Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 15


__ADS_3

Baca aja dulu, kalau suka baru vote😉


Happy Reading🌾


Stevan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Sementara Dara yang duduk di sampingnya hanya terdiam sambil menatap kaca jendela mobil yang berada di sampingnya. Namun, siapa sangka, dibalik diamnya, hatinya terus bergejolak dan dipenuhi dengan rasa cemas serta khawatir yang luar biasa.


Dara takut apa yang pernah diucapkan oleh kakaknya itu akan menjadi kenyataan. Dara belum siap kehilangan wanita itu, meski dia sadar setelah mendengarkan kakaknya mengucapkan perihal mimpinya, Dara tak pernah lagi bertegur sapa atau hanya menanyakan perihal kabar. Dara belum mempunyai kesiapan untuk menghadapi kemungkinan buruk yang akan terjadi.


Stevan menoleh, dia menatap istrinya yang masih saja terdiam sejak memasuki mobil. Entahlah, Stevan pun tak tahu apa yang membuat istrinya seperti itu. Tangan Stevan terukur menggapai tangan Dara, ibu jarinya sibuk mengelus punggung tangan Dara. Dara menoleh, dia ikut menatap Stevan yang tersenyum ke arahnya.


“In sya Allah, Kak Dira nggak apa-apa. Kita doakan saja, semoga bayi dan ibunya selamat,” tutur Stevan berusaha menenangkan Dara.


Dara hanya mengangguk, walau sejujurnya perasaannya masih tak berubah sedikit pun. Rasa cemasnya bahkan terasa semakin besar.


Setiba di rumah sakit, Stevan memarkirkan mobilnya di area parkir depan rumah sakit. Dia dan Dara segera turun dari mobil lalu memasuki bangunan dengan warna khas putih itu.


Bunyi derap langkah keduanya menggema di koridor rumah sakit. Dengan tergesa-gesa, keduanya segera mempercepat langkah agar sampai di tempat yang sudah diberitahukan dari papa Stevan. Semua mata memandang aneh ke arah keduanya. Bagaimana tidak, keduanya bahkan masih memakai pakaian sarjana mereka.


Tak jauh dari mereka, pandangan keduanya dapat menangkap sekumpulan keluarga mereka yang tampak cemas menunggu di depan ruang bersalin.


“Assalamualaikum, bagaimana keadaan Kak Dira, Pa?” tanya Dara yang sudah tiba di samping papanya.


Arya mendongak, dia berdiri dari duduknya, tangannya terulur membawa kepala Dara ke pundak lalu mengelusnya.


“Wa'alaikumussalam. Maafkan Mama sama Papa, ya. Karena tidak datang ke acara wisuda kamu dan Stevan.”


Dara menggeleng cepat.


”Enggak usah mikirin acara wisuda Dara dulu, Pa. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana keadaan Kak Dira.”


“Kita doakan saja, semoga Kakak dan keponakan kamu selamat, ya?” Ucap Arya yang diangguki oleh semua orang yang berada di situ.


Mereka menunggu dalam diam, tak ada yang melontarkan suara. Semuanya masih berperang dengan pikiran masing-masing. Hingga setengah jam kemudian, terdengar suara tangisan bayi yang menggema. Mereka saling pandang, tak lupa bibir mereka yang menyunggingkan sebuah senyuman kebahagiaan.


Shira keluar dari ruangan, dia menatap Dara dan Stevan bergantian.

__ADS_1


“Dara, Stevan, ada yang ingin Dira bicarakan dengan kalian.”


Kedua manusia yang disebut namanya itu saling pandang, hingga memutuskan untuk masuk ke dalam, menghampiri sang pemanggil.


“Kak Dira!” panggil Dara sambil berdiri di samping brankar Dira. Dia menatap wajah Dira yang terlihat pucat.


Dira tersenyum sejenak, dia mengalihkan pandangannya ke arah Stevan.


“Ste, tolong azanin anak kakak, ya!”


Stevan mengangguk, dia mengambil alih bayi mungil laki-laki itu dari tangan suster. Lantunan azan mulai Stevan kumandangkan di telinga bayi tampan itu. Usai kegiatannya, Stevan menyerahkan bayi itu kepada Dira.


Dira menerimanya, lalu memberikan bayi itu kepada Dara, seolah mengisyaratkan bahwa adiknya itu harus menggendong bayi itu. Dara terdiam, walau tak urung dia menerima bayi tampan itu lalu menimangnya pelan.


“Dara, Stevan!” Panggilan dari Dira membuat Dara dan Stevan menatapnya dengan tatapan penuh tanya, keduanya masih bungkam, menunggu Dira melanjutkan kalimatnya.


“Kakak titip dia, ya? Anak itu Kakak beri nama Aludra Langit Hesperos. Jaga Langit, sayangi dia seperti kalian menyayangi anak kandung kalian sendiri,” lanjut Dira, masih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Stevan yang sempat bungkam kini mulai menyuarakan pertanyaannya.


Dira kembali tersenyum.


“Waktu Kakak tidak lama lagi, Kakak akan kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Kakak harap kalian jaga Langit, ya?”


Dara terdiam, dia sama sekali tak menyahut apa yang dikatakan oleh kakaknya. Namun, tanpa disadari air mata sudah mulai menetes dari pelupuk matanya. Jantungnya berdegup kencang, rasa akan kehilangan kembali mengguar. Ingin rasanya Dara berteriak sekencang-kencangnya, mengungkapkan kata hatinya bahwa dia tak siap kehilangan saat ini. Namun, semua keinginannya hanya bisa dia urungkan dalam hati.


Rasa sesak semakin mendera saat mendengar suara kakaknya yang mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dengan perlahan mata yang semula memancarkan kebahagiaan kini mulai terpejam. Bibir pucat itu masih menyunggingkan sebuah senyuman, tanda dia sudah tenang dengan takdirnya.


Dara menggeleng, dia segera menyerahkan bayi yang diberi nama Langit itu pada Stevan. Dara mengguncangkan tubuh yang mulai terasa dingin itu.


“Kak Dira, bangun, Kak. Aku nggak mau kehilangan Kakak. Bangun, Kak!” teriak Dara dengan air mata yang terus berlinang.


Dia tak sanggup menerima kenyataan, dunianya seakan terasa hancur. Dara tak ingin kakaknya pergi, dia ingin kakaknya kembali. Apakah bisa Tuhan mengabulkan keinginannya?


Sementara Stevan, dia pun turut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Dara. Stevan menggeleng pelan, mencoba mengenyahkan kesedihan yang dia rasa untuk sesaat. Ada mereka di depan ruangan yang menunggu kabar darinya.

__ADS_1


Stevan mulai membuka pintu, lalu menutupnya kembali. Dia menatap satu per satu orang yang berada di sana. Hingga pandangannya terhenti saat melihat kedua mertuanya yang juga tengah menatapnya.


“Kak Dira.” Stevan menghentikan ucapannya, lidahnya terasa kelu. Dia tak sanggup menyampaikan kabar buruk yang baru saja dilihatnya.


“Dira kenapa?” tanya Shira dengan wajah yang menuntut jawaban.


“Kak Dira sudah kembali ke pangkuan-Nya,” sahut Stevan dengan pelan di akhir kalimatnya.


Deg!


Bagai ditimpa reruntuhan, Shira langsung terduduk lemas di lantai. Dia menunduk dengan air mata yang mulai menetes dengan deras.


“Dira kenapa, Ste?” tanya Anita yang kurang jelas mendengar apa yang disampaikan oleh Stevan tadi.


“Kak Dira tidak bisa di selamatkan, Bun.”


Wajah mereka yang semula memancarkan senyum kebahagiaan kini dengan perlahan mulai membentuk sebuah garis lengkung ke bawah. Arya segera menghampiri istrinya yang masih setia terduduk di lantai.


“Ma,” panggil Arya sambil memegang bahu Shira, membantunya berdiri.


“Dira, Pa. Anak kita ...,” lirih Shira.


Arya segera membawa tubuh Shira ke dalam pelukannya. Hingga tubuh wanita itu terasa lemah, bahkan nyaris terjatuh jika Arya tak segera memegang pinggangnya.


“Ayo kita masuk,” ucap Vano. Mereka mulai melangkah memasuki ruangan. Mata mereka menangkap sosok Dara yang masih setia mengguncangkan tubuh Dira.


Anita segera melangkah menghampiri Dara. Dia memegang kedua pundak Dara lalu mengelusnya.


“Dara sayang, ikhlasin Kakak, ya. Kita semua di sini harus bisa menerima dengan lapang dada kepergian Dira. Kakak sudah bahagia di sana bersama dengan suaminya. Kamu di sini tidak sendiri, ada kita semua. Dan sekarang ada anak kakak yang membutuhkan kasih sayang kamu juga Stevan.”


Dara mendongak, benar apa yang diucapkan bunda mertuanya. Mau tak mau, dirinya harus dipaksa untuk belajar mengikhlaskan kepergian Dira. Dara segera menghapus air matanya, dia melangkah mendekati Stevan yang menggendong Langit lalu mulai mengambil alih bayi itu.


Ikhlaskan yang pergi, jangan siksa mereka dengan tangisan kesedihanmu. Dengan begitu, mereka yang meninggalkanmu akan tenang dengan alam barunya.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2