Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 17


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote😉


Happy reading🌾


Mobil yang dikendarai oleh Stevan berhenti tepat di depan sebuah rumah, di mana terdapat berbagai karangan bunga belasungkawa dari banyak kerabat maupun orang terdekat yang terletak di halaman depannya, juga bendera kuning yang dipasang di kedua tiang di sisi teras.


Kelima orang yang berada di dalam mobil segera turun. Di dalam rumah, ada beberapa sanak saudara yang berlalu lalang menyiapkan hajatan untuk nanti malam. Meski terlihat ramai, tetapi siapa yang tahu, suasana hati mereka terasa sepi senyap. Hanya ada kesunyian yang seolah menjadi teman yang mendominasi kesedihan.


Stevan menatap ke arah orang tuanya dan kedua mertuanya yang sudah berada di depannya. Menarik napas pelan, Stevan kembali melangkah menuju kamar, berniat menghampiri istrinya yang sejak tadi dia tinggalkan. Stevan hanya ingin selalu ada untuk istrinya. Baik di saat Dara membutuhkannya atau pun tidak. Stevan ingin menjadi orang pertama yang dicari istrinya.


Stevan menatap ke sekeliling kamarnya. Kosong, hanya ada keheningan. Di mana istrinya itu sekarang berada? Stevan memutar tubuhnya, tujuannya sekarang adalah kamar almarhumah kakak iparnya yang berada di lantai dasar.


Stevan yakin, Dara berada di sana. Dia mempercepat langkahnya saat mendengar suara bayi menangis. Suara itu terdengar tepat di kamar Dira. Tanpa banyak kata, pria itu segera membuka pintu kamar Dira.


Di sana, dapat dapat dilihatnya Dara yang sedang menatap kosong ke arah jendela dengan Langit yang sudah menangis kencang di dalam gendongannya.


Stevan melangkah mendekat, tangannya memegang pundak Dara, membuat wanita itu tersentak dari lamunannya.


“Langit nangis, Dar,” ucap Stevan.


Dara yang semula menoleh ke arah Stevan segera menatap Langit. Wajah bayi itu sudah terlihat memerah karena menangis. Dara segera bangkit dari duduknya lalu menimbang Langit ke kanan dan ke kiri.


“Tolong buatkan susu formula, ya?” pinta Dara.


Stevan mengangguk, dia melangkah keluar untuk melaksanakan perintah Dara.


“Cup, cup, anak Mama jangan nangis. Maafin Mama, ya. Mama tadi melamun, jadi tidak menghiraukan kamu,” ucap Dara sambil membelai lembut pipi tembam Langit.


Tak lama kemudian, Stevan kembali sambil membawa botol susu berukuran kecil. Dia memberikannya kepada Dara. Rasanya ia tak tega melihat keadaan istrinya saat ini. Lagi pula siapa yang akan baik-baik saja jika ditinggalkan oleh orang yang disayang? Tentunya tidak ada.

__ADS_1


Dara mulai mengarahkan dot ke mulut Langit sambil kembali menimbang bayi itu. Suara tangis yang tadinya menggelegar memekakkan telinga, kini mulai meredam, seiring dengan suara botol susu yang disedot kencang.


Mata bayi itu perlahan mulai terpejam. Perlahan Langit mulai tertidur akibat kelelahan setelah menangis kencang. Mengembuskan napas pelan, Dara menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa sambil menatapnya.


“Ayo, kita ke kamar aja,” ajak Dara.


“Langit udah tidur?” tanya Stevan, dia berdiri di samping Dara sambil menatap ke arah Langit yang tengah terpejam.


Keduanya melangkah menuju kamar Dara yang berada di lantai dua.


...🌾🌾🌾...


Dara melangkah keluar kamar setelah menidurkan Langit di kamarnya. Tujuannya saat ini adalah dapur. Rasa dahaga yang melanda tenggorokan membuatnya ingin segera sampai dapur.


Di dapur, dapat dilihatnya Shira yang tengah berbincang dengan Anita di meja makan. Dara melangkah ke tempat penyimpanan gelas lalu menghampiri keduanya.


“Stevan di mana, Dar?” tanya Anita setelah menyadari keberadaan Dara.


“Di kamar, Bun. Lagi menemani Langit,” sahutnya lalu duduk di sebelah mamanya.


Dara menatap ke arah Shira. Dapat Dara ketahui jika mamanya baru saja menangis jika dilihat dari jejak air mata di pipi perempuan itu. Dara mengulurkan tangan untuk memegang tangan Shira lalu menggenggamnya.


“Mama jangan sedih terus. Dara ikutan sedih kalau Mama sedih,” ucap Dara pelan seiring dengan air mata yang mulai terjun dari pelupuk matanya. Namun, dengan cepat perempuan itu menghapus air matanya.


Shira tersenyum tipis, dia mengelus tangan sang putri yang menggenggamnya.


“Maafin Mama, ya. Kalau Mama membuat kamu jadi sedih.”


Dara menggeleng pelan. “Bukan begitu, Ma. Dara cuma nggak mau lihat Mama sedih. Dara cuma mau lihat Mama bahagia.”

__ADS_1


Tak tahan lagi, Shira segera menarik tubuh Dara ke dalam dekapannya. Air matanya kembali lolos. Begitupun Dara. Dara tak sebegitu kuatnya, Dara lemah.


Dara bukanlah wanita tegas dan galak seperti apa yang sering teman-temannya katakan tentang dirinya. Dara hanyalah sosok wanita lemah yang ingin terlihat kuat di hadapan semua orang. Dara hanya tak ingin, orang-orang di sekitarnya ikut merasakan kesedihan yang dia rasakan.


Anita yang sejak tadi hanya menjadi penonton menangis haru. Kasih sayang keluarga yang saling melengkapi dan merangkul kala salah satunya terjatuh membuatnya tak lagi dapat menahan air matanya. Dengan perlahan, wanita itu melangkah pergi. Anita hanya berniat memberikan ruang untuk ibu dan anak itu untuk saling mengungkapkan apa yang mereka rasakan.


“Sekarang Dira sudah pergi, Dar ...,” lirih Shira. “... pergi untuk selamanya.”


Tangis Dara kembali pecah. Dia tak sanggup. Rasanya, hari kemarin dan hari ini adalah hari terlemah dan hari terapuhnya. Seseorang, tolong bantu Dara melupakan kesedihannya.


“Meski sulit, kita harus belajar mengikhlaskan, Ma. Kak Dita bakalan sedih kalau lihat kita sedih,” tutur Dara. Walau dalan hati, Dara tak tahu apakah bisa dia mengikhlaskan kepergian kakaknya.


Shira melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata yang terus saja mengalir.


“Mama mau ke kamar dulu.” Shira bangkit, dia mencium kening Dara lalu melangkah pergi menuju kamarnya.


Dara menarik napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Perempuan itu kembali menuangkan air ke dalam gelasnya lalu meminumnya.


“Huh, Kak Dira jahat. Kakak meninggalkan kesedihan pada semua orang,” lirih Dara lalu memilih bangkit dari duduknya.


...🌾🌾🌾...


Lima bulan telah berlalu. Banyak yang berubah sejak hari itu. Terutama pada sikap beberapa orang terdekat Dira, apalagi Dara.


Tak ada lagi wanita ceria yang sering membuat tawa. Kini, yang tersisa hanyalah wanita pendiam. Tak jarang, Stevan mendapati Dara tengah melamun sendirian di kamar.


Selama itu juga, Stevan kerap mendapati Dara yang mengabaikan Langit. Sebenarnya, bukan hanya Langit, dirinya pun kerap diabaikan. Namun, bukan itu yang menjadi buah pikirnya, tapi tatapan wanitanya itu terlihat kosong, seolah sudah tidak memiliki gairah untuk hidup.


Stevan bingung, dia harus menggunakan cara apalagi supaya Dara dapat kembali menjadi wanita ceria seperti dulu. Stevan tak sanggup lagi melihat wajah Dara yang terlihat suram.

__ADS_1


Jujur saja, Stevan rindu senyuman dan canda tawa wanita itu. Bertekad kuat, Stevan yakin dirinya bisa membuat wanitanya kembali menjadi wanita seperti dulu.


To be continued ....


__ADS_2