
Happy reading........
Bu Siti Yang sedang mencuci piring tiba-tiba saja tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di pinggirnya, seketika dia terkejut dan mengambil pecahan gelas yang ada di lantai. Dan saat memunguti pecahan itu, tangannya tidak sengaja tergores dan terluka sampai mengeluarkan darah.
"Ya Allah ada apa dengan perasaanku? Kenapa tiba-tiba aku teringat sama Dea?Dan perasaanku tidak enak seperti ini?" Gumam Bu Siti sambil memegangi dadanya.
Dia merasakan sesuatu hal yang tidak enak terhadap Dea, karena walau bagaimanapun dia adalah seorang ibu dan ikatan batin antara ibu dan anak itu amat sangat kuat. Mama Linda yang baru saja datang ke dapur terkejut saat melihat besannya sedang berjongkok dengan tangannya terluka.
"Ya Allah Siti, ini tangan kamu kenapa?"!Tanya Mama Linda dengan panik.
"Nggak papa Lin, ini tanganku hanya tergores aja. Tadi nggak sengaja nyenggol gelas," Ungkap Bu Siti, lalu Mama Linda membawa Bu Siti duduk di kursi meja makan, setelah itu dia mengambil kotak P3K.
"Pelayan, tolong bersihkan pecahan gelas itu ya!" Titah Mama Linda pada seorang pelayan yang ada di sana. "Baik nyonya!" Jawab pelayan itu.
"Ya Allah kenapa tangannya bisa luka kayak gini sih? Kamu mah, aku kan udah bilang jangan nyuci piring atau ngelakuin apapun di rumah ini. Biarin pelayan aja yang ngerjain, kan di sini ada banyak Pelayan? Kamu kan di sini juga tamu!" Ujar Mama Linda sambil mengobati luka sahabatnya itu.
Ibu Siti terdiam, dia masih merasakan degup jantung yang berdebar keras yang terasa tidak enak di hatinya. Mama Linda yang melihat raut wajah Ibu Siti pun bertanya kepadanya. "Ada apa? Apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya Mama Linda sambil memperban tangan Ibu Siti.
"Lin, entah kenapa perasaanku tidak enak. Aku kepikiran pada Dea, apa dia sudah pulang?" Tanya Bu Siti, memang saat Dea tadi berangkat ke rumah sakit untuk check up kandungan, Bu Siti sedang ke pasar bersama pelayan yang ada di rumah kediaman Bachtiar sehingga Dea tidak pamit.
__ADS_1
"Belum sih! Harusnya mereka sudah pulang. Memangnya kenapa?" Tanya Mama Linda dengan penasaran.
"Lin, entah kenapa perasaanku tidak enak terhadap Dea? Apa aku boleh menelpon dia?" Tanya Bu Siti kepada Mama Linda.
Tentu saja Mama Linda mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel yang ada di saku bajunya setelah itu menekan nomor Dev, satu kali panggilan tidak Dev angkat, dua kali panggilan tidak diangkat juga, dan itu membuat Bu Siti dan juga Mama Linda merasa cemas.
"Kenapa Dev tidak mengangkat teleponnya Lin? Aku benar-benar sangat cemas pada Dea! Entah kenapa perasaanku mengatakan jika telah terjadi sesuatu dengan anakku Lin?" Panik Bu Siti dengan mata yang sudah berembun.
Mama Linda mengusap bahu sahabatnya lalu kembali menelpon Dev dan kali ini teleponnya tersambung.
"Halo Dev, kamu ada di mana? Kenapa telepon Mama tidak kamu angkat? Kamu dan Dea baik-baik saja kan?" Tqnya Mama Linda, tapi tidak ada jawaban di seberang telepon sana hanya keheningan.
"Dev, kamu baik-baik saja kan? Dev jawab Mama! Devan!" Tekan Mama Linda dengan suara sedikit meninggi, setelah beberapa saat, Mama Linda dan juga Bu Siti kaget saat mendengar isak tangis di seberang telepon sana. "Dev kamu menangis? Ada apa?" Tanya Mama Linda yang mulai panik.
Mama Linda dan Bu Siti saling memandang satu sama lain, wajah mereka benar-benar tegang saat ini.
"Apa yang terjadi dengan Dea Dev? Katakan sama ibu, dia baik-baik saja kan?" Tanya Bu Siti dengan suara yang bergetar.
Hening......
__ADS_1
"Dea kecelakaan Ma, Bu. Dan sekarang Dea sedang berada di rumah sakit. Dev nggak sanggup Bu...... Dev nggak sanggup...." Ucap Dev dengan suara yang begitu purau dan berat menahan tangisnya.
Duuuaar
Mendengar penuturan Dev, Ibu Siti seketika menjadi lemas, dia bagaikan di sambar petir dengan tiba tiba. Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi, dunianya seakan runtuh saat mendengar Dea kecelakaan, dan sekarang sedang berada di rumah sakit. "Kamu di rumah sakit mana Dev, katakan?" Tanya Mama Linda dengan panik dan suara yang sudah bergetar.
"Di Hospital Medika Mah," Jawab Dev sambil menutup teleponnya. Dia benar-benar tidak sanggup hanya untuk berkata-kata.
Mama Linda melihat bagaimana terpukulnya Ibu Siti sebagai seorang ibu, dia memeluk sahabatnya dengan erat dia pun menangis. "Kita ke rumah sakit sekarang Lin! Aku bener-bener ingin bertemu dengan Dea," Pinta Bu Siti.
Mamah Linda mengangguk, kemudian dia memanggil suaminya dan juga keluarga Dea yang masih ada di sana. Tetapi Fahri dan Nina sudah pulang ke kampung.
Semua orang tentu saja panik saat mendengar ucapan Mama Linda tentang Dea, mereka langsung menuju ke rumah sakit dengan mobil Papa Bachtiar. Bahkan saat ini Bu Siti tidak kuat untuk berjalan, dia sampai harus dibopong oleh Bagus putranya.
"Pak, Ibu tidak mau terjadi apa-apa dengan Dea, Pak!" Ucap Buk Siti pada Ayah Rozak.
"Kita berdoa ya Bu, supaya Dea baik-baik saja! Ayah juga tidak mau jika terjadi apa-apa dengan Putri kita Bu!" Jawab Ayah Rojak sambil memeluk tubuh Bu Siti, dia pun sama terkejutnya. Bahkan bisa dibilang saat ini hatinya benar-benar remuk, hancur, bahkan mungkin tidak berbentuk lagi.
Sebagai lelaki dan sebagai kepala keluarga, dia harus terlihat tegar di hadapan anak dan juga istrinya. Dia tidak mau memperlihatkan kelemahannya di hadapan orang-orang yang dia sayang, sebab itu akan membuat Bu Siti semakin terpuruk dan semakin sedih.
__ADS_1
"Ya Allah, selamatkanlah anak dan juga cucuku Ya Allah. Jagalah mereka Ya Allah, aku mohon...." Gumam Ayah Rozak sambil menitikan air mata.
Bersambung.........