
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Dara masih setia duduk di kursi samping brankar Langit. Wanita itu seolah tak memiliki lelah untuk memandang wajah lelap sang anak, sangat berbanding terbalik dengan kondisinya. Di bawah kantung mata Dara, terdapat mata panda.
Sudah tiga hari berlalu, tetapi Langit tak jua kunjung membuka mata. Sebenarnya, mimpi apa yang sedang dialami oleh anak itu hingga sukar untuk ditinggalkan?
“Mama!”
Dara menghela napas pelan, dia menoleh ke sumber suara berasal. Di sampingnya, sudah berdiri Gervan yang masih memakai seragam sekolahnya. Mata Dara bergerak ke atas, tempat di mana jam dinding rumah sakit berada. Ternyata sudah pukul setengah sebelas.
“Kamu baru pulang, Sayang?” tanya Dara, dia membelai lembut pipi Gervan.
Gervan mengangguk, dia meriah punggung tangan Dara lalu menciumnya.
“Tadi Gervan dijemput sama Grandpa.”
“Terus Kakek sekarang di mana?”
Ceklek.
Suara pintu dibuka itu mengalihkan perhatian Dara dan Gervan. Kedua orang itu kompak menoleh, menatap Arya yang baru saja tiba.
“Itu dia Grandpa,” ucap Gervan, menjawab pertanyaan Dara.
Arya tersenyum menatap sang anak. Dia melangkah makin dekat lalu berdiri di samping Gervan.
“Kamu sudah makan?” tanya Arya, dia menyambut tangan Dara, saat wanita itu ingin menyalaminya.
Dara mengangguk. “Udah, tadi pagi sama Ste,” jawabnya. “Papa tumben nggak ke kantor?”
“Kebetulan di kantor sedang tidak ada pekerjaan berat, jadi Papa ke sini mau jenguk cucu Papa.” Mata Arya melirik ke brankar. “Elang belum bangun juga.”
Dara menggeleng. Helaan napas kasar terdengar jelas keluar dari mulut wanita itu. Manik matinya bergulir, ikut menatap objek yang sedang dipandang sang papa.
“Kapan Elang bangun ya, Pa? Udah tiga hari Langit koma. Dara kangen banget sama Elang.”
Arya tersenyum tipis. Tangannya bergerak mengusap lembut rambut putrinya. Dia pun sama, dia rindu bermain dengan cucunya yang satu ini. Arya rindu mendengar tawa ceria khas Langit.
__ADS_1
Satu hal yang Arya takutkan sejak mendengar berita kecelakaan Langit. Arya takut, jika nantinya Langit memilih pergi bersama kedua orang tuanya. Jujur saja, Arya belum siap jika harus kembali kehilangan orang yang dia sayang.
Pria tua itu tak tega melihat wajah terpuruk anaknya. Arya tahu, Dara tak sekuat yang dia lihat. Cobaan demi cobaan datang silih berganti di kehidupan Dara.
“Tenang saja, Dara. Mungkin Elang hanya butuh waktu sebentar lagi untuk beristirahat. Kita berdoa saja yang terbaik untuknya.”
Dara hanya bisa mengangguk pasrah. Membantah pun rasanya percuma, jika Allah belum mengabulkan permintaannya.
“Sekarang kamu istirahat dulu, biar Papa yang jagain Elang.”
Gervan yang sedari tadi menyimak pun mengangguk.
“Iya, Mama istirahat aja. Di sini ada Gervan dan Grandpa yang bakalan gantiin Mama buat jaga adik.”
Dara mengangguk. Tak dapat dia pungkiri, bahwa rasa lelah terus menyergap diri. Namun, selelah apa pun dirinya, Dara tak pernah memedulikan itu semua. Yang Dara inginkan hanyalah melihat Langit sadar. Sudah, hanya itu.
Dara beranjak dari duduknya. Perlahan dia mulai melangkah menuju sofa yang terdapat di ruang rawat inap itu. Namun, baru beberapa kali dia melangkah, lengking suara Gervan berhasil membuat langkahnya terhenti.
“Mama, tangan Elang gerak!” Gervan berseru heboh sambil menunjuk jari-jari tangan Langit yang masih bergerak.
Dengan gerakan cepat, Dara segera berbalik. Dia kembali ke posisi semula. Matanya menatap penuh binar ke arah Langit.
Mata bulat itu perlahan mulai terbuka, menampilkan manik mata cokelat terang yang memikat hati. Ya, Langit, anak itu kini telah terbangun dari tidur panjangnya.
“Iya, Nak. Mama ada di sini bersama kamu,” ucap Dara, diiringi air mata harunya.
“Sebentar, Grandpa panggilin dokter.” Arya segera berpindah. Kakinya melangkah tergesa menuju pintu, berniat mencari dokter Putra—dokter yang selama ini merawat Langit.
“Mama.” Langit kembali memanggil Dara dengan suara lirihnya.
“Mama di sini, Nak,” ucap Dara. “Sekarang kamu minum dulu.” Wanita itu segera membantu Langit untuk minum.
🌾🌾🌾
“Mama!”
Panggilan dari seorang anak yang tengah duduk di atas brankar itu mengalihkan perhatian Dara yang semula tengah duduk termenung di kursi.
“Iya, kenapa, Sayang?” tanyanya lembut, seiring tangannya yang dengan perlahan singgah di rambut anak itu.
__ADS_1
Langit tersenyum tipis. “Tadi, sebelum bangun, Elang ketemu sama dua olang,” katanya, mulai bercerita kejadian yang dialaminya.
“Siapa?”
Mata Langit memandang ke atas, tepat pada lampu yang dipasang di tengah langit-langit ruangan.
“Elang nggak tahu, Ma. Tapi dua olang itu bilang kalau meleka olang tua kandung Elang, olang tua yang melahilkan Elang.” Langit tersenyum, pandangannya beralih pada Dara. “Wajah Ayah milip banget sama wajah Elang.” Anak itu menjeda ucapannya, jari telunjuknya ia letakkan di dagu. “Telus, wajah Bunda agak milip sama Mama.”
Dara termenung, dia menatap Langit yang masih terlihat antusias bercerita tentang kejadian yang dia alami semasa koma.
‘Apakah itu kalian, Kak? Apakah kalian memang ingin aku memberitahu hal yang sebenarnya terjadi pada Langit, bahwa dia bukanlah anak kandungku dan Stevan?’
Batin Dara terus timbul pertanyaan. Apakah ini memang sudah saatnya? Namun, apa reaksi Langit saat tahu hal yang sebenarnya?
Dara menghela napas pelan. Ini sulit baginya. Antara ingin jujur, tetapi kemungkinan berakibat pada mental Langit akan terjadi. Atau biarlah hal ini menjadi rahasia, hingga suatu saat nanti Langit sudah bisa menerima kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan.
“Mama, apa benal mereka olang tua Elang?” Langit bertanya seraya memandang wajah ayu Dara. “Tapi, kan olang tua Elang ada di sini, Mama Dala dan Papa Stevan. Tapi kok meleka ngaku-ngaku kalau meleka olang tua Elang sih?” Dahi anak itu makin berkerut, tanda bahwa otak kecilnya tak mampu mencerna dan memahami apa sebenarnya yang terjadi.
“Suatu saat nanti kamu akan tahu semua yang ingin kamu ketahui, Nak.”
Suara Stevan yang baru saja datang itu membuat Dara mengurungkan niatnya yang semula ingin menjawab pertanyaan Langit. Wanita itu menoleh, menatap ke arah Stevan yang melangkah ke arahnya, dengan Gervan yang terlihat tertidur pulas di gendongannya.
“Papa!” Langit berseru heboh. Dia merentangkan tangannya pada Stevan. Anak itu seolah telah melupakan sesuatu yang tadi dia bahas bersama Dara.
“Sut,” desis Stevan, dia menempelkan jari telunjuknya di depan bibir sambil menepuk pelan punggung Gervan agar kembali tertidur.
Langit segera menutup mulutnya. Anak itu terkikik sambil memejamkan mata, membuat Dara yang duduk di kursi dibuat gemas karenanya.
Stevan melangkah menuju sofa lalu membaringkan tubuh Gervan di sana. Setelahnya, dia kembali melangkah, lantas duduk di sisi brankar Langit.
“Elang sudah makan?” tanyanya, dia membawa Langit ke atas pangkuannya sambil melirik mangkuk yang berada di atas nakas.
Langit menggeleng. “Bubulnya nggak enak, Papa. Hambal, nggak ada lasanya.” Bibir lelaki kecil itu mencebik. “Elang pengin es klim. Udah lama Elang nggak makan es klim.”
“Elang harus makan biar cepat sembuh,” tutur Stevan. “Nanti, kalau kamu sudah sembuh, Papa janji beliin kamu es krim.” Stevan menjawil hidung Langit gemas.
Mata cokelat terang itu berbinar. “Benelan ya, Pa? Janji.” Langit mengarahkan jari kelingkingnya pada Stevan.
“Iya, Papa janji.”
__ADS_1
Sementara Dara, wanita itu tersenyum menatap ke arah suami dan anaknya itu. Hatinya menghangat melihat interaksi mereka. Dara berharap, selamanya akan tetap begini, ia terus bisa melihat keharmonisan anggota keluarganya.
To be continued ....