Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 24


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Suara gelak tawa itu terdengar menggema di telinga. Suara itu berasal dari sebuah kamar dengan pintu berstiker karakter Spiderman di atasnya.


Dara tersenyum, dengan perlahan tangan lentiknya mulai meraih knop pintu lalu membukanya. Di dalam kamar, terdapat Gervin yang tengah asik menggelitiki perut Langit sehingga membuat bocah yang tengah digelitiki itu tertawa cekikikan.


“Lagi ngapain nih?” tanya Dara sambil melangkah menghampiri kedua anaknya yang tengah tertawa di atas ranjang dengan sprai yang juga bergambar Spiderman.


Mendengar suara sang mama, Langit segera mendudukkan dirinya dengan benar. Mata bulat itu memandang lucu ke arah Dara.


“Mama udah selesai bicala sama Papa?” tanya Langit.


Dara menggangguk. “Sudah. Ya sudah, turun yuk. Katanya tadi mau makan puding.”


Langit segera turun dari ranjang, diikuti oleh Gervan. Ketiga manusia berbeda usia itu mulai melangkah keluar dari kamar.


Dara menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu menarik ujung bajunya. Dara menunduk, menatap Gervan yang masih memegangi ujung bajunya.


“Ada apa, sayang?” tanyanya lembut.


“O ... om tadi, telima Gelvan nggak, Ma?” tanya Gervan lirih.


Dara menyamakan tingginya dengan Gervan, tangannya memegang kedua pundak anak itu.


“Alhamdulillah, Papa bisa terima Gervan. Mulai sekarang, kamu panggilnya Papa, ya. Biar sama kayak Elang.”


Gervan mengangguk antusias, matanya berbinar. Anak kecil itu merasa bahagia, sebab pria yang dianggapnya garang itu telah menerimanya.


“Mama, Bang Van, kenapa diam di situ? Ayo, Ma!”


Seruan dari Langit itu memutuskan obrolan mereka. Dara kembali berdiri, tangan sebelahnya menggandeng Gervan lalu sebelahnya menggandeng Langit. Sesampainya di ruang keluarga, Dara segera memberikan mangkuk berisi puding kepada kedua bocah tampan itu.


...🌾🌾🌾...


Suasana meja makan kali ini tampak terdengar lebih ramai dari biasanya. Jika sebelumnya hanya ada suara ocehan Langit yang terus bercerita tanpa henti, maka mulai hari ini, Langit dengan antusias bercerita banyak hal dengan Gervin.

__ADS_1


Dara mengaduk kopi yang baru saja dibuatnya untuk Stevan. Wanita itu tersenyum hangat sambil meletakkan kopi di depan sang suami. Mata Dara beralih menatap Gervan sambil mendudukkan dirinya di seberang Stevan.


“Gervan,” panggil Dara.


Gervan yang semula tengah menanggapi ocehan Langit segera menoleh.


“Ya, Mama?”


“Lusa kamu sekolah, ya?” tawar Dara sambil melipat tangannya di atas meja makan.


Tawaran dari Dara itu langsung mendapatkan anggukan antusias dari lawan bicara. Sudah lama sekali Gervan tak merasakan indahnya sekolah, mungkin sekitar tiga bulan yang lalu—sejak sang paman mulai berlaku kasar padanya.


Selama ini, Gervan hanya mampu menekan keinginan untuk sekolahnya dalam hati. Padahal, dalam diri memberontak—menolak penekanan itu. Meski tak dapat sekolah, tetapi niat menuntut ilmunya tak pernah putus, bahkan terasa makin besar.


Jika pamannya saja tak mengizinkannya untuk sekolah, lantas bagaimana mungkin anak sekecil dan selemah Gervan bisa memberontak seperti apa yang dilakukan oleh orang dewasa? Jangankan memberontak, baru saja ingin menolak, sebuah cambukan ikat pinggang yang terasa sangat menyakitkan sudah melayang mulus di punggungnya.


Gervan tak pernah menyalahkan, apalagi sampai menyimpan dendam untuk pamannya. Hanya saja, hati kecilnya terasa sakit, teras tercabik-cabik. Kenapa takdir hidupnya tak seindah teman-temannya?


Gervan juga ingin merasakan bagaimana rasanya keluarga bahagia. Di mana, sang mama yang menyiapkan bekalnya, lalu sang papa yang mengantarkan dirinya seolah. Atau, ketiganya berjalan-jalan keliling kebun binatang, lalu melakukan piknik di tempat terbuka.


“Van!” Sebuah suara maskulin itu merasuk ke dalam gendang telinganya.


Mata Gervan mengerjap, dirinya menatap Stevan yang tengah menatapnya heran.


“Pa ... pa.” Ucapan itu tersendat-sendat.


Jujur saja, mata tajam bak elang itu masih saja membuat Gervan ketakutan. Sekelebat bayang-bayang siksaan dari sang paman mulai masuk ke dalam pikirannya.


Anak kecil itu memegang erat kepalanya.


“Paman, jangan pukul Gelvan! Gelvan janji nggak bakalan nakal lagi! Ampun, Paman!”


Stevan dan Dara saling pandang, sebelum suara Langit memutuskan pandangan mereka.


“Mama, Papa, Bang Van kenapa?” seru Langit panik.


Stevan segera beranjak dari duduknya, pria itu dengan mudah menyentak tubuh Gervan ke dalam gendongannya sambil membisikkan berbagai kalimat penenang di telinga mungil itu. Stevan tahu, jiwa Gervan terguncang dan tertekan. Tak pantas sekali anak sekecil itu harus menghadapi tekanan mental, bahkan separah ini. Stevan dapat merasakan, bahwa saat ini Gervan sedang kesulitan bernapas.

__ADS_1


“Gervan, dengarkan Papa. Kamu tarik napas lalu hembuskan pelan-pelan. Lihat, di sini ada Mama, Papa, sama Elang yang akan selalu ada untuk Gervan. Gervan tidak sendiri ...,” tutur Stevan sembari mengusap lembut kepala bocah di gendongannya. “... jangan biarkan bayangan-bayangan itu mempengaruhimu, Gervan harus bisa mengalahkan itu semua,” lanjutnya.


Satu hal yang Stevan takutnya, dirinya takut jika nantinya akan tumbuh kepribadian lain di dalam diri Gervan akibat trauma mendalam itu. Tak menutup kemungkinan, bahwa saat Gervan merasa ingin menyerah akan semuanya, maka kepribadian ganda mulai muncul—mengambil alih tubuh anak malang itu.


Setelah Gervan terasa sudah lebih tenang, anak kecil itu menatap Stevan tepat di manik matanya. Dengan perlahan, kepalanya mulai bersandar di leher pria itu.


“Telima kasih, Papa,” cicit Gervan sambil kembali mengatur pernapasannya.


Dara yang melihat itu semua tersenyum, dirinya juga kagum dengan apa yang Stevan lakukan untuk menenangkan Gervan. Wanita itu menunduk, menatap Langit yang tengah menarik-narik ujung baju yang dikenakan Dara.


“Mama, gendong!” pinta Langit sambil merentangkan kedua tangannya lebar.


Dara tertawa pelan melihat wajah menggemaskan itu, dia segera mengangkat tubuh Langit ke dalam gendongannya.


“Bang Van kenapa, Pa?” tanya Langit saat posisinya sudah berada di dekat Stevan dan Gervan.


Stevan menoleh, tangannya terulur mengacak pelan rambut Langit.


“Abang nggak apa-apa, Lang. Papa boleh minta sesuatu nggak sama Elang?”


Langit mengangguk beberapa kali. “Boleh, Pa.”


“Elang jangan pernah tinggalin Abang sendirian, ya?”


“Iya, Pa. Elang akan selalu belsama Bang Van.”


Stevan dan Dara tersenyum puas. Keduanya mendekat, saling memeluk dengan posisi kedua anak kecil itu di antara mereka.


“Lusa Gervan sekolah di tempat Elang, ya?” Dara kembali mengulang tawarannya saat mereka sudah kembali duduk di kursi meja makan.


Gervan mengangguk.  “Iya, Ma. Telima kasih, Ma, Pa, Elang, sudah telima Gelvan dengan ikhlas di sini. Di sini, Gelvan bisa kembali melasakan yang namanya kasih sayang olang tua.”


Dara tersenyum haru, dia memindahkan tubuh Langit agar duduk di sampingnya lalu mencium pipi Gervan gemas.


“Mama berterima kasih kembali, Nak. Dengan hadirnya kamu, keluarga ini terasa lebih ramai, Elang juga ada teman di rumah,” tutur Dara, lantas kembali mengangkat Langit ke dalam pangkuannya.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2