
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
“Mama!” seru Langit.
Anak itu melangkah riang ke arah Dara. Dia dengan perlahan merangkak naik ke atas ranjang. Dua hari yang hari yang lalu, Langit sudah diperbolehkan pulang.
Dara tersenyum, dia merentangkan tangan, bersiap menyambut Langit dalam pelukannya.
“Bang Van di mana, Sayang?” tanyanya sambil mengusap lembut rambut Langit.
Langit mendongak, menatap sang mama sebentar, lantas kembali memeluk erat tubuh wanita yang sangat dia sayangi itu.
“Pelgi kelual naik mobil sama Papa.”
“Loh, ke mana? Kok Elang nggak ikut?” Dara bertanya sembari mengerutkan keningnya bingung.
Langit menggeleng. “Elang nggak mau, Elang mau sama Mama aja di sini,” ucapnya. “Mama,” panggil Langit.
“Hm, kenapa, Sayang?”
“Dedeknya Elang yang di sana apa kabal, ya?”
Dara terdiam. Entah kenapa, jika mengingat hal itu membuat Dara kembali merasakan kehilangan. Jika ditanya apakah Dara sudah ikhlas? Maka jawabannya belum, bahkan hampir mendekati kata tidak. Namun, Dara sadar, bahwa sesulit dan sesakit apa pun, dia harus bisa ikhlas.
Dara tak ingin anaknya sedih melihatnya menangis. Dara hanya ingin kebahagiaan anaknya, hanya itu. Tarlalu melamun, tanpa sadar setetes air mata meluncur bebas di pipi wanita itu.
“Mama kenapa nangis?” Langit mengusap pipi Dara lembut. “Elang bikin Mama sedih, ya? Maafin Elang, Mama. Elang nggak mau jadi anak dulhaka. Elang mau masuk surga.”
Suara isakan pelan terdengar. Bibir mungil lelaki kecil berusia lima tahun itu tampak bergetar, juga matanya yang sudah berkaca-kaca.
“Lho, kok jadi Elang yang nangis?” tanya Dara, sembari mengangkat Langit ke atas pangkuannya. “Kenapa, hm?”
“Kata bu gulu, sulga ada di telapak kaki mama. Nah, kalau Elang buat Mama sedih, Elang nggak bakalan bisa masuk sulga dong?” jelas Langit, disela isakannya.
Dara tertawa pelan, dia mengusap pipi gembil yang terlihat basah itu.
“Elang nggak bikin Mama sedih, kok. Elang, kan anak baik. Elang selalu buat Mama bahagia.”
“Benelan, Ma?” tanya Langit, dia memandang wajah sang mama ragu.
“Hmm.” Dara mengangguk. “Anak Mama semuanya baik, semuanya pintar, dan Mama sayang kalian semua.”
“Elang lebih sayang Mama ... selamanya,” ucap Langit. Dia kembali memeluk Dara erat.
__ADS_1
“Ada apa nih, kok nangis-nangis?” Pertanyaan itu timbul seiring dengan langkah kedua pria berbeda usia yang memasuki kamar.
“Elang takut nggak bisa masuk sulga kalena buat mama sedih,” jelas Langit.
Stevan tertawa mengejek. “Hayo lho Elang, pintu surganya udah ditutup.”
Langit menoleh cepat ke arah Stevan lalu memandang Dara dengan bibir bergetar; siap untuk menangis.
“Hiks, hua, Mama! Papa jahat!”
Dara menggeleng pelan, dja mengelus lembut punggung Langit yang sudah kembali memeluknya erat.
“Papa cuma bercanda, Sayang. Pintu surganya terbuka lebar untuk Elang kalau Elang jadi anak baik, jadi anak yang nurut sama orang tua, suka bantu teman, dan ramah.”
Gervan segera naik ke atas ranjang; ikut masuk ke dalam dekapan adik dan mamanya.
Stevan tersenyum, hatinya menghangat kala melihat ketiga orang yang ia sayangi sedang berpelukan ria. Jujur saja, Stevan ingin terus bisa melihat ketiga orang itu bahagia, dan jika boleh, pria itu ingin kelak anggota keluarganya bertambah.
‘Anak Papa sayang, apa kamu sudah bahagia di sana? Papa harap begitu. Meski Papa belum pernah melihat rupamu, tapi Papa sudah sangat menyayangimu. Doakan kami untuk ikhlas atas kepergianmu, Nak.’
Stevan mendongak, matanya berkedip cepat; berusaha menghalau air mata yang ingin terjatuh saat itu jua. Kesedihan itu masih terasa nyata. Namun, bagaimanapun juga, Stevan tak ingin menyakiti anaknya sebab belum jua mengikhlaskannya.
“Papa sini, ayo ikut peluk!”
Seruan dari Langit berhasil mengalihkan perhatian Stevan. Pria itu mengangguk, dia tersenyum sambil melangkah menghampiri ketiga orang yang masih asik berpelukan.
🌾🌾🌾
“Mama, sini lihat.”
Dara memutar tubuhnya, dia mengurungkan niatnya yang semula ingin pergi ke dapur. Wanita cantik berusia 28 tahun itu melangkah; menghampiri sang anak yang terlihat asik bermain dengan hewan peliharaannya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Dara. Dia berjongkok, tepat di sebelah Langit.
Langit menoleh, dia menampilkan deretan gigi susunya, mata anak itu beralih pada hewan peliharaan yang terlihat asik bermanja di pangkuannya.
“Kiki kelihatan makin lucu ya, Ma?” tanya Langit, meminta persetujuan.
Dara mengangguk. “Iya.”
“Kalau Elang lucu nggak, Ma?”
“Elang nggak lucu, Elang jelek.”
Bukan, bukan Dara yang menjawab, melainkan seorang gadis kecil yang tengah melangkah menghampiri mereka, dengan sebuah paper bag di tangan mungilnya.
__ADS_1
Langit menoleh cepat, anak itu menatap tajam sang pelaku, walau pada akhirnya, senyum bahagia terlihat jelas di bibirnya. Meski setiap bertemu selalu saja adu mulut, Langit merindukan teman perempuannya ini.
“Eh, Adisya. Sini duduk.” Dara mempersilakan gadis kecil itu untuk duduk di sampingnya. “Sama siapa ke sini?”
“Mama dan Papa.” Adisya mengarahkan hari telunjuknya ke arah pintu, seiring dengan masuknya Eva dan Errian ke dalam rumah.
“Assalamualaikum.” Keduanya mengucapkan salam secara bersamaan.
“Waalaikumussalam, ayo duduk-duduk.”
“Tanpa lo persilakan juga gue bakalan duduk kali, Ra. Ya kali gue berdiri mulu,” jawab Eva dengn nada sarkasme.
Dara tertawa pelan, menanggapi ucapan sahabatnya yang terkesan konyol baginya.
“Tumben lo ada waktu free, Ri? Biasanya sibuk kerja mulu,” ucap Dara, seiring dengan kakinya yang mengikuti langkah sepasang suami istri di hadapannya.
“Aku selalu meluangkan waktu luang untuk istriku. Sebab jika tidak, dia pasti akan menyuruhku tidur di luar.”
Jawaban dari Errian seketika membuat Eva menoleh cepat. Matanya menyorot tajam ke arah pria yang duduk di sampingnya.
“Tidak ada istri yang mau ditinggalkan dalam jangka waktu lama. Lagipula ini hari libur. Ah sudahlah, kau tak akan mengerti,” ucap Eva kesal.
Lagi dan lagi Dara tertawa. Menurutnya, perdebatan Eva dan Errian adalah sebuah hiburan untuknya. Wanita itu menggeleng pelan sambil berusaha menghentikan tawanya. Dara melangkah perlahan menuju dapur, berniat membuatkan tamu tak diundang itu minuman.
“Ngomong-ngomong, ada apa kalian ke sini?” tanya Dara sambil meletakkan tiga gelas jus dingin, serta menghidangkan camilan kue kering.
“Gue cuma pengin jenguk keponakan gue.” Eva mengedarkan pandangannya. “Btw, dari tadi gue nggak lihat Gervan, dia ke mana?”
“Dia lagi tidur.”
“Kalau Stevan, dia ada di mana?” Kini giliran Errian yang bertanya.
“Stevan lagi di belakang. Susul aja kalau mau.”
Errian mengangguk. Pria itu mengelus lembut rambut sang istri lalu beranjak dari duduknya.
Usai kepergian Errian, Dara mengalihkan perhatiannya pada Eva.
“Lo nggak ada niatan kasih adik buat Adisya, Va?”
Eva tak menjawab, dia menatap ke arah punggung Errian yang terlihat makin menjauh.
“Suami gue nggak mau, Dar. Katanya trauma lihat gue pas lahiran. Dia nggak mau lihat gue kesakitan,” jawab Eva. “Kalau lo, kapan mau kasih Elang adik?”
Dara tersenyum tipis, dia mengelus lembut perut ratanya.
__ADS_1
“Sedang diusahakan, semoga Allah mengiyakan.”
To be continue ....