Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 18


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Dara menyusuri jalanan komplek. Langkah kakinya membawanya ke suatu tempat yang saat ini singgah di otaknya. Di ufuk timur, terdapat semburat jingga yang menghiasi baskara. Di atas daun, terdapat embun-embun yang bertengger.


Dara terus menyusuri jalan, hingga dia tiba di sebuah tempat dengan tulisan “Tempat Pemakaman Umum” yang ditulis besar di tembok pembatas antara jalan dan pemakaman. Dara menghentikan langkah, tepat di depan makam yang berada di bagian ujung. Di dekat makam itu, tumbuh sebuah pohon kamboja yang sedang berbunga.


Dara berjongkok di depan makam kakaknya. Dia mulai menaburkan bunga mawar yang sempat dipetik di belakang rumahnya lalu menyiramkan sebotol air di atas tanah makam itu. Meski hari belum terang, tak membuat Dara ketakutan berada di pemakaman sendirian. Bagaimana mungkin dia bisa takut, saat jiwanya seolah-olah sudah mati rasa.


Dara terdiam, matanya menatap ke arah makam dengan tatapan kosong. Entah sadar atau tidak, bahwa dirinya sering kali mengalami keadaan seperti ini. Ya, melamun. Walaupun raganya berada di sini, tetapi pikirannya tengah berkelana. Dia memikirkan tentang mimpi yang dialaminya tadi malam—yang membuatnya rela datang pagi-pagi ke sini.


Di dalam mimpi itu, Dara dapat melihat tatapan kecewa kakaknya yang mengarah kepadanya. Dara tak tahu maksud dari tatapan itu. Hingga, suara Dira menjelaskannya.


“Kakak kecewa sama kamu, Dar. Kamu sulit untuk mengikhlaskan kepergian Kakak. Kakak juga kecewa, kamu tidak menepati janjimu untuk menjaga dan merawat Langit dengan baik.”


Setidaknya, kalimat panjang itu membuat Dara tersadar akan kesalahan yang sering dia lakukan selama sebulan terakhir ini.


“Maafkan Dara, Kak,” lirih Dara. Menyesali perbuatannya selama ini.


Dira menggeleng pelan.


“Kakak hanya ingin kamu mengikhlaskan kepergian Kakak, Dar. Kakak nggak suka lihat wajah sedih kamu. Seperti kamu, Kakak juga ingin selalu melihat orang-orang di sekitar Kakak bahagia.” Dira menarik napas pelan. “Bukan kesedihan semacam ini yang Kakak mau.”


Dara mengusap air matanya sambil memegang nisan kakaknya.


“Maafin Dara, Kak. Dara salah selama ini.”


Dara bangkit dari duduknya, dia mulai melangkah pergi meninggalkan area pemakaman. Sepeninggal Dara, sebuah bunga kamboja jatuh tepat dia atas makam Dira, seolah-olah wanita itu menanggapi ucapan sang adik.


Sementara di sisi lain, Stevan kelimpungan mengelilingi rumah guna mencari keberadaan wanitanya. Saat bangun tadi pagi, dia tak mendapati Dara di sampingnya. Di sampingnya hanya ada Langitnya yang tengah mengemut ibu jarinya.


“Dara sayang, kamu di mana?”

__ADS_1


Stevan terus-menerus mengulang pertanyaan yang sama sambil membuka pintu kamar-kamar yang tidak dipakai. Namun, tetap saja. Hasilnya nihil, wanitanya itu tak berada di mana pun.


Stevan berbalik arah, dia bergegas menuju pintu saat mendengar suara pintu dibuka. Di sana, terdapat Dara yang tengah menutup pintu kembali. Stevan segera memeluk Dara erat, seakan-akan tak membiarkan wanita itu kembali pergi.


“Kamu dari mana aja, Dar? Aku khawatir nyariin kamu,” ucap Stevan sambil meremas pelan kedua pundak Dara.


“Maaf, ya. Aku bikin kamu khawatir. Aku tadi ke makam Kak Dira,” sahut Dara.


“Kenapa nggak pamitan? Kan aku bisa ngantar kamu.”


Dara tersenyum, dia menatap tepat di manik mata pria yang berada di hadapannya saat ini.


“Kalau kamu ngantar aku, Langit sama siapa di rumah?”


Stevan bungkam, benar juga apa yang dikatakan oleh wanitanya itu. Namun, tetap saja, wanita itu berhasil membuatnya khawatir.


“Ya udah, aku mau mandiin Langit dulu, ya. Dia pasti udah bangun,” ucap Dara. Tanpa menunggu jawaban dari Stevan, wanita itu melangkah pergi menuju kamarnya.


Stevan terdiam di tempat. Bibirnya melengkung, membuat sebuah senyuman. Akhirnya, Dara bisa kembali tersenyum, meski tidak seceria dulu. Namun, perubahan ini sudah membuatnya bahagia. Setidaknya, Dara tak kembali menampilkan wajah datarnya.


Dan lagi, satu kebahagiaan yang membuncah di dalam hati. Dara tak lagi mengabaikan Langit. Stevan berharap, Dara tak kembali menjadi wanita yang pendiam seperti beberapa pekan lalu.


“Lho, kamu ngapain nyusul ke sini?” tanya Dara, memandang ke arah Stevan sambil menggendong Langit yang hanya berbalut handuk di tubuhnya.


“Senang aja gitu lihat obrolan kamu sama Langit.”


Dara menggeleng tak mengerti.


“Obrolan nggak jelas aja kamu senangi,” ucapnya, tertawa pelan, lantas memilih melanjutkan langkah.


Stevan berdecak pelan, dia membuntuti Dara dari belakang.


“Bukan begitu, Dar. Aku cuma suka aja sama semua hal yang berhubungan dengan kamu dan Langit.”

__ADS_1


Dara tak menjawab, dia lebih memilih membaringkan Langit di atas ranjang. Dia kembali melangkah, berniat mengambil baju Langit.


“Kamu nggak ke kantor?” tanya Dara tanpa menatap Stevan. Wanita itu tengah sibuk membaluri tubuh Langit menggunakan minyak telon.


Stevan menggeleng. “Hari ini nggak dulu ya, Yang.”


Dara mendongak, menatap Stevan yang tengah berbaring di sebelah Langit.


“Lho, bukannya kemarin kamu udah nggak ke kantor, ya?”


Stevan mengangguk. “Iya, tapi hari ini kan beda. Hari ini aku mau ngajak kalian berdua jalan-jalan.”


Tak ingin memperpanjang perdebatan, Dara memilih mengangguk mengiyakan sambil mengusapkan bedak ke wajah Langit.


“Anak Mama udah wangi,” ucapnya sambil menghujani wajah bayi itu dengan ciuman.


Stevan segera bangkit, dia mengambil Langit dari gendongan Dara.


“Anak Papa juga,” ucapnya, mencium gemas pipi tembam bayi laki-laki di pangkuannya.


Dara tersenyum menatap ke arah Stevan yang tengah mencium wajah Langit. Dia tahu, selama ini dia sudah mengabaikan dua laki-laki yang sangat berharga baginya.


Selama ini, Dara merasa jiwanya seolah berkelana ke negeri antah-berantah. Dara merasa, otaknya sudah tak dapat lagi diajak bekerja sama. Yang selama ini Dara inginkan hanyalah duduk diam tanpa melakukan apa pun.


Namun, sejak kehadiran Dira di mimpinya semalam membuatnya sadar akan kelalaiannya selama ini. Ya Tuhan, maafkan kesalahan Dara selama ini. Dara menyesal, andai saja dirinya bisa melawan kesedihannya, kekecewaan, dan keegoisannya. Pasti tak ada orang yang terabaikan olehnya.


“Hei, kamu kenapa nangis?”


Pertanyaan dari Stevan itu sontak membuat Dara mengelus pipinya. Benar, di sana terdapat jejak air mata. Padahal, Dara sendiri tak sadar bahwa air matanya sudah terjun bebas.


“Hei!” tegur Stevan.


“Eh, nggak kok. Aku cuma terharu lihat kamu bahagia sama Langit.”

__ADS_1


Stevan tersenyum. “Makanya, kita harus bahagia bersama dengan adik-adik Langit nanti,” ucapnya lalu membawa Dara ke dalam pelukannya dengan Langit yang berada di antara mereka.


To be continued ....


__ADS_2