
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
Dara selesai kelas tepat pukul sebelas. Perempuan itu masih duduk anteng di bangkunya. Dia tampak termenung, memikirkan berbagai hal yang berkecamuk di kepalanya dan tentunya hanya tertuju kepada satu orang, Stevan. Tak lama setelahnya, seseorang menepuk pundaknya, yang membuat Dara menoleh ke belakang dan menghentikan aktivitas melamunnya. Dia mendapati Alden yang sudah berdiri di sampingnya.
“Lo udah yakin sama keputusan lo?” tanya Alden, merasa skeptis dengan keputusan yang akan Dara ambil kali ini.
Memang sebelum mereka masuk kelas tadi, Dara sudah menyampaikan keputusannya kepada kedua sahabatnya, dan mereka berdua hanya bisa mendukung keputusan yang Dara ambil. Mereka sebagai sahabat hanya bisa mendoakan semoga keputusan Dara adalah yang terbaik untuk dirinya maupun orang yang berada di sekitarnya.
Dara mengangguk ragu. “Ya mau gimana lagi, Al? Papa nggak bakalan batalin perjodohan ini. Apa pun keputusan Papa, nggak bakalan bisa ada yang diganggu gugat.”
“Gue sebagai sahabat lo selalu berdoa yang terbaik buat lo, Dar. Semoga keputusan lo kali ini tepat,” ucap Alden tersenyum tulus.
“Gue juga doain yang terbaik buat lo kok, Dar,” sambung Eva yang baru saja menghampiri mereka berdua.
“Makasih, ya, kalian memang sahabat terbaik gue.” Dara menarik kedua sahabatnya. Mereka saling memeluk.
“Ya karena sahabat lo cuma kita berdua,” celetuk Eva sambil tertawa.
“Penghinaan,” ucap Dara yang membuat Eva membisu. “Tapi bener, hahaha,” lanjut Dara lalu mereka bertiga tertawa bersama.
“Udah dulu, ya, gue mau bicarain ini sama Ste, dadah.” Dara melambaikan tangannya ke arah Alden dan Eva lalu berjalan menjauh dari mereka.
Kemudian, perempuan itu membuka lock screen ponselnya lalu mengetikkan pesan kepada Stevan.
Ada yang pengin aku bicarain sama kamu
Aku tunggu di taman kampus
__ADS_1
Setelah mengklik tombol send, Dara mematikan ponselnya, memasukkannya ke dalam saku sweternya dan mulai melangkah menuju taman.
Sesampainya di taman, Dara mendudukkan dirinya di salah satu bangku, mengayunkan kakinya sambil menunggu Stevan datang. Beberapa menit kemudian Stevan datang menghampirinya, dia duduk di sebelah Dara.
“Mau ngomong apa?” tanya Stevan sambil menatap wajah Dara lekat.
“Eum, Ste. Kayaknya hubungan kita cuma bisa sampai di si—” Baru saja Dara hendak melanjutkan kalimatnya. Namun, sudah terpotong dulu oleh suara Stevan.
“Maksud kamu, kita putus?” Dara mengangguk, membenarkan tebakan Stevan. “Kamu ngomong apa? Kamu bercanda, ‘kan?” tanya Stevan tak percaya.
“Aku serius, aku nggak lagi bercanda.”
“Tapi kenapa? Aku ada salah apa sama kamu, sampai-sampai kamu mau kita putus?”
“Kamu nggak ada salah, Ste. Aku dijodohin sama anak temannya Papa,” jelas Dara.
“Dijodohin? Kamu, kan bisa nolak kalo kamu memang nggak mau dijodohin.”
“Hahaha, hampir enam tahun lamanya kita pacaran dan sekarang kita harus putus karena perjodohan kayak gini. Aku nggak nyangka ...,” ujar Stevan sambil tertawa hambar.
Sakit rasanya, saat dia sudah mencintai seseorang terlalu dalam, dia harus bisa melepaskan orang yang dia sayang bahagia bersama orang lain. Sakit rasanya, saat pacaran sudah bertahun-tahun harus kandas secara tiba-tiba. Hati Stevan tercabik, menahan luka yang seakan tiada obatnya. Kenapa, kenapa dia hubungannya dengan Dara harus kandas begitu saja? Apa mereka tidak ditakdirkan untuk bersama? Apakah Tuhan hanya menakdirkan mereka berdua untuk bertemu bukan bersatu?
“Maaf, Ste. Aku nggak bisa nolak keinginan Papa,” ucap Dara menunduk sambil memainkan jarinya. Air mata tak dapat ditahan lagi, Dara menangis dalam diam.
“Oke, semoga kamu bahagia sama pria yang bakalan dijodohin sama kamu. Aku selalu berdoa supaya kamu selalu bisa bahagia tanpa harus merasakan luka. Mungkin, setelah ini kita akan menjadi dua orang asing dengan kenangan yang sama. Aku bakalan berusaha merelakan kamu bahagia sama yang lain, tapi mungkin aku nggak bisa kalau disuruh untuk melupakan kamu. Oh ya, satu hal yang harus kamu tahu ....” Stevan menjeda kalimatnya. “ ... aku juga dijodohin sama Ayah, aku nggak tahu wanita mana yang Ayah jodohin sama aku, dan aku harap wanita itu adalah kamu. Walau aku tahu, mungkin itu hanya halu.
“Mungkin Tuhan sedang menguji cinta kita, ah ya udah, aku pergi, jaga diri kamu baik-baik. Kamu bakal selalu ada di hatiku, sampai kapan pun itu. Aku nggak peduli, sekali pun nantinya kamu dan aku udah jadi milik orang lain. Cintaku tak akan pernah mati buat kamu. Karena kamu akan menjadi cinta pertama dan terakhirku, terima kasih buat enam tahunnya. Nyatanya, kita tidak berjodoh seperti apa yang aku harapkan aku pamit, assalamualaikum,” lanjut Stevan lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Dara yang menunduk sambil meneteskan air matanya.
Keduanya sama-sama merasakan sakit. Keduanya sama-sama harus merelakan orang yang mereka cintai demi memenuhi keinginan orang tua mereka.
__ADS_1
Benarkah hubungan Dara dan Stevan hanya sampai di sini? Benarkah dirinya dan Stevan tidak berjodoh? Benarkah, benarkah, benarkah, benarkah?
Dara menangis dalam diam. Hatinya terasa tercabik-cabik, rasanya sungguh sakit. Baru kali ini dia merasakan sakitnya putus cinta. Karena Stevan adalah pria kedua yang ia cintai setelah papanya.
Sejujurnya, dia tak rela melepaskan Stevan dari genggamannya. Oh iya, apa tadi, Stevan bilang dia dijodohkan? Dengan siapa? Dara kembali meneteskan air mata, dia tak sanggup menerima keadaan bahwa nyatanya Stevan lebih bahagia dengan wanita yang dijodohkan dengannya.
Tak ingin menjadi pusat perhatian banyak orang, Dara menghapus air matanya menggunakan punggung tangan dengan kasar. Dia bangkit dari duduknya, melangkah menuju parkiran lalu mengendarai mobilnya.
Dara melakukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia sudah tak peduli dengan keselamatan dirinya. Yang dia inginkan cepat sampai rumah, agar bisa menangis sejadi-jadinya di atas ranjang miliknya, padahal baru mendudukkan dirinya di kursi kemudi mobil saja dia sudah menangis.
Sesampainya di rumah, Dara segera memasuki rumahnya dengan mata sembab. Langkahnya terhenti karena suara seseorang memanggilnya.
“Dara!” panggil Dira yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
Dara menoleh lalu membalikkan badannya menghampiri kakaknya dengan langkah cepat dan kembali menangis.
Dira segera menarik adiknya kedalam pelukannya sambil mengusap punggung Dara berusaha menenangkannya.
“Hai, kamu kenapa nangis? Cerita sama Kakak, kamu kenapa?”
“Kak, Dara putus sama Stevan,” sahut Dara dengan terisak.
“Cup-cup-cup, sudah jangan nangis ya. Kakak yakin pilihan kamu kali ini tepat, Sayang. Sudah jangan nangis, ya?” ucap Dira berusaha menenangkan.
“Tapi, Kak. Stevan mau dijodohin sama ayahnya.”
“Sut, udah kamu jangan nangis lagi, Kakak tidak suka melihat air mata sedih kamu, Sayang. Sudah, ya, jangan nangis. Sekarang kamu istirahat, kamu ingat, ‘kan nanti malam ada apa?”
Dara mengangguk lemah lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
To be continued ....