
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Tiada yang lebih sakit dari kehilangan, apalagi kehilangan sosok yang belum sempat dia lihat rupanya. Namun, ada kalanya rasa syukur itu hadir, sebab jika dia sudah melihat rupanya, mungkin saja rasa sulit untuk melepaskan terasa makin besar.
Dara, wanita itu duduk termenung di atas bed hospital yang sejak tadi menjadi tempat bersemayamnya. Ketika yang lain lebih memilih tidur saat jam sudah menunjukkan pukul tengah malam begini, Dara justru tak dapat memejamkan matanya, apalagi hingga tertidur nyenyak seperti yang lainnya.
Rasa kecewa, sakit, serta sesak sejak tadi bercampur aduk dalam benaknya. Dara tak tahu harus bagaimana. Calon anak yang selama tiga bulan ini dia jaga dan rawat dengan sepenuh hati harus kembali ke pangkuan sang Ilahi, tanpa sempat dia timang dengan penuh kasih sayang.
Sebuah penyesalan jua sempat Dara rasakan, dia menyesal tak bisa menjaga titipan Tuhan yang selama ini dia nantikan. Mungkinkah Tuhan tengah marah padanya, sehingga Tuhan mengambil calon anaknya?
Pikiran Dara terasa sangat kacau, apalagi Gervan belum juga diketahui keberadaanya. Apakah anak itu baik-baik saja? Apakah anak itu sudah makan? Bagaimanal jika Gervan kedinginan? Dara merasa tak becus menjadi orang tua.
Tes ... tes.
Dari kaca jendela, dapat Dara lihat hujan yang semula hanya sekadar rintik-rintik, kini mulai menjadi deras. Semesta seakan-akan tahu bahwa di rumah sakit ini, tengah ada seorang perempuan yang tengah bersusah hati. Hujan seolah ingin menjadi teman, meski kadang kala hadirnya tak dihargai.
“Eungh.”
Suara lenguhan yang berasal dari seorang anak kecil yang tidur di sampingnya membuat Dara menunduk, dia melirik ke arah Langit yang tengah mengerjapkan matanya.
“Mama,” gumam Langit dengan suara seraknya. Langit mengusap mata sejenak lalu mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. “Mama kenapa nggak tidul?” Langit mengalihkan pandangannya keluar jendela sejenak, kemudian kembali menatap Dara. “Kan ini masih malam.”
__ADS_1
Dara menggeleng sambil tersenyum tipis. “Mama belum ngantuk, Sayang. Elang kenapa bangun, kan ini masih malam?” tanya Dara, membalikkan pertanyaan Langit.
Langit tak menjawab, anak yang hari ini baru genap berusia lima tahun itu mengulurkan tangannya ke wajah Dara. Tangan mungil itu terasa lembut saat menyentuh kulit Dara.
“Mama kenapa nangis?” tanyanya saat menyadari sudut mata Dara yang berair. “Mama sedih ya, kalena Adik pelgi ninggalin kita?”
Dara memejamkan matanya sejenak, berusaha menghalau air mata yang seakan-akan ingin memberontak keluar. Dia tak boleh terlihat lemah di depan anaknya. Dara harus bisa menjadi teladan yang kuat, dan tidak mudah menangis.
“Maafin Elang, Ma,” cicit Langit.
Dara kembali membuka matanya, dia menatap Langit bingung.
“Kenapa minta maaf, Sayang? Memangnya Elang salah apa sama Mama?” tanyanya sambil mengelus rambut anak itu lembut.
“Maafin Elang. Coba aja Elang nggak paksa Mama buat layain ulang tahun Elang, Bang Van pasti nggak diculik sama olang jahat, dan Adik juga pasti masih ada di sini,” jelas Langit, tangan mungilnya mengelus perut Dara yang sudah kembali menjadi datar, seiring air mata yang perlahan membasahi pipi gembilnya.
“Ini bukan salah Elang. Semua yang terjadi sudah menjadi kuasa Allah. Takdir yang sudah ditulis sejak kita lahir memang begini adanya. Untuk menghadapi semua ini, kita sebagai manusia, hanya bisa memohon dan berharap pertolongan dari Allah.”
“Tapi, Ma. Kalau ulang tahun Elang nggak dilayain, Elang, Mama, Papa, dan kita semua, nggak mungkin kehilangan Bang Van sama Adik,” bantah Langit, air mata bocah itu makin deras mengalir.
Dara mengangkat tubuh Langit ke atas pangkuannya, mengelus kepala anak itu—yang sudah bersandar di dadanya—dengan penuh kasih sayang.
“Elang, dengarkan Mama. Allah tidak suka kalau hamba-Nya menyalahkan takdir dari-Nya. Allah juga tidak suka kalau hamba-Nya menyalahkan diri sendiri, atas apa yang terjadi. Semua alam semesta, maupun isinya adalah milik Allah, dan Allahlah yang pantas kita percaya, bahwa takdir dan rencana-Nya pasti jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan,” tutur Dara.
__ADS_1
Langit mengangguk, mulutnya sesekali mengeluarkan suara isakan.
“Telus, kita halus belsyukul atau malah sama Allah, Ma?” tanyanya. Mata bulat itu menatap polos ke arah Dara.
“Kita harus bersyukur, karena Allah tahu yang terbaik untuk kita. Meski sulit, kita juga harus belajar ikhlas atas apa yang terjadi pada kita. Manusia yang paling baik, adalah dia yang bersabar atas cobaan yang ditimpakan kepadanya,” sahut Dara.
Dapatkah Dara ikhlas dalam waktu cepat? Dara tak yakin dia bisa. Rasa sakit ini terus menghantam perasaannya, seolah-olah ada benda tajam tak kasat mata yang senantiasa melesat, menusuk tepat di ulu hatinya. Hingga untuk bernapas saja, Dara merasa kesulitan.
“Ya sudah, Elang minum dulu, setelah itu tidur lagi,” lanjutnya lalu mengambil gelas yang berada di atas nakas dekat brankarnya. Dia memberikan gelas itu pada Langit.
“Mama tidul juga, ya? Telus peluk sambil usap-usap kepala Elang,” ucap Langit, setelah meminum air putih.
Dara mengangguk, dia menurunkan Langit dari pangkuannya, membaringkan tubuh anak itu lalu ikut berbaring.
“Selamat tidur, anak Mama. Semoga setelah bangun esok, kita akan diberi kesabaran yang lebih besar lagi,” ucap Dara, sambil mengecup kening Langit.
Tangan Dara menarik selimut guna menutupi tubuh keduanya, memeluk Langit sambil mengusap kepala anak itu, kemudian ikut memejamkan mata, bersiap menyusul alam mimpinya. Dara berharap, dia dapat bertemu dengan calon anak yang telah meninggalkannya.
Tanpa Langit dan Dara sadari, sedari tadi Stevan terus memperhatikan keduanya dengan bibir tersenyum. Dia tahu, semua ini berat untuk dilalui, tetapi mau bagaimana lagi? Tuhan telah merencanakan ini semua jauh sebelum mereka hadir di dunia ini.
Stevan beranjak dari tidurnya di sofa, kakinya melangkah menghampiri Dara dan Langit. Deru napas ibu dan anak itu sudah terdengar teratur. Stevan mendekatkan wajahnya pada wajah Dara. Dia menyematkan sebuah kecupan di kening wanita itu dalam waktu yang lama, seakan-akan menyalurkan segala macam rasa yang berkecamuk dalam batinnya.
“Maaf tak bisa menjaga anak kita,” ucap Stevan, penuh penyesalan. “Apa pun yang terjadi, aku yakin keluarga kita pasti mampu melaluinya. Aku percaya itu, dan aku akan berusaha untuk menemukan keberadaan Gervan secepat mungkin, Sayang.” Stevan membenarkan selimut Dara yang melorot lalu kembali ke tempatnya semula.
__ADS_1
Dia lelah, Stevan juga perlu beristirahat sebelum menghadapi sesuatu yang mungkin akan mengejutkannya besok. Namun, sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu, apa yang akan terjadi esok, seminggu, atau seabad kemudian.
To be continued ....