Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 54


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Waktu makin berlalu. Tak terasa, kini sudah dua bulan mereka lalui pascakecelakaan yang menimpa Langit. Hari ini adalah hari di mana Langit menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanaknya, dan tentunya si tampan Gervan akan naik ke kelas dua sekolah dasar.


“Mama nanti ke sekolahnya Elang, 'kan?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Langit. Dia menatap sang mama penuh harap.


Dara mengangguk, saat ini tangannya tengah sibuk memakaikan dasi kupu-kupu di leher Langit.


“Pastinya dong, kan ini hari kelulusan anak Mama. Nggak mungkinlah Mama nggak datang.”


Langit tersenyum lebar, kini pandangannya beralih pada Stevan yang tengah berdiri di depan cermin yang terpasang pada lemari.


“Kalau Papa datang nggak?”


Stevan berbalik, dia mengangguk singkat lalu melangkah menghampiri ketiga orang yang tengah menatapnya.


“Iya, nanti Papa datang bersama Mama juga Abang,” jawabnya sambil menepuk singkat puncak kepala Langit, lantas mengangkat tubuh anak itu ke gendongannya.


“Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu,” putus Dara. Dia beranjak dari duduknya. Dara mengulurkan tangan pada Gervan yang masih duduk anteng di atas ranjang, menggiring anak itu melangkah menyusul Stevan dan Langit yang sudah jalan terlebih dahulu.


...🌾🌾🌾...


Suara hiruk-pikuk terdengar menggema di telinga. Canda tawa khas anak-anak, juga suara obrolan para orang tua memenuhi seisi halaman TK Harum Bangsa. Hari ini para orang tua dan wali murid tengah berkumpul, guna menyaksikan hari wisuda anak-anak kecil yang terlihat menggemaskan itu.


Sementara di belakang panggung, Langit tengah berdiri di antara teman-temannya; mendengarkan instruksi dari sang guru. Sejak tadi, Langit merasa tak tenang. Anak itu tak hentinya mengintip dari celah panggung ke tempat duduk para orang tua.


Langit melangkah sedikit ke depan, tangan mungilnya menyibak sedikit gorden panggung. Helaan napas pelan terdengar keluar dari mulutnya.


“Papa sama Mama mana, ya? Masa mereka nggak datang?” gumam Langit, lantas anak itu menggeleng pelan. “Nggak mungkin mereka nggak datang, Papa sama Mama, kan sudah janji.”


“Langit.”


Langit segera menoleh, dia menatap sang guru yang tengah tersenyum lembut sambil melambaikan tangan ke arahnya. Mata Langit melirik sekilas ke halaman. Anak itu kembali menghela napas, kemudian melangkah kembali ke tempatnya semula.


“Nah, setelah ini kalian bernyanyi lagu terima kasih guruku, yang sudah Ibu ajarkan, ya?” Yuli kembali memberikan instruksi, yang langsung ditanggapi anggukan antusias dari murid didiknya. “Sekarang ayo naik ke panggung. Berbaris yang rapi, ya.”


Anak-anak kecil itu mulai berdiri; membentuk sebuah barisan, tentunya dengan bantuan si Guru Cantik ini.


Mata Yuli bergulir, dia menatap salah satu murid didiknya yang sejak tadi terlihat tidak bersemangat. Wanita itu maju, menghampiri anak yang masih saja menampilkan raut suramnya.


“Langit kenapa?” tanyanya lembut, dia berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang anak.


Langit mendongak, dia menatap sekilas ke arah panggung lalu kembali menatap Yuli yang masih setia menunggu jawabannya.


“Elang nunggu Mama sama Papa, Bu. Mereka janji mau datang, tapi sampai sekarang mereka belum datang juga,” jawab Langit dengan nada lesu.


Yuli tersenyum, dia mengusap lembut rambut Langit.


“Langit yang sabar, bisa jadi papa sama mamanya Langit sedang terjebak macet. Sekarang Langit ikut baris sama teman-teman, ya? Kasihan teman-temannya udah nungguin dari tadi.”

__ADS_1


Langit mengangguk. Dengan tak bersemangat, anak itu melangkah perlahan menuju teman-temannya. Dia berdiri tepat pada barisan paling akhir.


Para anak-anak mungil dengan setelan hitam-putih itu mulai berjalan beriringan menuju panggung. Satu per satu langkah kecil itu mulai menaiki anak tangga.


Musik penggiring mulai disetel, meredam ucapan para orang tua yang sibuk membanggakan anaknya. Alunan suara anak-anak mulai terdengar seiring dengan nada musik.


Sejak tadi, Langit terus saja menatap ke arah bangku para orang tua. Setetes air mata anak itu jatuh, saat menyadari bahwa orang tuanya belum juga tiba.


“Apa Mama dan Papa berbohong? Kenapa mereka belum juga datang?” gumam Langit.


🌾🌾🌾


Di sisi lain, terdapat sebuah mobil yang terjebak di antara mobil lainnya. Bunyi klakson saling bersahutan, menciptakan bising yang memekak telinga. Tak ada yang ingin mengalah, semua ingin lekas sampai pada tempat tujuan dengan cepat.


“Kira-kira apa masih lama kita terjebak macet?” tanya Dara, wanita itu sibuk melirik jarum yang terdapat pada jam di pergelangan tangannya.


Stevan menoleh, dengan tangan yang masih setia bertengger di atas stir mobil.


“Bisa jadi, jika melihat padatnya jalan ini.”


Dara menghela napas, dia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sungguh hati wanita itu tak tenang. Dara takut membuat Langit kecewa. Bagaimanapun juga, kecewanya anak itu harus dia hindari.


“Nanti kalau Elang marah karena kita datang telat bagaimana, Pa?” Itu suara Gervan, yang sejak tadi duduk di kursi penumpang bagian tengah.


Stevan melirik Gervan dari kaca spion, anak itu terlihat tak mengalihkan perhatiannya dari kaca mobil, seolah jika dia menoleh sedikit saja, maka hal yang menarik perhatiannya akan hilang dari pandangannya.


“Nanti biar Papa yang menjelaskan.”


...🌾🌾🌾...


Tanpa menunggu, Langit segera mengacungkan jari telunjuknya.


“Saya, Bu!”


Yuli mengangguk, wanita itu melambaikan tangan, memberi isyarat agar anak itu mendekat.


“Langit mau menampilkan apa?” tanyanya.


Anak yang ditanya tersenyum, menampilkan deretan gigi putihnya.


“Elang mau baca puisi ... buat Mama.”


Yuli tersenyum lembut. Dia meraih tangan Langit, menggiring anak itu untuk kembali naik ke atas panggung. Setelah tiba, Yuli segera mengatur tinggi tiang mikrofon setara dengan tinggi Langit. Setelahnya, dia melangkah meninggalkan anak itu sendirian di atas panggung.


Langit menarik napas panjang. Dia memejamkan mata lalu membukanya lagi. Kini, di hadapannya terdapat para orang tua dan wali teman-temannya yang tengah menatap ke arahnya. Sejenak Langit terdiam, orang yang dua tunggu belum tiba jua.


Namun, detik berikutnya, bibir mungil itu tersenyum kala mendapati orang yang dicarinya telah sampai. 


“Puisi ini Elang bacakan untuk Mama.” Langit mulai membuka suara, matanya berfokus pada satu titik, tempat mama, papa, juga sang abang berada.


Para penonton tampak mengikuti arah pandang Langit, guna melihat siapa gerangan orang tua yang sudah melahirkan anak yang tengah berdiri di atas panggung tersebut.

__ADS_1


“Mamaku Terhebat.”


Langit menarik napas sejenak, berusaha menetralisir gugup yang melandanya. Dia harus menampilkan yang terbaik. Langit tak ingin membuat mamanya kecewa.


“Tak pernah kutemui wanita sebaik dia


Tak pernah kutemui wanita secantik dia


Tak pernah kutemui wanita sesabar dia”


Pandangan Langit kembali jatuh pada sang mama. Dapat ia lihat, mata wanita itu berkaca-kaca, entah karena apa.


“Aku memanggilnya mama


Seseorang yang arti hadirnya sangat berarti untukku


Seseorang yang membuatku paham, arti ketulusan yang sebenarnya


“Mama


Jikaku bisa menggapai bintang


Inginku berikan satu untukmu


“Namun, aku sadar


Kau telah menjadi bintang dalam hidupku


Kau telah menjadi penerang dalam setiap langkahku


“Mama


Meski sebanyak apa pun harta kuberikan


Ia tak mampu menggantikan seberapa besar jasamu untukku


“Mama


Jika nanti aku sudah dewasa


Aku berjanji, akan membuatmu bahagia


“Thank you, Mama


I love you,


You are the best”


Langit mengakhiri puisinya, diiringi dengan tepuk tangan yang menggema. Dia tersenyum sambil menatap sang papa yang tengah mengacungkan dua ibu jari ke arahnya. Langit bahagia, jika melihat mamanya bahagia. Langit berduka, jika melihat kesedihan mamanya.


‘Ya Allah, berilah kebahagiaan untuk mama dan papanya Elang, aamiin.’

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2