
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Langkah kaki itu terkesan santai, diiringi senyuman tipis di bibir ranumnya yang menambah kesan kecantikan dalam diri seorang wanita yang mengenakan piyama tdiur itu. Dia adalah Dara, dia melangkah perlahan menuju ruang kerja sang suami sembari membawa secangkir kopi hitam manis di tangannya—semanis yang membawanya.
Dara membuka pintu berwarna cokelat tua di hadapannya dengan tulisan besar di bagian atasnya “Ruang Kerja”. Suara keyboard yang diketik dengan tempo cepat itu menyapa indra pendengarnya. Di sana, dapat dia lihat Stevan yang tengah fokus mengetik dengan sesekali menatap monitor di hadapannya.
“Sayang!” panggil Dara. Perempuan itu melangkah mendekat lalu meletakkan cangkir kopi yang dibawanya di sisi meja kerja Stevan. “Sibuk nggak?” tanya wanita itu kemudian.
Stevan menghentikan aktivitasnya. Matanya menatap sang istri yang tengah mendudukkan diri di kursi yang sengaja dia letakkan di sana.
“Kenapa, Sayang? Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanyanya lembut.
Dara mengangguk, tubuhnya bergerak menggeser kursi beroda yang dia duduki ke arah Stevan.
“E ... em kalau aku pengin buka toko kue boleh, nggak?”
Stevan tak menjawab, dia lebih dahulu memutar kursinya, menghadap sang istri.
“Sebelumnya, aku mau tanya dulu. Tujuan kamu pengin buka toko kue buat apa?”
Bukannya Stevan tak setuju, bukan pula dia tak punya biaya untuk memenuhi keinginan istrinya itu. Perlu kalian ketahui, bahwa Stevan menanyakan alasannya karena hanya ingin tahu. Dia hanya tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali—ketika di mana Dara mengabaikan Langit.
“Aku cuma pengin ngisi waktu luang di sela merawat Langit, Ste,” ucap Dara, dia menggenggam tangan kekar Stevan, dengan mata yang berfokus menatap ke arah mata sang suami. “Aku janji nggak bakalan mengabaikan Langit lagi,” lanjutnya, seolah-olah mengerti kekhawatiran pria yang duduk di hadapannya ini.
Menarik napas pelan, Stevan kembali menggenggam tangan Dara yang menggenggamnya, membawa tautan tangan mereka ke dadanya.
“Kalau itu mau kamu, aku sebagai suami pasti bakalan mengusahakan agar keinginan kamu bisa tercapai. Secepatnya aku bakalan cariin tempat strategis untuk membangun toko kue impian kamu,” tutur Stevan, lantas mencium punggung tangan Dara.
Senyum di bibir Dara merekah, ah dia sangat bahagia. Kurang apalagi Stevan, sudah tampan, baik hati lagi. Benar-benar suami idaman, dan tentunya hanya miliknya seorang.
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik.”
Huh, giliran ada maunya saja puja-puji. Namun, tak heran. Namanya juga istri.
Stevan ikut tersenyum. Dia bahagia jika wanitanya bahagia. Dia segera menarik tubuh Dara ke dalam dekapannya, mumpung Langit tidak ada di rumah, sebab bocah itu tengah berada di rumah oma dan opanya.
...🌾🌾🌾...
Malam ini terasa indah, dengan taburan beribu-ribu bintang juga satu bulan yang menghiasi malam. Semilir angin berembus pelan, menenangkan.
Di dalam sebuah kamar, terdapat seorang wanita yang tengah duduk melamun sambil menatap bayangan dirinya di cermin. Tatapan matanya kosong, seakan-akan tengah sibuk berkelana ke negeri antah-berantah.
Dia Dara. Entah sudah berapa lama dirinya duduk diam di bangku meja rias. Lima menit, sepuluh menit, atau satu jam? Perempuan itu tersadar dari lamunannya saat sepasang tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Dara menatap ke arah cermin, dapat dia lihat Stevan yang tengah memeluknya dari belakang sambil menumpukan kepalanya di atas kepala Dara.
“Kamu lagi mikirin apa, Sayang? Aku lihat dari tadi ngelamun terus,” ucap Stevan, memandang wajah manis nan ayu milik sang istri dari cermin di hadapan mereka.
“Aku nggak papa, Ste.”
Menghela napas pelan, Stevan membalik tubuh Dara, menjadi menghadap ke arahnya. Pria itu menangkup kedua sisi wajah Dara, menatap tepat di manik mata wanita itu.
“Kalau ada masalah cerita, Dara. Kita ini sudah menikah, sudah sepatutnya saling berbagi. Baik kesedihan, maupun kebahagiaan,” tutur Stevan, tangannya mengusap lembut pipi Dara.
Dara menarik napas panjang, perempuan ini memilih menunduk daripada menjawab ucapan sang suami. Apa yang dikatakan Stevan memang benar adanya. Namun, Dara hanya tak ingin menambah beban pikiran Stevan dengan sesuatu yang sedang dipikirkannya
“Dara!” panggil Stevan, memberi ultimatum agar istrinya itu tak lagi mengabaikannya, sambil mengangkat dagu Dara agar kembali menatapnya.
“Aku nggak papa, Ste. Aku cuma lagi kepikiran sama Kak Dira aja,” lirih Dara.
Tetesan air mata jatuh di pipinya. Ya Tuhan, kenapa dirinya sekarang menjadi wanita yang lemah seperti ini? Hal begini saja dia meneteskan air mata.
__ADS_1
“Hei, jangan menangis. Kak Dira pasti udah bahagia sama suaminya di sana. Tugas kita yang ditinggalkan di sini adalah mengikhlaskan,” tutur Stevan, mengusap air mata Dara.
“Ste ...,” panggil Dara lirih.
“Ya?” Stevan menatap Dara dengan alis terangkat sebelah.
“Harus nggak sih kita kasih tahu Langit kalau dia bukan anak kandung kita?” tanya Dara, meminta pendapat. Stevan dapat melihat keraguan yang begitu besar di mata wanita cantik itu.
Sejujurnya, pertanyaan inilah yang sejak tadi menyita fokusnya. Dara bingung, di satu sisi dia tidak ingin menyembunyikan hal semacam ini pada Langit, tetapi di sisi lain, Dara tak ingin membuat anak itu sedih.
Stevan mengangguk beberapa kali, ia paham kekhawatiran istrinya. Dia belum menjawab, pria itu lebih memilih menggiring Dara melangkah menuju ranjang mereka, menghampiri Langit yang sudah terlelap di atas spring bad itu.
Stevan menggenggam kembali tangan Dara, memberikan kehangatan pada tangan yang terasa dingin itu.
“Kita harus memberitahunya. Untuk waktunya, nanti ... tunggu Langit siap dan sudah bisa mengerti semua yang terjadi. Setidaknya, saat nanti dirinya sudah menginjak bangku SMA atau kuliah.”
Dara mengangguk paham, perempuan itu bersandar di dada bidang Stevan saat sang suami menariknya masuk ke dalam pelukannya. Usapan lembut di kepalanya itu membuatnya tenang.
Stevan, pria yang sudah menemaninya sejak masih duduk di bangku SMA, pria yang menjadi alasan di balik semangat masuk sekolahnya, pria yang telah berhasil menyita perhatiannya hingga tak selera lagi melirik pria lain, dan yang pasti pria yang dia cintai hingga saat ini.
‘Kamu laki-laki terbaik setelah Papa, Ste,’ batin Dara.
“Hei, malah ngelamun lagi!” tegur Stevan.
“Terima kasih, ya. Selama ini kamu selalu ada untukku. I love you, My Husband.”
“I more, My Future.” Stevan mengecup kening Dara mesra. “Sudah malam, kita istirahat sekarang,” titahnya.
Dara mengangguk, dia mengambil posisi berbaring di sebelah kanan Langit, semetara Stevan sebaliknya. Tangan kedua manusia itu saling bertautan sambil memeluk tubuh kecil bayi berumur lima bulan yang tidur di antara mereka.
To be continued ....
__ADS_1