Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 31


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Bunyi suara peraduan ketikan jari pada keyboard itu mengisi keheningan yang terasa di sebuah ruangan yang penuh dokumen kerja ini. Jari-jemari itu bergerak cepat menekan tuts hingga menampilkan beribu kata. Padahal jam sudah menunjukkan waktu makan siang, tetapi pria itu tak jua menghentikan kegiatannya, sekadar untuk mengisi perutnya.


Menjadi seorang CEO bukanlah hal mudah. Jangan kalian berpikir, dengan menjadi seorang pemimpin kalian akan memiliki waktu luang untuk bersantai ria. Kalian salah besar, justru dengan menjadi pemimpin, kalian adalah orang utama yang bertugas mengatur jalannya perusahan.


Saking fokusnya mengetik, sang pelaku tak menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya.


Stevan, pria itu terperangah saat merasakan sepasang tangan melingkar di lehernya. Stevan sejenak menghentikan kegiatannya, kepalanya memutar ke belakang, menatap istrinya yang tengah tersenyum lebar—masih melingkarkan tangan di lehernya. Stevan tersenyum, pria itu beranjak dari duduknya lalu menggiring sang istri untuk duduk di sofa yang berada di pojok ruangannya.


“Kenapa ke sini?” tanyanya, sambil membelai lembut rambut Dara yang tengah bersandar di bahunya.


Dara mendongak. “Kangen, hehe,” jawabnya lalu kembali menyandarkan kepalanya.


“Anak-anak udah pulang?”


Dara mengangguk. “Udah, tapi tadi minta diantarin ke rumah Mama.”


“Kamu jangan keseringan jalan-jalan, nanti kecapekan, lho,” ucap Stevan.


Dara tiba-tiba menegakkan tubuhnya, menatap Stevan tajam. “Ini bukan aku yang mau, tapi anak kamu yang pengin terus deketan sama bapaknya,” ucapnya lalu mengerucutkan bibirnya sebal.


Menghela napas pelan, Stevan kembali menyandarkan kepala Dara di pundaknya. Ia merasa aneh, sejak kehamilan Dara, wanita itu selalu ingin berdekatan dengannya, bahkan tak jarang Dara menyusulnya ke kantor—dengan alasan kangen tentunya. Namun, meski merasa aneh, dalam hati Stevan menyukai itu.


“Ste!”


Stevan menoleh, menatap sang istri yang juga tengah menatapnya. Dari tatapannya, Stevan tahu bahwa wanita itu pasti tengah menginginkan sesuatu.


“Pengin apa?”


Dara tersenyum lebar, hingga menampilkan gigi putihnya. Wanita itu menunduk, mengusap perutnya, lalu menatap Stevan kembali.


“Dia mau makan di kantin, Ste.”


Tanpa mau membantah, Stevan segera mengangguk. Pria itu melangkah menuju meja kerjanya, untuk mematikan sejenak laptopnya, lalu kembali menghampiri Dara yang sudah siap sedia berdiri di belakang pintu.


“Ayo!” Stevan berdiri di samping Dara, yang langsung diapit lengannya oleh wanita itu. Keduanya melangkah beriringan menuju kantin.

__ADS_1


Sesampainya di kantin, sepasang suami istri itu melangkah menuju di bangku meja kosong. Sepanjang jalan, banyak pasang mata karyawan—yang sedang menikmati makan siang—menatap ke arah mereka, dengan mulut yang sesekali berkomentar.


Stevan dapat merasakan pegangan Dara di lengannya semakin erat. Stevan tahu, Dara bukan tengah ketakutan, melainkan tengah berusaha meredam emosinya saat mendengar bisik-bisik pada karyawati yang memuji ketampanannya. Bukannya ke-PD-an, tetapi Stevan tahu bahwa dirinya memang tampan.


“Pak Stevan ganteng, ya. Nggak apa-apa deh jadi bini kedua, asal bisa milikin dia,” ucap seorang karyawati pelan kepada salah satu temannya.


Brak.


Dara menggebrak meja di hadapannya, membuat semua karyawan terperangah—tak terkecuali Stevan yang tengah menikmati makanan siangnya. Wanita hamil itu berdiri dari duduknya, matanya menyorot tajam ke arah karyawati yang tadi berbicara—seolah-olah tengah mengirimkan sinar laser ke arahnya. Sungguh, ucapan wanita itu membuat Dara tak dapat lagi menahan emosinya


“Kalau mau sama suami gue, sini! Lawan gue dulu, baru lo bisa milikin dia seutuhnya!” sentak Dara.


Semua karyawan menatap takut ke arah wanita hamil itu, terutama karyawati yang tadi berbicara, tubuh wanita itu sudah menggigil ketakutan, apalagi Dara masih menatapnya tajam.


“Kenapa diam?!” Dara lagi-lagi menyentak. “Kamu digaji itu buat kerja, bukan buat rebut suami orang!”


Stevan memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Helaan napas terdengar dari bibirnya.


“Udah, Sayang. Jangan marah-marah,” ucapnya, sambil mengelus lengan Dara.


Tatapan tajam Dara berpindah ke arah Stevan.


Stevan terkejut mendengar ucapan Dara. “Bukan gitu ....” Stevan menghentikan ucapannya, ia berdiri dari duduknya, lalu mengelus perut Dara “... aku cuma nggak mau aja, kalau anak kita sedih karena tahu ibunya marah-marah.”


Dara memejamkan mata, berusaha meredam emosinya. Stevan benar, ia tak boleh marah-marah. Dara mendudukkan kembali dirinya, lalu tersenyum setelahnya—membuat para karyawan menarik napas lega, sebab pawang si singa sudah turun tangan.


“Nih, makan dulu.” Stevan menyodorkan sepiring soto sulung ke arah Dara, yang langsung dinikmati oleh wanita itu.


“Ste, nanti pulang dari kantor mampir ke toko kue dulu, ya. Soalnya aku lagi pengin makan kue nastar,” ucap Dara, lalu kembali menyuapkan kuah soto ke mulutnya.


Stevan melirik Dara dengan ujung matanya, lalu mengangguk pelan.


...🌾🌾🌾...


Dara mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Sungguh, hari ini terasa melelahkan, tidak seperti biasanya.


“Sayang, mandi dulu gih,” titah Stevan lalu meletakkan paper bag berisi kue nastar juga kue cokelat di atas meja kaca.


Dara mendongak, menatap Stevan yang berdiri di hadapannya. “Nanti aja, Ste. Aku masih capek.”

__ADS_1


Stevan mendudukkan diri di samping Dara, mengelus kepala wanita itu lembut.


“Aku udah bilang, ‘kan? Kamu jangan terlalu sering jalan-jalan, nanti capek ... nih, kayak gini.”


Dara mencebikkan bibir kesal, ia melengos.


Menghela napas pelan, Stevan mengangkat kedua kaki Dara, lalu menaruhnya di atas pahanya. Tangan kekar itu dengan perlahan mulai memijit kaki sang istri.


“Aku bukannya ngelarang kamu, aku cuma nggak mau kamu kecapekan, apalagi kalau sampai sakit. Nanti kamu sendiri yang repot, ‘kan?”


Dara menunduk, memang benar apa yang dikatakan Stevan. Namun, mau bagaimana lagi, sejak hamil, ia menjadi selalu ingin berada di dekat pria itu.


“Iya, maaf.”


“Iya, nggak apa-apa, Sayang.” Stevan tersenyum, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.


“Mama, Papa!”


Suara khas anak kecil yang menggema di telinga itu membuat Dara dan Stevan mengalihkan perhatian mereka pada pintu utama. Di sana, muncul Langit, Gervan, juga Vano yang berjalan di belakang kedua anak itu.


“Kalian udah pulang? Salamnya mana?” tanya Dara, menurunkan kakinya dari paha Stevan, lalu membelai rambut Langit yang sudah berdiri di sampingnya.


“Assalamualaikum, Mama cantik. Assalamualaikum, Papa ganteng,” ucap Langit, sambil memiringkan kepalanya lucu.


“Waalaikumsalam, Sayang.”


“Ayah apa kabar?” Dara mengalihkan perhatiannya pada Vano yang sudah duduk di sofa tunggal, lalu mencium tangan mertuanya itu.


Vano mengangguk. “Alhamdulillah, Ayah baik.”


“Alhamdulillah, Ayah mau dibikinin minuman apa, nih?” tawar Dara.


Vano menggeleng. “Nggak usah, Dar. Ayah cuma sebentar aja, setelah ini langsung pulang. Kasihan Bunda sendirian di rumah.”


“Kasihan Bunda atau emang Ayah yang nggak bisa jauh dari Bunda?” sindir Stevan yang tengah sibuk mengelus kepala Gervan yang duduk di pangkuannya.


Pertanyaan telak itu membuat Vano terkekeh. “Kamu tahu saja, Ste.” Vano beranjak dari duduknya. “Ya sudah kalau begitu, Ayah mau pulang dulu. Sehat-sehat selalu ya cucu Opa, kapan-kapan main lagi ke rumah,” ucap Vano, menepuk kepala Langit dan Gervan bergantian.


“Hati-hati di  jalan, Yah,” pesan Dara sebelum Vano benar-benar keluar dari rumah.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2