
Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉
Happy Reading All🌾
Stevan keluar dan membanting pintu mobilnya kasar. Dia baru saja tiba di rumahnya beberapa detik lalu. Menghela napas pelan, pria itu pun bergegas memasuki rumah.
“Yah!” panggil Stevan saat melihat kedua orang tuanya tengah duduk di sofa ruang keluarga.
“Ada apa, Ste?”
“Ste udah mutusin buat nerima perjodohan yang Ayah inginkan.”
Sebuah senyum bahagia terbit di bibir sepasang suami-istri itu. Wajah mereka tampak berseri-seri.
“Akhirnya kamu mau nerima perjodohan ini, Ste. Ayah senang sekali mendengarnya.”
“Lho, bukannya kemarin kamu bilang nggak mau dijodohkan? Bukannya kamu bilang kalo kamu udah punya pacar?” tanya Anita, matanya memandang penasaran ke arah wajah Stevan yang tampak kusut.
“Ste udah putus sama pacar Ste, Bun. Pacar Ste mau dijodohin sama papanya. Dia nggak bisa nolak, soalnya dia bilang nolak keinginan papanya itu nggak mudah. Makanya dia lebih milih nerima perjodohan itu dan mutusin buat ninggalin Ste,” ungkap Stevan dengan wajah yang terlihat makin tak keruan.
“Yang sabar, ya, Sayang. Kebahagian pasti sedang menunggumu di masa yang akan datang. Mungkin, saat ini kisah asmara kamu sedang diuji,” tutur Anita tersenyum tulus ke arah putra semata wayangnya.
“Enggak semudah itu, Bunda. Ste sayang banget sama dia, Ste udah pacaran sama dia selama hampir enam tahun lamanya, Bunda. Bayangkan dari kelas dua SMA sampai sekarang, bahkan Ste udah mau lulus kuliah. Dulu, Ste punya niatan sehabis lulus kuliah Ste mau ngelamar dia, tapi apa? Kenyataannya dia udah dijodohin sama papanya.”
“Sudah-sudah, kamu sebagai laki-laki harus kuat dong, jangan nangis kayak perempuan. Lebih baik sekarang kamu istirahat, karena nanti malam kita akan makan malam dengan keluarga calon istri kamu,” ucap Vano.
“Iya, Yah. Ste ke kamar dulu, Bunda.” Stevan bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
“Kasihan Ste, Yah. Mukanya kusut banget. Pasti Ste kecewa banget,” ucap Anita saat tubuh Stevan sudah tak terlihat dari pandangannya.
“Bunda tenang saja, kalau nanti sudah bertemu, pasti dia juga yang senang,” sahut Vano meyakinkan istrinya.
...🌾🌾🌾...
Stevan membuang tasnya ke sembarang arah lalu membanting tubuhnya di atas ranjang. Tangannya bergerrak mengacak rambutnya frustasi. Jujur saja, Stevan tak rela jika nantinya Daranya ... ah ralat, sekarang Dara bukan lagi miliknya. Dia tak rela jika nanti Dara menikah dengan pria lain dan tidak akan pernah rela.
Jika Stevan pikir-pikir, menendang meja prasmanan saat pernikahan Dara mungkin akan menyenangkan, mengungkapkan kekesalan yang dia rasakan saat Dara bertukar cincin dengan suaminya saat gadis itu menikah nanti. Nanti akan hadir sebuah film, seseorang terkena azab karena menendang meja prasmanan saat mendatangi undangan pernikahan milik sang mantan.
__ADS_1
Namun, Stevan hanya bisa berangan-angan saja. Mana mungkin dia tega menghancurkan pesta pernikahan Dara, akan tetapi Stevan tak rela Dara menikah dengan pria selain dirinya.
Stevan menatap kosong langit-langit kamarnya. Padahal, dulu dia sudah bermimpi, jika nanti dia menikah dengan Dara pasti hidupnya akan semakin bahagia. Stevan bisa melihat wajah cantik Dara setiap bangun dan tidurnya, merecoki Dara saat sedang memasak, mencarikan apa saja yang diinginkan saat Dara sedang mengandung buah hati mereka, mengasuh bayi mereka bersama-sama, lalu berjalan-jalan keliling dunia bersama keluarga kecil mereka.
Namun, lagi dan lagi itu semua hanya ekspetasi semata. Entah bisa atau tidak dia wujudkan bersama Dara. Memikirkan itu semua membuatnya pusing, lebih baik sekarang Stevan istirahat lalu nanti malam akan makan malam bersama keluarga calon istrinya.
...🌾🌾🌾...
Dara tengah merias dirinya di depan cermin. Untuk makan malam hari ini, Dara memilih menggunakan dress selutut berwarna cream dengan rambut yang sengaja dia gerai. Untuk mekapnya, Dara hanya menggunakan mekap tipis. Lagi pula, ini hanya makan malam, pikirnya.
Setelah dirasa cukup, Dara meraih sling bag-nya yang dia letakkan di atas meja rias lalu melangkah keluar kamar. Di ruang utama, sudah ada keluarganya yang menunggu dirinya.
“Kamu cantik sekali, Sayang,” puji Shira mengusap rambut Dara lembut.
“Makasih, Ma.”
“Ya sudah, ayo kita berangkat. Nanti keburu telat loh,” ajak Arya.
Mereka berempat memasuki mobil yang akan mereka gunakan menuju restoran dan akan dikendarai oleh Arya sendiri.
Dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di sebuah restoran yang sepi, sebab Arya sengaja mem-booking restoran ini untuk malam ini.
Arya mengangguk.
“Iya, Papa sengaja booking restoran ini. Udah, ayo masuk, tadi Papa udah dapat pesan bahwa keluarga calon suami kamu, mereka udah nunggu di dalam.”
Mereka berempat pun kembali melangkah memasuki ruangan didalam restoran.
“Woi, Van. Lo apa kabar?” tanya Arya kepada temannya dengan bahasa gaulnya, saat mereka sudah duduk satu meja dengan keluarga teman Arya.
“Baik banget, lo juga apa kabar?” sahut teman Arya lalu menjabat tangan Arya.
“Apa kabar Shira?” Sekarang giliran istrinya teman Arya yang bertanya kepada Shira.
“Alhamdulillah baik, kamu juga apa kabar, Nit? Lama kita nggak ketemu,” sahut Shira ramah.
“Alhamdulillah aku juga baik. Ini anak pertama kamu, ‘kan? Siapa namanya aku lupa?” ucap Anita kepada Dira.
__ADS_1
“Dira, Tante,” sahut Dira ramah.
“Udah berapa bulan nih usia kandungannya?”
“Udah lima bulan, Tan.” Anita mengangguk paham.
“Oh iya, anak kamu mana?” tanya Shira.
“Sebentar lagi dia bakal sampai. Dia nggak mau bareng sama kita.” Shira hanya mengangguk paham.
Tak lama kemudian seorang pria datang menghampiri mereka.
“Maaf, Om, Tante, saya telat.”
Suara ini, Dara sepertinya mengenal pemilik suara ini. Bahkan, sangat mengenalnya. Untuk mengobati rasa penasarannya, Dara berhenti menatap ponselnya lantas mendongak dan mendapati Stevan yang sedang berjabat tangan dengan papanya.
“Ste ...,” lirih Dara yang masih bisa didengar oleh Stevan.
Stevan menoleh, mencari asal suara yang mirip sekali dengan suara Dara, yang dia takutkan suara itu hanya halusinasi. Namun, apa yang berada di depannya sekarang adalah real, Dara benar-benar ada di hadapannya.
“Dara?” tanya Stevan tak percaya.
Dara mengangguk pelan.
“Lho, kalian udah saling kenal?” tanya Arya sok tidak tahu.
Dara dan Stevan mengangguk secara bersamaan.
“Udahlah, Ar. Lo nggak usah pura-pura nggak tahu gitu,” sela Vano sambil tertawa.
Stevan menatap orang tuanya dan orang tua Dara secara bergantian.
“Maksudnya apa?” tanya Stevan, memberikan tatapan intimidasi kepada kedua pasangan suami istri itu.
“Jadi, sebenarnya kita udah tahu kalau kalian berdua itu pacaran, dan kita sepakat buat jodohin kalian,” jelas Arya yang membuat Stevan dan Dara speechless.
“Dan ini namanya ... jodoh kejutan,” sambung Vano lalu tertawa bersama Arya.
__ADS_1
To be continued ....