Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 28


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Stevan membuka matanya saat mendengar suara orang muntah. Pria itu menatap ke arah jam dinding, ternyata masih pukul satu malam. Sambil menahan kantuk, Stevan melangkah menuju kamar mandi, mendatangi sumber suara.


Mata yang tadinya terkantuk-kantuk, kini membulat sempurna. Stevan mempercepat langkahnya, menghampiri sang istri yang sibuk muntah di wastafel kamar mandi. Setelah dekat, pria itu membantu memijat tengkuk Dara.


“Sudah mendingan?” tanya Stevan saat Dara sudah selesai muntah.


Dara mencuci mulutnya sebentar lalu menghadap suaminya sambil mengangguk.


“Kok bisa muntah, sih? Kamu kenapa? Sakit?” Pertanyaan bertubi-tubi itu terus dilontarkan oleh Stevan sambil mengusap kening sang istri yang berpeluh.


Dara menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.


“Aku nggak apa-apa, Ste.”


“Nggak apa-apa bagaimana? Bibir kamu pucat begitu.”


“Paling cuma kecapekan aja.”


“Ya sudah, kita balik ke ranjang lagi,” ucap Stevan sambil menggiring Dara kembali menuju ranjang.


Sesampainya di ranjang, Dara segera merebahkan tubuhnya, lalu menarik selimut hingga sebatas dada. Perempuan itu merasa pusing, sekaligus tidak enak badan.


“Minum dulu, Dar,” titah Stevan, membantu Dara yang sudah mendudukkan diri untuk minum.


“Sudah, Ste.”


Stevan mengangguk, lalu meletakkan kembali gelas yang dipegangnya. Pria itu menatap khawatir istrinya yang tengah mengatur posisi nyaman untuk berbaring. Stevan ikut berbaring, ia menarik tubuh Dara ke dalam dekapannya. Tangannya terulur mengelus kepala Dara.


“Tidur lagi, masih jam satu malam,” ucapnya lalu ikut memejamkan mata.


...🌾🌾🌾...


Langit memandang suasana dapur pagi ini dengan kening berkerut. Bocah berusia empat tahun itu melangkah menghampiri sang papa yang tengah sibuk dengan alat memasaknya. Tangan kecilnya menarik ujung baju yang dikenakan oleh pria itu.


Stevan menunduk, menatap Langit yang juga tengah menatapnya. Laki-laki itu menyamakan tingginya dengan sang anak.


“Kenapa, Sayang?”


“Mama di mana?” tanya Langit. Dia heran, tak biasanya papanya ini memasak. Biasanya, setiap pagi, mamanyalah yang memasak.


Menarik napas pelan, Stevan mengarahkan jari telunjuknya ke arah kamarnya.


“Mama lagi sakit, Sayang. Tadi sempat muntah-muntah.”

__ADS_1


Mata bulat Langit mengerjap pelan. Tanpa berpamitan, Langit bergegas melangkah menuju kamar. Anak itu terasa khawatir dengan keadaan sang mama.


Setibanya di depan pintu kamar, tangan Langit bergerak menarik knop pintu. Kaki kecilnya kembali melangkah, menghampiri ranjang sang mama.


“Bang Van udah ada di sini?” tanyanya, saat melihat kehadiran sang abang yang tengah mengusap kepala mama.


Gervan menjawab hanya dengan anggukan singkat, lalu kembali pada aktivitasnya.


Dengan bersusah payah, Langit akhirnya berhasil naik ke atas ranjang. Ia mendudukkan diri tepat di sebelah kiri Dara.


“Mama sakit apa?” tanya Langit, sambil menggenggam tangan Dara.


Dara tersenyum, tangan sebelahnya terulur mengelus kepala Langit lembut.


“Mama cuma kecapekan aja, Sayang. Elang sama Bang Van nggak usah khawatir.”


Langit mencebikkan bibirnya, tak terima dengan apa yang diucapkan sang mama.


“Gimana Elang nggak khawatil? Kalau lihat Mama sakit begini. Elang sayang sama Mama, Elang nggak mau lihat Mama sakit.”


Dara tersenyum haru, ia segera menarik Langit ke dalam dekapannya.


“Mama juga sayang sama Elang. Mama selalu berdoa, supaya Elang, Papa, dan Bang Van sehat selalu,” tuturnya, sambil menarik Gervan masuk ke dalam pelukan mereka. Mata Dara melirik singkat ke arah jam dinding. “Sekarang kalian sarapan, setelah itu berangkat sama Papa,” lanjutnya, melerai pelukan mereka.


Langit mengangguk. “Elang sekolah dulu, Mama cepat sembuh, ya,” ucap Langit, mencium pipi Dara, lalu menyalami tangan wanita itu. Kakinya mulai melangkah keluar kamar.


Dara mengangguk. “I love you too more, My Child.”


Dara memandang punggung Gervan yang hilang di balik pintu dengan senyuman. Dara bahagia memiliki anak sebaik Langit dan Gervan. Meski dia sadar, keduanya bukanlah anak kandung dirinya dan Stevan. Namun, kasih sayang yang tulus, mampu membuatnya lupa akan hal itu.


Satu hal yang selalu Dara panjatkan dalam setiap doanya. Dara hanya ingin, keluarganya akan terus utuh dan terus bersama, sampai ajal memisahkan mereka. Dara tak akan sanggup jika harus dipisahkan sebelum waktunya.


Satu jam berlalu, Dara merasa bosan hanya berbaring di kamar. Namun, apa boleh buat? Jangankan pergi keluar, hanya melangkah saja, tubuhnya tak sanggup. Dara bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, tadi malam dirinya masih baik-baik saja.


Suara pintu dibuka itu mengalihkan perhatian Dara. Dara menoleh, menatap Stevan yang tengah berjalan ke arahnya sambil membawa nampan berisi mangkuk dan gelas air putih.


“Sayang, makan dulu, ya? Setelah itu aku panggil dokter, buat periksa kamu,” ucap Stevan, meletakkan nampan di atas nakas, lalu membantu Dara mendudukkan diri dengan nyaman.


“Anak-anak sudah berangkat?”


Stevan mengangguk. “Iya, sekarang kamu makan dulu, ya. Aku suapin.”


Stevan mulai mengaduk bubur dalam mangkuk lalu menyuapkannya ke mulut sang istri.


“Masih merasa pusing, nggak?” tanyanya disela suapan.


Dara mengangguk. “Iya, tapi lebih lumayan sekarang daripada tadi.”

__ADS_1


“Cepat sembuh, ya. Aku khawatir kalau lihat kamu sakit begini,” ucap Stevan, sambil menaruh kembali mangkuk yang sudah kosong, lalu mengambil gelas.


Ting ... tong. Bel rumah yang berbunyi itu mengalihkan perhatian keduanya.


“Aku ke bawah sebentar, sepertinya dokter yang aku telepon sudah datang.” Stevan mengacak pelan rambut Dara lalu melangkah keluar kamar, tak lupa membawa serta nampan.


Tak lama kemudian, Stevan kembali hadir bersama seorang wanita berjas putih di belakangnya.


“Ibu keluhannya apa?” tanya dokter Isna sambil menyiapkan peralatan periksanya.


“Pusing sama mual-mual, Dok.”


Dokter Isna mengangguk mafhum. Dengan cekatan, wanita berjas putih itu mulai memeriksa keadaan Dara yang tengah berbaring di atas ranjang.


“Jadi, istri saya kenapa, Dok? Nggak ada yang berbahaya kan, Dok?” tanya Stevan.


Sungguh, Stevan takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Jika sampai itu terjadi, mungkin Stevan tak akan memaafkan diri sendiri, sebab dirinya lalai dalam menjaga keselamatan sang istri.


Dokter Isna belum menjawab, ia terlebih dahulu meletakkan kembali stetoskop yang tadi dipakai di tas khusus miliknya. Mata wanita itu mulai beralih menatap Stevan dan Dara.


“Selamat, Pak Stevan dan Bu Dara akan segera memiliki momongan,” ucapnya sambil tersenyum.


Stevan bergeming di tempat. Apa tadi, segera memiliki momongan? Telinganya tak salah dengar, bukan?


“Be ... benaran, Dok?” tanya Stevan gagap, bahkan tangan pria itu sudah bergetar.


Anggukan yang dia dapat dari Dokter Isna mampu menciptakan letupan-letupan bahagia di hatinya. Stevan tersenyum, butuh dua bulan lamanya dia hadir setelah Stevan mengatakan bahwa dirinya ingin memiliki anak kandung.


Stevan segera menghampiri Dara yang sudah mendudukkan diri di atas ranjang, lalu memeluk tubuh wanita itu erat. Bahkan, dirinya sudah lupa bahwa bukan hanya mereka berdua yang ada di sini.


“Ste, lepas dulu ... masih ada Dokter Isna di sini,” bisik Dara sambil berusaha melepaskan pelukan dari Stevan.


Stevan tersadar, pria itu meringis jengah. Kakinya turun dari ranjang, berdiri tepat di samping dokter Isna.


“Terima kasih, Dokter,” ucapnya—masih mempertahankan senyumannya.


“Sama-sama, Pak. Ini ada vitamin yang bisa Pak Stevan tebus di apotek.” Dokter Isna mengulurkan selembar kertas berisi resep ke arah Stevan. “Untuk Bu Dara, kesehatannya dijaga terus, ya. Jangan sampai telat makan, perbanyak makan buah dan sayuran, juga jangan melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu.”


Dara mengangguk paham. “Baik, Dok.”


“Kalau begitu saya permisi, sehat selalu Bu Dara,” pamit dokter Isna, lalu bersalaman formal dengan Dara dan Stevan.


Seperginya dokter Isna, Stevan segera naik kembali ke atas ranjang.


“Kita bakalan punya anak, Sayang,” ucapnya, lalu menghujani kepala sang istri dengan kecupan ringan.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2