Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 45


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Beberapa menit berlalu, tak jua ada seorang pun yang membuka suara, yang ada hanyalah suara televisi yang menyala, satu-satunya suara yang menjadikan suasana di ruangan ini terasa lebih hidup.


“Kenapa pada diam?” tanya Stevan, matanya melirik ke arah Dara, Langit, dan Gervan bergantian.


“Gervan lagi nonton TV, Pa,” sahut Gervan seadanya. Anak itu tampak fokus pada tontonan di depannya, dengan tangan yang sesekali memasukkan kue nastar ke dalam mulutnya.


“Elang lagi makan es klim,” sahut Langit, ia terlihat sangat menikmati es krim di tangannya—melupakan sejumlah kekesalan yang tadi sempat melanda dirinya.


Stevan mengalihkan pandangannya, menatap Dara yang duduk di sampingnya.


“Kalau kamu?”


“Nggak apa-apa.”


Stevan menarik napas panjang, ia meraih jus jeruk yang masih terlihat penuh di atas meja lalu meminumnya hingga tersisa setengah.


“Besokkan libur,” ucap Stevan, yang langsung mengundang tatapan tak mengerti dari ketiga anggota keluarganya.


“Ya terus?” tanya Dara bingung.


“Gimana kalau ....” Stevan sengaja menghentikan kalimatnya, mata pria itu mengamati raut wajah anak dan istrinya, menunggu perubahan ekspresi mereka. Namun, tatkala melihat tak adanya perubahan, ia menghela napas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya. “Besok kita piknik, gimana?” tawarnya, kemudian.


Langit yang semula tampak tak berminat dan memilih sibuk menjilati es krimnya itu pun segera menoleh, menatap sang papa dengan mata berbinar bahagia.


“Selius, Pa?”


Stevan mengangguk.


“Iya, sekarang kita jarang jalan-jalan, ‘kan? Makanya Papa mau ngajak kalian refreshing.”

__ADS_1


Seketika senyum lebar mengembang di bibir ketiga orang yang berada di hadapan Stevan. Binar bahagia, juga wajah berseri-seri mereka membuat Stevan ikut merasakan bahagia. Bagi Stevan, tak ada yang lebih membahagiakan, selain melihat orang-orang yang dia sayang bahagia. Sebab baginya, tugas kepala keluarga adalah membuat orang-orang yang berada di bawah namanya bahagia.


“Jam berapa kita berangkat, terus lokasinya di mana?” tanya Dara, ia menatap penasaran ke arah Stevan setelah duduk menghadap pada pria itu.


“Kita berangkat jam delapan pagi,” kata Stevan, “untuk lokasinya, rahasia.”


Terdengar suara decakan pelan dari mulut Langit.


“Papa, ah. Nggak selu, mainnya lahasiaan.”


“Biarin,” sahut Stevan dengan nada mengejek.


Stevan yang melihat Langit beranjak dari duduknya, memilih segera melarikan diri menuju ke kamarnya, sebelum pukulan maut anak itu menghantam tubuhnya. Sungguh, pukulan anak itu tak main-main rasanya.


...🌾🌾🌾...


Sesuai rencana tadi malam, kini Stevan, Dara, Langit, dan juga Gervan tengah bersiap. Ke empat orang itu tampak sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dara yang tengah sibuk menyiapkan makanan yang akan mereka bawa untuk piknik. Sedangkan Stevan, Langit, dan Gervan yang entah tengah sibuk dengan apa di kamar masing-masing.


Dara yang sedang memasukkan makanan ke dalam keranjang itu menoleh, ia menatap sang anak yang tengah menghampirinya dengan bibir cemberut.


“Loh, topi Elang, kan ada di lemari,” sahutnya, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya.


“Nggak ada lho, Ma. Elang udah putel-putel cali, tetap nggak ketemu,” bantah Langit, bibir anak itu terlihat makin mengerucut.


Dara menghela napas pelan, selalu saja begini. Menjadi satu-satunya perempuan di dalam rumah tidaklah mudah. Ada-ada saja hal yang membuatnya pusing, ada saja salah satu anggota keluarga yang mencari barangnya masing-masing, tetapi tak juga menemukannya, padahal mereka sendiri yang menyimpannya.


“Sebentar, Mama selesaikan ini dulu. Nanti Mama cariin,” ucap Dara pasrah.


“Sayang, sepatu aku ke mana sebelahnya?!” tanya Stevan dengan nada sedikit keras. Pria itu tengah berada di kamarnya.


Lagi, ya, Dara harus menyiapkan stok kesabaran yang tak terbatas. Seseorang, tolong beritahu Dara di mana lokasi toko yang menjual kesabaran.


“Coba cari di rak sepatu, dekat pintu, Ste,” sahut Dara, tanpa menatap sang lawan bicara. Untuk saja, Gervan tak merepotkan seperti Langit dan Stevan. Namun, sepertinya dewi keberuntungan sedang tidak berpihak pada Dara kali ini.

__ADS_1


“Mama, kaus kaki Gervan ditaruh mana?”


Lagi dan lagi, Dara mengelus dadanya sabar. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri di dasar samudra Hindia—setop! Ini hanyalah angan semata yang tak akan pernah Dara realisasikan.


Dara menutup keranjang makanan, lantas membawanya ke ruang keluarga. Ini saatnya dia untuk menghadapi para perusuh—yang tak hentinya membuat gaduh rumah dan juga isi kepala Dara.


...🌾🌾🌾...


“Mama udah dong, jangan cemberut terus.” Stevan tak hentinya bersuara. Sudah sejak masuk ke dalam mobil tadi, dia terus berusaha membujuk sang istri yang tengah dilanda kekesalan—yang mungkin sudah di ambang batas.


Gervan mengangguk setuju. “Iya, Ma. Nanti cantiknya hilang, lho.”


“Mama jangan malah-malah, Elang lebih suka lihat Mama senyum, soalnya senyum Mama mengalahkan lasa manis pelmen cokelat ini,” ucap Langit sambil menyodorkan sebungkus permen cokelat kesukaannya kepada sang mama.


Apa pun akan Langit lakukan untuk membuat sang mama bahagia, sekalipun memberikan permen cokelat kesukaannya—yang tak rela dia beri pada siapa pun. Sungguh, permen cokelat seolah sudah menjadi bagian dari hidup seorang Aludra Langit Hesperos.


Mau tak mau, Dara akhirnya memilih mengalahkan egonya. Dara berbalik, menatap Langit yang duduk di kursi belakang sambil tersenyum. Dara tak bisa lama-lama bermarahan dengan anak-anaknya, apalagi kepada sang suami yang tengah mengemudikan mobil sambil melirik kecil ke arahnya.


Tetap tersenyum bahagia, Dara. Aku bahagia jika melihatku bahagia. Jangan ada lagi air mata kesedihan yang menghiasi wajahmu. Cukup sudah, aku ingin kau tak lagi bersedih. Di hari lahirmu ini, aku berharap kesedihanmu lekas usai. Maafkan suamimu yang tak berguna ini.


Stevan terus membatin, sambil menikmati senyum tylus yang terlukis di wajah sang istri. Stevan berharap, dia dapat terus menikmati senyum bahagia wanita yang ia sayang, sampai dia menutup mata nantinya.


“Terima kasih, Sayang,” kata Dara, mengelus kepala Langit lembut. “Mama udah nggak marah, kok,” lanjutnya lalu mengubah posisi duduknya seperti semula.


Senyum ceria tercetak jelas di bibir Stevan, Langit, dan juga Gervan. Langit, bocah itu merasa tak sia-sia memberikan permen cokelat kesayangannya kepada sang mama.


Dara kembali menoleh. “Tapi kalau sampai kalian ngulangin lagi ....” Dara menghentikan sejenak ucapannya. Dia menatap ketiga orang yang ia sayang secara bergantian. “... Mama bakalan pergi dari rumah,” ancamnya.


Seketika mata ketiga laki-laki itu melotot kaget.


“Jangan!” seru mereka serempak.


Setelah itu, suasana mobil hanya diisi oleh celotehan Langit, sesekali anak itu bernyanyi lagu yang ia hapal dengan nada riang.

__ADS_1


__ADS_2