
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Mata bulat lucu itu memandang area sekitar dengan tatapan heran. Dia merasa, dia tidak pernah pergi, ataupun berkunjung ke sini. Tempat ini terasa asing baginya.
Langit, anak itu membawa kakinya melangkah tanpa tujuan. Dia terus melangkah ke depan. Tempat ini terlihat seperti taman, tetapi Langit bingung, sekarang ini dia tengah berada di mana?
Langit ingat betul, sebelum berada di tempat asing ini, dia sedang bermain bola lalu bolanya menggelinding ke jalan. Setelahnya, ada sebuah mobil yang menabrak dirinya. Terakhir yang Langit ingat, hanyalah suara Dara yang meneriaki namanya.
“Langit sayang.”
Panggilan lembut seorang wanita membaut Langit menghentikan langkahnya. Anak itu berbalik, dia menatap sosok wanita yang terlihat cantik dengan senyum manisnya, juga tampak anggun dengan gaun putih tulangnya. Wanita itu berdiri tepat beberapa langkah darinya.
“Tante siapa?” tanya Langit, dia menatap wanita itu dengan dahi berkerut bingung.
Dalam pikirannya, sepertinya Langit pernah melihat sosok wanita cantik ini, tetapi di mana? Sungguh, Langit tidak mengingatnya.
Dira, wanita itu tersenyum tulus. Dengan perlahan, dia melangkah menghampiri Langit yang masih setia berdiri di tempat.
“Kamu nggak pernah melihat Bunda?” tanya Dira setelah berjongkok tepat di hadapan Langit. Wanita itu menatap wajah sang anak yang sangat mirip dengan suaminya. Ibarat kata, pinang dibelah dua.
Langit mengangguk cepat. “Pelnah, kan Elang seling lihat Mama Dala,” katanya. “Oh iya, Tante tahu ini di mana?” Langit menatap Dira dengan pandangan menuntut jawaban.
“Ini adalah alam bawah sadarmu, Sayang,” sahut Dira, sambil mengusap lembut anak yang hanya sempat beberapa menit dia temui ini.
Kening Langit mengernyit. “Alam bawah sadal?” beonya. “Elang nggak ngelti.”
Dira tertawa kecil, dia mengacak pelan rambut hitam legam Langit.
“Ini adalah mimpi. Kamu sekarang sedang berada dalam mimpi, Sayang.”
Langit mengangguk, meski sejujurnya dia tak jua paham apa yang dimaksud oleh wanita di hapadannya ini.
“Tante, tahu jalan pulang ke lumah Elang, nggak? Elang pengin pulang. Mama, Papa, sama Bang Van pasti lagi cariin Elang.”
Dira tersenyum, dia menuntun tangan mungil Langit menuju kursi panjang yang ada di sana.
“Langit mau dengerin cerita Bunda, tidak?” tanya Dira, setelah keduanya duduk anteng di kursi.
Langit menoleh. “Bunda? Bunda siapa? Mama Elang, kan cuma Mama Dala.”
“Langit dengarin aja,” ucap Dira. Dia menunduk, menatap Langit yang juga tengah menatapnya. “Langit boleh bertanya, kalau Langit tidak paham,” lanjutnya, yang dibalas anggukan oleh sang anak.
Dira menarik napas panjang. Ini saatnya untuk dia bercerita dengan leluasa. Ini saatnya Dira memberitahu hal yang sebenarnya. Meski Dira yakin, Dara tak mungkin menyembunyikan hal sebesar ini dari Langit.
Dira berpikir, bisa saja ini adalah waktu pertama dan terakhir yang Tuhan berikan agar dia bisa bertemu, menyentuh, dan berbicara dengan Langit. Bisa jadi, dia tak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan hal ini.
Dira menatap lurus ke depan.
“Lima tahun yang lalu, saat itu Bunda sedang hamil anak pertama Bunda. Waktu itu, Bunda mendapatkan sebuah mimpi, mimpi yang menyatakan bahwa kesempatan Bunda untuk hidup hanyalah sampai Bunda melahirkan. Setelahnya, Bunda akan pergi menyusul suami Bunda yang sudah pergi terlebih dahulu.
“Setelah mendapatkan mimpi itu, Bunda menjadi khawatir, ada sebuah rasa yang sulit Bunda jelaskan, yang membuat hati Bunda sesak. Akhirnya, Bunda memutuskan untuk menceritakan apa yang Bunda alami pada adik Bunda. Bunda juga menitipkan calon anak Bunda pada dia. Bukannya Bunda ingin menyerah, hanya saja Bunda takut jika kejadian itu benar-benar terjadi, dan Bunda belum sempat menitipkan anak Bunda pada seseorang yang pantas menjaganya.
“Waktu semakin berlalu, dan hari kelahiran pun tiba. Sebelum Bunda melahirkan, Bunda selalu berdoa untuk keselamatan anak Bunda. Jika nantinya Bunda pergi, Bunda hanya berharap agar anak Bunda dapat hidup bahagia. Dan setelah anak Bunda lahir, ternyata mimpi itu menjadi kenyataan.”
__ADS_1
Dira mengangguk.
“Ya, Bunda pergi. Kembali ke pangkuan Sang Pencipta.”
“Telus, gimana nasib anaknya Tante?” Langit yang sedari tadi hanya menyimak pun, akhirnya bersuara.
Dira tersenyum. “Kamu mau tahu anak Bunda siapa?”
Langit mengangguk ragu.
“Siapa, Tante?”
“Namanya adalah Aludra Langit Hesperos.”
Langit menoleh cepat, mata anak itu membulat lucu.
“Kok, namanya kayak Elang?”
“Ya karena, anak Bunda adalah kamu, Sayang.”
Langit menggeleng cepat.
“Bukan, Elang bukan anaknya Tante. Elang itu anaknya Papa Ste, dan Mama Dala.”
Dira menggeleng pelan. Wanita itu mengangkat tubuh Langit ke atas pangkuannya.
“Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui, Sayang. Ada banyak sekali rahasia yang masih tersembunyi di balik hidupmu. Ada privasi yang menjadi milikmu, tetapi belum kamu ketahui apa itu,” ucap Dira sambil terus mengusap lembut kepala Langit.
“Apa itu, Tante?” Langit masih belum percaya jika wanita yang memangkunya ini adalah mamanya, wanita yang melahirkannya.
“Elang nggak ngelti.”
Dira tertawa kecil.
“Anggapannya begini, suatu saat nanti, kamu pasti akan mengetahui hal yang ingin kamu ketahui.”
Langit mengangguk paham. Detik berikutnya, dia mendongak.
“Kalau Tante adalah bundanya Elang, kenapa Tante pelgi ninggalin Elang?”
“Karena tidak ada seorang pun yang bisa menebak takdir. Takdir Bunda adalah di sini. Waktu Bunda untuk hidup telah habis.”
“Kalau begitu, ayo kita kembali Bunda. Kita temuin Mama Dala.”
Dira menggeleng pelan.
“Tidak bisa, Langit. Kesempatan hidup Bunda sudah habis.”
Wajah Langit terlihat murung. Namun, saat menyadari sesuatu, wajah itu kembali sumringah.
“Oh iya, telus ayahnya Elang siapa?”
Dira mengarahkan jadi telunjuknya ke depan. Ke arah seorang pria tampan yang tersenyum ke arah keduanya.
“Itu ayah kamu.”
__ADS_1
Langit membalikkan badannya. Dia menatap pria yang tengah melangkah menghampirinya.
“Hai, anak tampannya Ayah,” sapa Angga, dia mengambil alih Langit ke atas pangkuannya.
Langit tak menjawab. Tangan mungil anak itu malah bergerak menyusuri garis wajah Angga dengan mata yang menatap penasaran. Wajah ini, terlihat mirip sekali dengan dirinya. Keduanya terlihat seperti kembar berbeda usia.
“Wajahnya Om kok milip wajah Elang?” tanya Langit polos dengan tangan yang masih melanjutkan aktivitasnya.
Angga terkekeh.
“Ya karena kamu anaknya Ayah.”
“Ayah?” beo Langit. Dia mengalihkan pandangannya pada Dira. “Bunda? Ayah dan Bunda?”
Angga dan Dira mengangguk bersamaan.
“Kita adalah ayah dan bunda kandung kamu.” Angga menunjuk ke arah Dira. “Ini, adalah wanita yang telah mengandung kamu, juga melahirkan kamu.”
“Telus, Mama Dala dan Papa Stevan siapa, kalau Ayah dan Bunda adalah olang tua Elang?”
“Seperti yang tadi Bunda bilang. Suatu saat nanti kamu akan mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.”
“Elang, sayangnya Mama. Bangun yuk, kamu nggak capek tidur terus?”
Suara itu terdengar jelas di telinga mereka. Langit, anak itu menoleh ke sekitar, mencari dari mana sumber suara berasal.
“Itu suara Mama Dala!” seru Langit antusias.
Dira mengangguk menanggapi.
“Langit sekarang pulang, ya. Di sana, ada banyak orang yang menunggu kesadaran dan kehadiran Langit.”
“Kalau Elang pelgi, gimana sama Ayah dan Bunda?”
“Ayah dan Bunda akan selalu ada di sampingmu, Sayang. Meski kita tak terlihat, tapi doa kita selalu menyertai langkahmu,” ucap Angga. “Sekarang pulang.”
“Langit, ada saatnya kita bisa berkumpul bersama tanpa ada yang memisahkan,” kata Dira. “Pesan Bunda, kamu jadi anak yang baik, ya? Kalau dibilangin Papa dan Mama jangan ngeyel, jangan membantah. Papa dan Mama adalah orang baik. Kamu juga jangan lupa doakan mereka, doakan Bunda dan Ayah juga,” tutur Dira.
“Kamu harus bisa menjadi seseorang yang membawa pengaruh baik bagi lingkungan. Kamu boleh menjadi apa pun yang kamu mau, asal tidak menyalahi aturan. Kamu tidak boleh menjadi seorang pendendam. Jadilah orang yang mudah memaafkan, ya? Sebab, orang pendendam itu dibenci Allah,” sambung Angga.
Langit mengangguk. Dia akan mengingat baik-baik nasihat kedua orang yang baru saja dia temui ini.
“Jaga diri kamu, Sayang. Lindungi orang-orang yang kamu sayang, jangan biarkan mereka terluka.” Dira kembali bersuara, dia menarik Langit ke dalam dekapannya. “Bunda sayang kamu, Nak,” lanjutnya lalu mengecup kening Langit lama.
Angga tersenyum, dia ikut memeluk keduanya.
“Papa juga sayang kamu.”
“Elang sayang Bunda dan Ayah,” ucap Langit, dia mencium pipi Dira dan Angga bergantian.
“Sekarang kamu lari ke arah cahaya itu.” Dira menunjuk ke arah cahaya yang menyilaukan mata di depan mereka.
Langit mengangguk. Dia meraih punggung tangan Angga dan Dira lalu menciumnya bergantian. Anak itu berbalik, dia mulai berlari menuju cahaya itu.
“Dadah Bunda, dadah Ayah. Elang sayang kalian beldua.”
__ADS_1
To be continued ....