Jodoh Kejutan

Jodoh Kejutan
Bab 43


__ADS_3

Baca dulu, kalau suka baru vote🤗


Happy Reading🌾


Dara memandang kasihan ke arah anak bungsunya yang tengah berbaring di atas ranjang. Wajah anak itu terlihat pucat, suhu tubuhnya pun terasa lebih tinggi dari biasanya.


“Makanya, kamu tuh jangan main hujan-hujanan lagi,” ucap Dara. Wanita itu sibuk memeras handuk, lalu meletakkannya di atas kening Langit.


Bibir Langit cemberut, anak itu menatap sang mama dengan sayu.


“Main hujan-hujanan enak tahu, Ma. Bisa lali-lali sama main ail.”


Ya, memang benar, Langit mengalami demam pasca bermain hujan-hujanan bersama Adisya kemarin.


Dara berdecak pelan. “Iya enak, tapi kalau sudah sakit begini, siapa yang ngerasain? Kamu sendiri, ‘kan? Kamu tuh kalau dibilangin suka ngeyel,” ucap Dara. “Ya sudah, sekarang kamu makan dulu, biar tenaga kamu cepat pulih,” lanjutnya, dia membantu Langit mendudukkan dirinya.


“Enak?”


Pertanyaan ambigu dari Gervan—yang tengah duduk di samping Langit—itu membuat Langit menoleh dengan kening berkerut.


“Enak apanya, Bang?”


“Kalau udah sakit begini enak?” tanya Gervan, memperjelas.


Langit kembali cemberut sambil menatap kesal ke arah Gervan.


“Bang Van sama aja kayak Mama, suka nyalahin aku.”


“Ye, memang kamu yang salah, Elang,” bantah Dara, sambil mencubit hidung Langit gemas.


“Ish, Mama. Udahlah Elang ngambek,” ucap Langit, melipat tangannya di depan dada sambil melengos. Telinganya sudah terasa panas, sebab sejak tadi tak henti mendengar omelan.


Dara tertawa pelan, dia meraih dagu Langit agar menghadapnya.


“Ngambeknya nanti dulu, sekarang kamu makan. Kalau sudah sembuh, nanti Mama bawain kue cokelat.”


“Benelan, Ma?” tanya Langit, matanya berbinar bahagia.


Dara mengangguk, dia menyodorkan sesendok bubur ke mulut Langit yang langsung dilahap oleh anak itu.


“Elang mau makan puding, nggak?” tawar Dara, setelah anak itu selesai memakan buburnya.


Langit mengangguk antusias. “Mau, Ma. Hali ini Elang, kan belum makan puding.”

__ADS_1


“Lagi sakit aja masih banyak makannya,” celetuk Gervan.


“Hehe, kalau untuk makan itu halus, Bang. Bial badan sakit sekalipun, masalah makan jangan pelnah tellupakan.”


Dara menggeleng pelan sambil tertawa geli. Keluarga, mereka adalah sekumpulan orang-orang yang selama ini selalu ada untuknya, menghiburnya. Dara beruntung memiliki keluarga seperti mereka yang selalu ada untuknya, terutama kedua anak yang saat ini tengah duduk di hadapannya.


Gervan dan Langit, iya kedua maka itu selalu bisa Dara jadikan alasan untuk bahagia. Tingkah mereka yang sering kali beradu mulut, tanpa disadari membuat Dara terhibur. Ah, tak lupa sang suami yang selama ini mendampinginya. Pria yang dengan sabar menghadapi segala tingkahnya—membuat Dara semakin cinta. Dara merasa, dia telah masuk dalam kategori tujuh wanita bahagia di dunia.


Dan Dara bahagia, atas keharmonisan keluarga yang diberikan Allah kepada keluarganya.


Dara beranjak dari duduknya, dia menepuk kepala Langit dan Gervan bergantian.


“Mama ambilin pudingnya buat kalian dulu, ya.”


Langit mengangguk. “Sama susu cokelatnya, Ma. Jangan lupa.”


Dara menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Anak itu untuk urusan makanan selalu saja nomor satu. Namun, itu bukan masalah bagi Dara. Wanita itu bahagia, setidaknya kedua anaknya selalu sehat.


🌾🌾🌾


Stevan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Pria yang masih menngenakan seragam kantoran itu turun dari mobil sambil membawa sebuah paper bag di tangannya.


“Loh, kamu sudah pulang, Sayang?” tanya Dara.


Stevan mengangguk. “Iya, Sayang. Aku nggak tenang kalau Elang sakit, makanya aku cepat pulang,” katanya. “Nih, pesanan kamu,” lanjutnya, menyodorkan paper bag yang dia bawa kepada Dara.


“Aku mau lihat Elang dulu, setelah itu baru makan,” sahut Stevan. Pria itu mengecup kening sang istri lembut lalu melangkah menuju kamar Langit.


Dara menatap punggung Stevan yang makin jauh dengan bibir tersenyum. Wanita itu ingin kembali melangkah, tetapi tak jadi sebab suara seseorang memanggil namanya.


“Tante Dala!” Adisya, gadis itu berseru sambil melangkah menghampiri Dara yang masih berdiri di tempat, sambil membawa sesuatu di tangannya. Di belakangnya, ada Eva yang mengikuti langkah anak itu.


Dara tersenyum, dia melangkah menghampiri Adisya, berjongkok di depan anak itu, lalu mengusap kepala Adisya lembut.


“Wah, makin cantik aja Adisya.”


Adisya mengerjapkan matanya, sambil tersenyum malu-malu. “Makasih, Tante,” ujarnya. “Oh iya, Kata mama, Elang lagi sakit, ya? Adisya boleh jenguk Elang, nggak?”


Dara mengangguk. “Boleh, sana gih. Pintu kamarnya yang ada gambar Spidermannya. Kamu tahu Spiderman, ‘kan?”


Adisya mengangguk. Ia segera membawa kaki kecilnya melangkah menuju kamar Elang—masih membawa sesuatu di tangannya. Sesampainya di depan kamar, anak itu langsung saja masuk, sebab pintu sudah terbuka lebar.


“Elang!” panggilnya.

__ADS_1


“Eh, ada Adisya,” ucap Stevan, saat menyadari kehadiran anak itu di sampingnya. “Papa pergi dulu, Lang.” Stevan menepuk kepala Elang, lalu keluar kamar.


Adisya kembali melangkah, gadis kecil itu meletakkan sesuatu yang sejak tadi dibawanya di atas ranjang, dia ikut naik lalu kembali meraih sesuatu itu.


“Elang, kata Kiki, kamu harus cepat sembuh,” ucap Adisya, menggerakkan sesuatu itu di depan muka Langit.


Langit tertawa pelan, dia meraih seekor kucing anggora berwarna putih itu—sesuatu yang sejak tadi Adisya bawa—dari tangan gadis itu.


“Aku kasih Kiki buat kamu, bila bisa temani kamu tidul,” kata Adisya. Ia mengelus bulu lembut Kiki—nama kucing itu—sambil menatap Langit. “Kiki nggak nakal, kok.”


“Ini buat aku?” tanya Langit yang langsung diangguki oleh Adisya. “Telima kasih, kucingnya lucu,” lanjutnya, mengusap bulu Kiki ke pipinya.


Adisya tersenyum, dia senang Langit menyukai kucing pemberiannya.


“Oh iya, Bang Van ke mana?”


Langit menoleh. “Abang udah ke kamal. Katanya mau bobok siang dulu.”


🌾🌾🌾


“Dara!”


Dara menoleh, menatap sang suami yang tengah melangkah menghampirinya.


“Iya? Aku sudah siapkan makan siangnya di meja makan, ya.”


Stevan mengangguk, lantas kembali melangkah menuju dapur—meninggalkan dua wanita yang tengah duduk di ruang keluarga itu. Stevan tahu, istrinya sedang membutuhkan girl time—bersama Eva.


“Gimana keadaan lo, Dar?” tanya Eva, menepuk pelan paha Dara.


Dara tersenyum. “Gue baik, Va.”


“Gue tahu, sebenarnya lo nggak baik-baik aja. Iya, ‘kan? Lo bisa cerita apa pun yang lo rasain sama gue, Dar. Gue ini sahabat lo.”


Dara menghela napas. Sial, kenapa rasanya air matanya ingin menetes mendengar ucapan tulus Eva. Tak bisa begini, Dara terlalu lemah jika dihadapkan dengan hal atau sesuatu yang tulus.


“Lo berhak nangis, Dari. Jangan ditahan. Terkadang, keluarnya air mata dapat membuat kita lega,” tutur Eva.


Dara mendongak, dia menatap Eva yang juga tengah menatapnya. Eva, wanita yang sudah sejak lama menemaninya, menjadi sahabatnya, bahkan sudah seperti saudaranya sendiri. Perempuan galak, tetapi memiliki kepedulian yang tinggi.


“Kalau dibilang sedih sih, gue sedih terus, Va. Tapi gue nggak bisa biarin diri gue larut dalam kesedihan. Di sekitar gue, ada keluarga yang harus gue pikirin. Gue nggak mau mikin mereka khawatir karena gue yang terus larut dalam kesedihan,” ucap Dara, diiringi setetes air mata, yang langsung dihapus cepat oleh wanita itu.


Eva tersenyum kagum sambil menepuk pundak Dara beberapa kali.

__ADS_1


“Gue tahu, lo wanita kuat, Dari. Tetap semangat, lo nggak sendiri.”


To be continued ....


__ADS_2