Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 39


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Suara mesin elektrokardiogram yang menampilkan garis grafik denyut nadi pasien itu mengisi keheningan yang tercipta di salah satu ruang rawat di rumah sakit Medika. Di atas bed hospital, terdapat seorang anak berusia enam tahun yang terlihat betah berbaring sambil memejamkan mata.


Ceklek!


Seiring air matanya yang terus mengalir deras, Dara melangkah perlahan mendekati bed hospital. Dunia Dara terasa makin mencekam. Ujian datang silih berganti, rasanya Dara seolah tak mampu lagi untuk berdiri, apalagi saat dokter menyatakan bahwa Gervan mengalami koma.


“Gervan,” panggil Dara lirih.


Namun, yang dia dapatkan bukanlah jawaban atau sekadar senyuman dari anak itu seperti biasanya. Kini, bahkan hanya gumaman kecil saja dia tak dapat mendengarnya.


“Gervan sayang.” Dara kembali berucap. Wanita itu mendudukkan diri di kursi. Tangannya meraih tangan mungil itu lalu menggenggamnya erat. “Bangun, yuk. Jangan tidur terus, kamu nggak kangen sama Mama?”


Sebelah tangan wanita itu mengusap kepala Gervan lembut. Air mata yang sempat terhenti, kini mulai mengalir lagi.


Apakah aku masih pantas disebut sebagai orang tua yang baik, saat aku tak dapat melindungi anakku hingga terluka begini? Gervan, maafkan Mama yang tak bisa menjagamu dengan baik. Maafkan Mama yang tak bisa menjadi orang yang bisa melindungimu. Jika saja bisa, Mama ingin menggantikan posisimu saat ini. Hati terasa sakit melihatmu dalam keadaan begini.


Gervan, kamu memang bukanlah anak yang terlahir dari rahim Mama, tapi Mama sudah menyayangimu seperti anak kandung sendiri. Cukup calon anak mama saja yang pergi, kamu jangan, Gervan. Gervan, Mama tak kuasa melihatmu terluka. Cepat sembuh sayang, agar Mama dapat kembali melihat anak-anak mama bermain sambil tertawa.


Sentuhan lembut di pundaknya membuat Dara segera menghapus air matanya. Wanita itu menoleh ke belakang, menatap Steven yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.


“Jangan nangis, Gervan tak suka lihat mamanya sedih,” ucap Stevan sambil mengusap bekas air kata di pipi Dara lembut.


Dara tak menjawab, dia berbalik, lalu memeluk perut Stevan erat. Wanita itu kembali menumpahkan air matanya di perut sang suami. Stevan mengelus kepala Dara. Mata wanita itu sudah terlihat sembab.


“Gervan, Ste,” lirih Dara.


Stevan tak dapat kembali melarang Dara untuk berhenti menangis. Sebab dia tahu, wanitanya ini pasti merasa sangat terpukul. Manusia mana yang tidak sakit melihat anaknya terluka, apalagi baru saja kehilangan salah anaknya? Tidak ada orang tua yang tak sedih melihat anaknya sakit, dan itulah yang dirasakan oleh Stevan.


Mata Stevan melirik ke arah Gervan yang memakai baju pasien yang membuat anak itu terlihat makin menyedihkan. Tak hanya satu atau dua goresan panjang menghiasi wajah anak itu.

__ADS_1


Mata Stevan melirik turun ke arah perut, Stevan ingat jelas, saat dia membawa Gervan ke rumah sakit, perut itu mengeluarkan banyak darah. Stevan bersyukur, untung saja luka tusukan itu tak mengenai orang vital Gervan, ya meski anak itu harus mendapatkan tujuh jahitan di perutnya.


Stevan membungkuk, dia makin menarik Dara ke dalam dekapan hangatnya.


“Mama cantik boleh menangis, boleh sedih, tapi jangan berkepanjangan,” tuturnya lalu mencium lembut kening Dara.


Dara mengangguk, dia melepaskan pelukannya, lalu menatap Stevan. “Langit di mana?”


Stevan tak menjawab, dia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di sana, terdapat Langit, Shira, juga Anita yang tengah melangkah menghampiri mereka.


“Mama!” panggil Langit.


Kaki kecilnya melangkah, menghampiri sang mama yang tengah menatapnya. Setelah tiba di hadapannya, Langit menumpukan kedua tangannya di atas paha Dara. Matanya menatap Dara sebentar lalu beralih melihat Gervan.


“Bang Van belum bangun, Ma?”


Dara menggeleng pelan, dia mengangkat tubuh Langit ke atas pangkuannya.


“Elang sudah makan?”


Dara mengangguk ragu. “Udah, kayaknya.”


Stevan yang mendengar itu berdecak pelan, tangannya terulur mengacak pelan rambut Dara.


“Udah makan? Kapan?”


Dara meringis, sambil menggaruk kepalanya.


“Ya aku, kan lupa, Ste.”


“Mama halus makan, kalau Mama nggak makan, nanti Mama sakit kayak Bang Van. Elang nggak mau Mama sakit.” Langit menyentuh dadanya sendiri. “Di sini, ada yang sakit, kalau Elang lihat Mama sakit.”


Dara meneteskan air matanya, dia terharu. Dengan cepat, dia menghujani wajah Langit dengan kecupan.

__ADS_1


“Mama sayang kamu, Lang,” ucapnya, lalu memeluk Langit erat.


“Kamu harus makan, Dara. Kamu harus jaga kesehatan juga,” tutur Shira. Dia tersenyum tulus sambil mengelus kepala anak semata wayangnya itu.


Shira merasa tak sanggup melihat anaknya menderita. Shira khawatir, sedih, juga sakit melihat Dara bersedih. Shira tahu bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak yang sudah dijaga berbulan-bulan. Bukan maksud perhitungan, hanya saja sakit itu tak dapat ditoleransi.


“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Stevan, pria itu berniat membelikan makanan untuk sang istri.


“Sudah, kalian makan di luar saja. Gervan biar Mama yang jaga,” potong Shira cepat, sebelum Dara membuka suara.


“Tapi, Ma—”


Shira menyentuh kedua pundak Dara, meremasnya pelan. “Dara, kamu juga perlu refreshing untuk menenangkan hatimu. Mama tahu, keadaan hatimu tidak sebaik raut wajahmu. Mama tahu, kamu sedih, tapi kamu selalu berusaha untuk terlihat tegar di depan orang lain.”


Dara menurunkan Langit dari pangkuannya, dia segera memeluk tubuh mamanya erat.


“Mama ...,” ucap Dara lirih.


Sudahlah, Dara tak dapat menyembunyikan air matanya jika di hadapan sang mama. Shira tahu suasana hatinya, meski Dara sudah berusaha menyembunyikan seapik mungkin. Shira tahu bagaimana perasaannya, yang bahkan Dara saja tak mampu memahaminya. Bagi Dara, Shira adalah dunianya.


Shira melepas pelukannya, dia menghapus air mata Dara. “Sudah, ya. Sebagai wanita kuat, kamu tidak boleh gampang menangis. Dari sekian banyaknya manusia di bumi, Allah memilih memberikan cobaan padamu karena Allah tahu kamu bisa, kamu mampu melewati ini semua.”


Dara dibuat makin kagum dengan sosok wanita yang telah melahirkannya ini. Dara kembali memeluk Shira.


“Dara sayang sama Mama.”


Shira mengangguk. “Mama juga sayang sama kamu, tidak ada orang tua yang suka melihat anaknya menderita. Jika memang ada, berarti orang itu telah gila.” Shira kembali melepas pelukannya, dia mengalihkan perhatiannya pada Stevan yang kini sudah menggendong Langit. “Ste, ajak istrimu makan di luar, atau kalau perlu ajak jalan-jalan.”


Stevan mengangguk paham. “Baik, Ma. Stevan sama Dara titip Gervan, ya. Mama mau titip apa?”


Shira menggeleng. “Nggak usah, Mama cuma mau kalian kembali ke sini dengan keadaan yang lebih baik.”


“Ya sudah, Stevan sama Dara pamit, Ma. Assalamualaikum.” Stevan menyalim tangan Shira, diikuti oleh Dara dan Langit.

__ADS_1


Ketiga orang itu mulai melangkah keluar.


To be continued ....


__ADS_2