Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 13


__ADS_3

Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉


Happy Reading🌾


Stevan, Dara dan kedua sahabat Dara melangkah menuju ruangan yang akan mereka pakai untuk menghadapi sidang ujian tutup yang akan dilaksanakan 15 menit lagi.


Tangan Stevan sedari tadi tak hentinya menggenggam tangan Dara erat. Stevan tahu, istrinya ini pasti sedang dilanda gugup karena sidang akhir yang akan mereka hadapi. Ah, sampai lupa. Mereka berempat mendapatkan waktu sidang di hari dan tanggal yang sama.


“Sial, tangan gue keringetan!” umpat Eva yang melangkah di belakang Dara dengan Alden di sampingnya.


Tiba-tiba, tangan Alden meraih tangan Eva dalam diam. Eva mengerutkan keningnya, menatap Alden lalu Dara yang di hadapannya.


Alden mendekatkan wajahnya ke telinga Eva.


“Santai aja, kalau lo udah belajar pasti lo bisa ngehadapin sidang nanti. Gue selalu ada untuk lo!”


Entah sihir apa yang dipakai oleh Alden, Eva mengangguk pelan dengan kepala menunduk. Baru saja Alden hendak meraih dagu Eva agar menghadapnya, suara Dara sudah berhasil mengurungkan niatnya.


“Ehem, ehem!” Dara berdeham sambil tersenyum, melirik Alden dan Eva dengan ujung matanya.


Buru-buru Eva melepaskan tautan tangannya dengan Alden. Dia segera menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.


“Cie, gue tunggu kabar baiknya aja. Yuk, Dar, kita duluan, jangan ganggu orang PDKT,” celetuk Stevan, dia langsung bergegas membawa Dara, meninggalkan Alden dan Eva yang masih dalam keadaan canggung.


Stevan dan Dara menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan. Keduanya mendudukkan diri di kursi panjang yang tersedia di sana. Tak terasa, kini tiba waktunya Stevan untuk memulai tempur dengan sidangnya.


Pria itu beranjak dari duduknya, dia menatap istrinya yang juga tengah menatapnya.


“Aku masuk duluan, ya? Kamu semangat.”


Dara mengangguk sambil tersenyum saat tangan Stevan mengusap rambutnya. Matanya tak hentinya menatap punggung Stevan yang semakin hilang di balik ruangan. Lalu Dara kembali mendudukkan dirinya.


Mata Dara celingukan, mencari keberadaan kedua sahabatnya. Namun, hingga saat ini keduanya tak juga menampakkan wujudnya. Tak mau ambil pusing, Dara kembali bangkit dari duduknya, dia mulai melangkah memasuki ruangan karena memang ini sudah waktunya dia untuk menghadapi sidang penentu kelulusannya.


Dara mulai memasuki ruangan, dia kembali menutup pintu. Di sana, sudah ada empat dosen yang menunggu kehadirannya. Dara mengembuskan napas pelan lalu mengangguk, mencoba menyemangati diri sendiri. Ini saatnya, ini adalah perjuangan akhirnya agar bisa lepas dari tugas-tugas kuliah yang bejibun banyaknya. Semoga saja, Tuhan mempermudahkan jalannya.


...🌾🌾🌾...


Stevan keluar dari ruangan yang tadi dia masuki setelah dua jam lamanya mendekam di sana dengan wajah semringah. Dia kembali mendudukkan dirinya di tempat asalnya tadi. Tangannya mulai meraih ponsel yang berada di saku. Stevan mulai berselancar di media sosial sembari menunggu istrinya selesai dengan perjuangan sidangnya.


Setengah jam menunggu, akhirnya Dara keluar ruangan dengan wajah yang tak jauh berbeda dari Stevan. Wanita itu mulai melangkah mendekati suaminya yang tersenyum, berdiri menunggunya.

__ADS_1


“Gimana?” tanya Stevan membuka pembicaraan setelah Dara sudah berjarak beberapa langkah darinya.


Dara mengangguk, dia kembali melangkah mendekati Stevan lalu memeluknya erat.


“Alhamdulillah, aku berhasil hadapin sidang tutup ini, Ste. Kamu?”


Stevan ikut mengangguk.


“Alhamdulillah, aku juga!”


Keduanya kembali tersenyum semringah. Saling berpelukan, menyalurkan kebahagiaan karena sudah menyelesaikan sidang tutup ini. Sekarang, hanya tersisa menunggu waktunya melemparkan toga ke udara dengan senyum bahagia yang akan mereka laksanakan tak lama lagi.


“Mau ke tempat Mama?” tawar Stevan.


Dara mengangguk.


“Ayo, aku juga udah kangen sama Kak Dira. Pasti sekarang perut Kak Dara udah semakin besar.”


Stevan ikut mengangguk, keduanya mulai melangkah menuju parkiran, meninggalkan kedua sahabat Dara yang tak juga memunculkan batang hidungnya.


Stevan mulai memacu kecepatan mobilnya membelah jalanan yang terasa senggang. Tangan kirinya kembali menggenggam tangan Dara yang terasa pas di genggamannya.


Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang tergopoh-gopoh, bergegas membukakan gerbang. Stevan kembali menjalankan mobilnya, memasuki pekarangan rumah yang terlihat mewah. Dia menghentikan mobilnya di depan rumah itu.


Stevan turun dari mobilnya, dia bergegas melangkah mengitari mobil lalu membukakan pintu untuk wanita tercintanya. Pria itu mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Dara.


Stevan dan Dara mulai melangkah mendekati pintu. Tangan Dara terangkat memencet bel yang menempel di dinding dekat pintu.


Setelah pintu besar itu dibuka oleh pembantu rumah keluarga orang tua Dara.  Stevan dan Dara mulai melangkah memasuki rumah besar itu. Tiba di ruang keluarga, Dara segera berlari menghampiri kakaknya yang sedang makan makanan kesukaan kakaknya sejak hamil, apalagi kalau bukan puding cokelat.


Dara langsung menghambur pada pelukan wanita hamil itu


“Kakak, Dara kangen sama Kakak.”


Dira tersenyum, dia meletakkan mangkuk puding ke atas meja lalu membalas pelukan adik kesayangannya.


“Kakak juga kangen banget sama kamu. Kamu apa kabar?”


Dara melepaskan pelukannya, dia menyandarkan kepalanya di pundak kakaknya.


“Seperti yang Kakak lihat, Dara baik. Oh iya, kabar dedek bayinya, gimana?”

__ADS_1


Dira tersenyum, tangannya terulur mengelus perut besarnya.


“Alhamdulillah, dia baik-baik aja, Dar!”


Dara tersenyum, tangannya ikut mengelus perut kakaknya. Memang, saat ini kandungan Dira sudah berusia delapan bulan setengah. Itu artinya tak lama lagi, dia akan memiliki keponakan yang selama ini masih bersemayam di rahim kakaknya.


“Dara!” Panggilan itu menghentikan Dara dari aktivitas melamunnya. Dia menatap mamanya yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang.


“Kenapa suami kamu nggak kamu suruh duduk?” tanya Shira lalu mengalihkan pandangannya ke arah Stevan yang mengulurkan tangannya, bermaksud ingin salim.


Dara hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sungguh dia lupa, yang dia ingat hanyalah kakak dan calon keponakannya.


“Hehe, duduk, Ste!” Dara segera menggeser tubuhnya, mempersilakan suaminya duduk di sampingnya karena kakaknya sudah pergi ke dapur terlebih dahulu.


Stevan hanya mengangguk, dia mendudukkan dirinya di samping istrinya.


“Papa mana, Ma?” tanya Stevan sambil menatap ibu mertuanya yang duduk di sofa tunggal sebelah Dara.


Shira menunjuk ke arah sebuah pintu ruangan yang berada di dekat tangga.


“Lagi di ruang kerja, katanya ada pekerjaan yang belum diselesaikan. Oh iya, Dara bilang tadi kalian melaksanakan ujian sidang tutup, ya? Gimana, lulus , ‘kan?”


Sepasang suami istri itu mengangguk bersamaan.


“Alhamdulillah, Ma. Semuanya lancar. Jadi nanti tinggal nunggu acara wisuda aja.”


“Alhamdulillah, semuanya juga berkat usaha kalian. Tanpa usaha, semuanya tak akan bisa terwujudkan!” celetuk Arya yang baru saja datang menghampiri mereka masih dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.


Dara dan Stevan beranjak dari duduknya. Keduanya mulai mengulurkan tangan ke arah Arya, lalu mencium punggung tangan pria paruh baya itu.


“Papa apa kabar?” tanya Dara setelah kembali mendudukkan diri di tempat asal.


Arya mengangguk.


“Kabar Papa selalu baik saat melihat anak-anak papa bahagia. Apalagi sebentar lagi Papa bakalan punya cucu pertama.”


Arya terkekeh pelan, tangannya mengelus rambut Dira yang baru saja duduk di sampingnya.


Dara tersenyum, papanya ini selalu mementingkan kebahagiaan anak-anaknya dan keluarganya terlebih dahulu. Memang papanya ini adalah kepala keluarga yang patut ditiru.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2