Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 22


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


...“Jika kamu merasa menjadi manusia yang paling menyedihkan, maka lihatlah ... di luaran sana, masih banyak orang yang jauh lebih sengsara dari dirimu.”...


...~Jodoh Kejutan~...


“Elang, jangan lari-lari ... nanti jatuh!”


Suara teriakan seorang wanita itu tampak diabaikan oleh bocah kecil yang tengah asik berlari dengan kaki kecilnya, dengan diiringi tawa menggemaskan yang keluar dari bibir mungilnya.


“Elang!” panggil wanita itu sekali lagi, tetapi tak mendapatkan tanggapan dari bocah kecil itu.


Jika kalian menebak mereka adalah Dara dan Langit, yap, betul sekali. Seiring berjalannya waktu, bocah yang dahulunya hanya bisa menangis saat haus, tak terasa kini sudah bisa berlari. Bahkan, sering membuat Dara kewalahan akibat tingkah Langit yang hiperaktif.


Empat tahun telah berlalu, sekarang Langit tumbuh menjadi seorang bocah kecil yang menggemaskan dengan pipi yang sudah gembil sejak dirinya masih bayi. Ah, jangan lupakan alisnya yang tebal.


Keduanya kini tengah menuju toko kue ‘Langit Steda' yang berhasil dibangun Stevan tiga tahun yang lalu atas nama Dara. Toko yang sudah berhasil sukses hingga menghasilkan tiga anak cabang.


Dara menghentikan langkahnya, matanya memandang penasaran ke arah Langit yang tengah berdiri di hadapan seorang bocah yang Dara yakini berusia satu tahun di atas Langit.


“Abang kenapa?” tanya Langit dengan suara menggemaskan khas anak kecil. Bocah itu memiringkan kepalanya lucu, sambil memandang penuh tanya ke arah anak di depannya.


Anak yang semula tengah sibuk memandang etalase kue toko Dara sambil memegangi perutnya pun menatap ke arah Langit dengan kening berkerut.


“Kamu siapa?”


Dengan wajah semringah, Langit segera menyodorkan tangannya ke arah bocah di hadapannya.


“Kenalin, nama aku Langit, Abang bisa panggil aku Elang.”


“Namaku Gelvan Alvian,” sahut Gevran sambil membalas uluran tangan Langit dengan wajah datarnya.


“Bang Van kenapa?” tanya Langit, mengulangi pertanyaannya.


Gervan menunduk, mengelus perutnya yang terasa sakit. Sudah sejak semalam dirinya tak makan.


“Aku lapal.”


Baru saja Langit ingin menjawab, sebuah suara berhasil memutuskan niatnya. Mata bulatnya memandang ke arah sang mama yang tengah melangkah menghampirinya.


“Langit lagi ngapain?” tanya Dara, menyesuaikan tingginya dengan kedua bocah itu.


“Elang lagi ngoblol sama Bang Van, Ma,” adu Langit sambil menunjuk ke arah Gervan yang tengah menunduk dalam-dalam.

__ADS_1


Dara menoleh, menatap ke arah bocah di hadapan Langit yang tengah memegangi perutnya.


“Kamu kenapa, Sayang?”


Gervan mendongak, menatap skeptis Dara.


“Gelvan lapal.”


Bocah itu tampak pucat dengan beberapa cemong di wajahnya. Bajunya pun terlihat kusut dan kumal, meski Dara tahu, pakaian yang dikenakan oleh anak itu adalah pakaian mahal.


Dara juga melihat beberapa lebam yang terlihat di lengan putih anak itu. Di balik wajah datarnya, tersirat makna kesedihan dan kerapuhan di dalamnya.


“Ya sudah, masuk dulu, yuk,” ajak Dara. Perempuan itu menggiring kedua bocah itu masuk ke dalam toko kuenya, dengan menggandeng tangan Langit dan Gervan di kedua sisinya.


Sesampainya di dalam, Dara segera memanggil salah satu pegawai tokonya yang sudah lumayan akrab dengannya, yang kebetulan hendak melintas di hadapannya.


“Hikmah!” panggilnya.


“Iya, Mbak Dara. Ada apa?”


“Mbak minta tolong, belikan setelan baju anak kecil buat dia ....” Dara menghentikan ucapannya, perempuan itu menunjuk ke arah Gevran yang berdiri di sisi kirinya. “... ini uangnya.”


Hikmah mengangguk, tanpa bantahan, gadis berusia dua puluh tahun itu segera melaksanakan perintah Dara.


Seperginya Hikmah, Dara menoleh ke arah Gevran.


“Gelvan.”


“Gelvan?” tanya Dara skeptis.


Gervan menggeleng tegas.


“Gelvan, bukan Gelvan!”


“Iya Gelvan, ‘kan?”


“Bukan.”


“Oh, Gervan?” tanya Dara yang langsung diangguki oleh bocah itu. “Gervan mandi dulu, yuk. Langit tunggu sini dulu, ya?”


Langit mengangguk. “Oke, Mama.”


Dara tersenyum, wanita itu mengacak pelan rambut Langit. Dara mulai melangkah menuju kamar mandi—yang memang sengaja di bangun di sini—bersama Gervan.


...🌾🌾🌾...

__ADS_1


Dara memandang puas ke arah Gervan yang terlihat lebih tampan dan lebih bersih dari sebelumnya. Wangi parfum nonalkohol dengan aroma kiwi-melon milik Langit yang dipakaikan Dara ke Gervan mengguar dari tubuh bocah tampan itu.


Kini, Dara dan Gervan tengah duduk di sofa ruang pribadi Dara, jangan lupakan Langit yang tengah duduk di samping Dara dengan ponsel wanita itu di pangkuannya. Bocah kecil itu tengah fokus menonton kartun yang sengaja Dara putarkan untuknya.


“Gervan kenapa bisa luka-luka kayak gini?” tanya Dara. Wanita itu tengah sibuk mengobati lebam di lengan Gervan. Dara kira lebamnya hanya terdapat di lengan, tetapi tak disangkanya, ternyata punggung bocah itu juga lebam, bahkan lebih parah, terlihat seperti bekas cambukan.


“Paman jahat, dia pukulin Gelvan pakai ikat pinggang,” sahut Gervan sambil sesekali meringis sakit saat Dara tak sengaja menekan lebamnya.


Dara segera menatap Gervan. “Lho, orang tua Gervan kenapa? Kenapa Paman pukulin Gervan?” tanyanya, heran.


Seketika wajah bocah itu terlihat muram.


“Kata Nenek, Ayah sama Bunda udah tenang di sulganya Allah. Sejak Nenek sama Kakek susul Ayah dan Bunda, Paman seling pukulin Gelvan. Telus, Paman kemalin siang usil Gelvan dali lumah gala-gala Gelvan nggak sengaja tumpahin ail ke keltas punya Paman.”


Tes. Air mata Dara menetes tanpa dikomando. Ya ampun, tak sangkanya, anak kecil yang terlihat menggemaskan ini memiliki beban hidup yang sungguh berat.


Dara tersadar, dirinya bukanlah manusia paling menyedihkan. Dahulu saat ditinggalkan oleh Dira, Dara kira dirinya adalah orang yang paling sengsara. Namun, siapa yang tahu, bahwa masih ada yang lebih sengsara daripada dirinya. Termasuk bocah tampan yang tengah duduk di depannya. Tak tahan lagi, Dara segera menarik tubuh kecil nan rapuh Gervan. Sungguh, Gervan adalah anak yang kuat.


Langit yang semula fokus menonton pun menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara isak tangis. Mata bulat itu memandang aneh ke arah Dara yang tengah memeluk erat tubuh Gervan.


“Mama sama Bang Van kenapa?” tanya Langit.


Dara melepaskan pelukannya, dia menatap Langit yang tengah memandangnya sambil mengusap cepat air matanya.


“Mama nggak papa, Sayang,” ucapnya, mengelus rambut Langit lembut.


Langit mengangguk, bocah itu naik ke atas pangkuan Dara. Tangan mungilnya terulur ke wajah Gervan, mengusap sudut mata yang berair itu.


“Bang Van jangan menangis. Abang nggak sendili, di sini ada Elang, Mama Dala, sama Papa Ste yang akan selalu ada untuk Bang Van.”


Dara kembali meneteskan air mata haru saat mendengar ucapan Langit. Masyaallah, Dara tak menyangka, anak sekecil Langit bisa berbicara sebijak itu. Ternyata oh ternyata, gen dari kakaknya sangatlah bagus.


Gervan menatap skeptis Dara. Apakah dia bisa memiliki orang tua lagi? Apakah bisa dia merasakan kasih sayang orang tua? Dan apakah ucapan Langit bisa dipercaya?


Dara mengangguk cepat saat mengerti arti tatapan Gervan kepadanya. Perempuan itu merentangkan tangannya—masih dengan Langit yang berada di pangkuannya.


“Mama ...,” cicit Gervan di dalam pelukan Dara.


Gervan menangis, kali ini tak lagi sambil bersembunyi di dalam lemari sambil membekap mulut, seperti hari-hari sebelumnya saat setelah dipukuli oleh pamannya.


“Iya, Sayang. Mama ada di sini. Mama nggak akan biarin siapa pun menyakiti kamu lagi, Nak,” ucap Dara, ia mengusap rambut Langit dan Gervan bergantian.


Dalam hati, Dara sudah memutuskan. Dia akan meminta persetujuan dari Stevan untuk mengadopsi bocah menggemaskan itu. Entah sejak kapan, rasa sayang tanpa syarat mulai tumbuh dihatinya untuk Gervan—anak yang malang itu.


“Yey, Elang punya abang, kayak Iqbal!”

__ADS_1


Seruan heboh milik Langit itu membuat Dara dan Gervan kompak melepaskan pelukannya. Dara memandang Langit sambil tersenyum. Bahagia Langit adalah bahagianya.


To be continued ....


__ADS_2