Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 50


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy reading🌾


“Abang, opel bolanya!” seru Langit.


Di sebuah taman yang tak jauh dari rumah mereka berada, Gervan dan Langit tampak asik bermain sepak bola, dengan ditemani Stevan yang menjadi rival mereka. Suasana taman pada sore itu terasa ramai, banyak anak-anak, juga keluarga yang asik bermain atau hanya sekadar bersantai ria di taman asri ini.


“Abang opel ke Elang, jangan ke Papa!” Langit kembali berseru nyaring. Anak itu berloncat-loncat di tempat, menunggu bola datang ke arahnya.


Setelah dapat, anak itu segera menendang bola ke arah gawang yang tepat berada di belakangnya.


“Goll!!” Gervan dan Langit berseru bersamaan. Kedua anak itu tampak berpelukan sambil meloncat kegirangan.


“Papa nyerah,” ucap Stevan. Dia datang menghampiri kedua anaknya sambil mengusap peluh yang menetes membasahi keningnya menggunakan punggung tangan.


Bagaimana dia tidak kalah, jika kedua anak itu kompak bermain curang? Huh, tetapi tak apa. Stevan tak akan marah, sebab melihat wajah bahagia kedua anaknya membuat Stevan ikut merasakan bahagia.


“Papa beliin kita es krim,” ucap Gervan.


Langit bertepuk tangan antusias sambil mengangguk.


“Iya, Papa tadi udah janji. Kalau Elang sama Bang Van menang, Papa bakalan beliin es klim.”


Stevan tertawa kecil, dia mengacak pelan rambut Langit.


“Iya, Papa belikan dulu. Kalian tunggu di sini, ya.”


Kedua anak yang diajak berbicara itu mengangguk.


“Lang, ayo duduk di sana,” ajak Gervan, menunjuk ke arah kursi panjang.


Langit menggeleng. “Abang duluan aja, nanti Elang susul. Elang masih mau main bola,” ujarnya sambil menunjuk bola yang berada tepat di bawah kakinya.


Gervan mengangguk. Anak itu lebih memilih melangkah menuju kursi yang tadi ditunjuknya. Gervan ingin beristirahat, rasanya penat setelah bermain sepak bola bersama sang ayah juga adiknya.


Setelah kepergian Gervan, Langit mulai kembali memainkan bolanya. Dia menendang ke arah gawang lalu mengambilnya lagi. Begitu saja seterusnya, sampai bola yang dia tendang kali ini meleset jauh. Bola berwarna hitam putih itu tampak menggelinding ke arah jalan.


“Yah, jauh banget bolanya,” keluh Langit. Dengan muka cemberut, anak itu melangkah menuju bolanya.


Langit menghentikan langkah tepat di mana bolanya berada. Pria kecil itu menepuk bola yang sudah berada di genggamannya.


“Bola, kamu lalinya jangan jauh-jauh, aku capek ambilnya,” ucapnya, masih di posisi yang sama.


Tak jauh dari tempat Langit berada, terdapat sebuah mobil Pajero putih yang sejak tadi sudah memperhatikannya. Seorang pria yang berada di dalam mobil itu menyeringai, matanya menyorot penuh dendam ke arah Langit.

__ADS_1


“Kali ini aku tidak akan membiarkan kau hidup bahagia, setelah kau rebut pelampiasanku. Kau juga telah membuatku mendekam di penjara,” monolog pria itu. Dia mencengkeram erat setir mobilnya lalu menginjak pedal gas.


Dengan seringainya, mobil yang dikendarai pria itu melaju kencang ke arah Langit. Tanpa belas kasihan, pria itu menabrak tubuh kecil Langit, hingga terpental dengan jarak beberapa meter. Setelahnya, pria itu segera kembali melajukan mobilnya, meninggalkan lokasi kejadian.


Sementara Dara, wanita yang baru saja kembali setelah mengambil permen cokelat pesanan Langit itu mematung di tempat saat melihat kejadian itu.


“Elang!!”


Setelah kesadarannya kembali, dia menjatuhkan permen di tangannya, lantas berlari kencang ke arah anak bungsunya yang sudah dikerumuni banyak orang, diikuti oleh Gervan yang berjalan di belakangnya. Saat jaraknya sudah makin dekat, langkah Dara melambat, seiring dengan air nata yang sudah mengalir deras di pipinya.


Matanya menyorot sedih ke arah Langit yang sudah terkapar tak berdaya di aras aspal dengan tubuh penuh darah.


“Elang,” lirih Dara. Dia menerobos kerumunan, kemudian menbawa kepala Langit ke pangkuannya.


Stevan, pria yang baru saja membeli es krim untuk kedua anaknya itu mengernyitkan dahinya saat melihat kerumunan di tengah jalan. Dengan langkah perlahan, dia mulai menghampiri kerumunan itu.


Mata pria itu terbelalak saat melihat sesuatu yang menjadi sebab terbentuknya kerumunan ini. Stevan membuang es krim di tangannya ke sembarang arah. Pria itu bergegas membelah kerumunan lalu berjongkok di samping snag istri.


“Elang kenapa, Dar?” tanya Stevan. Nada suara pria itu terdengar sangat khawatir.


“Stevan, bawa Elang ke rumah sakit, Ste. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Elang.”


Tanpa mau membantah, Stevan segera mengangkat tubuh Langit, menuju ke rumahnya, berniat mengambil mobil.


“Iya, Pak. Terima kasih,” sahut Stevan. Dia berbalik, masuk ke dalam mobil yang baru saja berhenti di belakangnya. Dara dan Gervan pun ikut serta masuk ke dalam mobil.


🌾🌾🌾


Dara menggenggam erat tangan mungil Langit yang terasa lebih dingin dari biasanya. Mata wanita itu menyorot sendu ke arah sang anak yang terbaring lemah di atas brankar.


Di bagian kepala anak itu, terdapat sebuah perban putih yang melilit. Sementara di lengan dan beberapa bagian tubuh juga terlihat bekas luka yang masih terlihat baru.


“Elang, sayangnya mama. Bangun yuk, kamu nggak capek tidur terus?” tanya Dara lirih, dengan suara seraknya.


“Mama pengin lihat kamu buka mata, sayang,” ucapnya lagi. Tangan wanita itu terulur mengusap lembut kepala Langit.


Ini sudah jam delapan malam, itu artinya, Langit sudah tertidur selama empat jam pasca penanganan dokter. Keadaan anak itu dapat dikatakan cukup parah, untungnya tidak ada luka serius yang dialaminya.


Sejak Langit di pindahkan ke rumah rawat, Dara senantiasa berada di sisi Langit. Wanita itu hanya beranjak ketika dia ingin ke kamar mandi, atau melaksanakan salat. Setelahnya, dia pasti akan kembali menemani anak yang terlihat nyenyak dalam tidurnya itu.


“Cukup adik kamu saja yang pergi, kamu jangan ikut, Lang,” gumam Dara, kemudian mengecup tangan Langit berkali-kali.


Ceklek.


Bunyi pintu dibuka tak jua mengalihkan perhatian Dara. Dia hanya senantiasa menatap wajah Langit, berharap mata itu lekas terbuka.

__ADS_1


“Elang belum sadar juga?” tanya Stevan yang sudah berdiri tepat di samping kursi yang Dara duduki.


Dara menggeleng tanpa menatap sang lawan bicara.


“Kamu udah makan?” tanya Stevan, lagi-lagi hanya dibalas gelengan oleh sang istri.


Stevan menghela napas. Dia membuka kotak makanan yang berisi nasi goreng baru saja ia beli.


“Makan dulu, Sayang,” ucapnya sambil menyodorkan kotak makan.


Dara mendongak, dia menatap Stevan. Kepalanya menggeleng, lantas kembali menatap Langit.


“Aku nggak lapar, Ste. Lagian, Elang juga belum makan.”


Stevan kembali menghela napas, dia meletakkan kotak makanan di tangannya ke atas meja. Mata Stevan beralih menatap sang istri. Dia memegang kedua pundak Dara agar menatapnya.


“Sayang, dengarin aku. Kalau kamu nggak makan, nanti kamu ikutan sakit,” tuturnya lembut. “Kalau kamu sakit, siapa yang bakalan jagain Langit? Lagian aku yakin, Elang pasti nggak mau lihat mamanya sakit.”


“Sekarang makan, ya?” tawar Stevan. Pria itu menyodorkan kotak makan ke arah Dara.


Dara mengangguk pelan lalu meraih kotak makan itu. Dia mulai memakan nasi goreng—yang biasanya menjadi favoritnya tanpa minat.


“Kamu sudah menemukan dalang dari kecelakaan yang menimpa Elang?”


Vano yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap itu menatap anak semata wayangnya dengan pandangan penuh tanya.


Stevan mengangguk.


“Sudah, Yah. Ternyata, kecelakaan Elang itu memang disengaja. Pelakunya adalah Yuda, omnya Gervan.”


Jawaban dari Stevan itu berhasil membuat Dara menghentikan kunyahannya. Wanita itu mendongak, menatap sang suami yang tengah memandang serius ke arah Vano.


“Setelah diinterogasi oleh polisi, akhirnya dia mengaku bahwa dia menabrak Elang atas dasar balas dendam, sebab mengangkat Gervan menjadi bagian keluarga kita, serta karena Stevan menjebloskan dia ke penjara,” lanjut Stevan.


Vano mengangguk paham. Dia melangkah mendekat.


“Orang dengan ambisius besar tidak akan dapat dianggap remeh. Bahkan, seringkali ambisius itu berubah menjadi keegoisan yang membuat orang lain menjadi korban.”


Vano menepuk pundak Stevan beberapa kali.


“Tingkatkan lagi pengawasan kami terhadap keluargamu. Ayah yakin, kamu bisa menjaga keluargamu dengan baik.”


Stevan mengangguk tegas. Tidak akan dia biarkan siapa pun melukai keluarganya. Tidak akan dia biarkan seseorang yang mengusik keluarganya hidup tenang. Stevan berjanji, dia akan selalu menjaga keluarganya, sekalipun harus mempertaruhkan nyawanya.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2