
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Seorang anak kecil berusia empat tahun, dengan seragam khas Taman Kanak-kanak, tampak duduk termenung di kursi taman sekolah. Mata anak itu menatap lurus ke depan, sambil sesekali melirik jam tangan. Terdengar suara decakan kesal yang terus keluar dari bibir mungilnya.
Adisya yang tengah duduk tak jauh dari tempat anak itu pun menatap sang mama. Anak itu itu dibuat heran sejak tadi pagi, tak biasanya Langit bersikap begitu. Biasanya, saat dirinya mengejek, atau hanya sekadar membantah ucapan Langit, maka bocah itu tak akan segan membalas ucapannya, hingga terjadilah adu argumen. Namun, entah kenapa, ada yang berbeda dengan sikap anak itu hari ini.
“Ma, Elang kenapa?”
Eva menggeleng pelan, lalu tersenyum.
“Mama juga nggak tahu, coba Adisya datangin, terus tanya dia kenapa.”
Adisya mengangguk, kaki kecil itu perlahan turun dari bangku yang didudukinya. Anak itu melangkah, menghampiri Langit yang masih sibuk dengan kegiatan unfaedahnya. Setelah sampai, Adisya segera mengambil duduk tepat di samping Langit.
“Kamu kenapa?” tanya Adisya sambil memiringkan kepala, menatap heran ke arah anak laki-laki di sampingnya.
Langit menoleh, matanya menatap sengit Adisya.
“Kamu ngapain di sini?” tanyanya dengan nada sarkasme.
Sungguh, Langit sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Dalam keadaan khawatir seperti ini, duduk diam sambil melirik ke arah jarum jam adalah sebuah kebiasaan.
Adisya mencebikkan bibirnya, menatap kesal Langit.
“Niat aku tuh baik, aku tanya ... kalena, aku peduli sama kamu, tapi telnyata ... kamu olangnya nggak mau telima kepedulian olang lain.”
Langit berdecak pelan, ia kembali melirik jam tangan, lalu menatap Adisya.
“Mama sakit.”
Adisya segera menoleh, mata bulatnya mengerjap lucu. “Tante Dala sakit apa?”
“Aku nggak tahu, tapi tadi pagi, bibil Mama pucat. Aku khawatil sama Mama.”
Adisya menepuk pelan pundak Langit, yang membuat sang empu langsung menatapnya.
“Tante Dala pasti nggak apa-apa. Tante Dala, kan kuat,” ucapnya sembarimengepalkan tangannya di udara sambil tersenyum manis.
Langit mengangguk, bibir bocah itu ikut tersenyum.
__ADS_1
“Bang Van ke mana? Biasanya kalian beldua telus.” Adisya mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari keberadaan Gervan.
“Bang Van nggak mau kelual kelas.”
...🌾🌾🌾...
Dua pasang kaki kecil itu lari beriringan memasuki rumah, saat mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Kedua anak laki-laki itu bergegas menuju suatu tempat, tanpa memedulikan suara papa mereka yang sejak tadi memperingati agar mereka tidak berlarian.
Dengan napas terengah-engah, Langit segera meraih knop pintu, memutarnya, lalu masuk ke dalam kamar orang tuanya, diikuti oleh Gervan di belakangnya.
“Mama!” panggil Langit. Bocah itu segera naik ke atas ranjang, menghampiri sang mama yang sudah merentangkan tangan.
“Bagaimana sekolah kalian tadi?” tanya Dara, sambil mengusap kepala Langit dan Gervan bergantin, saat keduanya sudah duduk nyaman di atas ranjang.
Langit mengangguk, kemudian menggeleng.
“Nggak asik, Ma. Biasanya, ada Mama yang temanin Elang sama Bang Van main, tapi hali ini Elang cuma sama Adisya.”
Dara segera menatap Langit, lalu Gervan.
“Lho, memangnya Abang ke mana?”
“Bang Van cuma di kelas aja, Ma. Nggak mau kelual,” adu Langit.
Gervan menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Van nggak pengin aja, Ma. Van kepikilan sama Mama telus.”
“Mama udah nggak apa-apa, kok. Mama udah sehat.”
“Tapi tadi—” Ucapan Langit terhenti saat tiba-tiba Stevan mengangkat tubuhnya ke atas pangkuan pria itu.
“Kalian mau tahu Mama kenapa?” tanya Stevan, menatap bergantian Gervan dan Langit.
Gervan mengangguk. “Mama kenapa, Pa?” tanyanya, penasaran.
“Sebentar lagi, kalian bakalan punya ....” Stevan sengaja menggantung ucapannya, ia ingin terlebih dahulu melihat reaksi kedua anaknya.
“Punya apa, Pa?” tanya Langit tak sabaran, bocah itu mengguncang lengan Stevan agar kembali melanjutkan kalimatnya.
“Kalian bakalan punya adik!” jawabnya antusias.
__ADS_1
“Wah, Elang bakalan jadi abang dong, Pa?” tanya Langit bahagia, bibir itu tersenyum lebar.
Berbeda dengan Langit yang menerima dengan antusias, Gervan justru bergeming. Setelah sadar dari lamunannya, bocah itu mundur perlahan, turun dari ranjang, lalu berlari kencang ke arah kamar.
Langit menatap kepergian abangnya dengan kening berkerut, lalu menatap sang mama.
“Bang Van kenapa, Ma?”
Dara menggeleng tak mengerti, mata wanita itu menatap sang suami, seolah mengisyaratkan agar lelaki itu mengatasi Gervan.
Stevan mengangguk paham, dengan perlahan ia menurunkan Langit dari pangkuannya.
“Elang di sini dulu, ya, jagain Mama. Papa mau menyamperi Bang Van dulu,” ucapnya, menepuk kepala Langit pelan lalu melangkah keluar kamar.
Stevan berdiri di depan kamar Gervan sambil menggenggam sebuah kunci. Tangannya terulur mencoba membuka pintu, dan benar saja sesuai dugaannya, pintu itu dikunci dari dalam. Stevan mengarahkan anak kunci pada kunci, memutarnya pelahan, lalu membuka pintu di hadapannya.
Ketika pintu itu terbuka, Stevan disuguhkan dengan ruangan gelap, sebab lampu sengaja dimatikan, juga jendela yang belum disibak kordennya. Tangannya terulur meraba dinding, mencari keberadaan sakelar lampu. Setelah dapat, tanpa menunggu lama lagi, Stevan segera menekannya, membuat ruangan yang semula gelap, kini mulai terlihat terang.
Stevan melangkah, menghampiri Gervan yang tengah duduk di pinggir bawah ranjang sambil menelungkupkan kepalanya di atas lutut yang ditekuk. Isak tangis bocah itu terdengar tertahan.
“Van ...,” panggil Stevan lirih sambil mengangkat tubuh Gervan ke atas gendongannya. “Gervan kenapa pergi gitu aja?” tanyanya sambil mengelus kepala Gervan yang tengah menenggelamkan wajahnya di leher Stevan dengan lembut.
Stevan dapat merasakan gelengan dari kepala Gervan di lehernya. Menghela napas pelan, Stevan memilih mendudukkan diri di atas ranjang bersprai galaksi, lalu meletakkan Gervan di hadapannya.
“Gervan kenapa? Cerita sama Papa,” bujuknya lembut.
Gervan tak menjawab, bocah itu memilih kembali pada posisi awal, menelungkupkan kepalanya di atas lutut. Namun, sebelum itu terjadi, tangan Stevan sudah terlebih dahulu menahan pergerakan Gervan.
“Gervan, kalau ada masalah, atau sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, kamu sampaikan atau kamu ceritakan dengan orang terdekat kamu. Jangan kamu simpan sendiri, nanti malah jadi penyakit,” tutur Stevan sambil memegang kedua pundak Gervan. “Sekarang jawab jujur, Gervan nggak mau punya adik?”
Gervan mengangguk pelan, kali ini diiringi oleh suara isak tangis yang tak lagi ia tahan. Bukan tanpa alasan ia tak ingin mempunyai adik lagi, Gervan hanya tak ingin, saat Stevan dan Dara memiliki anak lagi, dirinya akan terlupakan, atau lebih parahnya lagi diusir. Gervan sudah tak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini yang benar-benar peduli kepadanya, selain Dara, Stevan, dan Langit tentunya.
“Kenapa?” tanya Stevan, tangannya meraih dagu Gervan yang masih enggan menatapnya.
“Van cuma takut, kalau nanti Papa sama Mama punya anak lagi ... kalian bakalan lupain Van, atau usil Van dari sini,” ucap Gervan, menyampaikan hal yang menganggu pikirannya.
Stevan menggeleng, lalu tersenyum. “Papa sama Mama sudah menganggap kamu sebagai anak kandung kami, jadi apa yang kamu khawatirkan, itu tidak akan terjadi. Mungkin, awal kelahiran adik kamu saja. Karena biasanya anak bayi paling susah merawatnya, apalagi kalau sakit. Mama sama Papa akan tetap menyayangi Gervan, Elang, sama calon adik kalian dengan sepenuh hati, tanpa ada yang dibeda-bedakan,” tuturnya panjang.
“Papa janji?” Gervan mengacungkan jari kelingkingnya ke depan Stevan.
Stevan mengangguk, lalu mengaitkan jari kelingking keduanya. “Papa janji, Sayang.”
__ADS_1
To be continued ....