
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
Stevan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang terlihat mewah walau lebih kecil dari rumah orang tuanya. Dia turun dari mobil lalu melangkah menuju bagasi, mengambil kedua koper miliknya dan juga istrinya.
Stevan melangkahkan kakinya mendekati istrinya yang masih berdiri di depan mobil dengan mata yang menelisik ke segala halaman rumah yang dia dapat ditangkap oleh retina matanya.
“Gimana?” tanya Stevan yang sudah berdiri di samping Dara sambil menarik turunkan alisnya.
Dara mengangguk sambil mengangkat kedua ibu jarinya menghadap Stevan.
“Bagus, aku suka.”
Dara dibuat takjub dengan pemandangan yang ada di depan rumah yang akan dia tempati. Pepohonan juga tampak sengaja ditanam di sini, membuat rumah ini terkesan hidup dan indah di mata Dara.
Stevan tersenyum, dia mengacak rambut istrinya sayang. Syukurlah, pilihannya tak mengecewakan sang istri. Dia bahagia jika melihat istrinya bahagia. Tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang-orang di sekitarnya bahagia.
Stevan mengulurkan sebuah kunci rumah kepada Dara yang dia ambil dari saku celananya. Sementara Dara melihat dirinya dengan tatapan bingung.
Stevan tertawa.
“Ini, kamu aja yang buka!”
Dara mengangguk, mengambil kunci dari tangan Stevan. Dia berjalan antusias di depan pintu. Tangannya mulai mengarahkan anak kunci lalu memutarnya. Dara menoleh ke belakang saat menyadari bahwa Stevan belum di samping. Dia menatap Stevan yang masih berdiri di tempat dengan mata yang memandang ke arahnya.
“Ste, ayo!”
Stevan mengangguk, dia mulai menarik kedua koper yang ada di tangannya, menghampiri Dara yang sudah menunggunya.
Dara mulai melangkah pelan memasuki rumah. Sungguh, perempuan itu kembali dibuat takjub oleh tataan rumah yang terlihat estetis. Dia yakin, pasti bukan sembarang arsitek yang menata rumahnya ini.
Perlahan tetapi pasti, Dara mulai menyusuri rumah barunya, jangan lupakan tangannya yang sudah sibuk menyentuh apa saja yang ingin dia sentuh di rumah berlantai dua ini.
“Rumah ini memiliki lima kamar. Satu kamar utama buat kita, dua kamar tamu, dan dua kamar lagi buat anak kita nanti,” jelas Stevan sambil memegang kedua pundak Dara.
Dara menunduk, sungguh saat ini pipinya terasa memanas saat mendengar kata anak dari Stevan. Entah kenapa, dia merasa malu saat ini. Tolong siapapun, berikan keresek kepada Dara.
Stevan meraih dagu Dara agar menatapnya.
“Hey, kenapa nunduk?”
__ADS_1
“Malu, Ste!”
Seketika jawaban dari Dara membuat Stevan tertawa terbahak-bahak. Dia tak menyangka hanya membahas anak saja mampu membuat pipi Dara merah merona. Tak dapat dibohongi, Dara terlihat imut dengan pipi seperti itu.
Plak!
Sebuah tamparan pelan mendarat di lengan Stevan, siapa lagi pelakunya kalau bukan Dara. Dara cemberut, dia menatap Stevan kesal, lalu melangkah meninggalkannya.
Dara menghentikan langkahnya di halaman samping rumahnya. Hm, masih banyak lahan yang kosong. Dara mulai menggerakkan tangannya, seperti mengukur tanah lapang yang ada di hadapannya. Iya berniat menanam bunga di tanah kosong itu. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
“Lagi ngapain kamu?” tanya Stevan sambil menumpukan dagunya di atas pundak Dara.
“Aku mau nanam bunga mawar putih di sana,” balas Dara sambil mengarahkan hari telunjuknya ke arah tanah kosong.
Stevan mengangguk.
“Boleh deh, nanti aku bantuin. Sekarang masuk dulu, panas di sini!”
Stevan menggenggam tangan Dara, membawanya masuk ke dalam rumah. Stevan membawa Dara menuju kamar yang akan mereka tempati. Di sana sudah terletak barang-barang mereka yang sudah disusun oleh orang suruhan Stevan.
“Gimana?”
“Bagus, warnanya juga netral, aku suka.”
Dara mengedarkan pandangannya. Kamar dengan cat berwarna cokelat muda itu terlihat indah di matanya.
...🌾🌾🌾...
Dara melangkah di antara rak dengan mata yang sesekali melirik ke arah barang yang disusun rapi di rak yang ada di mini market, mengambilnya lalu meletakkan ke dalam troli yang didorong oleh Stevan di belakangnya.
“Oh iya, kamu samponya pakai yang mana?” tanya Dara saat mereka berdiri di depan rak perlengkapan mandi.
“Aku pakai yang itu,” balas Stevan sambil menunjuk jejeran sampo yang biasa dia pakai.
Dara mengangguk, dia mengambil botol sampo yang ditunjuk oleh Stevan lalu mengambil botol sampo beraroma lemon, memasukkannya ke dalam troli. Sungguh, Dara pencinta apa saja yang berhubungan dengan lemon. Kecuali, jika disuruh memakan buahnya.
Stevan kembali mendorong troli, mengikuti setiap langkah Dara. Beginilah, jika menemani perempuan belanja, lama milihnya. Namun, apa boleh buat, Stevan hanya ingin menemani istrinya berbelanja, sebagai bentuk rasa cintanya.
“Dar, nanti mampir ke kafe dulu ya?”
Dara mengangguk tanpa melihat ke arah Stevan. Dia kembali menyusuri rak lalu berhenti sejenak memikirkan apa yang akan dia buat untuk mengisi waktu luangnya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan ide, Dara mengambil segala kebutuhan membuat kue. Rencananya, nanti dia ingin membuat kue brownis coklat, kesukaannya.
“Kamu mau buat apa?”
Dara menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Stevan.
“Aku mau buat brownis.”
“Udah semua?”
Dara mengangguk, keduanya kini berjalan menuju kasir, membayar belanjaan mereka.
“Jadi ke kafe?” tanya Dara sambil membantu Stevan memasukkan belanjaan mereka ke dalam bagasi mobil Stevan.
“Iya, mau ngecek pemasukan bulan ini,” sahut Stevan, tangannya bergerak menutup bagasi mobilnya.
Dara mengangguk, dia lalu masuk ke dalam mobil. Stevan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka telah tiba di kafe milik Stevan.
Kafe dengan nama Ste'Ra itu telah dia bangun sejak dua tahun lalu. Di mana, saat itu dia masih berkuliah memasuki semester empat. Kalian tahu, Ste'Ra itu singkatan dari apa? Ste'Ra itu mempunyai dua singkatan.
Ste'Ra pertama, memiliki singkatan Stevan Ranendra. Dan Ste'Ra kedua, memiliki singkatan, kamu pasti tahu, 'kan? Iya Ste'Ra kedua memiliki singkatan Stevan dan Dara.
Stevan memarkirkan mobilnya di parkiran kafe yang tersedia di halaman depan kafe. Dia turun, memutari mobil lalu membukakan pintu bagian samping, mempersilahkan istrinya untuk keluar.
Stevan menggenggam tangan Dara erat, satu tangannya ia gunakan untuk merangkul Dara.
Kring.
Suara dari lonceng yang berada di pintu berbunyi saat pintu sengaja di buka. Semua mata pengunjung kafe tertuju pada dua orang yang baru saja memasuki kafe.
“Yo, bos pengantin baru mampir ke sini!” celetuk Zidan, salah satu pegawai juga teman dekat Stevan.
Stevan tertawa pelan.
“Iya nih, Dan. Tolong bawain laporan pemasukan bulan ini ke ruangan gue, ya. Sama bawa nasi goreng seafood dua porsi, secangkir lemon tea, sama segelas air putih.”
Zidan mengangguk, dia berbalik mengambil apa saja yang diperintahkan oleh bosnya itu.
“Ayo, kita ke ruangan aku,” ajak Stevan, menggiring Dara menuju ruangan pribadi.
To be continued ....
__ADS_1