Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 42


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Bel yang berbunyi, menandakan waktu istirahat yang telah hadir itu membuat para anak-anak menampilkan wajah antusiasnya. Mereka segera mengemasi perkakas belajar mereka lalu berbondong-bondong keluar kelas.


Langit, anak itu melangkah gontai menuju bangku panjang yang tersedia di halaman sekolah sambil membawa kotak bekal yang berisi sandwich buatan sang mama, beserta susu kotak rasa cokelat di dalamnya. Setiap waktu istirahat tiba, selalu saja begini. Langit seolah-olah tak berselera bermain seperti teman-temannya saat Gervan tak ada. Langit rindu makan bersama dengan Gervan di sekolah ini. Kapan kira-kira Gervan akan sekolah?


Langit mendudukkan diri di bangku panjang, membuka kotak bekalnya lalu mulai menikmatinya sambil sesekali menatap ke arah teman-temannya yang sibuk bermain sambil berlari. Langit rindu bermain ayunan bersama Gervan.


Tak jauh dari tempat Langit berada, terdapat seorang gadis yang memandang ke arah Langit sambil membawa kotak bekal miliknya. Adisya, gadis kecil itu merasa aneh dengan sikap anak sahabat mamanya ini sejak beberapa hari terakhir.


Meski kerap kali adu mulut, Adisya adalah orang yang peduli dengan orang di sekitarnya. Adisya memutuskan untuk melangkah menghampiri Langit.


Langit menghentikan aktivitas makannya sejenak, saat merasakan kehadiran orang lain di sisinya. Dia menoleh, menatap ke arah Adisya yang sudah duduk di sampingnya sambil tersenyum polos.


“Aku lihat, kamu sekalang seling diam, ya. Nggak kayak dulu lagi, yang suka malah-malah,” ucap Adisya, dia ikut menikmati bekal yang dia bawa.


Langit mengangguk. “Iya, aku lagi sedih.”


Adisya segera menoleh, sambil menggigit roti lapisnya. “Sedih kalena apa?”


“Adikku dibawa pelgi sama Allah. Padahal, aku belum sempat main sama dia,” ucap Langit, menunduk lesu.


Dahulu, saat mendengar akan ada anggota baru di keluarga mereka, Langit sangat antusias, dan tak sabar menantikan kelahiran sang adik. Namun, Langit bisa apa, saat Allah lebih menyayangi adiknya?


Kening Adisya berkerut, dia bingung.


“Adik? Yang mana?”


“Adiknya belum lahil, adik yang masih di pelut mamaku itu,” jawab Langit. Dia menggigit kasar sandwich-nya lalu cemberut.


Adisya menepuk punggung Langit beberapa kali, bibir gadis kecil itu membentuk sebuah senyuman manis.


“Kamu yang sabar, ya. Kata mamaku, Allah mengambil sesuatu yang belhalga dali kita kalena Allah mau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi.”


Langit menghela napas pelan, dia menggigit sandwich terakhirnya. Anak itu mengambil susu kotak lalu menyeruputnya pelan. Setelah selesai, Langit menatap ke arah Adisya. Senyumnya mengembang seketika.


“Telima kasih.”


Adisya mengangguk. “Sama-sama. Kita, kan teman,” ucapnya sambil menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Langit


Langit ikut mengangguk. “Kita sahabat ... selamanya,” ujarnya lalu mengaitkan jari kelingking keduanya.

__ADS_1


“Oh iya, aku udah lama nggak lihat Bang Van sekolah. Dia ke mana?” tanya Adisya sambil menutup kotak bekalnya.


“Bang Van lagi sakit, nggak lama itu dia diculik sama olang jahat. Muka Bang Van banyak goles-golesannya.”


Adisya menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Telus, sekalang udah sembuh, ‘kan?”


“Iya, tapi Bang Van belum mau sekolah.”


Adisya mengangguk paham, dia turun dari bangku, lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Langit.


“Ayo masuk, belnya udah bunyi. Nanti kita dimalahin sama bu gulu kalau telat masuk.”


Langit mengangguk, dia meraih uluran tangan Adisya. Kedua anak itu mulai melangkah, kembali memasuki ruang kelas.


...🌾🌾🌾...


Sekolah sudah terasa sepi, hanya ada beberapa anak yang belum dijemput, juga guru yang masih setia berada di sana. Seperti kedua anak berbeda genre ini, keduanya berdiri bersisian di depan gerbang sekolah—menunggu orang tua mereka masing-masing menjemput.


“Papa aku lama banget sih,” gerutu Adisya kesal.


Langit mengangguk menanggapi. “Iya, papaku juga belum jemput,” katanya. Dia menghela napas pelan.


“Kita masuk ke sekolah lagi, yuk. Duduk di sana, aku capek beldiri telus,” ajak Adisya, menunjuk bangku panjang yang terletak di halaman sekolah.


“Elang!” panggil Adisya.


Langit menoleh, mengangkat sebelah alisnya.


“Kenapa?”


“Aku bosan,” adu Adisya. Gadis itu mengayunkan kakinya yang menggantung sambil cemberut.


Langit tak menjawab, dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya lalu mengopernya satu ke arah Adisya.


“Nih, makan.”


“Wah, pelmen cokelat!” seru Adisya antusias, tanpa banyak kata, dia segera mengambil permen itu lalu membukanya. Ketika ingin memasukkan permen itu ke dalam mulut, matanya melirik ke arah Langit yang masih sibuk membuka bungkus permen. “Tumben kamu kasih aku? Biasanya kalau aku minta satu aja, kamu langsung malah-malah.”


Permen cokelat memang menjadi makanan favorit Langit. Anak itu menyukai makanan apa pun yang mengandung cokelat, terutama puding cokelat.


Langit menoleh sekilas ke arah Adisya, kemudian menatap lurus ke depan.

__ADS_1


“Aku kasihan lihat wajah sedih kamu, kelihatan makin jelek.”


Seketika tangan mungil Adisya melayang bebas, menepak punggung Langit pelan.


“Heh, aku tuh cantik.” Adisya turun dari duduknya, dia berdiri tepat di depan Langit. Gadis kecil itu menunduk sedikit, menatap tepat di bola mata anak laki-laki itu. “Mata kamu sakit, ya? Makanya nggak bisa lihat cewek secantik aku?” tanya Adisya penuh selidik, masih memandang bola mata berwarna cokelat terang milik Langit dengan intens.


“Sembalangan, mata aku tuh sehat. Kamunya aja yang emang jelek!” bantah Langit.


Adisya berdiri tegak, bibirnya cemberut. Gadis itu kembali duduk di tempat asalnya sambil melipat dada.


“Kata mamaku, aku ini cantik tahu!”


“Setiap olang tua pasti memuji anaknya. Walaupun anak itu jelek. Mama kamu nggak mau bikin kamu sedih, kalau belbicara jujul, bahwa sebenalnya kamu jelek.”


Adisya menoleh cepat, dia memandang Langit sebal.


“Elang!” serunya sembari memukul lengan Langit berkali-kali, guna menyalurkan kekesalannya.


“Ampun, ampun, aku cuma belcanda.” Langit tertawa, dia segera berdiri dari duduknya, lantas berlari menghindar.


“Elang!” Seruan Adisya kembali menggema. Gadis itu ingin mengejar Langit, tetapi niatnya terhenti ada saat suara lain memanggilnya.


“Loh, Adisya sama Langit belum pulang?” tanya Yuli—salah satu guru di TK ini.


Adisya mendongak, menatap sang guru yang pastinya lebih tinggi darinya.


“Belum, Bu. Papa belum jemput Disya.”


Yuli mengangguk paham. “Ya sudah, kalian tunggu papa kalian datang, mainnya jangan jauh-jauh, ya. Biar kalau papa kalian datang, nggak bingung cariinnya.”


Adisya mengangguk. “Oke, Bu.” Gadis itu menatap kepergian sang guru sebentar, lantas mengalihkan pandangannya. Matanya seketika membulat saat melihat jaraknya dan Langit sudah terpaut jauh. Adisya menghentakkan kakinya beberapa kali, kemudian kembali mengejar Langit.


“Elang jangan lali lagi, aku capek!” seru Adisya, menumpukan kedua tangannya di atas lutut sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah.


Langit menghentikan larinya, dia berbalik arah menuju Adisya.


“Kamu capek?”


Adisya mengangguk. Gadis kecil itu menengadahkan tangannya di udara, meresapi tiap tetesan air yang mulai berjatuhan.


“Elang, hujan!” serunya antusias. Ayo, kita main hujan-hujanan!”


Tanpa menunggu jawaban sang lawan bicara, Adisya segera menarik tangan Langit, membawanya kembali berlari-lari di bawah hujan yang terasa semakin deras membasahi bumi. Sementara Langit, anak itu hanya bisa pasrah mengikuti Adisya, meski tak menutup kemungkinan, bahwa anak itu juga menikmati derasnya hujan yang turun hari ini. Binar bahagia tampak terlihat jelas di mata mereka, apalagi ditambah tawa, menambah kejelasan betapa bahagianya mereka.

__ADS_1


Hujan memang terasa menyenangkan bagi mereka yang menyukainya. Seolah-olah, tiap tetesannya membawa kebahagiaan tersendiri untuk mereka. Dan Adisya, dia menyukai bagaimana setiap air itu turun membasahi tubuhnya.


To be continued ....


__ADS_2