
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
Hari makin berganti hari, tak terasa dua bulan telah berlalu setelah ditetapkannya tanggal. Hari ini adalah hari di mana Dara dan Stevan akan melaksanakan pernikahan mereka yang diadakan di sebuah hotel ternama.
Di salah satu kamar, Dara tampak cantik dengan balutan gaun putih pernikahan pilihannya dan Stevan. Dara memegang dada kirinya sambil menatap bayangan dirinya di cermin, sungguh tak dapat dibohongi bahwa saat ini jantungnya terasa berdegup dua kali lebih cepat. Persis seperti seorang remaja yang baru merasakan jatuh cinta. Oke, perumpamaan yang cukup pas sekali.
Ceklek!
Suara pintu yang dibuka membuat Dara menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh, guna melihat siapa gerangan yang memasuki kamar tempat dia berada, dan ternyata kakak dan mamanya yang memakai pakaian dengan model dan warna yang sama.
“Kamu kelihatan cantik banget, Dek!” puji Dira sambil mengelus kepala Dara yang terbalut hijab putih berwarna senada dengan bajunya.
Dara tersenyum.
“Terima kasih, Kak.”
Shira melangkah mendekat, dia menarik Dara ke dalam pelukannya.
“Mama nggak nyangka bakalan ngelepasin kamu secepat ini, Nak. Mama cuma pengin kamu jadi istri yang baik buat suamimu. Jangan pernah bantah apa kata suamimu selagi itu dalam kebaikan.”
Dara melepaskan pelukannya, dia mendongak menatap mamanya yang juga tengah menatapnya.
“Ma, maafin Dara selama ini banyak salah sama Mama. Maafin Dara juga yang sering bantah omongan Mama. Maafin semua kesalahan Dara, ya, Ma.”
“Mama selalu maafin kesalahan kamu, Nak. Mama sayang banget sama kamu,” ucap Shira lalu mengecup kening Dara.
“Untuk para tamu undangan, diharapkan menempati tempat yang telah disediakan karena acara akan dimulai sebentar lagi!” Sebuah suara menggema di sebuah ruang yang akan dijadikan sebagai tempat pernikahan.
Ketiga wanita ini terdiam. Pandangan mereka tertuju pada sebuah layar yang menampilkan keadaan di luar. Dara menggigit ujung jarinya berusaha untuk menghilangkan kegugupan yang sedari tadi dirasakannya.
“Kamu gugup, Sayang?” tanya Dira sambil menoleh ke arah adiknya yang duduk di sampingnya. Sementara Dara hanya membalas dengan anggukan.
Shira ikut menoleh, dia kembali membelai kepala Dara lalu berkata,
__ADS_1
“Semua orang pasti akan merasakan gugup saat akan melaksanakan hari pernikahan mereka, jadi hal itu wajar.”
Pandangan mereka kembali tertuju pada layar yang menyorot ke arah tangan Arya dan Stevan yang saling berjabat.
“Ananda Stevan Ranendra binti Vano Ranendra, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Ananda Adara Capella Kinandita binti Arya Hesperos, dengan mas kawin perhiasan sebanyak 35 gram, sepasang cincin berlian, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!”
Stevan menarik napasnya sekali tarik, lalu mulai membuka suaranya.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Adara Capella Kinandita binti Arya Hesperos dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!”
“Bagaimana para saksi?”
“Sah!”
“Alhamdulillahirabbilalamin ....” Sang penghulu segera membaca doa-doa untuk kedua mempelai yang baru saja sah menjadi pasutri.
...🌾🌾🌾...
Dara mengusapkan kedua belah tangannya ke wajah. Alhamdulillah, akhirnya dia telah menjadi istri sah Stevan. Dara tersenyum, dia mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan di hidupnya. Tuhan itu baik, bahkan sangat baik. Di saat dia kehilangan arah, Tuhan senantiasa memberikan petunjuk-Nya untuk Dara.
“Ayo turun, udah ditungguin!”
Dara segera bangkit dari duduknya. Dia melangkah keluar kamar dengan Dhira dan Dira yang melangkah di sisi kanan dan kirinya. Dara menunduk, dia malu, sungguh.
Sementara di ruang utama, semua mata tampak memandang ke arah ketiganya, ah ralat, lebih tepatnya ke arah mempelai wanitanya.
Stevan tak dapat melepaskan pandangannya dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu. Dara terlihat sangat cantik berkali-kali lipat dengan gaun putih pernikahannya, yang membuatnya bertambah cinta.
Dara melangkah menghampiri papanya yang sudah memberikan uluran tangan kepadanya. Dara meraih tangan Arya dengan mata berkaca-kaca. Sungguh, dia terharu.
Arya segera membimbing Dara melangkah mendekati Stevan yang masih duduk di depan sang penghulu.
“Kuserahkan anakku kepadamu, aku percayakan kebahagiannya kepadamu. Jangan pernah kamu membuatnya terluka. Sekali saja kamu membuatnya menangis, maka akan aku ambil kembali dia darimu!” tegas Arya.
Namun, di balik ketegasan itu, Dara dapat melihat kesedihan bercampur kebahagiaan di mata papanya. Dara segera mendudukkan dirinya di samping Stevan.
__ADS_1
“Nah, sekarang mempelai wanita mencium punggung tangan mempelai pria. Sementara mempelai pria mencium kening mempelai wanita,” titah pak penghulu.
Dara segera meraih tangan Stevan lalu menciumnya sebagai tanda hormatnya kepada pria yang telah menjadi suaminya ini. Setelahnya, Stevan meraih kepala Dara lalu mencium keningnya.
“Silahkan saling pasangkan cincin,” ucap pak penghulu lagi.
Stevan meraih beludru yang disodorkan mamanya ke arahnya. Dia melepas cincin yang pernah dia berikan dulu, lalu memasang cincin yang baru dijari manis Dara. Cincin itu terlihat lebih indah saat dipasang ditempatnya. Begitupun sebaliknya, Dara juga melakukan hal yang sama. Setelahnya mereka mulai menandatangani surat pernikahan mereka.
...🌾🌾🌾...
“Alhamdulillah, sekarang kamu udah sah jadi istri aku, Sayang!” ucap Stevan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dara.
Dara menunduk, dia merasakan pipinya terasa panas.
“Tuhan itu baik, Ste. Dia punya caranya tersendiri untuk menyatukan umatnya.”
Stevan hanya tertawa pelan sambil mengusap kepala Dara lembut. Tak lama kemudian kedua sahabat Dara tampak mulai menaiki pelaminan, menghampiri kedua mempelai itu.
“Dara, gue nggak nyangka lo bakalan nikah secepat ini. Eh, tapi alhamdulillah ternyata Tuhan itu telah mentakdirkan kalian untuk bersatu. Gue doakan semoga pernikahan kalian selalu bahagia, ya,” ucap Eva sambil memeluk Dara setelah memberikannya kado hadiah pernikahan.
“Alhamdulillah, lo cepat nyusul ya. Gue selalu doakan yang terbaik,” sahut Dara sambil tersenyum manis.
“Stevan selamat juga, ya.”
“Hei, Bro. Selamat, ya!” Alden memeluk Stevan ala laki-laki sambil menepuk punggung Stevan pelan.
“Dara, juga selamat. Pokoknya semoga pernikahan kalian sakinah, mawardah, warohmah. Semoga kalian selalu mendapatkan berkah, rahmat, nikmat dari-Nya. Untuk Stevan, jaga sahabat gue ya. Gue pengin sahabat gue bahagia sama lo!”
Stevan tersenyum, dia bahagia dan bersyukur istrinya itu memiliki sahabat dengan tingkat kepedulian yang tinggi terhadap Dara. Dia bersyukur, istrinya memiliki teman sebaik mereka.
Dan satu hal yang tak dapat dia pungkiri. Dia sangat bersyukur Tuhan mentakdirkan mereka berdua untuk bersama. Benar kata Dara, Tuhan itu baik. Tuhan memisahkan namun juga menyatukan. Stevan percaya, perpisahan yang sempat terjadi adalah sebuah ujian yang Tuhan berikan kepadanya.
Sekali lagi, Stevan tiada hentinya bersyukur pada Tuhan. Ternyata tiada yang lebih indah selain bersyukur atas nikmat-Nya yang tiada tara.
To be continued ....
__ADS_1