
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading🌾
Ditinggalkan adalah hal yang mereka sayangi adalah sesuatu yang sangat tidak diinginkan oleh semua orang. Terkadang, ada kalanya mereka berpikir, orang yang meninggalkan mereka adalah orang yang tega melihat mereka berada dalam kesedihan.
Namun, siapa sangka, meninggalkan sama sakitnya dengan ditinggalkan. Di mana kita harus mencoba untuk merelakan sesuatu yang sebenarnya sangat ingin kita gapai. Terpuruk dalam kesendirian, itulah hal yang sering dirasa oleh orang yang meninggalkan. Berkubang dalam kesedihan yang sangat menyakitkan dalam senyap dan kesepian.
Deret demi deret tanah yang mereka lewati telah dipenuhi oleh batu nisan yang berjejer. Tempat peristirahatan terakhir bagi para manusia. Mati, satu kata yang pasti akan menjadi akhir dari segalanya. Tak ada yang abadi di dunia ini, bahkan orang baik sekali pun pasti akan mengalami yang namanya mati.
Satu per satu gerombolan manusia berbaju hitam dengan perlahan mulai meninggalkan area pemakaman baru secara berurutan, memberikan waktu untuk anggota keluarga yang ditinggalkan agar dapat mengucapkan salam perpisahan.
Tanah basah yang berada di hadapan mereka saat ini telah menyembunyikan seseorang yang menjadi alasan mereka bersedih. Isak tangis terdengar dari keluarga yang ditinggalkan. Rasa sesak makin terasa saat melihat seseorang yang selama ini ada di samping mereka harus dipendam ke dalam liang lahat beberapa menit lalu.
Arya, pria itu menatap kosong ke arah tempat peristirahatan putri sulungnya. Rasa tak rela masih saja mendominasi kesedihannya. Dia memang tidak menangis, tetapi siapa yang tahu, hatinya bagai tercabik oleh ribuan pisau. Bagai batu yang menghantam, terus saja menyesakkan hatinya.
Arya tak menyangka, harus secepat ini dia berpisah dengan putri sulungnya. Kenapa, kenapa, dan kenapa dia merasa gagal menjadi seorang ayah. Dia merasa belum bisa membuat putrinya bahagia, Arya juga merasa apa yang dia berikan selama ini belum cukup untuk membuat wanita itu bahagia. Arya merasa, senyum yang selama ini Dira tampilkan adalah senyum perpisahan.
Sementara Shira, wanita itu tak bisa menjadi setegar suaminya. Bagaimanapun, yang namanya wanita pasti akan mudah mengeluarkan air mata, baik dalam kondisi suka maupun duka. Tangannya tak hentinya menaburkan bunga di atas rumah baru putrinya. Tangan sebelahnya terus mengusap batu nisan milik Dira.
__ADS_1
Entah dia harus bagaimana, bersedih atau bahagia. Dia terlalu bingung, rasa sedih dan bahagia bergejolak di hatinya. Shira bahagia karena kehadiran cucu barunya, sementara di sisi lain, kesedihan yang dia rasa tak dapat ditutupi, Shira sedih ketika mendengar kabar bahwa putri sulungnya tak dapat diselamatkan.
Di tempat Dira dimakamkan hanya tersisa kedua orang tuanya, Stevan, dan kedua orang tua Stevan. Sementara Dara, dia memilih tidak ikut, wanita itu lebih memilih menjaga keponakan ... ah ralat, bayi tampan yang akan menjadi anaknya.
Vano yang berjongkok di sebelah Anita mengangguk, mengisyaratkan wanita itu agar membantu menghibur besannya yang masih kalut dalam kesedihan. Anita mengangguk, dia mulai berdiri lalu berjongkok di sebelah Shira.
“Shira, setiap manusia pasti akan mengalami yang namanya kematian, cepat atau lambat kematian pasti akan datang menjemput kita. Kita yang saat ini ditinggalkan mau tak mau harus belajar merelakan. Ikhlaskan Dira, jangan siksa dia dengan kesedihan yang kita rasa karena kehilangan dia. Dira pasti nggak suka, dia pasti ikut sedih saat melihat Papa, Mama, dan anggota keluarganya bersedih atas kepergiannya. Ikhlaskan dia, Ra. Tugas kita di sini adalah mendoakan kebahagiaan untuk Dira di alam barunya,” tutur Anita, tangannya terus mengusap punggung Shira, berusaha memberikan nasehat untuk wanita itu.
Shira yang semula menunduk segera menoleh, dia menatap Anita yang mengangguk. Benar apa yang dikatakan oleh wanita itu, putri sulungnya pasti tidak akan tenang saat melihat dia bersedih. Shira kembali menunduk, menatap batu nisan yang bertuliskan nama Dira.
“Maafin Mama, Dir. Mama belum bisa merelakan kepergian kamu. Mama masih belum siap kehilangan kamu, sayang. Namun, bagaimanapun, Mama tak ingin membuat kamu bersedih di sana. Mama akan belajar merelakan kamu, sayang,” batin Shira.
“Kita berdoa dulu, setelah itu kita kembali ke rumah. Kasihan Dara, dia sendirian di rumah,” ucap Arya yang diangguki oleh semua orang.
Mereka mulai mengangkat tangan di depan dada. Dalam hening, hati dan pikiran mereka terus menggumamkan doa-doa untuk kebahagiaan Dira di alam barunya.
“Selesai!”
Mereka segera mengusapkan kedua belah tangan mereka ke wajah. Langkah demi langkah kaki mereka perlahan mulai membawa mereka keluar dari area pemakaman. Menyisakan luka yang sempat tergores di hati.
__ADS_1
...🌾🌾🌾...
Seorang wanita nampak terdiam di sebuah kamar dengan seorang bayi mungil yang berada di dalam gendongannya. Mata wanita itu menatap kosong ke arah jendela. Sebagian hidupnya terasa ada yang hilang ... ah ralat, memang sudah benar-benar hilang.
Dia dan bayi yang ada di gendongannya sama-sama merasa kehilangan secara bersamaan. Dia kehilangan kakaknya, sedangkan bayi mungil itu kehilangan ibunya, bahkan sejak dia baru saja diberikan nama.
Dara, ya wanita itulah yang saat ini sedang menggendong Langit. Dara memilih tinggal di rumah sendirian daripada harus ikut ke acara pemakaman. Hatinya belum siap melihat jasad Dira diturunkan ke liang lahat. Dara belum rela kehilangan sosok kakak yang selama ini menjadi kebanggaannya. Hatinya masih tak sanggup menerima semua kenyataan bahwa kakaknya telah pergi.
Dara terlalu bersedih, hatinya terasa sesak. Ingin rasanya dia menyerah, lalu memutuskan untuk menyusul kakaknya. Namun, itu semua hanya akan menjadi angan semata tanpa sanggup dia wujudkan. Dara masih memiliki tanggung jawab, dia juga tak sendirian di sini. Namun, tetap saja hidupnya terasa sepi tanpa kehadiran Dira di sampingnya.
Dara mengalihkan perhatiannya pada Langit, bocah yang usianya bahkan belum genap satu hari. Tangan Dara terulur mengusap lembut pipi merah Langit.
“Langit, Mama akan selalu berada di sisi kamu sampai hembus napas terakhir Mama. Mama akan berusaha menjadi orang tua yang baik buat kamu. Mama sayang kamu, seperti Mama menyayangi Bunda kamu. Kamu jadi anak yang kuat, ya. Biar bisa bahagiakan orang-orang di sekitar kamu,” ucap Dara pada bayi tampan itu.
Dara mendudukkan dirinya di atas ranjang yang berada di kamar Dira. Matanya menatap tataan kamar Dira, kini dia baru menyadari, hampir seluruh bagian di dalam kamar itu berwarna cokelat, dari yang muda hingga cokelat yang mendekati warna hitam.
“Bunda kamu suka warna cokelat, ya?” gumam Dara. Bibirnya menerbitkan sebuah senyuman sebelum akhirnya memilih melengkung ke bawah diiringi dengan air mata yang secara perlahan mulai membasahi kedua pipinya.
Tak mau larut dalam kesedihan, wanita itu segera melangkah kembali ke kamarnya.
__ADS_1
To be continued ....