
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Dengan setangkai bunga mawar merah di tangannya, Dara melangkah perlahan melewati jajaran batu nisan. Ia tak sendiri, di belakangnya, ada Stevan yang senantiasa menemani ke mana pun wanita itu akan pergi.
Pasangan suami istri itu kompak menghentikan langkah di depan sebuah makam—yang tepat berada di bawah pohon bunga kamboja.
Dara berjongkok, mengusap dengan lembut nisan di hapadannya dengan bibir tersenyum tipis.
“Assalamualaikum, Kak. Maaf ya, Dara baru sempat ke sini sekarang,” ucapnya, lalu meletakkan bunga yang tadi ia bawa di atas makam.
“Kak, sebentar lagi Elang ulang tahun,” ucap Dara lagi, lirih sambil menunduk. Matanya kembali melirik makam sang kakak. “Itu artinya, sebentar lagi adalah tepat lima tahun kepergian Kakak.”
Sesak kembali melanda hatinya. Ingatannya kembali berputar pada porosnya. Kejadian-kejadian yang telah lama berlalu terus menghantui, seolah-olah tiada lelahnya menganggu pikiran.
Stevan mengelus pundak Dara lembut, berharap kesedihan istrinya dapat segera sirna. Stevan tak sanggup melihat sorot kesedihan milik Dara, ada yang sakit di dalam sana saat ia melihat Dara bersedih.
“Dara harus apa, Kak?” tanya Dara. Meski dia tahu, sampai kapan pun dia menunggu, kakaknya tak akan memberikan jawaban, kecuali lewat mimpi, itu pun jika Tuhan berkehendak.
Secepat kilat Dara menghapus air mata yang sudah mulai menetes dari pelupuk matanya.
“Oh iya, Kak. Dara mau kasih tahu Kakak, kalau sekarang Dara lagi hamil. Ya, meskipun tanpa Dara bilang, Kakak pasti sudah tahu.” Dara tertawa pelan, lalu mengusap perutnya yang makin hari terlihat makin membuncit.
“Dara kangen banget sama Kakak. Dara kangen bisa curhat sama Kakak. Dara kangen masak bareng Kakak. Dara kangen segala hal tentang Kakak,” ucap Dara lagi, tangannya terus bekerja menghapus air mata yang seolah tak bosan mengalir di pipinya.
Dara mengangkat wajahnya, menatap ke arah makam, tepat berada di samping makam kakaknya, yaitu makam kakak iparnya.
“Kakak sudah bahagia ya sama Mas Angga? Semoga saja. Dara berharap, Kakak sudah bahagia di sana. Tenang saja, meski nantinya Dara sudah punya anak kandung, Dara tidak akan membeda-bedakan kasih sayang Dara buat mereka.”
Dara mengalihkan perhatiannya pada Stevan yang masih setia mengusap pundaknya.
Pria yang ditatap itu mengukir senyum tipis, lalu berkata, “Kita pulang, ya?” ajak Stevan yang hanya dijawab anggukan oleh sang istri. “Kita berdoa dulu.”
__ADS_1
Stevan mulai mengangkat kedua telapak tangannya di depan dada, sambil memejamkan mata.
‘Ya Allah, berilah keikhlasan pada hati istri hamba. Dan berilah tempat yang layak untuk kedua kakak ipar hamba, aamiin.’
Dara dan Stevan beranjak, mulai meninggalkan area pemakaman. Berharap seiring langkah yang mereka lalui, maka perlahan terhapuslah rasa sakit yang ditinggalkan oleh mereka yang telah dikebumikan.
“Habis ini kita mau ke mana?” tanya Dara, setelah keduanya tiba di dekat mobil mereka.
Stevan menoleh. “Langsung pulang aja, aku nggak mau kamu kecapekan, Sayang,” sahut Stevan lalu membukakan pintu mobil untuk Dara.
...🌾🌾🌾...
Kaki kecil milik Langit itu berlari menuju ke arah sang mama yang tengah duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton sinetron.
Masih dengan mengenakan seragam sekolahnya, anak kecil yang sebentar lagi akan berusia lima tahun itu mendudukkan di samping Dara. Mata bulat itu menatap polos ke arah Dara yang sudah menatapnya.
“Elang kenapa nggak ganti baju dulu?” tanya Dara, memutar tubuhnya menjadi menghadap Langit.
“Ya udah deh, Elang ganti baju dulu.” Kaki kecil itu kembali berusaha turun dari sofa, lalu melangkah menuju kamarnya.
“Gervan mau makan dulu?” tanya Dara lembut, sambil mengusap kepala anak itu sayang.
Gervan menggeleng, tersenyum tipis.
“Nanti aja, Ma. Gervan masih mau temanin Mama di sini.”
Dara mengangguk, ia mulai kembali fokus pada tayangan sinetron di hadapannya, dengan tangan yang masih setia mengelus kepala Gervan. Hingga beberapa menit kemudian Langit kembali datang dan ikut duduk di samping Dara.
“Elang mau makan sekarang?” tanya Dara, mengulang pertanyaan yang sama pada orang yang berbeda.
Langit menggeleng, sambil menampilkan senyum lebarnya. “Nanti aja, Ma.”
Melihat Langit yang begitu bahagia, Dara mengernyitkan alisnya. “Ada apa nih? Bahagia banget kayaknya?” tanyanya sambil mencubit hidung Langit gemas.
__ADS_1
Langit tak menjawab, bocah itu memilih menggeser duduknya, menjadi lebih dekat dengan sang mama, lalu menyandarkan kepalanya di lengan sang mama.
“Em, Ma. Bental lagi Elang kan ulang tahun nih.” Langit menghentikan ucapannya, matanya melirik ke arah Dara yang mengangguk. “Boleh nggak kalau Elang minta dilayain kayak teman-teman?”
Mata bulat itu kembali memandang Dara dengan tatapan memelas. Seolah-olah jika keinginannya tidak dituruti, maka mata indah itu akan meneteskan air mata kesedihan.
Dara terdiam, apakah ini memang sudah saatnya? Meski sudah pernah membahas hal ini dengan Stevan. Namun, tetap saja, berbagai hal mulai berkecamuk di dalam pikirannya.
Melihat keterdiaman sang mama, Langit segera kembali mengangkat suara.
“Tapi kalau memang nggak dilayain nggak papa, kok,” ucap anak itu, berusaha memasang senyum lebar, agar terlihat ceria.
Meski dalam hatinya selalu bertanya-tanya, perihal alasan kenapa ulang tahunnya tidak dirayakan secara meriah seperti teman-temannya. Terkadang, saat mendapatkan undangan ulang tahun dari temannya, rasa iri menyelinap di sudut hatinya. Langit hanyalah anak kecil yang sering merasa iri—ingin memiliki seperti apa yang dimiliki oleh teman-temannya.
Ya, memang terkadang saat masih kecil, teman-teman akan menjadi sebuah panutan. Apa yang mereka miliki, kita juga harus memiliki.
Dara menghela napas pelan, tangan lentik itu mengarah ke kepala Langit, mengusapnya selembut mungkin, seolah-olah kepala itu adalah sebuah kaca, yang apabila diperlakukan kasar akan pecah berkeping-keping.
“Elang pengin banget ya dirayain ulang tahunnya?”
Langit mengangguk antusias.
“Iya, Ma. Elang pengin dapat banyak kado, dapat banyak ucapan selamat ulang tahun, sama lumah Elang didatangi banyak teman-teman, kan selu.”
Melihat keantusiasan anak itu membuat Dara tak tega memusnahkannya. Perempuan itu kembali berusaha memantapkan hatinya, lalu mengangguk ragu.
“Oke deh, tahun ini dan tahun seterusnya, ulang tahun Elang bakalan dirayain,” putus Dara membuat senyum Langit semakin berkembang.
Langit memandang Dara dengan mata berbinar.
“Benelan, Ma?”
Dara mengangguk pelan. Dalam hati berharap, semoga saja keputusannya ini tak akan membuatnya menyesal di kemudian hari. Dara hanya tak mampu melihat wajah bahagia itu sirna karenanya. Dara hanya ingin, anak-anaknya selalu bahagia, entah sekarang, esok, atau ke depannya.
__ADS_1
To be continued ....