Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 41


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Stevan menatap kasihan istrinya yang sering kali melamun sejak mereka kehilangan calon anak mereka. Seperti pagi ini, Dara tengah memotong sayuran dengan tatapan kosong. Bahkan, wanita itu tak menyadari kehadiran Stevan di sampingnya.


“Ah!”


Dara tersentak dari lamunannya saat jarinya tak sengaja teriris pisau yang dipakainya. Dia segera berlari menuju wastafel, berniat mencuci tangan. Setelah selesai, Dara membalikkan badan, dia kembali tersentak saat mendapati Stevan sudah ada di belakangnya.


“Sejak kapan kamu di situ?”


“Sejak kamu motong sayuran sambil ngelamun,” sahut Stevan, dia menggiring istrinya untuk duduk di kursi meja makan.


Pria itu kembali melangkah mengambil P3K lalu menghampiri istrinya kembali.


“Jangan keseringan ngelamun, Sayang. Nggak baik,” tuturnya, sambil memasang plester ke luka sang istri.


Menyadari tak ada jawaban dari Dara, Stevan mendongak, menatap sang istri yang lagi-lagi melamun. Stevan menghela napas sebentar, sebelum melambaikan tangannya di depan wajah Dara.


“Hei, baru juga dibilangin, jangan suka ngelamun, Dar,” tegur Stevan.


“Dulu, di sini ada amanah Allah yang diberikan buat kita, tapi sekarang, Allah mengambil lagi amanahnya. Apa aku buat kesalahan besar yang tanpa aku sadari telah aku lakukan, ya? Apa Allah lagi menghukum kita, karena kita sempat menunda untuk punya anak?” tanya Dara, mengusap perutnya yang sudah kembali datar dengan air mata yang mulai menetes.


“Hei, tidak baik berburuk sangka pada takdir yang telah Allah berikan. Percaya atau tidak, di setiap takdir yang telah Allah gariskan untuk kita, pasti ada hikmah di dalamnya,” ucap Stevan, dia mengusap kepala Dara dengan lembut lalu membawanya ke dalam dekapannya.


Dara menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan hangat sang suami. Dara tak sanggup, Dara hanyalah wanita rapuh yang berpura-pura kuat di hadapan orang lain.


Siapa yang pantas Dara salahkan atas perginya calon anak mereka? Dirinya yang tak bisa menjaga calon buah hatinya? Atau pria yang tak dia kenal, yang mendorongnya hingga terjatuh?


“Mama, Papa!”


Panggilan dari Langit itu membuat Dara melepas pelukannya, dia secepat kilat mengusap air matanya. Dara tak ingin terlihat lemah di hadapan anak-anaknya.


Dara membalikkan badan, di sana terdapat Langit—yang sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya—yang tengah melangkah menghampiri mereka bersama Gervan—yang memakai pakaian rumah—di belakangnya.

__ADS_1


“Selamat pagi, Sayang!” sapa Dara, berusaha riang. Meski matanya tak dapat berbohong.


“Mama kenapa nangis?” tanya Gervan, dia mengambil duduk di kursi samping Dara.


Dara menggeleng. “Mama nggak papa, Mama cuma kelilipan aja tadi.”


Langit memandang Dara sebentar lalu beralih ke arah Stevan sambil merentangkan tangan, mengisyaratkan bahwa anak itu ingin duduk di pangkuan sang papa.


Tangan kecil Langit terulur mengusap pipi Dara lembut. “Mama jangan nangis.” Langit sejenak menghentikan aktivitasnya, dia mengambil sesuatu dari saku celana yang dikenakannya. “Elang punya pelmen cokelat,” lanjutnya, memberikan sebungkus permen cokelat untuk Dara.


Dara tersenyum haru, dia mengambil permen itu sambil mengacak pelan rambut Langit.


“Terima kasih, Sayang.”


“Nah, gitu dong senyum. Mama cantik kalau senyum, hehe,” puji Langit, tertawa malu-malu.


“Masih kecil udah bisa godain mamanya nih, ya,” ucap Stevan, mencubit hidung Langit gemas.


“Ih, Papa. Elang nggak godain Mama, kok. Elang cuma berbicara fakta. Ya, ‘kan, Bang Van?” tanya Langit, meminta persetujuan pada anak yang sejak tadi hanya diam menjadi pengamat.


Dara beranjak dari duduknya, berniat menyiapkan nasi goreng yang sempat dia buat. Sebenarnya, wanita itu juga berniat menggoreng telur sebagai topingnya. Namun, batal, sebab tangannya tak sengaja teriris pisau saat memotong daun bawang tadi.


“Nih, makan dulu, setelah itu Mama antar ke sekolah, Mama sekalian mau cek toko.”


Langit segera menatap Dara. “Kalau Mama masih sakit, Mama di lumah aja. Istilahat, bial cepat sehat.”


Dara menggeleng, sambil mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan kursi Langit.


“Mama sudah sehat, Sayang.”


“Elang cuma nggak mau kalau Mama masuk lumah sakit kayak waktu itu. Elang sedih lihat tangan Mama ditusuk jalum lama banget,” curhat Langit.


Dara tertawa pelan. “Itukan sudah lama, Sayang. Ya sudah, sekarang kita makan dulu, jangan lupa baca doa.”


...🌾🌾🌾...

__ADS_1


Stevan menghentikan mobilnya tepat di depan TK Harum Bangsa. Dia menoleh ke belakang, tempat kedua anaknya duduk.


“Belajar yang rajin ya, anak-anak papa, biar bisa jadi orang sukses di masa depan.”


Langit mengangguk. “Beles, Pa. Elang pengin jadi olang kantolan kayak Papa, yang keljanya cuma di luangan, yang ada AC-nya,” sahut Langit antusias.


“Cita-citanya bagus, yang penting Elang belajar yang rajin, biar jadi bosnya,” pesan Stevan.


“Oke, Pa. Kalau gitu, Elang tulun ya, Pa.” Langit segera mencium punggung tangan Stevan lalu turun dari mobil.


Stevan mengangguk, dia kembali melakukan mobilnya menuju toko kue Dara. Hanya butuh waktu sepuluh menit, mobil yang dikendarainya kembali berhenti.


Stevan mengalihkan pandangannya pada Dara.


“Sayang, aku harap dengan beradanya kamu di sini, kamu bisa melupakan kesedihanmu barang sejenak. Aku nggak mau kamu terus larut dalam kesedihan. Ya memang, mungkin kamu bisa bohongi.”


Dara menatap Stevan sebentar lalu menunduk dalam. Dia kira, selama ini dia berhasil memanipulasi semua orang bahwa dia sedang baik-baik saja, tetapi ternyata dia salah. Di sampingnya, ada sesosok pria yang selalu mengerti perasaannya, tanpa perlu susah payah Dara ungkapkan.


Bukannya Dara tak ingin berbagi kesedihan, hanya saja cara pikir Dara berbeda. Dia tak ingin menjadi dan menambah beban pikiran orang lain, meski itu suaminya sendiri. Sudah cukup Dara saja yang menanggung kesedihan ini, orang di sekitarnya jangan.


“Sayang,” panggil Stevan lembut.


Dara mendongak, menatap tepat di bola mata Stevan.


“Sudahi bersedihnya, ya? Di sini, ada aku, Elang, dan Gervan yang lebih menyukai senyummu, tawamu, dan candamu, bukan diammu,” tutur Stevan, mengusap lembut kepala sang istri.


Perlahan Dara mengangguk. Meski wanita itu tak tahu, dapatkah dia tak lagi bersedih. Namun, apa salahnya mengiyakan, bukan? Setidaknya, dalam hati Dara, dia akan berusaha menghilangkan kesedihannya, meski perlahan.


“Ya sudah, sekarang kamu masuk, nanti pulangnya aku jemput kalau nggak ada rapat,” ucap Stevan, menarik kepala sang istri agar mendekat, lalu mencium kening wanita itu.


Dara tersenyum, inilah yang dia suka dari Stevan sejak dulu. Sikap lembutnya yang tak pernah berubah.


“Kamu nggak usah jemput, nanti aku naik taksi aja. Semangat kerjanya, sayang.” Dara mengepalkan tangannya di udara lalu turun dari mobil.


Stevan mengangguk. “Aku bakalan lebih semangat, kalau kamu dan anak-anak bahagia, Sayang,” gumam Stevan, membunyikan klakson lalu kembali melajukan mobilnya.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2