Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 23


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


...“Lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi kehidupan seseorang, bahkan perasaannya.”...


...~Jodoh Kejutan~...


Kasih sayang itu tak selalu hanya untuk orang yang sudah lama kita kenal. Nyatanya, baru beberapa menit saja, Dara sudah dapat menyayangi Gervan dengan setulus hati. Mungkin juga, Tuhan sedang menjadikan Dara sebagai malaikat di hidup bocah malang itu.


Saat ini, Dara tengah duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Matanya menatap ke arah Langit yang tampak antusias bermain lego bersama Gervan di atas karpet bulu, dengan bibir yang melengkung membentuk sebuah senyuman.


“Ma!” Dara tersadar dari lamunannya saat suara Langit memanggilnya.


Dara menatap Langit. “Iya, kenapa, Sayang?”


“Langit pengen puding cokelat, Ma.”


Dara tersenyum, ternyata apa yang menjadi dugaannya dulu kini menjadi kenyataan. Ya, dugaannya yang dulu berpikir bahwa setelah Langit lahir, anak itu pasti menyukai puding. Ia memang sering membuatkan puding cokelat untuk bocah tampan itu. Bahkan, hadirnya makanan jenis itu hampir tak pernah absen setiap harinya. Puding cokelat seolah-olah sudah menjadi makanan terfavorit dari yang paling favorit bagi Langit.


“Oke, Sayang. Langit tunggu di sini dulu, ya,” ucap Dara lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gervan yang tengah asik membuat rumah-rumah dari lego. “Gervan mau puding juga, nggak?”


Gervan mendongak, menatap Dara dengan mata berbinar. “Boleh, Ma?”


Dara terkesiap, ya ampun, apalagi ini. Kenapa seolah-olah Dara menyembunyikan makanan hingga Gervan bertanya seperti itu? Sebenarnya, seberapa banyak kesengsaraan yang dialami bocah itu?


Dara tak menjawab, dia lebih memilih bangkit mendekati Gervan. Dara menyamakan tingginya dengan Gervan yang masih menatapnya.


“Mulai sekarang, Gervan boleh makan apa pun, dan minta apa pun sama Mama ... selagi Mama mampu menuruti keinginan Gervan.”


Mata Gervan mengerjap lucu, lalu tersenyum lebar. Anak kecil itu berdiri dari duduknya, langsung memeluk tubuh Dara erat.


“Terima kasih, Mama. Mama baik banget, Gervan sayang sama Mama.”


Dara tersenyum, dia mengecup kening Gervan lalu Langit yang baru saja bergabung dalam pelukan mereka.


“Mama juga sayang kalian berdua. Ya sudah, Mana ambilkan dulu, ya pudingnya,” ucap Dara. Wanita itu mulai melangkah menuju dapur guna mengambil puding yang tadi pagi sempat dibuatnya.


Seperginya Dara, suara deru mobil terdengar dari halaman depan rumah. Langit, anak tampan itu segera meninggalkan mainan nya. Kaki kecilnya berlari menuju pintu, bersiap menyambut pulangnya sang papa.


“Papa!” seru Langit antusias saat Stevan baru saja keluar dari mobil sambil merentangkan tangan, meminta digendong.

__ADS_1


Stevan tersenyum, pria dengan setelan kantor itu mempercepat langkahnya menghampiri Langit lalu mengangkat tinggi tubuh bocah itu.


“Anak Papa udah mandi belum, nih?” tanya Stevan, menghujani wajah Langit dengan kecupan.


Langit mengangguk beberapa kali. “Sudah dong, Pa. Elang wangi, ‘kan?”


Stevan mengangguk, dia menggendong Langit dengan normal.


“Mama di mana, Sayang?” tanyanya sambil berjalan memasuki rumah.


“Di dapul, lagi ambilin puding buat Langit sama Bang Van.”


Kening Stevan membentuk sebuah kerutan dalam, pria itu menatap Langit dengan alis terangkat sebelah.


“Bang Van siapa?”


Langit tak menjawab, tetapi bocah itu malah mengarahkan telunjuknya ke arah Gervan yang tengah fokus menyusun rumah-rumahan.


“Kamu siapa?” tanya Stevan. Matanya memandang heran Gervan.


Gervan mengerjap, detik berikutnya dia bersembunyi di balik kaki Dara saat wanita itu baru saja tiba di ruang keluarga. Sungguh dia takut, wajah pria yang bertanya dengannya itu terlihat garang.


“Mama, Gelvan takut,” cicit Gervan yang masih dapat didengar oleh Dara.


Dara menaruh nampan berisi dua mangkuk puding di atas meja kaca. Wanita itu menyamakan tingginya dengan Gervan. Tangannya menangkup kedua sisi wajah bocah itu.


“Gervan kenapa takut?” tanyanya lembut.


“Paman itu wajahnya sangal, Gelvan takut, Ma,” adu Gervan.


Seketika mata Stevan membulat sempurna. Apa kata bocah itu? Dirinya sangar? Hei, yang benar saja? Stevan itu tampan, bahkan tidak ada kesan sangar sedikit pun. Apa mata bocah itu memiliki gangguan? Sehingga pria setampan dirinya dibilang sangar?


Stevan menatap tajam Gervan yang membuat bocah itu segera menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di ceruk leher Dara. Bahkan, Dara dapat merasakan tubuh Gervan yang bergetar, hingga wanita itu merasakan basah di baju bagian pundaknya.


Dara mengalihkan perhatiannya pada Stevan yang masih menatap tajam Gervan.


“Mas!” tegurnya.


“Dia siapa, Sayang?” tanya Stevan kepada Dara.


“Mas sini dulu,” ucap Dara setelah berhasil mendudukkan Gervan di sofa sebelahnya.

__ADS_1


Stevan melangkah mendekati Dara, pria itu mendudukkan diri di sebelah Gervan sambil dengan Langit yang duduk di pangkuannya. Matanya masih memandang tajam Gervan.


“Mas, kenalin dia Gervan. Aku mau minta persetujuan dari Mas.”


Kening Stevan berkerut, tak mengerti arah pembicaraan Dara.


“Persetujuan?”


Dara mengangguk. “Persetujuan buat mengadopsi Gervan.”


“Apa-apaan, Dar? Kamu nggak kenal siapa dia, bisa saja dia penipu!” sentak Stevan.


Menarik napas panjang lalu mengembuskan napasnya perlahan. Dara sudah menduga ini terjadi, pasti tidak akan mudah, mengingat Stevan itu orangnya curigaan. Dara mengalihkan perhatiannya pada Gervan yang masih memeluk lengannya, juga Langit yang duduk di pangkuan Stevan.


“Langit sama Gervan main di kamar dulu, ya? Mama sama Papa mau ada yang dibicarakan.”


Langit mengangguk, bocah itu turun dari pangkuan Stevan.


“Ayo, Bang. Kita main lobot-lobotan di kamar Elang.”


Dara mengelus lengan Stevan, meminta pengertian dari pria yang berstatus menjadi suaminya itu. Matanya mengikuti kedua bocah yang berjalan beriringan menuju kamar, hingga pintu kamar dengan stiker spiderman di atasnya tertutup rapat. 


Dara kembali menatap Stevan.


“Mas, aku udah suruh orangnya Mas buat cari semua data tentang Gervan. Dan ya, sesuai dengan apa yang diceritain sama Gervan. Dia adalah anak yatim piatu yang sudah lama mengalami kekerasan dari pamannya.”


Stevan terdiam, otaknya sedang mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh sang istri.


“Tapi, Sayang ....”


“Ste, aku nggak tahu sejak kapan, tapi yang pasti aku udah sayang secara tulus sama Gervan seperti aku menyayangi Langit. Aku mohon, Ste. Kita adopsi Gervan, ya? Kasihan anak itu, dia udah nggak punya orang yang peduli sama dia,” mohon Dara.


Air mata wanita itu menetes makin deras saat membayangkan sengsaranya Gervan yang harus hidup di lingkungan toxic bersama paman bajingannya itu.


“Baiklah, nanti aku urus surat-surat adopsinya,” ucap Stevan, pria itu mengusap air mata Dara lalu membawa wanitanya ke dalam pelukan.


Sejujurnya dalam hati, Stevan merasa kagum. Kagum akan kebaikan dan ketulusan hati Dara. Wanita itu sungguh baik, meski terkadang galaknya mengalahkan banteng. Meski galak, tetapi Stevan menyayangi dan mencintai Dara sepenuh hati. Wanitanya itu telah berhasil membuat hari-harinya berwarna.


“Terima kasih, Ste. Kamu selalu bisa mengerti diriku dan menuruti keinginanku,” ucap Dara, semakin menenggelamkan wajahnya di dada Stevan.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2