
Baca dulu, kalau suka baru vote🤗
Happy Reading🌾
Seorang wanita tampak duduk termangu di atas ranjang kamarnya sendiri. Mata wanita itu menyorot kosong ke depan, seolah-olah ada begitu banyak beban yang menimpa otaknya, hingga membuatnya tak lagi ingat untuk kembali berpijak.
Bunyi pintu yang dibuka oleh seseorang itu tak juga mengecoh lamunannya. Wanita itu masih terdiam, hingga sebuah tepukan di bahunya membuatnya kesadarannya kembali, meski belum sepenuhnya.
Stevan mendudukkan diri di depan Dara, matanya menatap lekat, tepat di manik mata cokelat muda milik wanita di hadapannya.
“Mikirin apa sih, sampai ngelamun gitu?” tanya Stevan lembut.
Dara menggeleng, lalu tersenyum simpul.
“Nggak ada kok, Ste. Aku cuma kepikiran soal ....” Dara menghentikan kalimatnya. Memejamkan mata, lalu menarik napas pelan. Bibirnya terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata, saat mengingat perginya Gervan tadi.
Satu hal yang Dara takutkan, Gervan tidak dapat menerima kehadiran seseorang yang akan menjadi adiknya, juga Elang.
Seakan-akan paham apa yang ada dipikiran Dara, Stevan mengulurkan tangan, memegang kedua pundak perempuan itu, lalu meremasnya pelan.
“Tenang aja, aku tadi udah bicara sama Gervan. Dia udah aku kasih pengertian. Dia bukannya nggak mau punya adik, hanya saja dia takut, kalau nanti kita punya anak lagi, dia akan terlupakan.”
Dara diam menelinga ucapan Stevan. Benar dugaan awalnya. Dara mengalihkan perhatiannya kembali pada Stevan.
“Tapi ... Gervan udah bisa nerima dia, ‘kan?”
Stevan mengangguk, tangannya terulur menggenggam tangan Dara, lalu membimbingnya mengelus perut wanita itu sendiri.
“Iya, Gervan udah ngerti.”
Perlahan, tetapi pasti. Akhirnya Dara bisa menarik napas lega. Wanita cantik itu memejamkan matanya, menikmati elusan lembut sang suami di perutnya.
“Sehat-sehat terus ya, Nak. Mama sama Papa di sini menantikan kehadiran kamu. Apa pun jenis kelaminmu, Papa akan dengan senang hati menimangmu,” tutur Stevan lalu mengecup kening dan perut Dara bergantian.
“Em, Ste ... kamu udah kasih tahu orang tua kita mengenai kehamilan ini?” tanya Dara, ia menatap skeptis ke arah Stevan.
Dara yakin, pasti suaminya ini belum memberikan kabar gembira ini pada kedua orang tua mereka masing-masing, dan Dara dibuat semakin yakin saat mendapati anggukan kepala dari Stevan.
Stevan meringis, sambil mengusap kepala bagian belakang. “Aku lupa, Sayang. Untung kamu ingetin, kalau nggak ... mungkin, nanti aku bakalan kena marah sama Bunda.”
Stevan segera beranjak dari duduknya, pria itu meraih ponsel yang ia taruh di atas meja rias. Sejenak ia berkutat dengan layar benda pipih itu, lalu menempelkannya di telinga.
“Assalamualaikum, Bun.”
“Waalaikumsalam, ada apa, Ste?” tanya Anita di seberang sana.
__ADS_1
“Stevan mau kasih kabar gembira, Dara hamil, Bun,” ucap Stevan.
Pria itu dibuat melongo sambil menatap layar ponselnya saat bundanya mematikan telepon secara sepihak, tentunya tanpa mengatakan apa pun. Menggeleng pelan, Stevan memilih menghubungi nomer mertuanya, lalu memberikan kabar yang sama—yang langsung diterima antusias oleh Shira.
Stevan kembali melangkah menghampiri Dara yang sejak tadi menatapnya.
“Mama sama Bunda bilang apa?” tanya Dara.
“Mama antusias, tapi kalau Mama nggak tahu ... soalnya langsung matiin teleponnya pas dengar kabar ini.”
Dara terdiam sambil menunduk dalam. Perempuan itu menautkan kesepuluh jarinya sambil menggigit bibir bawahnya. Cobaan apa lagi ini? Apakah mertuanya itu tidak menerima kehadiran calon buah hati mereka? Oh tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Dara tak ingin, jika nantinya anak mereka lahir, anak itu akan menerima berbagai hujatan, atau tatapan sinis dari mertuanya—walau persen kemungkinan itu sangat kecil.
Dara kembali tersadar saat mendengar ketukan yang berasal dari pintu kamar mereka. Dara mendongak, menatap Stevan yang juga tengah menatapnya.
“Siapa?” tanya Dara.
Stevan menggeleng, lalu mengalihkan atensinya pada pintu. “Masuk!” ucapnya, memberikan perintah.
Perlahan pintu terbuka, Langit tampak menyembulkan kepalanya, lalu menatap mama dan papanya bergantian.
“Ma, Pa, ada Oma.”
Stevan dan Dara saling pandang, hingga detik berikutnya keduanya dikejutkan dengan kehadiran dua wanita yang tiba-tiba berada di belakang Langit yang sudah memasuki kamar.
“Astagfirullah.” Dara mengusap dadanya pelan, berusaha menetralkan keterkejutannya.
“Wah, cucu kita bakalan tambah, Ra,” ucap Anita antusias. Tangan wanita itu sudah gatal ingin mengelus perut Dara.
Shira mengangguk, ia menanggapi dengan senyuman. “Iya, alhamdulillah.”
“Jenis kelaminnya apa, nih?” tanya Anita sambil menatap Stevan, menuntut jawaban dari pria itu.
Stevan meringis, menggeleng pelan. Dia tak habis pikir dengan mamanya ini.
“Kan belum di USG, Bun,” sahutnya kalem, berusaha untuk tidak menghujat wanita yang telah melahirkannya ini.
“Oh iya, lupa.” Shira tertawa lalu mengangguk paham. “Sudah—” Shira menggantung ucapannya saat mendengar suara seorang anak kecil yang memanggil kata “Mama”. Shira yakin, ini bukanlah suara Langit. Ia memandang Anita yang juga menatapnya. Kedua wanita itu memainkan kode mata—bertanya, itu suara siapa.
“Mama!”
Suara itu kembali terdengar, bahkan semakin dekat. Shira dan Anita menatap lekat ke arah pintu, menunggu kehadiran seseorang yang membuat keduanya dilanda penasaran.
“Bang Van!” panggil Langit sambil menatap Gervan yang sudah sampai di ambang pintu.
Shira dan Anita dibuat makin bingung saat mendapati sosok anak kecil lain di rumah anak mereka. Keduanya memandang Dara dan Stevan, menuntut jawaban pasti dari sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Lagi dan lagi, Stevan kembali meringis. Astaga, apa yang ada dipikirannya selama ini hingga lupa menceritakan perihal Gervan kepada kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.
Dara memandang Anita dan Shira sebentar, lalu menatap Gervan yang masih bergeming di tempat.
“Gervan, sini. Kenalin, ini Oma dan Grandma,” titahnya sambil melambaikan tangan ke arah Gervan.
Gervan melangkah ragu, kakinya terasa kaku. Mereka siapa? Apakah mereka akan menerima kehadirannya di keluarga ini? Lagi, Gervan takut bertemu dengan anggota keluarga besar kedua orang tua angkatnya.
“Ma, Bun, ini Gervan, anak Stevan sama Dara.” Dara memperkenalkan ketiga orang itu.
Sadar akan keterkejutannya, Shira segera mengambil alih Gervan agar duduk di pangkuannya.
“Nama kamu bagus. Gervan, kenalin nama Grandma adalah Shira, dan di sebelah Grandma adalah Oma Anita.”
“Hai, ganteng!” sapa Anita lalu tersenyum menatap Gervan. Wanita itu mengalihkan perhatiannya pada Stevan yang berdiri kaku di hadapannya, matanya menyorot tajam ke arah anak semata wayangnya itu. “Mama tunggu cerita kamu, Ste!” ucapnya, penuh ultimatum.
Stevan mengangguk kaku.
“Grandma, Grandpa di mana?” Suara Langit itu berhasil merebut perhatian Shira.
Wanita itu menoleh, lalu mengusap kepala Langit yang sudah duduk anteng di pangkuan besannya.
“Grandpa lagi kerja dong, Sayang. Biar dapat uang banyak, buat jajan Elang sama Gervan.”
Langit mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau begitu ... boleh dong nanti Elang minta mobil yang kayak di TV itu sama Grandpa?”
Shira mengangguk. “Boleh, kalau Elang sama Gervan sudah masuk SMA.”
“Yah, masih lama dong? Sekalang aja, Elang masih TK ....” Langit menghentikan ucapannya, anak itu melihat jarinya, lalu berhitung pelan. “... yah, masih sepuluh tahun dong, Grandma?” Langit mencebik kesal.
Perbuatan Langit itu berhasil membuat semua orang tertawa akibat kelakuan lucunya, tak terkecuali Gervan.
“Memangnya kalau sekarang dibelikan, Elang bisa nyetir?” tanya Anita.
Langit menggeleng pelan, semakin mencebik. Namun, detik berikutnya ia mengangkat kepalanya.
“Belum, tapikan ada Papa yang bakalan ajarin kita. Iya, ‘kan, Bang Van?” tanya Langit, meminta persetujuan dari sang abang.
Gervan mengangguk. “Iya, tapi kita belum dibolehkan bawa mobil, Lang.”
Jawaban Gervan membuat Shira dengan gemas mengacak pelan rambut Gervan. Wanita itu dibuat kagum dengan kebijakan cucu barunya itu.
“Ya udah, kalau nggak boleh minta mobil, Elang mau minta pesawat aja. Kan bukan mengendarai mobil.”
__ADS_1
Ucapan dari Langit itu, spontan membuat napas mereka tersendat akibat kaget. “Ada-ada saja”, pikir mereka bersamaan.
To be continued ....