Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Harapan Dea Untuk Nina


__ADS_3

Happy reading...........


Saat ini Nina sedang menidurkan Berlian di kamarnya, setelah itu dia pun hendak ke kamar Dea, sebab tadi sahabatnya itu meminta tolong kepada Nina untuk dibuatkan jus mangga kesukaannya.


Namun saat Nina menuruni tangga, hendak menuju dapur. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di sakunya berdering, dan saat dilihat, ternyata itu adalah nomor Fahri, mantan suami Nina.


'Buat apa mas Fahri menelponku?' batin Nina dengan heran. Tetapi dia tidak mengangkat telepon dari Fahri, dia sudah malas berhubungan dengan pria itu, kemudian Nina pun melanjutkan jalannya ke dapur.


Setelah sampai di dapur, dia pun membuat jus mangga pesanan Dea. Tetapi lagi-lagi ponselnya berdering, Nina sangat kesal kemudian dia pun mematikan ponselnya agar tidak diganggu lagi oleh Fahri. Setelah jusnya jadi, dia pun masuk ke dalam kamarnya Dea.


"Ini De, minumannya. Jangan lupa diminum mumpung masih dingin, seger loh," ucap Nina kepada Dea, sambil menaruh gelas Jus itu di meja di hadapan Dea.


"Makasih ya Nin! Kamu kenapa? Kok wajahnya ditekuk kayak gitu sih?" Tanya Dea saat melihat wajah Nina yang sedang menahan kesal.


"Aku tadi kesal, soalnya mas Fahri menelponku lagi. Entah apa maunya pria itu?"


Mendengar itu, Dea segera memegang bahu Nina, kemudian mengusapnya dengan lembut. "Tidak usah dihiraukan! Jika memang kamu tidak mau mengangkatnya, jangan diangkat."


------------------------


Saat ini semua tengah berada di meja makan untuk makan malam. Dev juga sudah pulang ke rumah, kebetulan dia membawa sekotak besar pizza, dia membelinya tadi sebelum pulang ke rumah.


Dengan telaten Dev menyuapi Dea dengan pizza itu. Semenjak Dea sadar dari komanya, Dev semakin perhatian. Bahkan hal-hal kecil pun dia selalu melakukannya kepada Dea, misalnya jika Dea ingin minum, maka Dev yang akan memegangi gelasnya. Perhatian kecil seperti itu, membuat dia semakin jatuh cinta kepada suaminya.

__ADS_1


"Sayang, nanti kira-kira Berlian kita kasih adik lagi nggak ya?" Tanya Dev saat sudah berada di kamar bersama Dea.


Mendengar itu Dea mendelik ke arah suaminya. "Kamu ini, Berlian kan masih umur 3 bulan? Masa udah mau punya adik aja!"


"Ya nggak apa-apa, kan lebih cepat lebih baik?" goda Dev sambil terkekeh kecil.


"Emangnya aku mesin pencetak anak, yang bisa tiap beberapa bulan sekali hamil?" Gerutu Dea dengan kesal.


Dev yang mendengar itu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan dia, kemudian mengecup kepala Dea beberapa kali. "Aku hanya bercanda sayang! Tetapi jika memang Allah mengizinkan, aku ingin sekali memberikan adik kepada Berlian," ujar Dev sambil menatap kedua manik Dea dengan tatapan yang begitu dalam.


---------------------


Pagi-pagi Nina sudah menyirami tanaman yang ada di halaman rumah Bachtiar, dia bersenandung kecil karena saat ini hatinya sedang bahagia. Sebab Dia mendengar jika panen kedua orang tuanya bulan ini sangat bagus dan lumayan menghasilkan.


Nina tidak sadar jika seseorang tengah berdiri di belakangnya, bahkan orang itu tersenyum sambil menatap Nina. Jelas aja Nina tidak tahu, pasalnya dia sedang memakai headset di telinganya dan mendengarkan lagu kesukaannya.


Seseorang menepuk pundak Nina hingga membuat wanita itu kaget, dan berbalik ke belakang sambil memegang selang yang sedang memancurkan air, hingga airnya mengenai orang itu. Nina yang kaget pun segera menjauhkan selang itu dari tangannya.


"Maaf... Maaf, saya tidak sengaja," ucap Nina kepada orang itu.


"Saya sudah mandi Nina, kenapa kamu menyiram saya lagi?" Ucap Hazel dengan kesal.


Nina menggigit Bibir bawahnya, dia merasa tidak enak kepada Hazel. Sebab sudah membuat pria itu hampir basah kuyup. "Maafkan saya tuan, saya tidak tahu jika anda di belakang saya! Lagi pula, kenapa anda mengagetkan saya? Seperti Jelangkung saja, datang nggak diundang, pulang nggak diantar?" Celetuk Nina dan malah mendapat tatapan tajam dari Hazel.

__ADS_1


"Apa! Kamu bilang apa tadi? Jelangkung? Kalau saya Jelangkung, berarti kamu apa? Kamu temennya Nenek Lampir," ledek Hazel kepada Nina.


Mendengar itu Nina menatap Hazel dengan tajam, dia ingin membalas perkataan Hazel tetapi saat dia melihat Dea ada di atas balkon, Nina merasa tidak enak. "Tuan ada apa ke sini? Kalau mau ketemu sama Tuan Dev,.sebaiknya Tuan masuk aja ke dalam," ujar Nina kepada Hazel.


Hazel menggeleng. "Tidak, saya ke sini ingin bertemu dengan kamu."


"Hah! Dengan saya?" Bingung Nina sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, nanti malam ada acara keluarga saya, dan saya mau kamu untuk datang," ujar Hazel dengan tatapan memohon kepada Nina.


"Tapi tuan, kenapa saya? Saya ini kan bukan keluarga Tuan? Saya juga bukan kerabat Tuan, ataupun yang lainnya. Kita tidak saling mengenal," heran Nina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dia heran sebab Hazel malah mengundangnya ke acara keluarga. Padahal dia bukan istri, pacar, tunangan ataupun kerabatnya. Dia kenal dengan Hazel hanya karena sebatas kenal saja, tidak lebih.


"Ada yang aku ingin sampaikan nanti malam. Jadi kamu harus datang, nanti aku jemput jam 07.00," ujar Hazel sambil meninggalkan Nina yang masih ter bengong dengan ucapan pria tampan itu.


Nina hendak menolak, tetapi Hazel sudah masuk ke dalam mobilnya. Dia pun mendesah dengan pelan. "Kenapa harus aku? Aku kan bukan siapa-siapanya Tuan Hazel?" Heran Nina, tetapi dia juga penasaran apa yang akan diucapkan Hazel nanti malam.


Sedangkan Dea yang berada di atas balkon bersama dengan Dev, saling tersenyum satu sama lain. Mereka tahu apa tujuan Hazel datang ke sana, sebab Hazel sudah memberitahu kepada Dev lewat SMS, dan dia pun sudah tahu akan ada acara apa nanti malam. Dea akan berusaha membujuk Nina agar mau untuk pergi bersama Hazel.


"Mas, tapi kamu yakin kan kalau Hazel itu setia, dan juga baik? Aku nggak mau kalau sampai nanti Nina sakit hati lagi, atau disakiti lagi oleh pria?" Tanya Dea kepada sang suami.


"Aku pastikan dia itu pria yang baik. Dia akan menjaga dan mencintai Nina, aku tidak pernah melihat Hazel sebucin ini kepada wanita, atau sengebet ini mengejar wanita. Biasanya dia akan santai jika berurusan dengan wanita."

__ADS_1


Dea bernafas lega mendengar jawaban suaminya, dia berharap jika memang Hazel lah jodoh Nina selama ini.


Bersambung. . ........


__ADS_2