
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
Suasana dapur saat ini tak dapat dikatakan baik. Tepung-tepung bertebaran di atas meja hingga ke lantai. Bahkan, tak dapat dielak, orang yang membuat kekacauan pun ikut terlihat seperti badut tanpa riasan yang benar.
Dara menghela napas pelan, dia menatap sang pembuat kekacauan dengan tatapan memelasnya.
“Ste!” panggil Dara.
Pria yang dipanggil itu menoleh. Stevan menatap Dara sambil menampilkan cengirannya, hingga matanya nyaris tak terlihat. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Eh, maaf, Yang. Aku cuma mau bantu, tapi ya jadinya kayak gini,” ucap Stevan dengan nada bersalah.
Dara kembali menghela napas, mencoba mengumpulkan kesabaran yang besar. Dia melangkah mendekati Stevan lalu menarik tangannya, menyingkirkan pria itu dari ruangan favoritnya.
Sungguh, Dara tak menyangka baru ditinggal sebentar saja sudah sekacau ini. Apalagi jika ditinggal seharian, mungkin dapur ini hanya tersisa puing-puing saja.
Dengan perlahan, Dara mulai membersihkan kekacauan yang dibuat oleh suaminya itu. Sementara Stevan, dia masih menunduk, bak anak kecil yang takut kena amukan.
“Maaf, Yang,” ucapnya sekali lagi sebelum memutuskan untuk membersihkan diri.
Sungguh, Stevan tak berniat membuat Dara lelah. Dia hanya ingin membantu membuat kue brownis yang sempat Dara ajarkan kepadanya. Namun, apa jadinya sekarang? Bahkan, bukan kue yang tersaji melainkan kehancuran dapur yang tak sengaja dibuat oleh ulahnya.
Dara tak menghiraukan ucapan Stevan. Dia lebih memilih membereskan semua ini. Cukup lama waktu yang dia gunakan, dikarenakan tepung-tepung itu menempel karena tercampur oleh air.
Usai membersihkan ini semua. Dara mulai berkutat dengan niatnya. Dia mulai membuat kue brownis kesukaan suaminya.
Sedang sibuk menuangkan adonan ke dalam loyang, sepasang tangan melingkar di pinggangnya, juga kepala yang disandarkan di bahunya. Dara menoleh, dia menatap Stevan yang terlihat lebih segar dari sebelumnya lalu kembali pada kegiatannya.
“Maaf ya, Yang,” ucap Stevan sambil mengecup pipi Dara.
Dara mengangguk.
“Enggak papa, Ste. Kamu, kan niatnya juga baik, mau bantu aku.”
“Tapi, kan tetap aja, Dar. Aku udah bikin kekacauan.”
Dara kembali menoleh, dia menyematkan sebuah kecupan di pipi Stevan.
“Udah nggak apa-apa. Sana kamu duduk, aku mau nyelesaikan ini.”
__ADS_1
Stevan mengangguk, dia melepas tangannya dari pinggang Dara. Stevan mendudukkan dirinya di bangku meja makan dengan perhatian yang tak lepas menatap Dara juga aktivitasnya.
Setelah memasukkan loyang ke dalam oven, Dara ikut mendudukkan diri di samping Stevan.
“Besok kamu mau ke mana, Ste? Kan libur kita masih ada satu hari lagi.”
Stevan menggeleng.
“Belum tahu, nggak ada rencana sih. Paling di rumah sama kamu aja. Lagiankan, pas kita masuk udah harus mengikuti sidang.”
...🌾🌾🌾...
Stevan dan Dara tengah bersiap diri sebelum berangkat kuliah. Setelah libur panjang selama tiga hari, kini keduanya sudah diharuskan kembali kuliah di semester akhir ini seperti hari biasanya.
Dara mendudukkan dirinya di bangku meja makan. Dia meletakkan tumpukan kertas yang dia susun di atas map yang dibawanya di atas meja. Sungguh, tak dirasa, kini keduanya sudah waktunya melaksanakan sidang akhir kelulusan. Untungnya saja, keduanya mendapatkan waktu sidang di hari yang sama.
Stevan ikut mendudukkan diri di samping Dara, tangannya terulur mengusap lembut rambut sang istri.
“Semangat ya, berdoa saja semoga Tuhan melancarkan sidang akhir kita hari ini.”
Dara tersenyum sambil mengangguk.
“Iya, Ste. Semoga saja apa yang di tanya udah kita pelajari sebelumnya, tapi ya, tetap aja dada ini rasanya dag-dig-dug-ser.”
“Ada-ada aja, ayo buruan makan.”
Dara mengangguk, keduanya mulai menikmati sarapan mereka dalam keheningan.
Hingga beberapa menit kemudian, Stevan dan Dara sudah menyelesaikan rutinitas sarapan mereka. Mereka mulai menaiki mobil, Stevan menjalankan mobilnya membelah jalanan kota Malang yang terlihat senggang.
Tak butuh waktu lama, kini Stevan sudah memarkirkan mobilnya di parkiran depan kampusnya. Kedua mulai turun dari mobil.
“Ayo!” ajak Stevan, dia meraih tangan Dara, menggenggamnya lalu keduanya melangkah bersama menghampiri kedua sahabat Dara yang sudah menunggu di kantin kampus.
“Woe, pengantin baru mah beda. Ke mana-mana gandengan, nggak mau lepas!” celetuk Alden sambil tertawa ngakak saat Stevan dan Dara melangkah menghampiri mereka.
Secara refleks, Dara melayangkan tangannya, memukul lengan Alden sedikit keras.
“Berisik lo, jomlo!”
Tiba-tiba Alden memegang dada kirinya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
“Eh, lo kenapa, Den?” tanya Eva yang duduk di samping Alden dengan wajah khawatir.
Alden masih diam, dia tak merespon apa pun. Alden masih betah meremas dada kirinya.
“Den, lo kenapa? Jangan bikin gue khawatirlah!” ujar Dara, dia memegang pundak Alden dengan raut wajah bersalah.
Alden diam, detik berikutnya dia mulai kembali membuka mata, menatap ketiga temannya yang masih memandangnya. Alden menunduk berusaha menahan sesuatu lalu mengangkat kepalanya dengan wajah yang sudah memerah. Hingga detik berikutnya dia sudah tak bisa lagi menahannya, Alden mulai tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.
“Wajah lo pada ....” Alden menjeda ucapnya, dia kembali menatap wajah ketiga temannya secara bergantian “... lucu!” Dia kembali tertawa ketiga temannya mendengus kesal.
“Gue kirain lo kenapa, megang dada kiri lo segala!” celetuk Eva, menatap kesal ke arah Alden yang masih berusaha meredam tawanya.
“Oh, ini?" Alden menunjuk dada kirinya. “Jantung gue sakit, Va. Omongan Dara nyelekit banget ngatain gue jomblo mentang-mentang dia udah married.”
Dara kembali melayangkan pukulan di lengan Alden, kali ini terasa lebih menyakitkan, membuat Alden meringis sambil menatap Stevan.
Pria itu menatap Stevan yang seolah memberikan isyarat untuk menghentikan aksi brutal Dara. Stevan menghela napas kemudian meraih tangan Dara, menggenggamnya.
“Udah, kasihan Aldennya,” ucap Stevan lembut lalu mendudukkan Dara di kursi. Dara hanya mengangguk, entah kenapa jika dengan Stevan ia selalu menurut apa yang dikatakan oleh pria itu.
“Minum apa?” tanya Stevan, masih berdiri di samping Dara.
“Air putih aja.” Stevan mengangguk, dia melangkah meninggalkan ketiganya untuk membeli air mineral untuk sang istri.
“Yang udah ada pawangnya mah beda!” Setelah beberapa menit terdiam, kini Alden mulai kembali merusuh.
Dara menoleh, dia menatap tajam Alden.
“Coba dah diam. Enggak penting nggak usah dibahas, bacot lo, Den!”
“Lo pas udah nikah makin galak ya, Dar.” Eva yang sedari tadi diam kini mulai bersuara.
“Enggak galak nggak cantik!” sambar Dara, entah dapat pemikiran dari mana.
Alden menepuk pelan lengan Dara.
“Heh, sembarangan. Dapat teori dari mana kayak gitu, harusnya tuh yang bener, cewek itu harus kalem!”
“Jadi cewek juga jangan terlalu kalem, yang ada disakitin mulu sama cowok,” balas Dara.
Eva mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Dara.
__ADS_1
“Cakep, gue setuju nih!” Kedua wanita itu mulai melakukan tos sambil tersenyum mengejek ke arah Alden yang mendengus kesal.
To be continued ....