Jodohku Pilihan Mama

Jodohku Pilihan Mama
Dansa


__ADS_3

Happy reading


Saat ini Nina sudah siap dengan setelan gamis yang dibelinya bersama dengan Hazel, tak lupa Mama Linda juga mendandani Nina, agar terlihat berkelas, dan juga sangat cantik.


Setelah selesai, mereka pun turun ke bawah. Dan di sana sudah ada Hazel yang sedang menunggu Nina. Saat Nina turun dan menuju ruang tamu, Hazel begitu terpana dengan kecantikan Nina, dia sampai-sampai tidak berkedip, bahkan mulutnya sedikit mengangga. d


Dia benar-benar terpesona dengan kecantikan dan aura yang terpancar dari wajah Nina.


'Cantik sekali,' batin Hazel sambil menatap kearah Nina.


"Ya sudah, kalian berangkat gih! Nanti keburu kemaleman," ucap Mama Linda kepada Hazel dan Nina, dan langsung dibalas anggukan oleh mereka berdua.


Setelah itu Nina dan Hazel pun berangkat ke acara ulang tahun sepupunya Hazel. Di dalam mobil, Hazel terus aja melirik ke arah Nina, dan itu membuat Nina tidak nyaman. Dia merasa risih, takut jika Hazel makin malu dengan dirinya. Nina berpikir jika mungkin, dandanannya ataupun pakaiannya sangat norak.


"Tuan, kenapa kok ngeliatin saya seperti itu? Saya norak ya tuan? Atau saya kampungan ? Sya nggak ikut aja deh. Takut jika saya nanti, malah mempermalukan Tuan," ujar Nina sambil menatap ke arah depan, dengan kedua tangan meremas satu sama lain.


Mendengar ucapan Nina, Hazel tersenyum. "Tidak! Kamu sangat cantik. Bahkan sangat-sangat cantik, sampai saya merasa, tidak bosan untuk melihat kamu. Sebenarnya kamu itu sangat cantik. Hanya saja, tertutup oleh wajah polos kamu." Hazel berujar dengan jujur, hingga membuat pipi Nina merona malu.


Mendengar pujian dari lelaki yang bukan suami Nina, membuat jantung Nina berdebar. Apalagi Hazel adalah pria tampan, mapan, dan juga berpendidikan. Disanjung Hazel, bagaikan disanjung oleh seorang pangeran.


"Tuan bisa saja. Saya ini kan hanya wanita Kampung! Mana ada cantik-cantiknya, wanita kampung seperti saya," ujar Nina sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa tidak? Wanita kampung kan banyak yang cantik, tidak semua wanita kampung itu jelek kok."


40 menit sudah, mereka pun sampai di sebuah gedung tempat acara dilaksanakan. Hazel langsung membuka pintu mobil untuk Nina, kemudian dia dan Nina pun berjalan masuk ke dalam.


Semua mata tertuju ke arah Hazel dan juga Nina. Bagaimana tidak, di sana tidak ada yang memakai hijab. Semuanya pakaiannya seksi-seksi, trendy dan stylish. Dan hanya Nina Lah yang memakai hijab, tetapi malah membuat beberapa pria yang ada di sana menatap Nina dengan kagum, sebab keanggunannya dibalik sebuah hijab yang Nina kenakan.


"Hey, Olive. Happy birthday! Kenalin, ini temen aku namanya Nina," ucap Hazel pada Olive sepupunya.


Olive menatap Nina dari atas sampai bawah, lalu dia mengulurkan tangannya. "Olive," ucap Olive memperkenalkan diri.


Nina pun menjabat tangan Olive. "Nina," jawab Nina, setelah itu jabatan tangan Mereka pun terlepas.


"Wow... Sekarang lo beralih ke cewek anggun dan berhijab ya? Udah nggak zaman berarti sekarang, cewek-cewek seksi di sisi lo itu? Jdah nggak laku? Good, gue suka. Tapi ingat, jangan suka mempermainkan wanita. Kalau berani permainkan Nina, gue jadiin perkedel tempe lo, mau!" Ancam Olive sambil mendelik tajam ke arah Hazel.


"Ya sudah, aku tinggal dulu ya Nin! Have fun ya. Aku tinggal buat nyapa temen-temen yang lain. Kalau Hazel ngapa-ngapain, kamu bilang aja sama aku, biar ku pentung kepalanya," ujar Olive sebelum meninggalkan Nina dan Hazel.


Nina tersenyum mendengar ucapan sepupunya Hazel itu. Dia tidak menyangka ternyata cewek kota tidak seburuk yang dia pikirkan. Tadinya Nina berpikir jika Olive adalah wanita modis yang sombong, tetapi ternyata Nina salah. Pikiran itu seketika menyeruak begitu saja ke awan.


"Ini, minum dulu," ucap Hazel sambil memberikan segelas minuman kepada Nina, dan langsung diterima oleh Nina. Kemudian mereka pun duduk di salah satu meja.


Mata Nina menatap ke sekeliling, sebab Baru kali ini dia merasakan berada di sebuah pesta. Sedari kecil, Nina tidak pernah merasakan bagaimana itu pesta ulang tahun atau pesta yang lainnya.

__ADS_1


'Jadi begini ya, rasa-rasa pesta orang kaya? Seru sih,' batin Nina sambil mendengarkan musik DJ yang diputar di sana.


Tak berselang lama seorang MC mengumumkan, jika akan ada acara dansa di tempat itu. Nina tidak menghiraukannya, tetapi Hazel melirik ke arah Nina kemudian dia berdiri dan mengeluarkan tangannya.


"Kenapa?" Tanya Nina dengan bingung.


"Dansa yuk!" Ajak Hazel sambil menatap Nina dengan tatapan memohon.


Nina terlihat ragu, tetapi dia juga belum pernah sama sekali berdansa dengan seorang pria, walaupun dulu dia dan Fahri menikah, tapi tidak pernah mereka pun berdansa. Akhirnya Nina menggangguk, tetapi tidak membalas uluran tangan Hazel.


"Lalu aku harus bagaimana?" Bingung Nina sambil berdiri di hadapan Hazel, seketika mati lampu, dan digantikan oleh lampu yang remang-remang, membuat suasana benar-benar semakin romantis.


"Kamu pegang pundak aku, nanti aku pegang-pegang kamu," ujar Hazel.


Nina menatap kedua mata Hazel dengan kaget, dia memang sering melihat pesta dansa yang ada di TV. Tetapi untuk memperagakannya secara langsung, Nina belum pernah. Dia ingin menolak, tetapi ada seseorang yang mendorong tubuh Nina hingga hampir terjatuh dan menabrak tubuh Hazel yang ada di depannya.


Tatapan keduanya bertemu satu sama lain,.hingga beberapa detik kemudian Nina tersadar dan kembali menegakkan tubuhnya. Namun Hazel segera mengambil tangan Nina dan meletakkannya di atas pundak. Kemudian tangannya memegang pinggang Nina.


Hazel pun mulai menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, maju dan ke belakang. Dan Nina mengikuti itu secara perlahan. Nina tidak berani menatap mata Hazel, padahal sedari tadi dia tahu jika Hazel sedang menatap dirinya. Bahkan hembusan nafas hangat Hazel pun begitu terasa di kening Nina.


'Duh, kenapa dengan dadaku ini ya? Kok rasanya mau copot sih?' batin Nina saat merasakan debaran jantungnya semakin berdetak dengan kencang, seperti genderang yang ditabuh, menandakan sebuah perang akan terjadi.

__ADS_1


Dan itu tidak ubahnya dari Hazel,dia pun merasakan hal yang sama. Tetapi Hasel tahu itu perasaan apa. hanya saja, dia ingin memastikannya lebih dalam lagi, agar dia yakin jika itu adalah sebuah rasa.


Bersambung.........


__ADS_2