
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Suara hiruk pikuk terdengar menggelegar, memenuhi lingkungan halaman belakang kediaman keluarga Stevan. Banyak suara tawa, juga celotehan anak-anak yang berada di sana. Halaman belakang ini sudah disulap sedemikian rupa, guna memperindah suasana acara kali ini. Di antara tiang-tiang, dipasang balon warna-warni—yang telah dirangkai, yang terlihat cantik bila dipandang.
Di tengah-tengah halaman, berdiri sang pemeran utama—yang menjadi alasan berkumpulnya orang-orang di sini. Langit, anak itu terus menampilkan wajah berseri-seri, juga senyum lebarnya.
“Ayo, nyanyi lagu selamat ulang tahun buat Langit,” ucap Eva, memandu anak-anak agar mengikuti instruksi darinya.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan, Selamat ulang tahun, kita ‘kan doakan. Selamat sejahtera, sehat sentosa. Selamat panjang umur, dan bahagia. Tiup lilinnya, ....”
Para anak-anak tampak bersemangat bernyanyi sambil bertepuk tangan. Mereka terlihat imut dengan topi khas—yang dibagikan saat acara ulang tahun—yang bertengger di kepala mereka.
“Nah, ayo. Sekarang Langit potong kuenya dulu.” Lagi dan lagi, Eva kembali memberi instruksi. “Potongan pertama buat siapa nih?”
Langit menoleh, menatap Eva sebentar, lalu menatap Dara sambil tersenyum lebar.
“Buat Mama yang telbaik.” Tangan kecil itu mulai menyuapkan sesendok kue ke mulut Dara.
“Terima kasih, Sayang.” Dara tersenyum, sambil mengusap kepala anak itu lembut.
Langit mengangguk, langkahnya beringsut ke depan Stevan yang berdiri di sebelah Dara.
“Telus, buat Papa tampan.”
Selanjutnya, Langit menyuapkan kue ke mulut Gervan, Anita, Shira, Arya, dan terakhir Vano. Wajah anak itu terlihat tampak berseri sekali. Selain bahagia karena akhirnya keinginannya terkabulkan, Langit juga senang rumahnya didatangi banyak orang. Sebab, bocah itu memang suka keramaian.
“Mama!” Panggil Gervan.
Panggilan dari Gervan itu membuat Dara yang semula tengah memperhatikan Langit, menjadi menatap Gervan.
“Iya, kenapa Sayang?”
“Gervan mau ke toilet dulu, ya.”
Dara mengangguk. “Iya, jangan lama-lama, ya.”
Gervan mengangguk, anak itu segera turun dari bangku yang didudukinya. Kaki kecilnya perlahan melangkah memasuki rumah, menuju toilet. Tak sampai dua menit, anak itu sudah keluar dari toilet.
Ting ... tong.
__ADS_1
Suara bel rumah yang berbunyi itu membuat Gervan yang semula berniat kembali ke halaman belakang menjadi mengurungkan niatnya. Gervan melangkah menuju pintu utama, berniat membukakan pintu—untuk si tamu yang belum ia ketahui orangnya.
Sementara di halaman belakang, Dara beranjak dari duduknya. Matanya menatap Stevan sebentar.
“Ste, aku ke dalam dulu, ya? Lagi pengin ambil buah apel.”
Stevan menoleh. “Mau aku temani?”
“Nggak usah, aku sebentar aja kok,” ucap Dara, ia mulai melangkah, tetapi terhenti saat suara Langit memanggilnya.
“Mama mau ke mana?”
“Mama mau ke dalam sebentar ya, Sayang,” ucap Dara, menepuk beberapa kali kepala Langit, lalu melanjutkan langkahnya.
Setibanya di dalam rumah, Dara mengerutkan kening saat mendengar suara gaduh yang berasal dari depan. Dara mengurungkan niatnya mengambil apel, wanita itu lebih memilih untuk kembali melangkah menuju depan, guna mengobati rasa penasarannya.
Sesampainya di ruang tamu, Dara membulatkan matanya saat mendapati Gervan yang tengah berusaha melepaskan cengkeraman dari sosok pria—yang tak Dara ketahui dia siapa. Dara mempercepat langkahnya.
“Kamu siapa? Lepasin anak saya!” seru Dara, sambil berusaha menarik lengan Gervan.
“Serahkan anak ini kepada saya, atau kamu akan celaka!” ancam pria itu, masih berusaha menarik tangan Gervan.
“Dia bukan anakmu!” sentak pria itu. Keduanya masih saling tarik-menarik lengan Gervan.
Merasa waktunya makin terbuang, tanpa banyak kata, pria itu segera mendorong tubuh Dara, lalu membopong Gervan keluar dari halaman rumah. Akibat dorongan kuat dari pria itu, kepala Dara membentur lemari kecil yang terletak di dekat sofa. Dia jatuh mengentak lantai. Kaki wanita itu mengalir darah dari area intimnya.
“Mama!” Gervan berseru, air mata anak itu mengalir deras saat mendapati mamanya yang tampak kesakitan. Ia berusaha memberontak di gendongan pria itu. Walau usaha apa pun yang dilakukannya, tenaganya tak sebanding dengan pria yang menggendongnya.
“Kembalikan anak saya ...,” ucap Dara lemah, sambil memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Air mata wanita itu menetes, selain karena sakit pada perut yang dialaminya, perginya Gervan juga menjadi alasannya.
“Stevan ....” Dara kembali berucap.
Wanita itu terus berusaha teriak, tetapi suaranya masih saja terdengar lemah. Dara meringis, sakit di perutnya makin menjadi-jadi.
‘Ya Allah, selamatkan anakku, jangan kau ambil anakku, Ya Allah. Aku masih ingin melihatnya lahir ke dunia,’ batin Dara terus berdoa, Dara tak ingin anaknya kenapa-napa.
“Ya Allah, Dara. Stevan, cepat ke sini!” seru Anita yang tak sengaja melewati ruang tamu.
Stevan, dan beberapa orang tampak berlarian masuk ke dalam rumah. Mata Stevan membulat, saat melihat darah yang terus mengalir di kaki sang istri. Pria itu segera berjongkok di samping Dara, lalu mengangkat tubuh wanita itu. Tatapan khawatir terlihat jelas di mata pria itu.
“Ayo, bawa ke rumah sakit!” titah Arya, sambil membukakan pintu mobil. Stevan langsung masuk mobil, ia memangku kepala Dara di pahanya. Ia sangat khawatir, apalagi melihat wajah Dara yang terus merintis kesakitan.
__ADS_1
“Sakit, Ste ...,” lirih Dara.
“Kamu kuat, sayang. Please jangan tutup mata. You strong,” ucapan Stevan, terus mengusap keringat Dara. “Pa, cepat, Pa!” seru Stevan pada Arya yang tengah menyupir.
Arya mengangguk, sesekali ia melirik keadaan Dara dari kaca spion. Ia tahu bagaimana khawatirnya Stevan. Arya pun merasa khawatir, apalagi melihat raut kesakitan anak semata wayangnya itu.
‘Ya Allah, selamatkan anakku dan bayi dalam kandungannya. Cukup Dira yang pergi, jangan kau ambil Dara juga, Ya Allah,’ batin Arya lalu mempercepat laju mobilnya.
“Dara, wake up. Jangan pejamkan mata, Dara,” pinta Stevan.
Namun, tak ada sahutan. Sang wanita yang diajak bicara sudah jatuh pada alam bawah sadarnya. Wajah kesakitan itu tak lagi terdengar.
Sesampainya di rumah sakit, Stevan segera kembali mengangkat tubuh sang istri keluar dari mobil.
“Suster, Suster, tolong istri saya, Sus!” seru Stevan.
Tak lama kemudian, beberapa perawat hadir menghampiri mereka sambil membawa brankar.
“Letakkan di sini, Pak.”
Stevan segera membaringkan tubuh Dara di atas brankar. Beberapa perawat itu mulai mendorong cepat brankar memasuki rumah sakit. Stevan ikut mendorong, dalam hati, ia terus berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya. Stevan tak mau keduanya kenapa-napa. Stevan tak sanggup jika hal-hal yang sudah terlontas di pikirannya benar-benar terjadi.
Setibanya di depan ruang UGD, seorang perawat menghentikan langkah Stevan.
“Bapak tunggu di sini, biar kami yang menangani istri bapak.”
Stevan mengangguk pasrah, pria itu menatap pintu UGD yang perlahan tertutup dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Stevan berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu, hingga tak lama kemudian, Anita beserta keluarganya yang lain datang menghampirinya dengan wajah yang sama-sama terlihat sangat khawatir.
“Dara bagaimana?” tanya Shira.
Stevan menggeleng pelan. “Masih diperiksa Dokter, Ma.”
“Mama kenapa, Pa?”
Suara diiringi tangisan itu membuat Stevan menunduk. Ia menatap Langit yang tengah menarik ujung bajunya sambil menatapnya. Pria itu tak menjawab, ia mengangkat tubuh Langit ke dalam gendongannya.
“Elang berdoa sama Allah, supaya Mama dan calon Adik nggak kenapa-napa,” tuturnya lembut.
Langit mengangguk, ia menenggelamkan kepalanya di pundak Stevan. Tangisan anak itu makin deras. Jujur saja, Langit khawatir dengan mamanya, Langit takut.
To be continued ....
__ADS_1