Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Promosi Novel Aku Bukan Wanita Mandul


__ADS_3

Happy reading......


Selesai makan siang bersama tante Gita, Elena dan Evan pun kembali ke kantor. Tetapi sepanjang perjalanan Elena hanya diam memikirkan ucapan tante Gita saat makan siang tadi.


Dia benar-benar merasa berdosa, karena telah membohongi wanita itu. Apalagi tante Gita adalah seorang ibu, saat Elena melihat Taman, dia meminta Billy untuk berhenti.


"Untuk apa Nona, kita berhenti?" bingung Billy.


"Tolong berhenti sebentar Pak Billy. Ada yang mau saya bicarakan bersama dengan Pak Evan," pinta Elena,


Billy melihat ke arah Evan lewat pantulan cermin, setelah mendapat anggukan dari Evan, Billy pun menghentikan mobilnya. Setelah itu dia keluar dari mobil, karena dia tahu ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan antara dua manusia yang berlawanan jenis itu.


Elena keluar dan pindah ke jok belakang yang di mana Evan duduk. Dia menatap pria yang ada di hadapannya itu tanpa rasa takut sedikitpun.


"Ada apa?" Tanya Evan pada Elena dengan alis bertaut, sambil menatap wanita yang ada di sampingnya itu dari balik kacamata hitamnya.


"Pak, saya tidak bisa lagi melanjutkan ini semua. Sebagai perempuan, saya tidak bisa membohongi ibu, Bapak. Apalagi saya dapat melihat harapan dari kedua mata ibu, Bapak. Maaf Pak! Saya tidak bisa. Jika Bapak mau memecat saya, silakan. Tapi saya tidak mau membohongi orang tua Bapak. Orang tua Bapak terlalu berharap kepada hubungan yang sebenarnya tidak ada. Jika nanti orang tua Bapak tahu kebenarannya? Apa mereka tidak akan kecewa? Mereka pasti akan kecewa Pak? Sangat-sangat kecewa! Mungkin mereka sekarang bisa menerima saya sebagai janda, tetapi mereka pasti akan lebih marah jika mengetahui kalau kita ini hanya pura-pura pacaran," jelas Elena sambil menatap pria yang ada di hadapannya itu


Evan terdiam mendengar ucapan Elena, dia membenarkan apa yang Elena ucapkan. Tapi semuanya sudah telat, semua sudah menjadi bubur, dan Evan tidak bisa mundur.


"Semuanya sudah terlanjur Elena. Kita tidak bisa mundur lagi. Jika kita ingin mengakhiri hubungan ini, maka kita harus cari cara."


"Cara yang seperti apa Pak? Sampai berapa lama saya akan menunggu? Jujur ya Pak! Saya ini tidak mau terlibat hubungan dengan pria manapun. Saat ini saya hanya ingin menenangkan diri dan hati saya Pak! Tapi bapak malah mengajak saya masuk ke dalam jurang. Saya kasih Bapak waktu 1 minggu, jika dalam satu minggu ini Bapak tidak bicara kepada orang tua Bapak, dan tentang hubungan kita. Maka saya sendiri yang akan bicara!" Ancaman Elena dengan lantang.


"Berani kamu bilang kepada orang tua saya! Maka saya tidak akan segan-segan untuk menghukum kamu!" tekan Evan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Elena.

__ADS_1


Melihat Evan maju, Elena memundurkan duduknya, hingga terpojok di pintu mobil. "Bapak jangan macam-macam ya! Atau saya teriak!" Ancam Elena.


Evan terkekeh mendengar ucapan Elena. "Kamu mau teriak? Silakan!" Tantang Evan sambil mengungkung tubuh Elena di pintu. "Kamu tahu! Saya bahkan bisa mengurung kamu di pulau yang tidak berpenghuni!" Ancam Evan sambil membuka kacamatanya dan menatap kedua bola mata indah milik Elena.


"Jangan pernah berani melakukan itu pada saya ya Pak. Jangan karena Bapak pikir, saya ini seorang janda. Bapak pikir saya ini lemah? Bapak salah! Saya akan melawan orang-orang yang telah menindas saya, termasuk Bapak."


Evan tertawa mendengar ucapan Elena, dia begitu kagum pada wanita cantik yang ada di hadapannya itu. Elena tipe kalau wanita yang begitu Mandiri dan juga berani. Dia bahkan tidak takut dengan ancaman Evan sama sekali.


Kemudian Evan membuka pintu kaca mobil dan meminta Billy untuk masuk. Seelah itu mobil pun dijalankan menuju kantor.


Sesampainya di depan gedung kantor Elena turun, tetapi sebelum itu dia menengok ke arah Evan. "Satu minggu ya Pak! Jika tidak, maka saya yang akan bilang semuanya kepada orang tua bapak," Ucap Elena kembali, setelah itu dia masuk ke dalam kantor tanpa menunggu Evan dan juga Billy.


'Baru kali ini ada yang berani kepada Pak Evan?' batin Billy sambil menatap punggung Elena yang semakin menjauh.


'Si Bos kenapa sih? Sewot amat kalau aku ngeliatin Elena? Bener nih! Kayaknya dia memang suka sama Elena?' batin Billy menggerutu dengan kesal, sambil berjalan dengan kaki sedikit pincang.


Jam pulang kantor telah tiba, Elena sudah bersiap untuk pulang dari kantor. Dia buru-buru keluar dari ruangannya, sebelum teleponnya berdering dan Evan memanggilnya.


Saat Elena tengah menunggu lift terbuka, Evan memanggilnya. "Elena...!" Panggil Evan, namun Elena tidak menyahut dia pura-pura tidak mendengar. Hingga saat pintu lift terbuka, Elena segera masuk ke dalam lift.


Melihat itu Evan mengejar Elena, dan saat pintu lift akan tertutup tangannya pun segera menghalanginya, hingga pintu itu tidak bisa tertutup, dan Evan langsung masuk ke dalam. Kemudian dia memencet tombol untuk menutup lift.


"Kenapa kamu menghindar dari saya?" tanya Evan pada Elena, namun Elena tidak menjawab. Dia diam seribu bahasa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Merasa tidak diperdulikan, Evan langsung mendorong tubuh Elena ke dinding lift hingga membuat Elena tersingkat kaget. "Apa-apaan sih Pak?" Kesal Elena, namun Evan hanya tersenyum miring sambil menatap sinis ke arah Elena.

__ADS_1


"Kamu bilang saya apa-apaan? Kamu yang apa-apaan! Saya panggil, kenapa tidak nyaut? Kamu mau nantangin saya? Oh, atau kamu mau saya hukum di sini?" Ancam Evan sambil mengapit dagu Elena yang terbelah.


"Lepasin saya Pak! Nanti kalau ada yang lihat tidak enak, mereka akan berpikir yang tidak-tidak," Ujar Elena sambil mendorong tubuh Evan, namun kali ini Evan tidak bergerak sama sekali. Tenaganya bahkan 5 kali lipat dibandingkan Elena.


"Saya tidak suka diperintah, dan kamu tenang saja! Saya akan bicara kepada orang tua saya, jika hubungan kita telah usai. Tetapi kamu juga harus ikut andil, karena di sini kamu juga seorang pemeran, " Ujar Evan sambil terus mendekat ke arah Elena.


Wajah mereka hanya berpaut beberapa senti saja, bahkan hembusan nafas dari keduanya pun sangat terasa menerpa wajah. Apalagi hembusan Mint dari mulut Evan menerpa wajah Elena.


'Aduh jantung, jangan berdebar gini kek? Mana wajah Pak Evan tampan banget lagi? Aduh, kok aku jadi gemetaran gini ya?' batin Elena sambil menggigit Bibir bawahnya.


Dia tidak sadar jika saat dia menggigit Bibir bawahnya, membuat Evan tergoda. Elena bahkan tidak menyadari jika bibirnya begitu seksi dan menggoda, hingga saat dia menggigit bibirnya, maka laki-laki berpikir bahwa Elena sedang menggoda mereka.


"Apa kau sengaja menggodaku?" Tanya Evan sambil mengangkat satu alisnya.


"Menggoda? Menggoda apa sih Pak? Yang ada Bapak ini, ngapain deket-deket sama saya? Nanti ada yang lihat nggak enak Pak!" Kesal Elena sambil mendorong dada bidang Evan.


"Ck, dasar wanita tidak peka! Kamu ini sudah menjadi seorang janda, tetapi dalam hal menggoda saja kamu tidak peka?" Decak Evan dengan sebal. Setelah itu Evan melepaskan kungkungannya, sebab sebentar lagi lift akan sampai di lantai dasar.


Pintu lift terbuka, Elena tanpa ba-bi-bu langsung keluar dari lift dan menuju Ratu. Di mana wanita itu sudah stay duduk di lobby kantor sambil menunggu Elena.


"Yuk pulang!" Ajak Elena sambil menarik tangan Ratu.


"Iya pelan-pelan kali? Tangan gue sakit, nggak usah ditarik," Gerutu Ratu dengan kesal sambil mengusap pergelangan tangannya.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2