak pada kesehatannya.


Stevan melirik ke arah Gervan lalu memijit pelipisnya pelan. Pria itu menarik napas panjang, dia menyadarkan tubuhnya sambil memejamkan mata sejenak. Raut lelah, juga lingkaran hitam di bawah mata, terlihat jelas di wajah Stevan.


Ceklek!


Stevan mendudukkan dirinya secara tegak saat mendengar suara pintu dibuka. Dia menatap ke arah Langit yang tengah melangkah menghampirinya sambil membawa satu cup kopi.


“Papa!”


Stevan tersenyum, dia segera mengangkat tubuh Langit saat anak itu sudah berada di hadapannya.


“Elang bawa kopi. Kata Oma, Papa pellu kopi buat tenangin pikilan,” kata Langit, dia menyodorkan cup kopi yang dia bawa.


“Terima kasih, anak Papa baik,” puji Stevan. Dia menghirup dalam aroma kopi yang membuatnya tenang lalu menyesapnya pelan.


“Bang Van belum bangun, Pa?” tanya Langit.


Mata polos itu memancarkan kesedihan. Langit rindu bermain dengan Gervan. Langit rindu berbicara, bercanda, dan tertawa bersama Gervan.


Stevan meletakkan cup kopi di atas meja.


“Elang doakan ya, semoga Abang cepat bangun.”


Langit mengangguk, anak itu memilih turun dari pangkuan sang papa. Kakinya kembali melangkah menghampiri bed hospital. Dengan bersusah payah, dia berusaha mendudukkan diri di kursi. Langit memandang sendu ke arah Gervan. Langit bersyukur, setidaknya wajah abangnya tidak separah seminggu yang lalu. Goresan-goresan pisau itu sudah sembuh, hanya meninggalkan bekas saja.


Langit meraih tangan Gervan lalu menggenggamnya. “Bang Van kapan bangun? Bang Van nggak kasihan sama Mama? Elang seling lihat Mama nangis sambil lihatin Bang Van,” curhatnya.


Melihat tak ada jawaban, Langit kembali berbicara.


“Bang Van mimpi apa sih, sampai nggak mau bangun? Bang Van malah ya sama Elang kalena Elang sembunyiin pensil gambal pololo kesukaan Abang?” Langit menghentikan sejenak ucapannya, dia meraih sesuatu dari saku celananya. “Talaa, nih lihat ... Elang udah bawa pensilnya. Abang bangun dong. Elang janji deh nggak bakalan jahilin Abang lagi, asalkan Abang bangun ... jangan tidul telus.”


Masih tak ada jawaban, Langit menunduk.


“Abang, maafin Elang, ya. Kalena Elang paksa Mama buat layain ulang tahun Elang, Abang jadi telluka begini,” ucap Langit penuh penyesalan. “Tuhan malah ya sama Elang, sampai adik dibawa pelgi?” tanyanya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Langit terkejut saat merasakan jari Gervan yang di genggamannya bergerak. Anak itu membuka genggamannya, menatap intens jari sang abang yang masih bergerak.


“Papa!” seru Langit, matanya masih fokus pada jari sang abang.


“Elang, kenapa teriak-teriak?” tanya Stevan. Telinganya berdengung akibat teriakan menggelegar anak itu.

__ADS_1


“Papa, jali Bang Van gelak!” seru Langit heboh.


Secepat kilat, Stevan berdiri dari duduknya. Dia melangkah lebar menghampiri bed hospital. Setelah sampai, matanya ikut memperhatikan tangan Gervan yang masih berada di genggaman Langit lalu naik ke wajah. Dan tepat, Gervan perlahan membuka matanya.


“Papa, a ... air,” ucap Gervan lirih.


“Papa, Bang Van minta ail,” ulang Langit.


Stevan mengangguk, dia meraih gelas di atas nakas lalu membantu Gervan meminumnya. Setelah usai, Stevan segera memekan tombol yang berada di dinding.


“Mama di mana?” tanya Gervan, matanya menelusuri ruangan, mencari keberadaan sang mama.


“Ma ....”


Baru saja Stevan ingin menjawab, Aris dan dua perawat di belakangnya memasuki ruang rawat Gervan.


“Saya periksa dulu, ya, Pak.”


Stevan mengangguk, mempersilakan Aris memeriksa Gervan terlebih dahulu.


Aris menatap Stevan.


“Alhamdulillah, kondisi Gervan sudah lebih baik dari sebelumnya. Mungkin, hanya perlu dirawat selama dua hari, setelah itu sudah diperbolehkan untuk pulang.”


“Terima kasih, Dok.”


Aris mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.” Aris mengalihkan perhatiannya pada Gervan yang juga menatapnya. “Gervan cepat sembuh, ya.” Aris dan dua perawat yang tadi mengikutinya pun meninggalkan ruangan.


“Mama di mana, Pa?” Gervan kembali mengulang pertanyaannya tadi.


“Boleh telepon Mama? Suruh ke sini, Gervan kangen,” pinta Gervan.


Stevan mengangguk, dia mengambil ponselnya di meja dekat sofa lalu menghubungi Dara.


...🌾🌾🌾...


Gervan mengembangkan senyum saat melihat Dara memasuki ruang rawat inapnya. Anak laki-laki itu menatap Dara dari atas ke bawah. Gervan merasa, ada yang berubah dari postur tubuh mamanya, dari yang terakhir dia lihat.


“Ma ... ma.” Napas Gervan tersendat setelah dia menyadari sesuatu yang hilang itu.


Dara tersenyum, dia makin mempercepat langkahnya menghampiri brankar. Matanya berkaca-kaca, akhirnya anak itu membuka mata juga. Dara segera memeluk Gervan yang masih berbaring dengan erat.


“Mama kangen sama kamu, Sayang,” ucap Dara, mengecup kening Gervan lalu mengusap kepala anak itu lembut.


Gervan tak menjawab, dia malah menatap Dara dengan mata berkaca-kaca, siap menumpahkan tangisannya.


“Mama, apa benar?”


Dara mengerutkan dahinya bingung. Namun, dia mengikuti arah pandang Gervan yang masih terpaku pada perutnya. Dara kembali mengelus kepala Gervan.


“Sudah takdir Allah, Sayang.”

__ADS_1


“Mama, maafin Gervan yang nggak bisa tolong Mama saat Mama didorong sama orang itu waktu itu,” ucap Gervan, seiring dengan air matanya yang mulai membasahi pipi.


“Ini salah Elang,” potong Langit sambil menunduk dalam.


Dara menggeleng, dia mengangkat dagu Langit agar menatapnya. “Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Tidak ada yang salah di sini.”


“Sudah, jangan sedih. Keluarga kita sedang diberi ujian.” Stevan yang sedari tadi hanya diam, kini mengeluarkan suaranya.


“Tapi, Ma ....”


“Sut.” Dara segera menempelkan kedua jari telunjuknya di bibir Gervan dan Langit saat kedua anak itu ingin menyuarakan protesnya. ”Sekarang, lebih baik Gervan makan. Mama yang akan menyuapi kamu.”


Gervan mengangguk. “Baik, Ma.”


“Elang juga mau makan, nggak?” tawar Dara.


Langit mengangguk, dia mengusap perutnya sambil menatap Dara. “Elang lapal, Ma.”


“Ya sudah, ayo anak Papa, kita beli makan di kantin dulu. Sekalian beliin buat Mama, nanti kita makan di sini.” Stevan segera mengangkat tubuh Langit, lalu membawanya keluar.


“Mama.”


Dara yang tengah sibuk mengaduk bubur di dalam mangkok itu menoleh. “Iya, kenapa, Sayang?”


“Boleh Mama peluk Gervan lagi?” pinta Gervan.


Dara mengangguk, dia meletakkan mangkok di atas nakas, lalu memeluk Gervan. “Gervan kenapa nangis?” tanyanya, tatkala merasakan baju yang dikenakannya terasa basah.


“Mama tahu, nggak? Waktu Gervan tidur, Gervan ketemu Papi dan Mami.”


Dara mematung di tempat lalu menatap Gervan.


“Mereka ... bilang apa ke Gervan?”


“Gervan pengin ikut mereka, tapi kata Mami, belum waktunya.” Gervan terdiam sejenak. “Kata Mami, di sini ada keluarga baru Gervan yang menyayangi Gervan,” ungkap Gervan panjang.


“Keluarga baru Gervan adalah kita, ada Mama, Papa, Elang, dan keluarga yang lain. Di sini Gervan tidak sendiri,” tutur Dara, tangannya mengusap rambut Gervan lembut.


Gervan mengangguk sambil menyeka air matanya.


“Tapi kata Paman Yuda, Mama sama Papa sayang sama Gervan cuma bohongan.”


Dara tersenyum. “Terus, Gervan percaya?”


Gervan segera menggeleng. “Nggak, karena Gervan percayanya sama Mama dan Papa, bukan sama Paman. Dia jahat, dia udah lukain Gervan.”


Gervan menunduk dalam, bayang-bayang penyiksaan itu kembali menghampiri pikirannya. Tubuh anak itu bergetar, dia merasa sangat ketakutan.


Menyadari hal itu, Dara segera memeluk Gervan.


“Gervan, tenang. Di sini tidak akan ada orang yang berani menyakiti Gervan.”

__ADS_1


“Gervan takut, Ma,” cicit Gervan, seiring pelukannya yang makin mengerat


To be continued ....


__ADS_2