
Happy Reading ππ
Saat ini Dea dan Dev sedang berada di sawah milik Ayah nya Dea, sawah itu memiliki 3 kotak. 2 di tanam padi, satu kotaknya untuk menanam sayuran.
Dea merasa miris saat melihat Sawah milik Ayah nya yang hancur dan mati. Padahal padi itu sudah berubah dan satu bulan lagi akan panen.
"Ya Allah Yah, siapa yang melakukan ini?" Tanya Dea dengan nada sedih.
Dia sangat yakin jika pasti orang tua nya sangat amat sedih, sebab padi yang 2 bulan mereka jaga serta beberapa sayuran yang siap di panen harus mati.
"Entahlah Nak, Ayah pun tidak tahu! Tapi biarkan saja lah, mungkin ini ujian buat Ayah dan Ibu." Jawab Ayah Rozak dengan wajah sendu.
Sedangkan Dev menatap seluruh hamparan sawah, dan memang hanya punya mertua nya sajalah yang mati dan layu. Dev sangat yakin jika itu adalah ulah seseorang yang tak menyukai keluarga istrinya.
Dev mengirimkan pesan pada anak buahnya untuk menyelidiki kasus hancurnya sawah mertua nya itu.
Terlihat jika ada dua orang yang sedang bekerja untuk membantu Ayah Rozak membabat padi padi di sana. Karena akan di tanami oleh padi lagi.
"Mas, siapa ya yang tega melakukan ini sama Ayah? Padahal Ayah tak pernah mengusik hidup orang lain? Kenapa ada saja yang membenci nya?" Ucap Dea sambil terisak dalam pelukan suaminya.
Dev mengusap punggung istrinya dengan lembut, hatinya menahan marah saat melihat istri tercinta nya menangis. Hatinya ikut pilu.
"Sayang, kamu jangan nangis lagi ya! Kita akan segera tahu siapa pelakunya." Ucap Dev menenangkan Dea agar dia lebih tenang.
πΉ
πΉ
πΉ
Lala baru saja sampai di rumah sakit dan dia langsung menuju ruang UGD dimana sang Papa di rawat. Dengan langkah cepat Lala meninggalkan Alvin yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Saat ini perasaan dan pikiran Lala hanya tertuju pada sang Papa tercinta. Sesampainya di sana Lala melihat tetangga nya yang bernama pak Wanto sedang berdiri di depan ruang UGD.
"Paman, bagaimana keadaan Papa saya?" Tanya Lala dengan wajah panik.
"Kami juga belum tahu Nak." Jawab Pak Wanto bersama seorang bapak bapak lainnya.
"Bagaimana bisa Pak, Papa saya begini?" Tanya Lala kembali.
Bahkan air mata sedari tadi tak bisa lagi ia bendung. Air mata nya terus mengalir tanpa bisa di cegah, saat ini Lala benar benar amat sangat hancur, bahkan dia melupakan keberadaan Alvin di samping nya.
"Istri saya tadi kerumah Nak Lala, sebab mendengar suara barang pecah sekalian mau antar soto buat Pak Wijaya. Tapi saat istri saya mengetuk, tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya istri saya masuk dan menemukan Pak Wijaya sudah tergeletak di lantai." Jelas Pak Wanto.
Lala semakin terisak, bahunya terguncang hebat saat mendengar penjelasan Pak Wanto. Lala menyesal sudah meninggalkan Papa nya sendirian.
Tapi jika Lala tak bekerja, mereka juga gak bisa makan dan bayar kontrakan. Tak lama dokter pun keluar dan menjelaskan jika Pak Wijaya harus segera di lakukan pencakokan ginjal, sebab keadaan nya sudah urgent.
Tubuh Lala seketika merosot ke bawah saat dokter mengatakan itu, bagaimana bisa Lala mencari dana sebanyak itu. Bahkan tabungan Lala sekarang saja baru 8 juta. Lalu kemana ia akan mencari sisa nya.
"Sabar ya Nak Lala, maaf Bapak gak bisa bantu. Kalau gitu Bapak pulang dulu ya!" Ucap Pak Wanto.
Lala mengangguk. "Iya Pak, makasih ya." Jawab Dea dengan suara lirih dan air mata yang masih mengalir deras.
Alvin yang melihat itu merasa tak tega, lalu ia membantu Lala bangun dan duduk di kursi. Entah kenapa Alvin merasa tak tega saat melihat Lala menangis.
Biasanya Alvin akan cuek pada wanita manapun itu, dia seakan tak perduli dengan apa yang terjadi pada mereka. Tapi ini, Alvin malah merasa tak tega pada nya.
'Ah, mungkin karena Lala ART di apartemen ku saja, mangkan nya aku kasihan sama dia.' batin Alvin menepis rasa yang aneh di hatinya.
"Memang berapa biaya operasi Papa kamu La?" Tanya Al.
"100 juta Tuan."
__ADS_1
"Kalau begitu biar saya yang bayar, supaya Ayah kamu segera di tangani dan bisa cepat sehat." Ujar Alvin
Lala yang sedang menangis seketika menengok ke arah Alvin, dia menatap pria tampan di hadapan nya itu.
"Tuan serius?" Tanya Lala dengan wajah sembab nya.
Alvin mengangguk mantap. "Iya aku serius. Yasudah, aku mau urus administrasi nya dulu."
Grep
Lala langsung memeluk tubuh Alvin tanpa sadar, dia benar benar terharu sebab Bos nya mau membantu dirinya. Lala amat sangat bersyukur sebab telah di pertemukan dengan orang sebaik Al.
"Terimakasih Tuan, anda sudah mau membantu Papa saya! Saya benar benar berterimakasih." Ucap Lala
Alvin mematung saat Lala tiba tiba memeluk nya, ada debaran aneh di hati nya saat tubuh nya di peluk oleh gadis 18 tahun itu.
Eekhm
Alvin sengaja berdehem untuk menetralkan degup jantung sekaligus rasa gugup nya. Dia juga ingin Lala sadar dan melepaskan pelukan nya.
Jujur sudah sejak kematian sekar, tak ada wanita satupun yang bisa menyentuh nya. Dan dari sekian banyak wanita yang mendekati nya hanya Lala lah yang pertama kali menyentuh nya setelah sekar, itu kenapa Al menjadi gugup.
"Ma-maaf Tu-an, Lala gak sengaja! Lala tadi reflek Tuan." Ucap Lala saat tersadar dari perasaan tak sadar nya, dan langsung duduk menjaga jarak dengan Alvin dengan wajah menunduk.
Alvin mengangguk lalu berjalan meninggalkan Lala untuk menuju bagian administrasi, untuk melunasi biaya operasi Papa nya Lala.
"Duh Lala.... Kenapa sih Lo bisa bisanya meluk dia." Gumam Lala merutuki kebodohan nya.
Bersambung.....
Jangan lupa ikutan giveaway nya yaππ
__ADS_1