
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Suasana di kediaman keluarga Stevan kali ini tampak ramai. Beberapa orang berlalu-lalang guna menyiapkan secara matang acara ulang tahun si bocah paling kecil, yang akan diselenggarakan nanti malam.
“Cie yang nanti mau ulang tahun.”
Suara cempreng itu berhasil mengalihkan perhatian Langit—yang tengah sibuk menatap orang-orang—menjadi menatap seorang anak perempuan yang mengajaknya bicara.
Langit tersenyum lebar, hingga menampilkan deretan gigi susunya.
“Iya, kamu jangan lupa bawa kado yang mahal ya buat aku. Kalau kamu lupa, aku bakalan usil kamu dali sini.”
Adisya, gadis yang berdiri di hadapan Langit itu cemberut, lalu melipat tangannya di depan dada.
“Kata Tante Dala, aku boleh datang tanpa bawa kado, kok. Kalena aku teman kamu.”
Langit mengernyitkan dahinya.
“Teman? Sejak kapan kita belteman?”
Adisya mendelik, seketika gadis kecil itu berkacak pinggang, menatap Langit nyalang.
“Heh, lagian aku juga nggak mau punya teman kayak kamu. Kamu itu olangnya nyebelin, pakai banget. Mending aku temenan sama Bang Van. Bang Van kan baik, nggak kayak kamu.”
Langit mencibir, anak itu membalikkan badan. Lebih baik ia menyusul mamanyanya yang berada di dapur, daripada menanggapi si gadis cempreng itu.
”Hei, Elang. Jangan tinggalin aku!“
Langit tak menggubris, ia malah makin mempercepat langkahnya.
”Mama!” seru Langit, bocah itu bersusah payah mengambil duduk di kursi meja makan.
Dara tertawa pelan, lalu membantu Langit duduk.
“Kenapa? Mau puding cokelat?” tawarnya yang langsung dijawab oleh Langit dengan anggukan antusias.
“Disya mau juga, Tante.” Gadis yang baru saja tiba itu segera mengambil duduk di kursi samping Langit.
Langit memutar bola matanya malas, lalu menatap Adisya kesal. “Kamu ngapain di sini?”
“Aku juga mau makan puding,” jawab Adisya, mengabaikan tatapan tajam Langit.
“Heh, puding itu khusus buat aku, nggak ada jatah buat kamu,” ucap Langit.
“Aku cu—”
Dara menggeleng, sungguh ia pusing mendengar perdebatan kedua bocah itu. “Sudah-sudah, jangan bertengkar terus,” potongnya. Matanya menatap ke arah Langit. “Elang, kan pudingnya ada banyak, nggak apa-apa dong kalau Adisya mau.”
Langit cemberut, lalu mengangguk. Sungguh, ia tak dapat membantah ucapan sang mama.
“Anak baik,” puji Dara sambilmenepuk kepala Langit beberapa kali, lalu meletakkan dua mangkuk berukuran sedang di depan kedua anak itu. “Abang ke mana, Lang?”
__ADS_1
Langit menghentikan kunyahannya, lalu mendongak.
“Tadi Elang lihat, Abang lagi sama Papa naik mobil, nggak tahu ke mana.”
Dara mengangguk paham, mungkin saja anak dan ayah itu tengah menuju toko kuenya untuk mengambil kue ulang tahun untuk Langit.
“Ya sudah, Mama mau ke belakang dulu, ya. Kalian jangan bertengkar lagi, pusing Mama dengarnya.” Setelah mendapat anggukan dari kedua anak itu, Dara segera melangkah ke halaman belakang.
...🌾🌾🌾...
Petang ini, Dara tampak anggun dengan balutan dress selutut berwarna biru malam. Dress itu terlihat sangat pas di tubuh langsing dengan perutnya yang membuncit.
Dara yang semula tengah meneliti penampilannya di depan kaca lemari itu pun menghentikan kegiatannya saat mendapati sepasang lengan suaminya tengah melingkar di pinggangnya.
”Kamu cantik,” puji Stevan, lalu menyematkan sebuah kecupan sayang di pipi kanan sang istri.
Dara tersenyum tipis, mengelus kepala Stevan yang bertengger di pundaknya.
”Kamu juga tampan, sangat tampan.”
”Aku memang selalu tampan,” ucap Stevan, jemawa.
Dara terdiam, perempuan itu menunduk dalam. Entah kenapa, ada rasa gelisah yang sejak tadi menghampiri hatinya.
Stevan membalikkan tubuh Dara menjadi menghadapnya, kedua tangannya memegang pundak Dara.
“Kamu kenapa?”
Stevan mengusap kepala Dara pelan.
“Tenang, Sayang. Nggak akan terjadi apa-apa, percaya sama aku,” ucapnya lembut, lalu memberikan sebuah kecupan di kening Dara. “Udah yuk, kita datangi Elang, pasti anak itu lagi sibuk siap-siap sama oma dan grandma-nya.”
Dara mengangguk pasrah. Tangan wanita itu digenggam erat oleh Stevan, lalu menggiringnya keluar kamar.
Sesampainya di kamar Langit, Dara mendudukkan dirinya di atas ranjang. Di dalam kamar itu, sudah ada Anita yang tengah merapikan penampilan Langit, juga Gervan yang hanya duduk diam di kursi belajar.
“Anak papa kelihatan tambah ganteng,” puji Stevan, mengarahkan kedua jempolnya ke arah Gervan dan Langit bergantian.
Langit mengangguk, bocah itu menyugar sambil tersenyum jemawa.
“Iyalah. Elang, kan emang udah ganteng dali lahil.”
Anita yang berjongkok di hadapan anak itu tertawa pelan. “Siapa sih yang ngajarin kamu sombong begini?”
“Papa dong!” jawab Langit semangat, membuat wajah Stevan terlihat masam seketika. “Papa, kado buat Elang mana?” tanyanya, sambil mengarahkan tangannya ke depan Stevan.
Stevan berjongkok di depan Langit, lalu mengelus kepala anak itu sayang. “Elang mau kado apa dari Papa, hm?”
Langit tak menjawab, ia meletakkan jari telunjuknya di dagu, lalu mengetuknya pelan.
“Oh iya, Elang pengin Hp kamela tiga.”
“Lah, buat apa? Masih kecil juga mau minta HP.” Stevan mencubit hidung Langit gemas.
__ADS_1
“Bial kelen, Papa.”
Stevan tertawa, ada-ada saja tingkah anaknya ini.
“Ya sudah, nanti Papa belikan.”
“Telima kasih, Papa baik,” ucap Langit, lalu mencium pipi Stevan.
“Kalau Mama baik, nggak?”
Langit mengalihkan perhatiannya pada Dara. Tidak, matanya bukan berfokus pada Dara, melainkan anak yang duduk di samping wanita itu.
“Mama yang telbaik. Eh, Bang Van kapan pindah ke samping Mama?” tanya anak itu, dengan dahi berkerut.
“Tadi.”
“Kok, Elang nggak lihat?”
“Abang, kan punya jurus, jadi bisa langsung, wus ... gitu,” jawab Gervan, sambil memperagakan gerakan tangan secepat kilat.
Langit makin mengerutkan dahinya, tak paham.
“Sudah-sudah, lebih baik kita ke belakang sekarang. Acaranya bentar lagi mau mulai,” ajak Anita.
Langit mengangguk, anak itu menatap Stevan, lalu merentangkan tangannya lebar. “Gendong Elang ya, Pa?”
Stevan mengangguk, dengan mudahnya pria itu mengangkat tubuh Langit ke dalam gendongannya. Matanya menatap ke arah Dara, saat menyadari tak ada pergerakan dari wanita itu.
“Ayo, Dara.”
“Duluan aja.”
Stevan mengangguk, kakinya kembali melangkah keluar kamar. Seperginya Stevan, pandangan Gervan berfokus pada Dara.
“Mama kenapa?” tanyanya, sambil menggenggam kedua tangan Dara.
“Mama nggak papa, Sayang. Boleh Mama minta sesuatu sama Gervan?”
Gervan mengangguk. “Mama mau apa?”
“Nanti kamu jangan jauh-jauh dari Mama, Papa, atau anggota keluarga kita, ya?”
Alis Gervan mengerut, lalu menatap sang mama tak paham. “Memangnya kenapa, Ma?”
Dara menghela napas pelan. “Mama cuma merasa ... akan ada hal buruk yang terjadi sama kamu nanti, Van.”
Gervan makin dibuat tak paham, tetapi ia tetap mengangguk. “Iya, Mama.”
“Ya sudah, sekarang kita susul mereka. Nanti Elang ngambek kalau kita lama datangnya.”
Gervan mengangguk, keduanya turun dari ranjang, lalu melangkah keluar kamar.
To be continued ....
__ADS_1