Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 46


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Suasana taman yang terasa sejuk menjadi pilihan yang pas untuk lokasi piknik kali ini. Langit segera turun dari mobil, bocah itu tampak antusias memandang hamparan rumput hijau di hadapannya.


Dara melangkah menghampiri kedua anak yang sudah duduk anteng di bawah pohon besar sambil membawa keranjang berisi makanan. Di belakangnya, ada Stevan yang juga melangkah sambil membawa sebuah tikar.


Stevan segera menggelar tikar di atas rumput yang terkena naungan pohon. Taman pagi ini terasa senggang, hanya ada beberapa orang yang tengah berlalu-lalang. Setelah selesai, Stevan pun mendudukkan diri di samping Dara yang tengah sibuk menata beberapa makanan di atas tikar.


“Mama, Elang mau puding.”


Suara imut khas anak kecil itu mengalihkan perhatian Dara. Dia segera mengambilkan apa yang diinginkan oleh sang anak lalu memberikannya pada Langit.


“Telima kasih, Ma,” ucap Langit. Anak itu kembali melangkah menuju bangku taman sambil membawa mangkuk kecil berisi puding.


“Gervan nggak mau ikut sama Elang ke sana?” tanya Stevan. Dia menatap ke arah Gervan yang duduk di hadapannya dengan tatapan penuh harap.


Pria itu hanya ingin bermesra ria bersama sang istri, tanpa gangguan anak-anak—yang tentu saja mampu mengagalkan keingiannya. Bukannya Stevan jahat, tetapi apa salahnya ingin bermesraan dengan istri sendiri?


Namun, sepertinya keberuntungan sedang tidak bersahabat dengannya. Anak yang diajak berbicara itu menggeleng, tanda menolak.


“Gervan mau di sini, temanin Mama,” sahut Gervan.


“Lagian kenapa sih kalau Gervan di sini?” tanya Dara, mantap Stevan dengan pandangan tak mengerti.


Gervan mengangguk setuju. “Iya, lagian Gervan, kan nggak ganggu Papa juga,” ucapnya, lantas menyeruput jus apel kemasan yang baru saja disodorkan Dara kepadanya.


Stevan mengeram kesal dalam hati. Tidakkah Dara mengerti keinginannya sedikit saja? Tidakkah Dara peka dengan maksud dan tujuannya? Stevan melengos, enggan menatap sesosok anak yang tengah menatap polos ke arahnya.


Elusan halus di kepalanya membuat Stevan menoleh, dia menatap Dara yang tengah tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


Dara mendekatkan wajahnya ke telinga Stevan.


“Udah, jangan khawatir. Aku tahu kamu pengin mesra-mesraan, ‘kan? Tapi jangan di sini. Tujuan kamu bawa kita ke sini untuk mengajak kita refreshing, ‘kan?”


Benar, apa yang diucapkan Dara telah mengenai telaknya. Stevan menghela napas pelan, lalu mengangguk perlahan.


“Elang!” Dara berseru memanggil Langit sambil melambaikan tangan ke arah anak itu agar mendekat. “Sini, Sayang,” lanjutnya.


Langit menghentikan aktivitasnya, dia turun dari bangku. Kakinya berlari kecil ke arah mama, papa, juga sang abang yang sudah berkumpul ria.


“Kenapa, Ma?” tanya Langit, dia mengambil duduk di atas pangkuan Stevan.


Dara menggeleng, senyum bahagia tercetak jelas di bibir tipis wanita itu.


“Nggak papa, Sayang. Mama cuma pengin manghabiskan waktu hari ini bersama kalian,” katanya. “Sekarang kita sudah jarang ngumpul kayak gini, ‘kan?”


“Gimana, kalian senang nggak?” Stevan membuka pembicaraan, setelah sekian menit terdiam.


Mendengar ucapan Gervan, seketika berhasil membuat seorang Dara tersentak. Dara kira, selama ini dia menangis tak ada yang tahu. Namun, ternyata dia salah.


“Elang juga sama kayak Bang Van,” sahut Langit. Dia memberikan kode agar Dara mendekat, kemudian menyematkan sebuah kecupan ringan di pipi kiri Dara.


...🌾🌾🌾...


Di bawah naungan pohon besar ini, terdapat sebuah keluarga yang saling berbagi cerita sambil bercanda tawa. Ya, siapa lagi jika bukan keluarga Stevan. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Namun, sepertinya panas matahari yang perlahan mulai menyengat kulit ini tak membuat kehangatan di dalam keluarga mereka luntur.


Dara bergeming di tempat, saat matanya tak sengaja menatap seorang wanita hamil yang akan melintasi area piknik mereka. Dara, perempuan itu refleks menyentuh perut datarnya, dengan mata yang sesekali a mencri pandang kepada wanita hamil itu. Ah, jika sudah begini, Dara sepertinya sangat merindukan calon anak yang belum pernah dia lihat wujudnya.


Stevan menoleh ke samping saat menyadari sang istri tak lagi ikut nimbrung dalam percakapan mereka. Mata pria itu mengikuti arah pandang Dara. Seketika saja rasa bersalah yang sudah terkubur di dasar hati itu kembali mencuat ke permukaan.


Mungkin, memang benar ini salahnya. Stevan merasa dia belum berhasil menjadi suami dan kepala rumah tangga yang baik untuk sang istri juga keluarganya. Bagaimana bisa disebut baik, jika dia saja gagal menjaga sang istri, hingga anak merekalah yang menjadi korbannya?

__ADS_1


Meski acap kali Stevan memberikan nasehat kepada Dara untuk bersabar, Stevan merasa munafik. Ya, munafik kepada perasaannya sendiri. Memang benar, lebih mudah berkata daripada melaksanakannya.


Maafkan aku yang telah lalai menjagamu, hingga anak kita memilih pergi sebelum bertemu. Mungkin, sebanyak apa pun aku mengatakan kata maaf, tetap saja dia tak akan kembali pada kita.


Aku memang tidak pantas menyalahkan takdir. Namun, siapa lagi yang harus aku salahkan? Hati ini terlalu rapuh untuk melihatmu bersedih.


Di sini aku selalu mencoba agar baik-baik saja. Aku selalu mencoba untuk terlihat tegar, terlihat kuat, terlihat seperti seseorang yang tak memiliki masalah. Namun, siapa yang tahu dengan keadaan hatiku yang sebenarnya?


Jika saja aku bisa, ingin sekali rasanya aku melampiaskan amarahku pada segala hal. Namun, sekali lagi, aku tak ingin membuat pikiranmu semakin terbebankan.


“Maaf, Sayang,” lirih Stevan sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk oeher Dara. “Mungkin, kata maaf ini tak akan berguna, ini akan percuma, tapi aku tak akan menghentikan mengucapkan kata maaf ini padamu,” lanjutnya.


Dara menghapus setetes air mata yang tanpa sengaja menjatuhkan diri. Dia memeluk Stevan dari samping.


“Aku yang harusnya minta maaf. Maaf aku gagal menjaga anak kita, maaf aku telah membuat anak kita pergi, Ste.”


Stevan menggeleng, dia mengangkat wajahnya. Tangannya bergerak menangkup kedua sisi wajah Dara.


“Kamu nggak salah, Dara. Kamu—”


Baru saja pria itu hendak melanjutkan ucapannya, tetapi harus terpotong sebab panggilan melengking dari anak bungsu mereka.


“Papa!”


Di depan Dara dan Stevan, berdiri Langit yang tengah berkacak pinggang. Mata anak itu membulat, menatap Stevan dengan pandangan marahnya.


“Papa jangan peluk-peluk Mama, nggak boleh! Mama cuma punya Elang!” seru bocah itu. Dia segera melepaskan tangan Dara yang masih menempel di punggung Stevan.


“Mama juga sama, Mama jangan peluk-peluk Papa. Elang masih malah sama Papa, jadi Mama nggak boleh peluk Papa dulu,” ucap Langit. Dia segera duduk di pangkuan Dara sambil menatap tajam ke arah Stevan.


Stevan mengelus dadanya sabar. Entah kenapa, sering kali Langit menjadi musuh mengganggu saat dirinya ingin bermesraan dengan sang istri.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2