
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Langkah Dara terasa pelan, wanita itu berusaha sebaik mungkin menyeimbangkan langkahnya dengan kedua bocah kecil yang menggenggam kedua tangannya. Saat ini, Dara, Gervan, dan Langit tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan kota Malang—tempat mereka saat ini berdomisili.
Sesuai kesepakatan, Senin depan Gervan sudah bisa menempuh pendidikan satu sekolah dengan sang adik. Ketiganya kini tengah sibuk berkeliling guna mencari segala perlengkapan sekolah untuk Gervan, juga membeli boneka kaktus bergoyang yang bisa mengikuti apa yang kita katakan untuk Langit yang sejak tadi merengek meminta itu.
Ya, bocah itu tiba-tiba meminta boneka itu setelah melihat salah satu video blog milik artis cilik di YouTube yang sering Langit tonton.
Dara menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah toko, membuat kedua anak itu ikut berhenti. Keduanya kompak menatap sang mama yang pastinya lebih tinggi dari mereka.
“Kenapa, Ma?” tanya Gervan.
“Kita beli perlengkapan sekolah Gervan di sini, Sayang,” balas Dara yang mendapat anggukan dari Gervan dan Langit.
Ketiga manusia berbeda usia itu kembali melangkah memasuki toko perlengkapan sekolah.
“Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu, Bu?” tanya pegawai toko ramah sambil menatap Dara tersenyum.
Dara balas tersenyum. “Saya ingin mencari perlengkapan sekolah untuk anak saya.”
Pegawai toko itu mengangguk. “Perlengkapan sekolah untuk anak ada di sana, Bu,” terangnya sambil menunjuk ke arah kumpulan perlengkapan sekolah.
“Baik, terima kasih. Saya pilih-pilih dulu. Permisi,” ucap Dara. Wanita itu mulai melangkah pergi menuju tempat yang ditunjuk oleh pegawai toko tadi—tentunya masih dengan menggandeng kedua bocah imut itu.
“Gervan mau yang mana, Nak?” tawar Dara dengan tangan kanan memegang kotak pensil warna hitam bergambar Batman, juga tangan kiri yang memegang kotak pensil warna merah bergambar Captain Amerika.
“Abang maunya yang itu, Ma.”
Bukan, bukan Gervan yang menjawab, tapi Langitlah yang menjawab. Tangannya menunjuk ke arah kotak pensil warna pink dengan gambar Barbie. Jangan lupakan mulutnya yang sudah cekikikan.
Gervan mengalihkan pandangannya pada apa yang ditunjuk oleh Langit, seketika matanya membulat sempurna.
“Enggak, Ma. Elang bohong, Gelvan mau yang itu,” elak Gervan sambil menunjuk ke arah kotak pensil bergambar Batman yang dipegang Dara.
Dara tertawa pelan, dirinya menyempatkan diri mengacak rambut Langit dan Gervan bergantian, sebelum mengembalikan salah satu kotak pensil ke tempat asal.
Dara menghentikan kegiatannya saat merasakan tepukan ringan di bahunya. Wanita cantik itu segera menoleh ke belakang guna melihat si pelaku.
__ADS_1
Seketika, netra dengan bola mata hitam pekat itu membelek sempurna si pelaku.
“Eva!” pekiknya.
Eva, wanita yang berada di hadapan Dara hanya tertawa pelan melihat kehebohan temannya. Jarang sekali dirinya bisa melihat sahabatnya seperti ini.
“Iya, ini gue, Dar,” sahut Eva sambil menyambut uluran tangan Dara.
Dara tersenyum lebar, wanita itu menyamakan tingginya dengan bocah cantik yang berdiri di samping Eva.
“Cantik ini namanya siapa?” tanyanya lembut.
“Adisya, Tante,” sahut Adisya, anak seusia Langit itu tersenyum manis, hingga menampilkan deretan gigi susunya.
Dara memekik pelan, wanita itu mencubit pipi Adisya gemas. Oh sungguh, anak kecil ini sangat menggemaskan. Ingin rasanya Dara menenggelamkan Adisya di tengah samudra Antarktika. Eh, bercanda.
Adisya menarik ujung baju mamanya. Mata bulat itu menatap memelas mamanya, seolah mengisyaratkan agar membantunya lepas dari wanita yang masih asik mencubit pipinya.
“Woi, Dara ... anak gue jangan lo kayak gituin!” tegur Eva, memukul pelan tangan Dara.
Dara berdecak pelan. Perempuan itu kembali berdiri lalu menatap kedua anaknya yang tengah kompak menatap heran Eva dan Adisya.
Eva tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang langsung disalami oleh kedua anak Dara.
“Kalian berdua ganteng,” puji Eva, mengusap kepala Langit dan Gervan bergantian.
Langit menutup mukanya dengan telapak tangan, sungguh anak kecil merasa malu mendapatkan pujian dari orang yang baru saja dikenalnya. Berbeda dengam Gervan, bocah berusia lima tahun itu hanya menampilkan senyum tipis lalu kembali menjadi wajah datar.
“Lo utang banyak cerita sama gue, Va!” ucap Dara memberikan ultimatum. Matanya menatap tajam Eva. Seakan-akan jika Eva tidak cerita, maka wanita itu akan mati karena tatapannya.
Eva tertawa geli sambil menepak lengan Dara.
“Santai aja. Setelah dari sini, kita makan siang sama-sama, biar gue ceritain semuanya.”
Dara mengacungkan dua jempolnya. Matanya menatap Eva—mengisyarakan bahwa nanti Eva harus menghubunginya untuk memberitahu tempat mereka makan. Dara mempercepat langkahnya saat tangannya terus ditarik oleh Langit. Rupanya, bocah kecil itu sudah tidak sabar ingin membeli boneka kaktus bergoyang.
...🌾🌾🌾 ...
Sesuai perjanjian sebelumnya. Kini, Dara, Eva, dan ketiga anak mereka tengah duduk manis di salah satu restoran sambil menunggu pesanan mereka datang.
__ADS_1
“Jadi, lo nikah sama siapa?” tanya Dara membuka pembicaraan.
Eva yang baru saja ingin membuka mulut, segera menghentikan aktivitasnya saat seorang pelayan datang sambil membawa pesanan mereka.
“Gue nikah sama Errian,” sahut Eva sambil mengaduk jus lalu memberikannya kepada Adisya.
Uhuk-uhuk!
Dara yang tengah meminum jusnya pun tersedak, menatap tak percaya ke arah Eva.
“Errian Bagas Pahlevi?” tanya Dara skeptis, tetapi langsung mendapatkan anggukan dari Eva. “Yang anaknya pendiam, yang setiap saat terus berteman sama buku?” Eva mengangguk lagi.
Dara memegang dagunya sambil berdecak. Kepalanya menggeleng tak percaya. Namun, detik berikutnya, pandangannya teralihkan saat mendengar pekikan mengejek dari Adisya.
“Elang kayak pelempuan, mainnya boneka,” ejek Adisya sambil menutup mulutnya, menahan tawa.
Langit yang semula tengah asik memandangi boneka kaktus yang mengikuti suaranya segera menatap Adisya. Matanya mendelik sempurna.
“Hei, nggak cuma pelempuan aja yang boleh main boneka!” bantahnya, tak terima.
Enak saja dirinya dikatai perempuan. Langit mengalihkan perhatiannya pada Gervan yang duduk di sampingnya.
“Bang Van, Elang kayak cowok, ‘kan?”
Gervan menggeleng pelan. “Enggak, soalnya Elang mainnya boneka. Cowok itu mainnya pisau, sama tembak.”
Dara dan Eva yang mendengar jawaban Gervan seketika melongo. Apa kata anak itu, pisau dan tembak?
“Pi ... pisau apa, Van?” tanya Eva dengan nada gagap.
Gervan menoleh. “Pisau yang bisa bunuh orang,” sahutnya mantap.
Dara mengusap wajahnya kasar. Ya ampun, kenapa tiba-tiba Gervan bertingkah seolah dirinya adalah psyco ... ah ralat, calon maksudnya. Dara menyamakan tingginya dengan Gervan. Wanita itu mendekatkan mulutnya ke telinga Gervan.
“Anak Mama yang ganteng nggak boleh kayak gitu lagi. Pisau dan tembak bukan sesuatu yang lumrah untuk dimainkan oleh anak kecil. Mama nggak mau Gervan jadi anak yang kasar,” bisik Dara lalu mengelus kepala Gervan, tak lupa menyematkan kecupan singkat di dahi Gervan.
Gervan mengangguk singkat, bertingkah seolah menuruti apa yang dikatakan sang mama. Namun, tanpa sepengetahuan orang lain, diam-diam bocah berusia lima tahun itu menyeringai kecil.
🌾🌾🌾
__ADS_1
To be continued ....