
Happy Reading ๐๐
Mobil Dev sudah sampai di depan Mansion, Dev dan Dea pun akhirnya turun dari mobil dan masuk kedalam.
Sesampai nya di ruang tamu, Dea segera di peluk oleh Mama Linda. Dan tentu saja itu membuat Dea menjadi heran.
"Sayang ada yg terluka gak?" Tanya Mama sambil memutar badan Dea.
"Nggak Ma! Emangnya kenapa?" Bingung Dea.
Fiiuuhhhh
Mama bernafas lega, begitu pun dengan Papa dan semua orang. Dev yang melihat itu menjadi sangat heran, sebab tak biasanya Mama begitu.
"Yasudah, kamu ke kamar dulu! Mandi ya. Nanti kita mau bakar bakar di taman belakang." Ucap Mama.
Dea mengangguk walaupun raut wajah nya masih terlihat bingung. Sementara itu Dev duduk di ruang tamu.
Dia menatap keluarga nya satu persatu, Dev dapat melihat raut wajah kecemasan dari wajah mereka.
"Ma, Pa, Kak, ini sebenarnya ada apa? Kenapa Mama tadi terlihat cemas pada Dea?" Tanya Dev dengan rasa penasaran yang sudah tak bisa ia tahan lagi.
"Begini Dev. Arumi melihat dalam bayangan nya, jika nanti akan ada sesuatu yang buruk, yg akan terjadi pada Dea." Jelas Kak Reza.
"Apa! Sesuatu yg buruk? Sesuatu apa kak?" Kaget Dev.
Perasaan nya tiba tiba merasa tak enak saat mendengar ucapan Kakak nya. Pasalnya Dev juga tahu jika Arumi punya kelebihan.
Dan setiap bayangan itu tak pernah meleset sedikitpun.
"Apa kak?" Desak Dev.
"Arumi melihat, jika nanti Dea akan celaka Dev! Akan ada yang menusuk tubuh nya." Jelas Papa
Mata Dev membulat dengan wajah yg begitu amat sangat terkejut. Dia menatap Arumi bocah 5 tahun itu.
"Rumi, apa benar itu?" Tanya Dev, di jawab anggukan oleh Rumi.
__ADS_1
"Siapa? Siapa yang melakukan nya?"
"Arumi gak tahu Dev! Orang itu pakai jaket warna hitam topi dan masker Dev." Jelas Dira.
Dev menjadi gelisah saat mendengar penjelasan Dira. Dia bingung siapa yang ingin mencelakai Dea.
Sedangkan Dea baru di kota dan tak mengenal siapapun. Dea juga jarang keluar rumah.
"Ma, Pa, kita kira siapa yg mau mencelakai Dea? Mama dan Papa kan tahu, kalau Dea tak pernah keluar rumah? Kemungkinan kecil dia punya musuh Ma?"
Dev sangat takut jika nanti penglihatan Arumi jadi kenyataan. Dev benar benar merasa tak tenang.
"Itu dia yang jadi pertanyaan nya Dev. Kita gak tahu siapa orang itu?" Ucap Papa.
Dev mengusap wajah nya dengan kasar. Mama dan Papa yang melihat wajah cemas Dev, akhirnya menepuk pundak anak nya.
"Tenanglah Dev. Kami di sini juga akan jaga Dea, kamu tenang saja." Ucap Papa mencoba menenangkan.
"Iya Pa! Sepertinya aku akan menyuruh Dea untuk tidak keluar rumah dulu." Ucap Dev.
"Iya, itu lebih bagus Dev." Timpal Reza.
Tapi mendengar Dea akan celaka, tentu saja membuat dia tak bisa tenang.
Kriiet
Pintu kamar terbuka, Dev melihat Dea sedang duduk di depan cermin dengan handuk di kepala nya. Sepertinya Dea habis keramas.
Grep
Dev memeluk tubuh Dea dari belakang, mata nya terpejam menghirup aroma wangi bungan lily dari tubuh Dea.
"Kamu mandi gih Mas. Nanti kita shalat magrib bersama sama." Ucap Dea.
Cup
Dev mengecup pipi Dea, setelah membuat wajah Dea memerah malu dia pun langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Dea memukul mukul pipinya yg terasa panas akibat ulah Dev.
๐น
๐น
๐น
Alvin sudah bersiap dengan setelan casual nya, dia akan berangkat ke Mansion Bachtiar untuk acara panggang panggang.
Sebab Mama Linda mengundang nya, dan bukan hanya Alvin saja, Mama Linda juga mengundang Hazel dan Dillon juga kesana.
Acara bakar bakar itu biasa di lakukan jika Reza pulang dari luar negri.
Bruummm
Mobil mulai meninggalkan apartemen milik Alvin, dia bersiul dengan bahagia. Hidup kesendirian nya membuat dia begitu happy walaupun terkadang ada yang terasa kurang.
Saat Alvin berhenti di lampu merah, dia melihat seorang wanita yg dia kenal tengah duduk di tepi jalan dengan pakaian badut hello kitty nya.
Dahi Alvin mengkerut heran, dia penasaran tapi terlihat enggan untuk turun.
"Kenapa dia di sini? Bukan nya dia harusnya bekerja di cafe?" Bingung Al
Alvin melihat gadis itu mengusap air mata nya.
"Apa dia menangis? Wanita seperti dia ternyata bisa menangis juga?" Heran Alvin.
Ketika lampu sudah hijau, Alvin kembali melajukan mobil nya. Entah kekuatan dari mana, dia mengikuti langkah gadis itu masuk kedalam taman.
Alvin memarkirkan mobil nya di samping taman dan mencari gadis itu.
Dia melihat gadis itu sedang duduk di sebuah kursi taman, sambil menghitung uang di dalam ember kecil.
Entah kenapa Al merasa miris dan juga kasihan.
'Kenapa aku kesini dan mengikuti dia? Ada apa denganku?' Batin Alvin dengan heran.
__ADS_1
Bersambung......