
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Obrolan panjang kedua ibu muda cantik itu terpaksa berhenti saat terdengar ribut suara cempreng dua anak berbeda genre. Dara dan Eva kompak menoleh ke arah sumber suara. Dalam jarak yang tak jauh dari mereka duduk, dapat mereka lihat Adisya dan Langit yang tengah adu mulut, juga Gervan yang setia melangkah di belakang mereka—bak seorang bodyguard yang siap menegur, bilamana keduanya melampaui batas wajar.
“Eh, kamu itu jangan ngikutin aku. Kamu, kan bisa cali jalan lain!” seru Adisya, mata gadis kecil itu melotot sambil berkaca pinggang. Air mukanya terlihat kesal.
“Heh, halusnya yang cali jalan lain itu kamu! Dali tadi, kan kamu yang ngikutin aku sama Bang Van!” bantah Langit, tak terima. Enak saja Adisya menuduhnya mengikuti gadis itu.
Adisya melipat tangannya di depan dada.
“Kamu itu jadi cowok halus ngalah dong sama cewek,” ucapnya, sambil melengos.
“Aku mau ngalah sama cewek, tapi ceweknya bukan kamu yang cuma bisa bikin emosi.” Langit berdecak pelan. Anak laki-laki itu segera menyentak tangan Gervan—yang semula masih berjalan di belakangnya—agar bergegas melangkah bersamanya menuju sang mama.
Jika kelamaan berada di dekat Adisya, mungkin sebentar lagi telinganya akan berasap, sebab terlalu emosi menghadapi gadis yang suka sekali adu mulut dengannya itu.
“Kalian kenapa sih? Kok berantem terus? Kalian itu teman, nggak baik kalau berkelahi terus,” tutur Dara. Wanita itu berjongkok di depan Langit, sambil mengusap wajah berpeluh itu menggunakan sapu tangan.
“Dia duluan, Ma. Dia duluan yang cari masalah sama Elang. Elang benci sama Adisya,” sahut Langit.
Dara tertawa pelan, tangannya mencubit hidung Langit gemas.
“Masih kecil nggak boleh benci-benci, nanti bisa berubah menjadi cinta. Siapa tahu, nanti pas kalian dewasa, kalian jadi saling sayang.”
Langit segera menoleh, menatap sang bunda dengan wajah cemberutnya. Kaki kecil itu melangkah menuju bangku panjang lalu mendudukkan diri di sana.
Setelah kepergian Langit, Dara mengalihkan perhatiannya pada Gervan yang tengah berdiri di depannya.
“Gervan udah lapar belum?” tanyanya sambil mengusap rambut hitam legam milik Gervan lembut.
Gervan mengangguk, bibir anak itu melengkungkan sebuah senyuman.
“Iya, Ma. Gervan udah lapar.”
“Ya sudah, yuk makan dulu.” Dara mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh Gervan. Keduanya melangkah bersamaan menghampiri Langit.
“Langit lapar, nggak?” tanya Dara. Wanita itu mendudukkan diri tepat di samping Langit sambil menatap bocah yang masih enggan berbicara dengannya itu.
Langit menoleh sebentar lalu kembali melengos. Bocah itu menganggap pertanyaan sang mama hanyalah angin lalu. Dia sedang dalam mode merajuk, sungguh gengsi baginya jika menjawab pertanyaan itu.
Kruyuk!
__ADS_1
Namun, sekali lagi, Langit harus menekan dalam gengsinya saat perutnya tidak dapat diajak bekerja sama. Langit tidak bisa merajuk dalam jangka panjang kepada sang mama. Langit yang hendak menjawab ucapan sang mama pun diurungkannya, saat mendengar suara tawa kencang seorang gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Langit segera mengalihkan perhatiannya pada Adisya yang saja tertawa. Ia menatap tajam Adisya. Namun, bukannya takut, bocah berkucir dua itu malah membalas tatapan tajam Langit dengan wajah mengejeknya. Adisya menjulurkan lidahnya sambil menyipitkan mata.
“Awas kamu ya, Sya!” geram Langit. Dengan langkah beratnya, anak itu segera menghampiri Adisya dengan tangan terkepal erat.
Mengetahui bahwa ada beruang ganas yang siap menerkamnya, Adisya segera naik ke atas pangkuam sang mama lalu menyembunyikan wajahnya di dada wanita itu. Sungguh, wajah marah Langit terlihat sangat menyeramkan.
“Makanya, kamu jangan suka ngejekin Elang,” ucap Eva, menegur kelakuan anak gadisnya.
Eva dibuat heran, entah sejak kapan Adisya menjadi anak yang jail seperti ini. Padahal, sebelum bertemu dengan Langit, Adisya adalah anak yang sulit bergaul, yang sulit mengekspresikan emosinya, bahkan anak yang pendiam—terkadang. Namun, setelah bertemu Langit, Eva merasa bahwa semua sifat anak gadisnya yang tadi dia sebutkan sudah lenyap, entah kemana. Namun, disisi lain, ia bersyukur atas hadirnya Langit di hidup gadis kesayangannya.
“Langit!”
Kaki kecil Langit berhenti melangkah saat mendengar suara berat milik sang abang. Netra hitam pekat itu menatap Gervan yang tengah menatapnya—seolah-olah tengah memberikan isyarat agar dirinya tidak melanjutkan aksi konyolnya.
Menghela napas pelan, Langit membalikkan badan. Kaki itu kembali melangkah menghampiri sang mama juga abangnya.
“Elang lapal, Ma,” adunya, kembali duduk di tempat semula.
Dara tertawa, dengan gemas, tangannya mengacak pelan rambut Langit.
“Ya sudah, Bang Gervan sama Langit makan dulu ... sebelum waktu istirahatnya habis.”
...🌾🌾🌾...
Suara tawa yang menggema di telinga itu menyambut pendengaran Stevan, saat dirinya baru saja memasuki rumah. Bibir pria itu membentuk sebuah senyuman. Rasa lelah yang mendera tubuhnya—akibat seharian berkerja—seolah lenyap begitu saja saat melihat pemandangan di depannya.
Stevan menghampiri ketiga orang yang tengah asik bercanda sambil membawa sekotak piza berukuran jumbo, yang dibelinya setelah pulang dari kantor. Setibanya di sana, Stevan segera meletakkan kotak piza di atas meja kaca, yang langsung diserbu oleh Langit
“Wah, piza!” seru Langit antusias. Tangan mungil itu dengan perlahan membawa kotak piza mendekat ke arah Gervan yang tengah asik membuat miniatur bangunan menggunakan lego. “Bang Van, yuk makan piza. Abang yang bukain, ya?”
Gervan menghentikan aktivitas bermainnya, bocah kecil itu mengangguk singkat lalu mengambil alih kotak piza itu. Tangannya dengan cekatan membuka kotak itu lalu mengambil sepotong piza—memberikannya kepada Langit.
Sementara Stevan yang duduk di samping Dara, menatap Gervan dan Langit yang tengah menikmati piza yang dibawanya sambil tersenyum.
“Mas, mandi dulu sana ih!” titah Dara.
Stevan menoleh. “Iya, sayang. Sebentar, ya ... aku mau lihat mereka dulu.”
“Sana mandi dulu, nanti kalau kamu sudah mandi, kamu bisa main sepuasnya sama mereka.”
Menghela napas, Stevan pun mengangguk. Pria itu beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju kamar setelah berhasil menyematkan sebuah kecupan ringan di dahi Dara.
__ADS_1
Dara mengalihkan perhatiannya dari punggung Stevan saat suara Langit memasuki indra pendengarnya.
“Kenapa, Sayang?” tanyanya lembut.
Langit menyodorkan sepotong piza kepada Dara.
“Mama mau, nggak?”
Dara tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
“Mama sudah kenyang, sayang. Pizanya untuk Elang sama Bang Gervan aja.”
Langit mengangguk paham, lalu melangkah kembali menghampiri Gervan.
“Kata Mama, Mama udah kenyang, Bang,” adunya, mendudukkan diri di samping Gervan.
...🌾🌾🌾...
Malam ini terasa indah, dengan taburan bintang di atas sana. Dara, wanita itu kini tengah berdiri di dekat jendela, memandang indahnya langit malam ini. Tangan kanan wanita itu menempel di kaca kamarnya.
Sepasang lengan kekar dengan tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Tanpa menoleh, Dara sudah dapat menebak seseorang yang berada di belakangnya, hanya lewat aroma parfum pria itu. Dara menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Stevan lalu mencium puncak kepala Dara.
“Cuma pengin lihat langit aja, Ste,” sahut Dara, tersenyum.
Stevan mengangguk mafhum.
“Sayang, kalau aku pengin punya anak sekarang, kamu mau nggak?”
Dara bergeming, matanya menatap kosong ke arah depan. Apakah ini sudah saatnya mereka untuk memiliki buah hati? Dulu sewaktu awal hadirnya Langit di kehidupan mereka, keduanya sepakat untuk menunda memiliki anak sekiranya sampai Langit sekolah, atau setidaknya sampai bocah itu sudah bisa mengerti.
Melihat istrinya yang hanya diam, tangan Stevan bergerak, memegang kedua pundak Dara, lalu membalikkan tubuh wanita itu menjadi menghadapnya.
“Kenapa, hm?”
“Aku juga sebenarnya pengin, tapi aku hanya takut ... kalau nanti kita punya anak kandung, Langit dan Gervan tak lagi mendapatkan perhatian dan kasih sang dari kita,” ucap Dara, menyampaikan apa yang menganggu pikirannya.
Stevan tersenyum, lalu mengelus rambut Dara lembut.
“Tenang, itu tidak akan terjadi. Langit dan Gervan itu sudah menjadi anak kita, jadi bagaimanapun keadaannya, Gervan dan Langit akan tetap menjadi anak yang akan kita sayangi seperti anak kandung sendiri.”
Menghela napas pelan, Dara mengangguk. Melihat itu, Stevan semakin mengembangkan senyum lebarnya. Dengan perlahan, Stevan menggiring Dara menuju ranjang.
__ADS_1
To be continued ....