Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 44


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Stevan menautkan tangannya di atas paha. Pria bersetelan baju polo juga celana santai pendek selutut itu menatap keempat orang di depannya dengan pandangan serius.


“Jadi, apa tujuan kamu menyuruh kami berkumpul di sini, Ste?”


Suara maskulin milik Arya itu membuka awal pembicaraan mereka. Dua puluh menit yang lalu, Stevan menghubunginya agar berkumpul di kediaman keluarga Vano untuk membicarakan sesuatu—yang dia sendiri belum tahu perihal apa.


Vano yang sejak tadi ikut dibuat penasaran pun mengangguk. “Iya, sebenarnya ada apa?”


Stevan menatap keempat orang di hadapannya secara bergantian. “Jadi, besok Dara ulang tahun,” katanya lalu menyandarkan tubuhnya.


“Iya, terus?” tanya Anita, wanita itu masih belum juga paham dengan apa yang dimaksud oleh anak semata wayangnya ini.


“Jadi, Stevan pengin buat kejutan untuk Dara. Dan Stevan perlu bantuan Ayah, Bunda, Papa, dan Mama untuk menyiapkan acara ini. Nanti Stevan bakalan ajak Dara, juga anak-anak untuk piknik di taman,” jelas Stevan. Dia menarik napas panjang. “Stevan pengin menghibur Dara. Stevan tahu, selama ini Dara menyembunyikan kesedihannya di depan kita semua,” lanjutnya sambil menunduk.


Arya dan Shira saling pandang, sebelum Shira terlebih dahulu mengalihkan tatapannya pada Stevan yang masih setia menunduk.


“Dara, perempuan itu tidak setegar dan sekuat yang dia perlihatkan. Sejak kecil, Dara jarang sekali mengekspresikan perasaan sesungguhnya kepada kami. Dara selalu berusaha terlihat bahagia, dia selalu tersenyum seolah-olah semuanya baik-baik saja, padahal dalam hatinya tertancap begitu banyak duri tajam,” kata Shira.


Wanita itu terdiam sejenak. Pikirannya menerawang kala di mana Dara masih duduk di sekolah dasar. Saat itu, ibu Shira meninggal dunia.


Flashback on.


“Mama!”


Panggilan dari sang anak bungsu itu membuat Shira yang semula tengah sibuk membaca majalah menoleh—menatap Dara yang tampak menggemaskan dengan seragam merah putihnya, juga kedua ikatan rambut di sisi kepala kanan dan kirinya.


Dia menatap sang anak sambil tersenyum.


“Iya, kenapa, Sayang?”


“Nenek di mana?” tanya Dara sambil menggenggam kedua tali tasnya.


“Nenek di kamar, Sayang.”

__ADS_1


“Kalau begitu, Dara mau ke tempat Nenek dulu. Dadah, Mama,” ucap Dara. Anak gadis berumur sembilan tahun itu melangkah dengan riang menuju kamar sang nenek dengan senyuman di bibirnya.


Shira hanya mampu tersenyum kecil sambil menggeleng. Wanita itu sudah maklum dengan kelakuan anaknya yang memang dekat dengan dengan sang nenek.


“Mama!”


Teriakan menggema Dara yang berasal dari kamar Santi—mama Shira—itu membuat Shira terkesiap. Wanita itu meletakkan majalahnya di atas meja lalu melangkah terburu-buru menghampiri kamar mamanya.


“Kenapa, Dar?” tanya Shira, setelah mencapai ambang pintu. Dia kembali melangkah menghampiri Dara yang tengah mengguncang tubuh Santi.


“Nenek kenapa nggak bangun, Ma?” tanya Dara dengan polos. “Dari tadi Dara udah bangunin Nenek, tapi Nenek tetap nggak mau bangun, Ma,” lanjutnya.


Dengan keadaan tremor, Shira mendudukkan diri di sisi ranjang sang mama. Dia memegang pergelangan tangan Santi lalu menempelkan jarinya di depan hidung sang mama. Jantung wanita itu berdetak cepat, dia memandang Dara dengan tetesan air mata yang mulai meluncur bebas di pipinya.


“Innalilahi wa innalillahi rojiun. Nenek sudah pergi, Dar,” ucap Shira lemah.


Dara menggeleng tak percaya, dia menatap ke arah tubuh sang nenek yang sudah terbaring kaku. Detik berikutnya, bibir anak itu membentuk sebuah senyuman tipis.


“Nenek capek, ya? Nenek boleh kok istirahat. Dara ikhlasin Nenek pergi, tapi Nenek harus janji sama Dara, kalau Nenek bakalan bahagia di sana,” kata Dara. Dia mengecup punggung tangan sang nenek yang sudah terasa dingin. “Selamat tinggal Nenek, assalamualaikum,” lanjutnya. Dara segera turun dari ranjang lalu berlari menuju kamarnya.


“Dara sayang,” panggilnya sambil membuka pintu kamar Dara.


Namun, wanita itu bergeming di ambang pintu. Di atas ranjang, terdapat Dara yang tengah menangis. Di genggaman anak itu, terdapat sebuah pigura—yang Shira yakini adalah foto Santi. Melihat Dara yang sudah sedikit tenang, Shira melanjutkan langkahnya.


“Dara,” panggilnya lembut.


“Eh, Mama,” sahut Dara, dia sesegera mungkin menghapus air matanya lalu menatap sang mama dengan senyum lebar. “Mama manggil Dara?”


Shira tak menjawab, dia mendudukkan diri di sisi ranjang Dara, kemudian menarik tubuh anak itu ke dalan dekapannya.


“Kalau Dara mau nangis, nangis aja. Mama ada di sini buat Dara.”


Namun, bukan tangisan yang Shira dengar. Wanita itu merasakan gelengan yang berasal dari Dara.


“Kata Nenek, Dara nggak boleh nangis. Dara harus jadi wanita kuat, seperti Mama,” ucap Dara, tersenyum tipis.


Flashback off.

__ADS_1


“Shira!” Panggilan dari Arya itu membuat Shira terkejut. Dia menatap linglung ke arah ketiga orang yang duduk di sekitarnya.


“Iya, kenapa?” tanyanya, setelah sadar akan terkejutannya.


“Kamu kenapa ngelamun?” tanya Anita, menggenggam sebelah tangan sang besan yang terletak di atas paha.


Shira menggeleng, detik berikutnya dia tersenyum canggung. Tak menyangka, ternyata sedari tadi dia melamun—mengingat kejadian yang sudah terlampau lama itu.


“Oh iya, sudah sampai mana pembahasan kita mengenai kejutan ulang tahun Dara?” tanya Shira, mengalihkan pembicaraan sambil berusaha mencairkan suasana yang terasa awkward.


“Jadi, nanti kalau Stevan sudah berangkat sama Dara dan juga anak-anak buat piknik Stevan bakalan kabarin Bunda,” ucap Stevan, sedikit membungkuk sambil menatap sang bunda.


Anita mengangguk. “Baiklah, Bunda ikut yang mana yang terbaik saja.”


“Ya sudah, Stevan mau pulang dulu. Kasihan Dara sama anak-anak kalau ditinggal kelamaan,” putus Stevan. Pria itu beranjak dari duduknya, mencium punggung tangan kedua orang tua, juga mertuanya, lantas melangkah keluar rumah.


🌾🌾🌾


Stevan memperlambat laju mobilnya setelah tiba di pekarangan rumah, dia menghentikannya tepat di garasi. Pria itu turun dari mobil sambil membawa tentengan plastik berlogo mini market yang berisi beberapa bungkus es krim—sebagai bentuk permintaan maaf sebab meninggalkan terlalu lama.


Dan benar, baru saja sebelah kakinya memasuki rumah, dia sudah disambut dengan tatapan kesal oleh anak bungsunya. Di depannya, berdiri Langit yang tengah berkacak pinggang sambil menatapnya.


“Papa ke mana aja? Elang udah nunggu lama, Elang, kan udah nggak sabal mau makan es klim,” katanya. Bocah kecil itu segera merampas plastik yang dipegang oleh Stevan, kemudian melangkah menghampiri Dara dan Gervan yang tengah duduk anteng di sofa sambil menonton televisi.


Stevan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Dia pun ikut menghampiri ketiga orang di sofa, lantas mendudukkan diri di sebelah Dara.


“Tumben lama, mampir ke mana?” tanya Dara.


“Tadi mampir ke tempat Bunda dulu, Sayang,” sahut Stevan, dia menyandarkan kepalanya di pundak sang istri. Namun, sekali lagi, ada saja yang menggagalkan niatnya.


Langit, anak itu segera turun dari duduknya, dia menghampiri Stevan dan Dara dengan wajah garang.


“Hush, hush, Papa nggak boleh dekat-dekat sama Mama. Elang masih malah sama Papa,” ucapnya, dia segera mengambil duduk di antara kedua orang tuanya.


Sementara Stevan, dia hanya mampu menggeleng miris. Lagi dan lagi, dia kalah telak dengan sang anak.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2